Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
210. Janji yang tidak ditepati


__ADS_3

"Hai Kenn... long time no see..." sebuah suara merdu dari seorang gadis dengan senyum berbinar membingkai wajahnya.


"Yunn_na..." Kennan tergagap, dengan wajah yang pastinya menunjukkan raut sangat kaget.


"Hey... kaget banget sih liatin aku, kek liat hantu siang bolong wae." Yuna tersenyum dengan mendekat pada Kennan.


"Ah... eh... enggak gitu, cuma nggak nyangka wae kamu udah balik ke Indonesia. Kamu nggak kasih kabar ke aku sebelumnya..." Kennan tersenyum tipis berusaha menormalkan tubuhnya kembali dari kekagetannya.


Hehehehe....


"Sengaja mau buat kejutan sama kamu." Yuna dengan senyum makin berbinar, sangat terlihat jelas jika gadis itu menyukai momen pertemuan nya dengan Kennan setelah sekian lama.


"Udah lama kamu balik?" tanya Kennan.


"Udah seminggu yang lalu."


"Oh" Kennan dengan mengangguk anggukkan kepala ringan. Tanpa menunjukkan ekspresi yang berlebihan layaknya seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Bahkan terkesan canggung.


"Sama siapa?" Kennan.


"Sendirian. Aku sengaja ke sini buat ketemu sama kamu."


"Oh... ayo masuk." Kennan terlihat enggan, namun sebisa mungkin dirinya menghargai gadis itu dengan membersamainya masuk kafe.


Kennan menghentikan langkah tak jauh dari pintu masuk, kedua mata Kennan memindai seluruh penjuru kafe untuk mencari sosok isterinya. Kondisi kafe yang sedang ramai pengunjung membuatnya harus teliti agar menemukan gadis yang hari ini akan diajaknya berjalan jalan ke kebun binatang.


Ah... rasanya sungguh yak sabar.


Kennan pun sesaat melupakan adanya Yuna yang memasuki kafe bersamanya.


"Nyari siapa sih Kenn... Serius banget." Yuna memincingkan mata dengan menyelidik.


"Oh... ada deh, ntar aku kenalin." Kennan dengan senyum berbinar pada wajahnya, membuat wajah tampan itu semakin terlihat menawan.


Yuna mengernyit heran.


Belum pernah dia melihat senyum Kennan yang terlihat sangat menawan seperti saat ini. Bahkan di masa lalu, Yuna belum pernah sekalipun mendapati Kennan tersenyum dengan mata berbinar dan raut wajah sesenang ini.


Apa yang terjadi pada Kennan sepeninggalnya ke luar negeri...? Seperti nya cowok yang masih saja menghuni hatinya itu sudah banyak berubah. Dan apa yang membuat cowok itu berubah? Yuna dengan tatapan penuh tanda tanya pada benaknya.


"Kenn..." Yuna mensejajari Kennan.


Hem...


Kennan masih saja terlihat acuh bahkan terkesan abai pada Yuna, padahal ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian lama.

__ADS_1


"Kamu nyari siapa sih?" Yuna semakin penasaran akan sikap Kennan yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.


"Ada deh..." Kennan tanpa memandang Yuna, kedua manik matanya masih saja bergerak mencari cari sosok Tita isterinya.


Mosok dia istirahat... enggak mungkin ah, masih jam segini juga. Biasanya dia istirahat saat dhuhur sekalian, ini belum waktunya... Kennan membatin dengan memandang jam tangan hitam yang melingkar pada tangan kanannya.


Yuna semakin heran dengan sikap Kennan yang seolah tidak peduli akan kehadirannya saat ini.


Padahal saat Yuna memutuskan menemui Kennan hari ini, Yuna sudah membayangkan jika cowok itu akan banyak bertanya tentang kabarnya selama ini dan juga sebaliknya berbagi banyak cerita tentang diri Kennan selama ini tanpanya. Meskipun Kennan selama ini terkesan dingin dan cuek, tapi biasanya tetap peduli dengan dirinya.


Namun entah mengapa reaksi Kennan saat ini tidak sama dengan angannya. Kennan, cowok itu terkesan mengabaikan keberadaanya.


"Kenn..." Yuna dengan menahan pergelangan tangan Kennan saat Kennan hendak beranjak.


Kennan menoleh dengan mengurungkan langkah kakinya.


"Apa?" Kennan memincingkan mata saat mendapati wajah pias Yuna menatap lurus ke depan tanpa berkedip.


"Yuna kamu kenapa?" Kennan semakin heran saat gadis di sebelahnya tersebut tidak bereaksi bahkan semakin mengeratkan kedua tangannya pada pergelangan tangan Kennan.


Kennan pun memutuskan mengikuti arah pandangan mata Yuna.


Kening Kennan mengerut saat mendapati sosok Tita di sana, gadis itu sedang mengantarkan pesanan pembeli dengan posisi membelakanginya.


Sepertinya itu memang benar adanya, Yuna memang benar memandang Tita.


Tapi... kenapa Yuna memandangi Tita dengan terlihat cemas, bahkan wajah putih itu terlihat memucat... Kennan bertanya tanya dalam benaknya heran.


"Kenn..."


Kennan yang semula mengarahkan pandangan pada Yuna pun kembali menoleh.


"Apa?" Kennan dengan tatapan herannya.


"Cewek itu..." Yuna menunjuk Tita dan Kennan pun mengikuti arah telunjuk tangan Yuna.


"Cewek itu kenapa?" Kennan masih dengan memandangi Tita yang tidak menyadari kehadirannya.


"Dia yang udah menghancurkan hubungan aku..." Yuna dengan suara yang bergetar.


Degg.


Jantung Kennan berdentum dengan kencang seolah mengahasilkan ledakan yang mampu meluluhlantakkan seluruh kafe K&Y beserta seluruh isinya.


...🍭🍭🍭🍭...

__ADS_1


Drrtt.... drrtt...drrtt...


Ponsel pintar Kennan yang berada di jok sebelahnya terus saja bergetar tanpa jeda.


Kennan terlihat mengabaikan layar ponsel yang menampakkan kontak Tita di sana, tidak ada sedikitpun keinginan untuk menjawabnya. Jangan kan untuk menjawab, menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di kursi penumpang itu sedikit pun tidak dilakukan oleh Kennan.


Kennan menyender kursi belakang kemudi dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam otaknya. Seakan tidak mempercayai ucapan Yuna beberapa saat lalu.


Bagaimana mungkin Tita yang polos itu melakukannya atau kepolosan wajahnya itu hanya kedok, begitu terus pertanyaan itu mengulang memutari tempurung kepala Kennan.


Argghhh.... sial!


Kennan mengumpat, memaki dan memukul kemudi dengan keras. Berteriak kencang lalu menelungkupkan wajahnya pada kemudi mobil dengan nafas yang tersenggal karena kesal dan marah.


Drrtt... drttt... drrttt...


Kembali ponsel pintarnya bergetar.


Kennan terlihat menegakkan wajahnya, memejamkan kedua matanya sesaat dan mengatur deru nafasnya yang sempat memburu beberapa saat lalu. Setelahnya menoleh ke arah kursi sisi penumpang.


Mendapati layar ponselnya yang masih menyala, kali ini Kennan memutuskan untuk meraih benda pipih tersebut.


Kennan hanya menatap benda pipih yang sekarang dalam genggaman kedua telapak tangannya yang tidak berhenti berkedip tersebut hingga akhirnya getaran benda pipih itu berhenti dengan sendirinya. Sepertinya sang pemanggil yang tak lain adalah Tita isterinya merasa lelah akan panggilannya yang tidak mendapatkan jawaban.


Setengah jam berlalu.


Kennan masih saja setia duduk di belakang kemudi dengan memegang ponsel pintarnya. Semenjak terakhir kali bergetar, saat ini sudah setengah jam berlalu posel itu diam tanpa ada sekalipun panggilan dari Tita isterinya ataupun yang lainnya. Hanya ada notifikasi chat yang masuk dari Tita itu pun sudah beberapa waktu yang lalu.


Dengan memandangi ponsel di tangan ragu, akhirnya Kennan memutuskan menggeser layar dan memeriksanya.


Ada puluhan kali panggilan tak terjawab dari Tita isterinya. Kemudian Kennan memutuskan membuka room chatnya dari sang isteri.


Pertanyaan mengenai keberadaannya berkali kali Tita kirim kan di sana, hingga di akhir chat yang mengabarkan jika Tita akan tetap menunggunya hingga Kennan datang.


Kennan terhenyak, melihat sekeliling lampu parkiran apartemen yang sudah seluruhnya menyala maka dapat dipastikan jika saat ini pasti sudah gelap.


Setelah mengantarkan Yuna pulang karena kondisinya yang cemas dan tidak memungkinkan untuk pulang sendiri. Kennan memang memutuskan untuk kembali ke apartemen tanpa turun dari sana.


Kennan melirik jam pada layar ponselnya, benar saja jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.


Shiit...


Kennan mengumpat lalu menancapakan gas keluar dari parkiran apartemen.


✍🏻✍🏻✍🏻✍🏻✍🏻

__ADS_1


__ADS_2