Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
188. Lanjut at Home


__ADS_3

"Dek udah makan belom?" tanya Kennan pada sang isteri saat dirinya berjalan menuju ke dapur melewati Tita yang sedang duduk di sofa sambil menonton drakor kesukaannya.


"Tita udah makan. Abang makan sendiri ya... capcay masih di atas kompor, kalau udah dingin angetin aja. Tita capek banget... males gerak, lagi pewe." Tita merepet dengan menyenderkan kepala pada sofa. Sepertinya Tita benar benar lagi pewe alias posisi wenak.


Setelah berpisah dengan teman temannya di mall, Kennan benar benar mengajaknya pulang. Katanya ingin lanjut mesum di rumah. Dasar suami mesum, gitu banget seh othor... gak bisa kasih Tita waktu jeda sebentar buat istirahat๐Ÿ˜‚


Dengan berbagai cara akhirnya Tita memutar otaknya untuk mencegah agar tidak segera pulang. Tita pun mengajak sang suami untuk mampir ke toko buku dengan alasan dirinya ingin mencari buku referensi buat tugas sekolah. Dan akhirnya mereka mampir ke toko buku dengan Kennan yang tidak berhenti mengekorinya serta mengajaknya segera pulang, hingga membuat Tita merasa jengah.


Tita dengan sengaja memperlama diri dalam mengelilingi toko buku untuk memerpanjang waktu di luar rumah. Dengan sengaja memilih buku seolah seperti mencari jatuh dalam tumpukan jerami.


Namun sepertinya Kennan pun menyadari gelagat dan niat terselubung sang istri, hingga Kennan pun mengajaknya segera pergi dari sana.


Dan akhirnya sekarang Tita harus berpura pura kelelahan saat sampai di rumah. Karena sesampainya di rumah Tita harus membersihkan rumah lalu memasak untuknya dan untuk sang suami, sedangkan Kennan memilih menatap layar laptopnya dengan entah apa yang dikerjakannya, karena dia terlihat sangat fokus. Dan itu membuat Tita senang karena sang suami tidak menempuh padanya.


"Dek..."


Hemm...


"Elo beneran udah makan?"


"Udah bang... Tita udah makan, kenyang banget..." seru Tita.


"Gue habisin ya?" suara Kennan masih dari dapur.


"Iya... habisin aja." Tita masih dengan bermalas malasan di sofa depan tivi.


Setelah beberapa saat menyelesaikan makannya di dapur Kennan langsung memberesi piring bekas makannya serta mencuci peralatan kotor yang tersisa di dapur.


Semenjak dirinya mulai menerima pernikahan serta Tita sebagai isterinya, Kennan sudah tidak asing dengan pekerjaan rumah tangga untuk meringankan sang isteri.


Bagaimanapun Kennan menyadari jika Tita pasti merasa lelah jika harus melakukan semua pekerjaannnya sendiri. Apalagi jika dirinya sudah menggempur Tita di ranjang semalaman bahkan tak jarang hingga nambah setelah shubuh.


Entah mengapa Kennan merasa jika tubuh ramping isterinya itu membuatnya candu, rasanya sungguh berat jika harus menahan diri dan mengabaikan guling bernyawa yang tidak pernah membuatnya bosan untuk memeluknya tersebut.


Setelah selesai membereskan dapur dan mengelap tangannya yang basah, Kennan segera menyusul sang isteri dengan membawa segelas coklat hangat di tangannya.


"Nih... coklat anget, biar tubuh lo lebih fresh dek..." Kennan meletakkan gelas coklat hangat di atas meja.


"Makasih bang..." Tita dengan membingkai senyum di wajah cantiknya.


Meskipun wajah Tita tidak dipoles dengan riasan, namun wajah itu sekali saja nampak cantik menurut Kennan.


Bruk...


Kennan langsung mendudukkan diri di sisi Tita. "Drakor mulu perasaan, gak ada tontonan lain apa?!"


"Gak ada." Tita langsung meraih remot televisi dan menggenggamnya.


"Ck... takut banget gue ganti..." Kennan mengejek.


"Iya... memang takut. Abang kan takut kalah saing sama oppa oppa korea yang cakep bin ganteng."


"Widih sorry ya dek, sama opa opa mah tetep gantengan gue..." Kennan memajukan dagunya, memperlihatkan ketampanannya.

__ADS_1


"Abang narsis." Tita mengejek.


"Biarin... yang penting gue gak ngehalu..." Kennan mulai mendusel pada ceruk leher Tita. Salah sendiri Tita memakai dress one piece tanpa lengan yang membuatnya tergoda untuk menyusuri kulit putih isterinya.



"Abaaang... gak usah mulai deh. Tita masih capek banget nih..." Tita dengan mendorong pelan wajah sang suami.


"Orang cuma ndusel doang, pelit banget sih dek..." Kennan cemberut.


"Iya awalnya cuma ndusel doang, ntar lama lama tangannya ikut merayap ke mana mana." Tita memberikan lirikan sinis dengan ekor matanya.


"Enggak juga, elo aja yang piktor sama gue..." Kennan mengelak.


"Heleh... otak mesum udah mengendap di sana, terlihat jelas nih gambarnya di kening abang..." Tita menyentil pelan dahi Kennan.


"Elo tega dek..." Kennan mengusap dahi bekas sentilan Tita.


"Makane jauhan dikit, jangan nempel mulu..." Tita terkikik geli melihat ekspresi cemberut sang suami.


Mau tak mau Kennan pun beringsut, sedikit menegakkan tubuhnya lalu meraih gelas coklat hangat dari atas meja.


Sluurrpp... ahh...


Kennan menyesap coklat hangatnya dengan ekspresi yang menggoda Tita.


"Tadi katane buat Tita kok abang minum seh..." Tita terlihat tidak terima.


"Habisnya elo tega sama gue..." Kennan dengan kembali menyesap coklat hangatnya.


"Ganti chanelnya ngapa dek, liat lainnya deh... gak bosen apa liat cowok cowok cantik kek gitu..."


"Gak..." Tita menolak.


Kennan membuang nafas kesal.


Lalu meraih kedua kaki jenjang Tita yang menjuntai ke atas pangkuannya.


"Masih capek?" Kennan dengan mengusap dan memijit pelan kaki istrinya.


Tita mengangguk, meskipun sebenarnya dirinya tidak lelah sama sekali. Hanya saja karena sudah terlanjur membohongi sang suami Tita memilih mengiyakan.


"Eh... bang..."


"Apa..." Kennan masih dengan mengusap kaki isterinya.


"Bima sama Kayla... mereka ada hubungan kah?" Tita dengan penasaran. Juga ada niat terselubung agar mengalihkan fokus Kennan terhadap dirinya.


Kennan menggedikkan bahunya, masih dengan fokus pada kaki jenjang isterinya.


"Bima kan temen abang, mosok abang gak tau..." Tita tidak berhenti memberikan pertanyaan kepada sang suami.


"Temen bukan berarti tau segalanya ya dek... ada privasi juga." Kennan sepertinya tidak ingin menangggapi pertanyaan Tita.

__ADS_1


"Terus buku yang tadi abang beli?" Tita bertanya karena saat mereka mampir di toko buku Kennan membeli sebuah buku tentang menjadi mualaf. Padahal Kennan adalah seorang muslim sejak lahir.


"Buat Bima... dia udah lama belajar agama Islam sama gue, dikit dikit..."


"Karena Kayla?" Tita semakin penasaran. Dalam hati Tita menginginkan obrolannya berlangsung panjang dengan Kennan.


"Jauh sebelum dia mengenal cewek itu." jelas Kennan singkat.


Tita manggut manggut.


"Arya tau?" mengingat Bima dan Arya adalah saudara kembar, pastilah keduanya saling berbagi cerita.


Kennan mengangguk.


"Gak melarang atau gimana gitu..."


"Keknya enggak, mereka udah gede pasti saling menghargai keputusan masing masing."


"Keluarganya? Ayah Bundanya juga tau...?"


"Entahlah... gue juga gak paham banget. Ngapain jadi ngomongin Bima sih dek... mendingan ngomongin soal kita berdua wae..." Kennan mengalihkan kekepoan sang isteri.


"Yee... itu mah maunya abang... Ngomongin kita terus lama lama menjurus mesum..." Ternyata cukup sulit untuk berbicara banyak dengan Kennan.


"Yaiyalah ... namanya juga udah nikah. Sayang dong isteri cantik kek gini dianggurin... ntar kalau nyari kesenangan di luar gegara kurang belaian suami gimana dong..." Kennan tersenyum menggoda dengan mengedipkan salah satu matanya.


"Tu kan abang mulai genit... emangnya Tita cewek apaan, nyari kesenangan di luar. Palingan juga abang yang kek gitu..."


"Enggaklah... ini satu aja gak ada habisnya, gak ngebosenin, pengen meluk mulu gue..." Kennan mulai merayu dengan menelusupkan salah satu tangannya di baluk punggung sang isteri. Sedangkan satu tangannya yang lain tetap mengusap kaki jenjang milik isterinya.


"Tapi Tita capek banget bang." Tita dengan merajuk.


"Biar gue yang main elo nikmati aja." Kennan mulai mengendus wajah Tita dengan suara serak.


Tita menghela nafas pasrah. Memang susah menghentikan keinginan suami mesumnya.


"Cuma ciuman gak lebih ya bang..."


"Tergantung..." Kennan dengan segera meraup bibir mungil Tita.


๐Ÿจ๐Ÿจ๐Ÿจ๐Ÿจ


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favoritโค

__ADS_1


Tengyu for reading tulisan receh othor๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2