Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
163.Maksud Andra?


__ADS_3

Itu adalah benar Sisil!


Gadis yang menjadi fans berat Kennan, dan begitu sangat membenci Tita.


Berbagai pertanyaan mengitari tempurung kepala Tita dengan kedua pasang mata memandang Sisil dari kejauhan.


Bagaimana gadis yang berperangi menakutkan itu bisa ada di sini, di acara yang hanya dihadiri oleh anak - anak osis.


Rasa tak nyaman dan sedikit takut menyelimuti Tita, akankah Sisil hendak melakukan sesuatu untuk menyakitinya mengingat Kennan tidak ada di sampingnya kini.


Mungkinkah gadis yang sangat terobsesi pada suaminya itu merencanakan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya nanti?


Hati Tita merasa tidak tenang. Berbagi kemungkinan Sisil berbuat jahat kepadanya memenuhi benaknya. Berbagai adegan yang membahayakan dirinya silih berganti berkelebat tak lepas dari pelupuk matanya.


Hingga sebuah tepukan pelan mendarat pada bahu kanannya.


"Kak."


Tita pun tersentak kaget, menoleh dan mendapati Sinta di belakangnya tersenyum.


"Eh, Sinta."


"Kenapa bengong wae sih, dipanggil - panggil gak dengar."


"Masa sih?" Tita tidak menyadari suara memanggilnya, mungkin efek dirinya sibuk memperhatikan Sisil.


"Iya ... aku panggil berkali - kali malah. Makanya aku samperin ke sini." jelas Sinta.


"Maaf." Tita tersenyum.


"Eh Sin, kamu tahu nggak kenapa ..." Tita mengalihkan pandangan matanya mencari sosok Sisil yang sempat dilihatnya tadi. Tita ingin menanyakan keberadaan Sisil yang berada di sini padahal bukan anak osis.


Namun saat Tita ingin menunjukkan sosok Sisil yang sempat membuatnya tidak nyaman, Tita tidak menemukan keberadaan gadis itu.


Tita menautkan kedua alis mata kemudian mengedarkan pandangan keseluruh area sekitar, namun tetap saja sosok gadis itu tidak ditemukannya.


"Kenapa kak? Ada apa?" Sinta bertanya heran karena Tita terlihat kebingungan.


"Eh ... enggak jadi." Tita memilih mengurungkan pertanyaannya.


"His ... bikin pinisirin wae. Gabung sama temen - temen yuk." Sinta menarik salah satu lengan tangan Tita untuk menuju gerombolan anak anak osis yang sudah mulai bersiap - siap.


Tita memandang sekelilingnya sesaat, benar - benar tidak ada sosok Sisil di sana.


Ah ... mungkin tadi salah lihat. Tepis hati Tita.


Beberapa saat berlalu.


Berbagai macam acara outbond dan aneka games pun dijalani oleh rombongan anak anak osis tanpa aral suatu apapun. Begitu pun Tita, tidak ada sesuatu hal yang aneh dalam kegiatannya mengikuti acara. Semua berjalan lancar, tidak ada kejadian yang seperti dikhawatirkan olehnya beberapa saat lalu.


Selama kegiatan berlangsung Tita tidak mengalami atau menemukan sesuatu yang aneh. Bahkan rasa khawatirnya dengan sikap Andra yang akan mencari kesempatan untuk mendekatinya pun tidak terjadi.


Mantan ketua osis itu terlihat sibuk mengatur jalannya kegiatan hingga tak terlihat mendekati Tita, membuat Tita merasa lega.

__ADS_1


Bagaimana dengan Sisil?


Gadis itu bahkan tidak menampakkan batang hidungnya hingga saat saat ini.


Tita merasa mungkin memang dirinya terlalu berlebihan. Bisa saja yang Tita lihat tadi bukanlah Sisil atau jika pun benar itu adalah Sisil, mungkin hanya kebetulan saja fans berat suaminya itu berada di sini. Bukankah ini adalah tempat umum yang siapa saja dapat datang berkunjung dengan bebas.


"Kak ayo ambil makan siang." Sinta menarik pergelangan tangan Tita untuk beranjak dari area flyingfox dimana Tita baru saja menjejakkan kaki di sana dan selesai melepaskan tali temali yang membelit tubuhnya.


"Emangnya udah waktunya makan siang Sin?"


"Udah. Ayok kak, perut aku keroncongan nih minta diisi." Sinta.


Tita pun mengekor di belakang Sinta.


Sinta dan Tita pun menuju deretan bangku tempat makan setelah mengambil nasi kotak dan air mineral di tangan masing - masing.


Keduanya mengambil duduk saling berhadapan, setelah sebelumnya mencuci kedua tangannya. Kemudian menyelesaikan ritual doa sebelum makan. Keduanya mulai memakan makanannya dalam diam.


"Boleh duduk di sini?" suara bariton Andra terdengar hingga membuat Tita dan Sinta mendongakkan kepala berbarengan.


Belum Tita menyahut, Sinta sudah lebih dulu menjawabnya


"Boleh kak, silahkan kalau mau." Sinta tersenyum dengan ramah.


Tita pun membingkai senyum pada wajahnya, kemudian kembali menunduk untuk menikmati makan siangnya.


"Apakah melelahkan?" suara bariton Andra kembali terdengar.


"Iya." sahut Tita pendek.


Beberapa saat kemudian suasana terlihat hening karena ketiganya sedang menikmati makan siang.


"Eh kak Tita, boleh tanya nggak?" Sinta membuka suara setelah menyelesaikan makan siangnya.


"Boleh, tanya aja. Kalau pertanyaannya mudah, insyaa Allah bisa jawab." jawab Tita bercanda.


"Tenang aja ... mudah kok. Mumpung kak Andra juga ada di sini, jadi aku bisa dapat jawaban dari kalian gak desas desus lagi."


Tita mengerutkan dahinya, heran setelah mendengar pernyataan dari Sinta.


Apa maksudnya ini? tanya Tita dalam hati. Sedangkan Andra terlihat cuek, atau mungkin sok cuek. Entahlah yang pasti mantan ketua osis itu terlihat tidak menggubris pernyataan Sinta.


"Denger denger nih, ini baru denger denger yak ... jangan marah sama Sinta kalau salah." gadis itu dengan tersenyum, memandang Andra dan Tita silih berganti.


"Denger apaan?" Andra bertanya mendongak.


"Sabar kak sabar, dengerin baek baek yak."


"Kak Andra sama Kak Tita saling suka ya? Kalian pacaran kan?" tebak Sinta dengan tersenyum dan bersidekap tangan menumpu meja.


Uhukk ... uhukk ...


Tita tersedak setelah mendengar ucapan dari Sinta. Darimana gadis kecil itu memiliki pikiran untuk bertanya seperti itu, mana di sini ada Andra. Pastinya akan membuat dirinya dan Andra jadi canggung.

__ADS_1


Melihat Tita yang tetiba tersedak, Andra membuka botol minumnya lalu menyerahkan pada Tita.


"Nih, baru aku buka. Aku belum meminumnya." Andra memberi penjelasan saat melihat Tita ragu menerima pemberiannya.


Tita pun meraih botol minum Andra kemudian meminumnya banyak - banyak.


"Pelan - pelan aja, jangan keburu seperti anak kecil. Nanti tersedak lagi." Andra terlihat penuh perhatian.


Tita meletakkan botol minum di atas meja setelah meminum hampir setengahnya. Detik berikutnya, meraih botol air mineral miliknya yang masih utuh dan menyerahkan pada Andra.


"Terima kasih Ndra, ni punyaku buat kamu." Tita menyodorkan botol air mineral miliknya yang masih bersegel ke hadapan sang mantan ketua osis.


"Tank's." Andra tersenyum hangat.


"Oh ...so sweets." Sinta tersenyum menopang wajahnya sembari memandang kedua kakak kelas yang dianggapnya sebagai pasangan tersebut.


"Apaan sih Sin, kita cuma temenan kok." Tita menunduk. Tenggorokannya terasa kelat, rasanya sedikit tidak nyaman.


Sedangkan Andra tersenyum senang.


Entah apa yang dipikirkan cowok tampan mantan ketos yang pernah menyukai Tita tersebut, dia terlihat asyik menikmati makan siangnya tanpa terprovokasi dengan ucapan Sinta.


"Kak Andra." Sinta beralih pada sang mantan kedua osis.


Hem.


"Beneran yang dibilang kak Tita, kalian cuma temenan kak?" Sinta masih penasaran, bagaimana Tita bisa menyangkalnya. Padahal kabar mereka berdua adalah pasangan sudah Sinta dengar semenjak dirinya ikut menjadi bagian dari pengurus osis.


Andra mendongak, sesaat melirik pada gadis di sebelahnya yang menunduk terlihat tidak nyaman.


Kemudian beralih memandang Sinta seraya berkata.


"Sekarang sih masih temenan." Andra menjeda sejenak ucapannya. "Nanti atau besok siapa yang tau." ucapnya tersenyum penuh arti.


Tita mengerutkan keningnya.


Apa sih maksud Andra? tanya Tita dalam hati.


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2