
Sebelumnya othor minta maaf yang buannyaakkkk dari para pencinta Babang Kenn sama Neng Tita...
Selamat bulan Ramadhan ini, kemungkinan besar othor up nya agak lambat yak. Soalnya othor cari alesan kehidupan RL di bulan Ramadhan ini lumayan padat ...πππ
Othor benar - benar harus pinter bagi waktu ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya πππππ»ππ»ππ»
ππππ
"Assalamualaikum ...." Kennan mengucapkan salam saat memasuki apartemen dengan membawa beberapa kantong kresek berisi barang belanjaan.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Tita menjawab ucapan salam Kennan dengan tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar datar yang sedang menampilkan drama korea.
"Eh ... sayangnya abang udah pulang!" Kennan berseru sembari menaruh kantong belanjaan di meja pantry. Tita memang pulang terlambat sebab mengikuti rapat osis di sekolah untuk pergantian personil baru. Sudah saatnya personil osis berganti karena Tita sekarang duduk di kelas XII.
Tita tidak menyahut dirinya duduk di sofa, fokus menatap layar datar di depannya tanpa berkedip.
"Dek kok gue dicuekin seh!" Kennan berseru, hingga membuat Tita menoleh ke belakang.
"Iya Abaang ... Tita udah pulang ...." sahutnya malas.
Namun sesaat setelahnya segera beranjak saat melihat dua buah kantong kresek besar di hadapan Kennan.
Tita segera berjalan mendekati pantry dengan kening yang berkerut.
"Tumben abang belanja, banyak lagi ...." Tita terheran.
"Kenapa? gak boleh?"
"Bukan gak boleh ... gak biasa aja." Tita menyahut.
"Bantuin beresin gih." titah Kennan pada isterinya.
Tita pun meraih dua kantong kresek yang lumayan besar tersebut dan membukanya. Kemudian mengeluarkan satu - persatu barang belanjaan Kennan.
Tita kembali dibuat heran saat mendapati isi pada kantong kresek yang didominasi oleh bahan makanan bukan camilan atau minuman persediaan yang biasa memenuhi stok lemari dapur mereka.
"Ngapain Abang belanja sayuran, daging, ayam mentah kek gini?!" tanya Tita heran sambil mengeluarkan barang - barang tersebut dari kantong kresek.
"Ini lagi ...." Tita mengeluarkan kaleng sarden, kornet serta sosis beku dari dalam kantung kresek yang berlogo minimarket dekat apartemen mereka.
"Abang dapat uang dari mana belanja banyak kek gini?"
Kennan merogoh dompet dari saku celana jinsnya kemudian membukanya. Setelah dompet terbuka Kennan mengeluarkan kartu atm dari sana dan menyodorkannya pada Tita.
Tita mengernyit bingung. "Apa ini Bang?!"
"Ayah udah mengembalikan atm gue, elo aja yang simpen. Pakek buat memenuhi kebutuhan kita. Gue ... gak perlu uang saku lagi sekarang. Elo masak aja, daripada beli makan di luar mulu, biar lebih sehat." jelas Kennan pada Tita.
Sebenarnya kartu atm tersebut adalah milik Kennan pribadi, bagaimana pun dirinya mempunyai usaha sendiri. Jadi penghasilan dari usaha kafenya tersebut mengalir pada kartu atm tersebut. Sedangkan atm pemberian bunda, Kennan memilih menyimpannya. Kennan merasa Tita adalah tanggung jawabnya sekarang, jadi dirinya lah yang seharusnya memenuhi kebutuhan isterinya, bukan bunda maupun ayahnya.
Tita menatap manik mata Kennan, perasaan bimbang untuk menerima atm tersebut masih memenuhi lubuk hatinya.
"Udah gak usah kebanyakan mikir, simpen gih. Itung - itung itu nafkah dari gue ...."
"Widih ngaku - ngaku ... uang ayah jugak." Tita seolah mengejek.
"Sama ayah sudah dikasih ke gue Dek ... jadi sah pemiliknya adalah gue. Jadinya statusnya emang bener ... sah nafkah gue buat elo Dek." Kennan masih menutupi kebenarannya.
Tita memilih menganggukkan kepala berulang, menerima alasan Kennan.
"Memangnya Abang mau makan masakan Tita?"
Kennan menatap manik mata Tita datar. "Elo gak usah pura - pura gak tahu kalau gue pernah makan masakan elo Dek ...."
Tita tersenyum canggung. Namun dalam hatinya senang karena Kennan sedikit demi sedikit mengakui keberadaannya sebagai isteri. Meskipun mungkin itu karena terpaksa, sebab mereka sudah melakukan hubungan layaknya suami isteri yang sesungguhnya.
"Lo berhenti bekerja dari kafe ... fokus sama sekolah, bentar lagi lo bakalan sibuk sama ujian." titah Kennan pada isterinya.
Di dalam hati Kennan berjanji akan memberi tahukan kebenaran tentang asal uang dalam atm maupun tentang kafenya satu persatu, pada saat yang tepat agar Tita mengetahuinya tanpa ada rasa marah karena merasa dibohongi olehnya.
__ADS_1
"Tapi Bang ... Tita suka kerja di sana. Walaupun Abang udah kasih uang bukan berarti Tita mau berhenti bekerja dari sana. Tita udah ngerasa nyaman Bang, lagian Tita bosen terkurung di apartemen tanpa kegiatan." ucapnya dengan nada memelas.
"Dek ... tapi kan elo har ...."
Tita memutus ucapan suaminya. "Tita bakalan belajar yang bener, tapi Tita masih boleh bekerja di kafe ya Bang?!" Tita memohon.
Kennan diam, menatap gadis yang terlihat sangat tidak rela jika harus berhenti bekerja.
"Bang ... boleh ya??"
Kennan pun mengangguk setelah membuang nafas pendek.
"Makasih Bang, Abang baik deh. Kalau gitu sah ya ... Tita yang simpen ini." Tita mengacungkan kartu atm pemberian Kennan.
Kennan kembali mengangguk. "Jangan sampai kelelahan, just enjoyed ...."
Tita pun mengangguk dengan tersenyum senang. Kemudian tangan kanannya membuka laci pada rak yang berada di dekat pantry, memasukkan kartu atm itu di sana sebelum nanti dimasukkan ke dalam dompetnya.
"Kalau Tita pakek buat beli baju atau sepatu, boleh Bang?"
"Mau pakek buat beli apa saja terserah elo, yang penting gak elo pakek buat menafkahi cowok lain." jawab Kennan bercanda.
"Candaan Abang gak lucu ... Abang pikir Tita itu tante - tante girang yang suka ngabisin uang buat beli berondong ...!" Tita melengos kesal dengan menaikkan nada bicaranya satu oktaf lebih tinggi.
"Maaf ... bukan gitu maksud gue." Kennan mengucap maaf sembari mengusap punggung Tita lembut.
Namun entah kenapa mood Tita terlanjur turun, rasanya sangat marah mendengar ucapan Kennan yang terasa menusuk.
Tita pun menghentikan aktivitasnya dari memberesi barang belanjaan suaminya lalu menepis tangan Kennan yang mengusap punggungnya. Kemudian dengan langkah kaki yang sedikit dihentakkan meninggalkan kennan begitu saja untuk kembali menuju sofa, tempatnya menonton drakor.
Brek ...
Tita mendaratkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa.
Kennan yang menyadari kesalahan pada ucapannya segera menyusul untuk mencegah kemarahan isterinya agar tidak berlarut - larut.
Kini, Kennan selalu merasa tidak nyaman jika harus merasakan diamnya pemilik bibir pink itu jika sedang mode angry birdnya on.
Kennan mengambil duduk di samping Tita dengan sedikit keras dan sebagian tubuhnya sengaja menekan bahu isterinya.
"Apaan seh Bang ... bikin kaget wae." Tita menoleh sesaat pada Kennan lalu kembali fokus pada drakor di depannya.
"Sorry ... bercanda gue kelewatan ...." ucap Kennan lembut.
Hemm ... pemilik bibir pink itu hanya terdengar menggumam pendek.
Kennan menghela nafas dengan pelan.
"Kalau udah nonton oppa - oppa mah gini jadinya ...." Kennan menggumam lalu menyandarkan kepala pada bahu isterinya.
"Abang jangan gini ... berat ihh ...." Tita menggerakkan bahunya seolah enggan menopang kepala suaminya.
Ck ... Kennan berdecak, kemudian kembali merebahkan kepala pada bahu isterinya. Bahkan dengan sengaja menggelayutkan setengah tubuhnya agar fokus Tita beralih padanya.
"Abaaang berattt ...." Tita menggeser bahunya dari tubuh Kennan dengan memberengut.
"Makanya kasih perhatian sama suaminya, jangan cuma perhatian sama oppa - oppa halu kek gitu ..." Kennan kembali menyandarkan kepala pada bahu Tita.
"Lagi seru ini Bang ...." Tita akhirnya terpaksa menerima kepala serta setengah tubuh Kennan yang menggelayut padanya.
"Dosa lo perempuan bersuami memfokuskan pandangan mata pada lelaki lain, apalagi memandangnya sampek ngeces kek gitu."
"Idiiihhh ... apaan sih Bang, orang cuma lihat tivi. Lagian Tita fokus sama jalan ceritanya kok." Tita tersenyum geli melihat tingkah Kennan yang aneh menurutnya, hal itu sedikit melunturkan rasa marahnya atas ucapan suaminya yang sempat membuat darahnya sedikit naik.
"Dek ...!" Kennan meraih tangan kiri Tita sembari mengusapnya lembut.
"Apa"
"Ganti panggilan elo ke gue."
__ADS_1
Tita mengernyit. "Maksud Abang?"
"Jangan panggil gue abang."
"Maunya dipanggil apa?" Tita masih saja fokus pada layar datar di depannya.
Kennan terlihat seolah berfikir.
"Panggil sayang aja gimana?"
Kita mengerutkan kening sesaat.
"Enggak ... kalau lagi di luar rumah repot, malu juga."
"Kenapa ...?" Kennan bingung kenapa dibilang repot dan malu.
"Masih sekolah udah panggil sayang, kek dunia milik berdua aja. Lagian pasti banyak yang meminta penjelasan status kita kalau orang lain denger." jelas Tita.
"Lah ... tinggal bilang jujur kalau kita emang suami isteri, simpel kan?!"
"Enggak Abang, ntar aja kalau udah lulus sekolah. Udah pantes dibilang kalau kita udah nikah, sekarang mah kek pacaran halal aja." tolak Tita.
"Lagian kenapa kalau dipanggil abang?!" Tita bertanya heran, karena selama ini Kennan terlihat baik - baik saja menerima panggilan abang darinya.
"Berasa kek abang bakso gue ...." Kennan mengerucutkan bibirnya.
Tita terkekeh geli.
"Sejauh ini nyaman wae dipanggil abang bakk ... sso." Tita tersenyum kecil, dan itu terlihat mengejek menurut Kennan.
"Dek ...." Kennan mendongak pada wajah isterinya.
"Loh emang iya kan, gak ada masalah juga kan Tita panggil abang. Adek juga panggil abang." Tita membandingkan adek perempuan Kennan yang memanggilnya abang juga.
"Justru itu ... elo kasih panggilan yang beda ke gue, biar gue gak berasa nikah sama adek sendiri ...."
"Ck ... abang aneh - aneh wae."
"Panggil mas kalau gitu!"
Tita mengerutkan kening seolah berfikir. "Mas ...??? Keknya aneh deh Bang ...."
"Aneh gimana maksud lo?!"
"Mas Kenn ... Mas Kennan ... aneh kan?! Kek belibet gitu nyebutnya. Mending panggil abang aja, kek adek lebih enak." putus Tita lalu menjeda ucapannya sesaat seolah berfikir.
"Atau Bang_Ke kek yang sering disebutin sama adek itu lebih enak kan Bang ...?!" Tita tersenyum seolah mengejek.
"Apa lo bilang?! ulang lagi ...!!!" Kennan mengeram dan menatap Tita tajam.
Hek.
Tita segera menciutkan bibirnya, menghentikan senyumannya.
"Bang_Ke lebih enak ...." ulang Tita sembari beranjak menghindar dari amukan Kennan yang pastinya akan marah mendengar ucapannnya.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ