Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Part 241


__ADS_3

"Ta!! Sini...!!" Hani berseru dengan melambaikan tangan.


Tita menoleh ke asal suara.


Tita yang semula hendak pergi meninggalkan sekolah pun mengurungkan niatnya, segera berlari kecil menghampiri sang sahabat yang berdiri tak jauh dari panggung.


"Lo mau kemana kok jalan ke arah sana?" Tanya Hani dengan berseru karena suaranya kalah dengan pengeras suara yang ada di sana.


"Mau pulang." Tita mengatakan tepat di telinga Hani.


Hani membola. "Ngapain pulang... orang acaranya masih banyak kok."


"Capek." sahut Tita singkat.


"Kennan masih di sini kan?! lagian dia juga bakalan ngisi acara sama gengnya, elo nggak pengen nonton?" Hani bertanya.


"Iya, Tita tau." Tita mengangguk lemah.


Jujur saja hatinya sedang gundah saat ini, rasanya tidak ingin berlama lama berada di sana. Tita ingin segera pulang saja dan menjernihkan hati dan otaknya yang dipenuhi dengan berbagai prasangka tentang suaminya.


"Jangan pulang dulu, habis ini Irsyad ngajakin kumpul bareng." Hani dengan menggandeng lengan tangan Tita.


"Tita lelah incess..." Tita terlihat enggan.


"Ck... pertemuan terakhir Ta, belum tentu habis ini kita bisa ngumpul bareng." Hani menahan kuat lengan sahabatnya.


"Elo kenapa sih Ta?" Hani penuh selidik saat melihat wajah Tita yang seperti sangat lelah.


"Capek incess." Tita dengan tidak semangat.


"Kenapa emangnya, bukane semalem Kennan sama lo nggak tidur bareng?" Hani dengan frontal. Membuat Tita membelalakkan mata dengan lebar.


"Incess apaan sih..." Tita membekap mulut Hani sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, takut ada yang mendengar ucapan sahabatnya.


"Tapi bener kan omongan gue?!" Hani menepis tangan Tita kuat hingga berhasil melepaskannya dari mulutnya. Hani sudah paham dengan kegiatan yang dilakukan pasangan suami istri itu jika mereka tidur bersama.


Semalam Kennan dan geng basketnya berada di sekolah untuk menyelesaikan panggung beserta dekorasinya. Dan juga melakukan gladi resik untuk seluruh pengisi acara perpisahan sekolah mereka.


Hani mengetahui hal itu dari Irsyad.

__ADS_1


"Iya. Tapi ngomongnya jangan keras keras. Takut ada yang denger."


"Soundnya keras banget gak bakal ada yang denger kok, percaya sama gue." Hani menyakinkan.


"Jangan diulangin lagi ngomong keras kek gitu, apalagi ngomongnya tentang begituan." Tita sedikit tidak nyaman. Meski dia memang sudah sah saat melakukan hubungan suami isteri.


"Iya... iya... sorry..." Hani memberi tanda peace dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Sekarang jujur sama gue, kenapa lo kek lesu gitu?"


"Tita beneran lelah incess, entahlah... Tita juga nggak tau. Sepertinya efek marathon belajar buat ujian, lelahnya menumpuk."


Tita juga hanya mengira ngira, dirinya juga tidak yakin dengan apa yang dirasakan oleh tubuhnya.


Hani manggut manggut.


"Sini deh..." Hani merangkul lengan tangan Tita lalu menariknya. "Lo duduk di kursi aja, yang penting jangan pulang dulu." Hani mendudukkan Tita pada kursi penonton di depan panggung, layaknya memperlakukan orang tua jompo.


Hani berdiri di samping Tita, mulai menggerakkan pinggulnya sambil menikmati hentakan musik yang dibawakan oleh Kennan dan kawan kawannya.


Lagu lagu sheila on 7 dibawakan oleh Kennan dan gengnya dengan sangat apik.


Pilihan lagu yang pas untuk menutup acara perpisahan sekolah mereka.


Seluruh siswa siswi yang menonton di depan panggung melambaikan tangan mengikuti irama musik yang menghentak asyik seolah menunjukan kegirangan mereka melepas masa SMU nya dengan penuh suka cita.


Pun begitu dengan Hani.


Gadis itu menggerakkan tubuhnya serta bersenandung ceria. Kegembiraan terpancar dari wajahnya, apalagi saat pandangan Irsyad mengarah kepadanya. Hani menyunggingkan senyum berbinar pada sang pujaan hati yang kini sudah mulai dekat.


Hubungan Hani dan Irsyad memang sudah semakin dekat meski keduanya belum berkomitmen sebagai pasangan kekasih. Mereka masih nyaman dengan kedekatan hubungan mereka tanpa harus mengikat satu sama lain.


Jika memang jodoh, pastilah nggak akan kemana. Mungkin prinsip itu yang dipegang oleh Irsyad dan Hani.


Berbeda dengan Tita.


Meski suasana di sekitarnya riuh oleh suara band Kennan serta sorak sorai penonton, namun Tita merasakan kesunyian dalam hatinya.


Pandangan matanya lurus mengarah pada Kennan yang terlihat semangat menabuh drum di atas panggung.


Meski bulir keringat memenuhi wajah tampan serta membasahi rambut hitam sang suami, namun hal itu tidak membuat pesona tampan Kennan Atamadja luntur.

__ADS_1


Bagaimana bisa Tita hidup tanpa abang... bisik hati Tita mengunci pandangan pada Kennan, dilema.


Set...


Tanpa diduga Kennan mengarahkan pandangan pada Tita, tentu saja dengang menyunggingkan senyum pada wajahnya yang selalu terlihat tampan penuh pesona.


Deg


Dada Tita berdetak saat pandangan matanya bertemu dengan manik hitam Kennan Atmadja.


Debar lirih yang disertai dengan rasa nyeri menyusup dalam dada Tita.


Sudah tepatkah keputusannya untuk meninggalkan Kennan atau mungkinkah dirinya harus bertahan.


Jujur saja Tita tidak sanggup membayangkan harinya jika tanpa Kennan di sisinya.


Tapi mau bagaimana lagi, Tita tak sanggup jika Kennan memiliki hati yang belum sepenuhnya untuk dirinya.


Ingatannya kembali pada beberapa hari lalu.


Flashback on....


Hari ini adalah hari terakhir Tita melaksanakan ujian sekolahnya. Tita berjalan pelan di koridor sekolah menuju parkiran dimana mobil Kennan terparkir di sana.


Meski pelan, Tita merasakan langkah kakinya sangat ringan saat ini karena ujian sekolahnya telah selesai. Beban di pundaknya terasa terangkat seluruhnya. Entah bagaimana nilainya nanti Tita tidak berharap banyak, karena dia menyadari kemampuan otaknya yang pas pasan.


Yang jelas Tita sudah berusaha belajar dengan maksimal untuk ujian sekolahnya. Tita hanya berharap jika dirinya bisa lulus itu saja, tanpa mengharapkan nilai yang muluk.


Langkah kaki Tita berhenti saat merasakan getaran dari dalam tas punggungnya.


Segera membawa tasnya ke depan dada, membuka kancing tas punggungnya kemudian mengambil ponsel pintar yang ia letakkan di dalam tas bercampur dengan buku - buku sekolahnya.


Dahi Tita mengerut saat mendapati nomor tanpa nama sedang memanggilnya.


"Siapa ya?" Tita dengan heran memandangi layar ponsel pintarnya yang menyala.


"Tita angkat nggak ya..." Tita bingung.


Akhirnya...

__ADS_1


"Assalamualaikum..." Tita dengan ragu.


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2