Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
EXTRA PART 12


__ADS_3

Bukk...


"Yayah Eyina akal!"


Huuaaa...


Tangisan membuncah keluar dari bibir mungil Keanu yang tetiba datang dan memukul punggung Kennan menggunakan guling yang dibawa olehnya.


Dengan segera Kennan berdiri, mengangkat tubuhnya dari atas Tita setelah sebelumya merapikan piyama tidur Tita yang setengah terbuka.


"Sayang kenapa nangis?" Kennan dengan membungkuk. Mensejajarkan kepala dengan tinggi anak lelakinya. Meski hasratnya yang di ujung tanduk membuat pening kepala, namun bagaimanapun Kennan harus tetap bersikap lembur pada Keanu yang merusuh.


Di sisi lain Tita segera bangkit dari ranjang lalu membenahi kancing piyamanya yang telah terlepas serta beberapa bagian yang berantakan.


Cup... cup...


Ucap Kennan menenangkan seraya mengangsurkan tangan hendak menyusut air mata yang membasahi pipi putranya, namun segera ditepis oleh Keanu.


"No. Jan pegang! Anu gak cuka." Pekik Keanu hingga membuat tangan Kennan hanya mengambang di udara.


"Sayang nggak boleh gitu sama ayah." Tita segera berlutut memeluk tubuh anak lelakinya yang menangis marah. Tita tahu jika Keanu masih merasa asing dengan kehadiran sang ayah namun tetap saja dia tidak ingin sikap sang anak berkelanjutan nantinya.


"Yayah Eyina akal. Doyong doyong unda mpe jatuh di kasul. Anu gak cuka, Anu mayah." Keanu dengan bibir yang mengerucut di sela raungan tangisnya.


Tita menghela nafas pelan, lalu berkata. "Ayah nggak sengaja sayang." Ucap Tita lembut seraya menyibak lembut anak rambut yang mengurai di wajahnya. Anak rambut itu terlihat menganggu karena panjangnya hingga menutupi mata.


"Enggak mungkin. Yayah Eyina pasti sengaja. Dia akal." Keanu dengan berteriak seraya menunjuk Kennan.


"Ada apa nduk?" Tetiba bunda mertua Tita diikuti sang suami berseru dengan wajah khawatir di ambang pintu kamar Kennan yang telah dibuka oleh Keanu beberapa saat lalu.


Tita dan Kennan serempak mendongak.


"Nggak papa bun." jawab Tita hingga mendapatkan aksi tak terima sang buah hati.

__ADS_1


"Itu yayah Yina akal. Tidul atas unda enu. Kasihan unda penyet." Keanu berseru seolah mengadukan sang ayah pada kakek dan neneknya.


"Kean." lirih Tita lembut tepat di telinga Keanu. Tanpa sadar satu tangan Tita membekap mulut anak lelakinya karena merasa malu pada kedua mertuanya.


Meski bekapan itu tidak terlalu kuat namun tetap saja Keanu bereaksi berlebihan dengan menggigit telapak tangan sang bunda.


"Aduh Kean." Tita segera melepaskan tangannya dari mulut Keanu. Sesungguhnya bukan karena sakit melainkan karena terkejut karena Keanu tidak pernah bersikap berlebihan seperti itu pada dirinya.


"Unda ndak tau telima kacih. Anu belain malah akal, tutup muyut Ean." Keanu dengan berlari menuju kakek neneknya.


Memeluk salah satu kaki kakeknya, seolah meminta pembelaan dan perlindungan dari mereka.


Sang kakek pun duduk berjongkok mensejaajrkan tubuh dengan Keanu.


"Abang sabar dikitlah, kalau nggak kunci pintunya." Ucap Bunda mengerti akan ucapan sang cucu.


Tita menekuk wajahnya, malu. Sedangkan Kennan terlihat canggung seraya mengusap tengkuk lehernya saat mendengar ucapan sang bunda.


"Kean tidur sama eyang ya?" Bunda mengalihkan pandangan pada keanu yang telah berada dalam dekapan kakeknya masih dengan sisa isakan tangisnya.


"Kenapa nggak mau? Kamar titi luas, enak, nyaman, kasurnya dua." Bunda menggerakkakan dua karo di depan Keanu. "Daripada di sini ranjangnya cuma satu, sempit. Pasti Kean nggak bisa tidur dengam nyenyak." bunda berusaha membujuk Keanu dengan tersenyum lembut.


"Gak au, Anu aunya cama Unda. Yayah Eyina aja yang tidul ma titi." Keanu melepaskan tangan dari kaki sang kakek, buru buru pindah mendekap sang bunda.


"Anu maunya cama unda." Kembali Keanu berucap kata serius mengeratkan kedua tangan di belakang leher Tita.


"Sayang." Tita mengusap lembut punggung Keanu. "Ini kamar ayah, masak ayah nggak boleh tidur sini sih. Nggak enak kan sama ayah kalau kita mengusir dari kamarnya sendiri." bujuk Tita dengan nada lembut.


"Gak papa. Bial yayah eyina aja tidul sana, kamal Titi. Kita aja yang tidul cini."


"Nggak boleh gitu ding sayang. Kita tidur sama sama saja ya kalau gitu. Bunda, ayah, Kean juga tidur di sini."


"Gak au!" Kennan dengan menggelengkan kepala cepat.

__ADS_1


"Anu gak au cama yayah eyina!" Kean kekeh dengan deru nafas yang memburu karena marah.


"Sayang nggak boleh gitu." Tita tanpa sadar sedikit menbentak Keanu. Dan itu membuat Keanu menangis.


"Unda jahat, piyih kasih. Papa Ayex gak pernah dibolehin tidul baleng cama kita, giliyan iyang jeyek itu boyeh. Unda jahat... hiks..." Keanu terisak seraya menutup wajah dengan tangan mungilnya.


"Kean nggak gitu sayang..." Kali ini bunda yang turun tangan membujuk. Sepertinya Kean memiliki sifat keras layaknya Kennan.


"Bunda nggak jahat, bunda cuma lelah. Pasti bunda juga sudah ngantuk. Kalau gitu biar ayah saja yang tidur di kamar titi, Kean sama bunda yang tidur di sini ya..."


Kean pun mengangguk pelan.


Wajah Kennan berubah masam, dalam hati merasa kesal dengan sang bunda karena bunda dengan seenaknya mengambil keputusan memisahkan dirinya dengan Tita. Padahal rasa rindu di hatinya sudah sangat menggebu. Ingin rasanya mengulang masa indah, memeluk tubuh ramping Tita yang memiliki aroma wangi yang telah menjadi candunya.


"Nah kalau gitu jangan nangis lagi ya... Hapus air matanya, biar gantengnya nggak hilang." Sang nenek dengan tersenyum melucu.


Kean pun menyusut air mata denga kedua tangannya silih berganti, lalu menyunggingkan senyum pada wajah tampannya untuk sang nenek.


"Ayok bobok nda." Kean menarik sakah satu tangan Tita seraya mendekati ranjang lalu merangkak menaikinya.


"Cekayang Kean ama unda mau bobok, cemua bubal. Anu engab..." Anak kecil turunan Kennan itu berlagak mengusir. Kennan melongo ajan ulah anakn


lekakinya.


"Iya deh eyang kakung sama titi balik kamar, Kean tidur yang nyenyak ya, biar besok bisa bangun pagi." Bunda pamit dengan geleng geleng kepala melihat tingkah lucu sang cucu.


"Oyang jeyeknya dibawa ti!" Kean berseru mengingatkan saat kakek neneknya hendak berlalu keluar kamar.


"Eh iya lupa." Ayah Kennan dengan menarik tangan Kennan keluar.


"Yah..." Kennan dengan enggan.


"Masih banyak waktu lain." Ayah menarik kuat, hingga mau tak mau Kennan pun keluar kamar dengan tak lupa mematikan lampu kamar agar anak dan isterinya bisa tidur dengan nyenyak

__ADS_1


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2