Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
164. Menginap?


__ADS_3

Apa sih maksud Andra? tanya Tita dalam hati.


Menghentikan sejenak tangannya untuk memasukkan sendok makanan ke dalam mulutnya. Sesaat kedua alis matanya saling bertaut memikirkan ucapan Andra yang terdengar ambigu menurutnya.


"Jodoh hanya Tuhan yang tau. Dijalani saja, kita tinggal menerima siapapun orang yang Tuhan berikan untuk kita. Bener kan Ta?" Andra mengalihkan pandangan ke arah Tita.


Tita pun tergagap dibuatnya.


"Ii_ iyyaa." gagap Tita, lalu meraih botol minumnya untuk membasahi tenggorokannya yang tetiba terasa kering.


Andra kembali tersenyum penuh arti, entah apa maksud senyuman dari si mantan ketua osis tersebut.


Sinta yang sudah terpesona dengan ketampanan dan kecantikan kedua kakak kelas yang dianggapnya sebagai pasangan tersebut mengembangkan bibirnya, tersenyum. Sinta merasa sangat senang jika keduanya adalah pasangan. Pasti keduanya akan menjadi pasangan fenomenal di sekolahnya. Yang cowok tampan juga ramah sedangkan yang cewek juga ramah, cantik juga. Hanya saja karena kakak kelas yang sudah tidak mendampinginya menjabat sekretaris osis itu memakai kerudung, jadi banyak yang tidak memperhatikan kecantikannya.


Mereka sangat cocok bersanding sebagai couple. Kecocokan yang pastinya akan membuat iri sebagian besar siswa dan siswi di sekolah mereka.


"Beneran kalian hanya temenan, gak ada sesuatu yang spesial gitu?" Sinta berusaha memastikan.


"Anak kecil gak usah kepo." Andra menyahut dengan masih asyik mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Sinta kan pengen tau yang sebenernya kak, gak cuma desas desus wae."


"Kalau jodoh mah gak akan kemana." Andra berucap santai. "Iya kan Ta?" Andra kembali memandang Tita sekilas.


Tita yang semula masih bingung mencerna ucapan Andra terlihat tergagap. "Eh apa ... iya ..."


"Kak Tita mikirin apa sih, gak ngikuti omongan dari kita berdua kan?" Sinta.


"Ah ... eh ... iya, maaf." Tita terlihat sungkan, namun Sinta berfikir jika Tita sedang gugup dengan Andra yang berada di sana.


"Kak Tita gugup ya?"


"Eh ... enggak kok." Tita kikuk.


"Jangan - jangan kalian berdua memang sudah jadian ya? Hayo ngaku!" Sinta memandang kedua kakak kelasnya silih berganti.


Tita dengan cepat mengibaskan kedua telapak tangannya di depan dada, menolak mengakui ucapan Sinta. "Enggak kok, kita cuma temenan. Beneran!"


Sinta tersenyum kecil. "Iya deh temen jadi demen."


"Enggak Sin, beneran kami cuma temenan. Iya kan Ndra?"


"Iya. Kami sekarang masih dalam status teman Sin." Andra segera mengiyakan karena tidak ingin membuat Tita tidak nyaman.


Hingga,


Drrtt ... drrtt ...


Tita merasakan ponsel pintarnya bergetar, segera dia meraih dari saku bajunya.


Tita membingkai senyum saat melihat nama kontak suami gantengku❤❤❤ menyala di sana.


"Emm ... maaf Tita pamit angkat telfon dulu ya?" Tita mendekap ponselnya pintarnya sembari beranjak dari duduknya.


Andra memandang Tita menelisik. Siapa yang telfon hingga membuatmu tersenyum sesenang itu Ta?


"Kenapa gak dijawab di sini aja kak?" Sinta.


"Maaf ini ... em ... privasi. Keknya dia gak nyaman ngomongnya kalau ada orang lain." Tita menjawab dengan sungkan.


"Oh gitu. Ya udah baiklah, bawa sekalian kotak nasinya. Mubazir kalau gak dihabisin." Sinta mengingatkan.


Tita pun memasukkan ponsel pintarnya pada saku bajunya kembali, mengabaikan panggilan dari Kennan.


Kemudian membawa nasi kotak serta botol minumnya sekalian.


Menundukkan setengah tubuhnya dan tersenyum pada Sinta dan Andra setelahnya berjalan menjauh menuju bangku yang ada di bawah pohon besar yang teduh.


Andra menatap kepergian Tita dengan sedikit tidak rela. Rasanya ingin sekali menahan gadis itu untuk tetap duduk di dekatnya. Namun apalah daya dirinya tidak memiliki hubungan spesial yang dapat digunakan sebagai alasan menahan gadis itu.


Andra memandang sendu pada punggung yang semakin mengecil karena berjalan menjauh itu.


"Kak."


Andra menoleh pelan pada adik kelas yang masih duduk di sebelahnya tersebut.


"Surprisenya nanti malem tetep lanjut kan?" Sinta seakan memastikan.


Andra mengangguk perlahan.


Sinta pun tersenyum dengan cerah ceria. "Sip ... semangat kak."

__ADS_1


Andra membalas tersenyum sembari mengepalkan tangan, memberi tanda semangat juga.


Setelah Tita sampai pada bangku yang dituju, dia meletakkan botol air mineral dan kotak nasinya. Lalu kembali mengambil ponsel pintar yang masih saja bergetar pada saku bajunya.


"Assalamualaikum Bang." seru Tita sembari menghadapkan wajahnya pada ponsel pintarnya, karena Kennan sedang melakukan panggilan video call.


Dengan alasan itulah Tita memilih mengangkat telfon suaminya dengan menjauh dari Andra dan Sinta. Sekaligus menghindar dari kondisi yang membuatnya sedikit tidak nyaman tadi.


"Wa'alaikumsalam, lagi ngapain Dek? Makan siangkah?" Kennan bertanya dengan senyum berbinar.


Tita mengangguk dengan menunjukkan nasi kotak di depannya.


"Sendirian wae Dek, gak ada yang nemenin po?" Kennan menyelidik.


"Tadi ada Sinta yang temenin. Tapi waktu lihat abang video call Tita menjauh." jelas Tita.


"Kenapa gitu?"


"Biar nyaman ngobrolnya." Tita dengan pipi yang merona merah.


"Ciee ... kangen kan sama gue?!"


"Emang abang enggak?" Tita pura pura manyun.


"Kangen lah, kalau gak kangen ngapain gue nelfon." Kennan terkekeh.


"Lo gak deket - deket sama si ketos kan?"


"Enggak. Nih Tita lagi sendirian." Tita sedikit menjauhkan ponselnya agar kamera ponselnya menjangkau sekelilingnya.


"Awas aja kalau ketahuan elo deket - deket sama dia."


"Enggak Bang, Tita usahakan jaga jarak kok." Tita memilih menutupi kebenarannya, dirinya tidak ingin membuat Kennan cemburu. Bisa bisa Kennan segera datang jika tahu dirinya dekat dengan Andra, pasti akan rusuh nantinya.


"Jangan cuma jaga jarak. Jaga pandangan dan jaga hati lo." peringat Kennan.


"Iya Bang, iya." Tita tersenyum melihat raut wajah kesal suaminya saat mengucapkan peringatan untuknya.


"Abang lagi ngemoll?" Tita bertanya saat menyadari di belakang suaminya terlihat hamparan baju yang berjejer rapi dengan berbagai tulisan promo menarik.


"Iya. Sama Nounou." jawab Kennan sembari mengarahkan kamera ponselnya pada Naura yang sedang asyik memilah baju pada gantungan.


"Adek mau nemenin abang?"


"Abang kok ngomongnya gitu sama adek sendiri jugak."


"Lah emang iya, dia mau gue ajakin karena ada embel embelnya."


"Abang juga iya kan, mau ngajakin adek kalau ada maunya pasti." Tita membalikkan ucapan Kennan.


"Enggak." Kennan mengelak.


"Gak mungkin, abang pasti gak punya temen buat diajak jalan kan?! Makanya ngajakin adek ..."


"Ish ... tau wae sih Dek ..." Kennan terkekeh.


"Abang sama adek udah makan?"


"Udah. Tadi makan ayam goreng k*c." Kennan menyebutkan salah satu gerai fastfood yang cukup terkenal di dalam mall.


"Jam berapa pulangnya?" Kennan bertanya tidak sabar.


"Harusnya sih habis ashar sudah selesai. Terus persiapan pulang."


Kennan terlihat menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Dek"


"Apa"


"Elo mau oleh - oleh apa?"


"Gak usah. Gak ada yang Tita pengen Bang."


"Ayolah, pengen apa gitu. Mumpung gue lagi baik nih."


"Gak ada Bang. Cukup abang gak ngusilin adek wae."


Kennan mengerucutkan bibir.


"Itu mah perintah Dek, bukan keinginan."

__ADS_1


Tita tersenyum. "Memang. Abang kan gak selalu jahil sama adek."


"Ck" Kennan berdecak. "Beliin baju ya?"


"Enggak usah Bang."


"Kalau gue maksa."


"Terserah abang. Tita mah cukup abang gak lupa jemput wae."


Kennan tersenyum. "Itu pasti!"


Lalu terlihat mendekatkan wajah pada ponsel. "Gue jemput ke sana wae ya, sekarang."


"Enggak!" Tita menolak dengan tegas dengan kedua bola mata yang melotot.


"Ayolah Dek. Gue nunggu di kejauhan, biar gue bawa sekalian si cewek matre itu." Kennan mengarahkan kembali kamera ponsel pada adek bungsunya.


"Abang! Jangan kasih adek panggilan itu, omongan adalah doa. Abang mau mendoakan adek jadi cewek matre?"


Kennan terkekeh. "Bercanda doang, elah ..."


"Gak lucu!" Tita manyun.


"Jangan ngambek lah Dek, jelek tau."


"Biarin."


"Wih ngambek kie." Kennan mengerucutkan bibir kemudian mendekatkan pada kamera ponselnya.


Muuaahh ...., Kennan seolah memberikan ciuman.


"Biar gak ngmbek lagi."


Tita pun terkekeh kecil dengan pipi yang merona merah, saat melihat kelakuan suaminya.


Ah ... jadi pengen cepet pulang, bathin Tita tersenyum.


"Udahan ya Bang, Tita mau lanjut lagi nih."


"Cium buat gue mana?" tagih Kennan.


"Emang Tita mau ngasih gitu?"


"Ya kali Dek ... gue kan udah kasih. Bales lah, biar afdol."


"Enggak. Ntar aja di rumah puas - puasin."


"Janji ya?!" Kennan girang.


Tita mengangguk.


"Udah ya, Assalamualaikum." Tita mengakhiri panggilannya.


"Waalaikumsalam." balas Kennan tersenyum.


Tita masih terlihat tersenyum dengan memandangi ponsel pintarnya meskipun Kennan sudah mengakhiri panggilannya.


"Kak Tita ... Ayok! Kita mulai lagi nih." seru Sinta dengan melambaikan tangan dari kejauhan.


Tita pun segera menyusul setelah membuang bekas makannya pada tempat sampah.


"Kak, ntar malem kakak tidurnya bareng aku aja ya?" tanya Sinta setelah mereka berjalan beriringan.


"Loh ... memangnya kita menginap Sin?" Tita bingung.


"Iya. Kak Tita nggak tau?"


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❤

__ADS_1


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘


__ADS_2