
Tok... tok...
Ceklek... ceklek...
"Unddaaa bukaaaaa!! Kenapa pintunya dikunci cih..."
Bunyi ketukan yang disertai dengan teriak lengking Keanu menginterupsi pasangan suami isteri yang sedang bergelut di atas ranjang tersebut.
"Mas, Kean itu." tubuh Tita menegang. Kedua tangannya menahan aksi sang suami yang sedang berusaha memasuki ini tubuhnya di bawah sana.
"Tanggung dek udah di pucuk ini." Kennan dengan mendengus.
"Tapi mas." Tita cemas karena mendengar suara Keanu yang tidak berhenti berteriak memanggilnya. Tita hafal betul bagaimana perangai anak lelakinya itu jika tidak segera dibukakan pintu.
"Aku akan melakukannya dengan cepat sayang." bujuk Kennan dengan memaju mundurkan tuas pabrik kecebong miliknya yang telah berhasil menyelam.
Semua sudah terlanjur, Kennan tidak ingin berhenti di tengah jalan karena itu sangat menyakitkan.
Sungguh dalam hati Kennan sangat kesal pada tuyul kecil jiplakan sifatnya tersebut.
Meskipun Keanu adalah darah dagingnya sendiri namun dia seolah membalas dendam padanya tanpa ampun. Selalu saja membuat Kennan tidak bisa menikmati waktu berduaan dengan sang isteri dengan waktu yang lama.
"Mmass ishh.... akku gakk tahan." Tita dengan merem melek saat Kennan mempercepat ritmenya memaju mundurkan tuas pabrik kecebongnya.
"Bentar lagi sayang." Kennan dengan deru nafas menggebu mempercepat aksinya. Meski gerakan Kennan sangat cepat namun dia tetap melakukannya dengan lembut. Tidak ingin melukai Tita.
Brugh...
Akhirnya Kennan ambruk di atas tubuh Tita saat keduanya telah mencapai pelepasan bersama.
Cup.
"Makasih sayang. Kamu tetap saja nikmat, rasanya tak jauh beda seperti pertama kali aku melakukannya." Kennan mengecup kening Tita cukup lama, setelahnya melepaskan untuk mengatur nafasnya yang terengah.
Tita tersipu malu akan ucapan Kennan. Yang mereka lakukan barusan sungguh membuat seluruh tubuhnya meremang. Benar kata Kennan jika merasa seperti awal mereka melakukannya, karena Tita pun merasakan hal yang sama. Entah apa penyebabnya Tita pun tak tahu.
"Apa kamu merasakan yang sama?"
"Iya mas. Padahal aku udah melahirkan di kembar dengan normal waktu itu."
"Kamu pasti pandai merawatnya sayang." Lagi Kennan mendaratkan kecupan pada kening Tita, lalu turun pada kedua mata Tita silih berganti. Kemudian tak lupa pada pipi dan seluruh wajah Tita meski titik titik peluh masih tersisa di sana.
__ADS_1
"Undaaaa!!!"
Lagi teriakan yang disertai dengan gedoran pintu itu menginterupsi kegiatan pasangan suami istri tersebut.
"Iya sayang... bentar bunda masih di kamar mandi. Ayah lagi pakek baju." Kennan yang menyahut dengan berteriak memberikan alasan.
Tita pun terkekeh kecil melihat raut wajah Kennan yang jelas terlihat cukup kesal.
"Anak itu benar benar cobaan buat emosiku." Kennan turun dari atas tubuh Tita dengan segera, meraih piyama tidur yang telah berserakan dan memakainya.
Setelah selesai mengenakan piyama miliknya, Kennan memunguti piyama milik sang istri lalu menyibak selimut tebal yang membungkus tubuh polos istrinya.
"Mas." Pekik protes Tita dengan kedua mata melotot karena dirinya masih dalam kondisi telanjang bulat. Tita masih saja malu.
Kennan menghiraukan pekikan protes sang isteri. Dengan segera membopong tubuh polos itu ke dalam kamar mandi.
"Cukup bersihkan bekas kita tadi, nggak usah mandi." Kennan mendudukkan tubuh Tita di samping bath up. Tangannya segera memutar tombol penghangat air.
"Tunggu lima menit lagi biar panasnya pas. Basahi handuk ini buat mengelap tubuhmu sayang." Kennan menyerahkan handuk kecil yang diambilnya dari rak penyimpan yang terdapat di dalam kamar mandi.
Tita mengangguk.
Tita tersenyum senang mendapati perlakuan hangat dari Kennan barusan. Bibirnya tidak berhenti membingkai senyum akan perhatian sang suami. Saat mengingat adegan panasnya beberapa saat lalu membuat kedua pipi Tita merona.
Dalam hati Tita sangat bersyukur karena keputusannnya kembali ke Indonesia telah mempertemukan mereka kembali. Dan telah menyelesaikan semua kesalahpahaman antara mereka sehingga keluarga kecilnya dapat bersama lagi.
πππ
"Undaaa...!" seru Kean memasuki kamar saat sang ayah membukakan pintu untuknya.
"Bunda lagi di kamar mandi sayang." Kennan dengan lembut pada anak lelakinya. Meski duplikatnya itu terlihat mengabaikannya namun Kennan tidak marah. Kennan akan berusaha sabar mengahadapi sikap Kean.
"Kenapa lama tekali?" Kean dengan bersidekap dada serta menunjukkan raut wajah kesal.
"Bunda lagi pup sayang jadi lama." Kennan berusaha memberikan alasan yang masuk akal pada putranya.
Huuh...
Keanu mendengus dengan kedua manik mata tak lepas dari pintu kamar mandi yang ada di kamar orang tuanya.
"Nggak usah kesal kek gitu, ntar kalau udah selesai bunda pasti keluar kok. Sini duduk dulu sama ayah." Kennan dengan menepuk sofa bed yang terdapat di dalam kamarnya.
__ADS_1
Namun Keanu bergeming.
Kennan pun hanya bisa menghela nafas melihat tingkah anak lelakinya yang gampang berubah bak bunglon.
"Ayahhh.... bundaa..." Kenina memasuki kamar seraya berseru memanggil dengan suara cempreng khas anak perempuan centil.
"Sini!"
Kennan seraya tersenyum ke arah pintu saat sosok anak perempuannya datang dengan boneka pada kedua tangannya.
Brukk
Kenina menjatuhkan tubuhnya pada pangkuan Kennan, Kennan pun pura pura mengaduh sakit. Bukannya merasa bersalah, Kenina justru tertawa lepas melihat reaksi sang ayah yang terlihat lucu menurutnya.
"Gak capek apa berdiri kek patung gitu?" Kenina mengarahkan pandangan pada Keanu.
"Gak!" ketus Keanu.
"Duduk sini sayang, ntar kakinya pegel. Sepertinya bunda masih lama." Kennan dengan mengayunkan tangan meminta sang putra untuk duduk.
Kean melihat dengan ekor matanya. Sesungguhnya kakinya memang terasa lelah, hanya saja egonya yang setinggi puncak everest membuatnya enggan untuk menerima permintaan sang ayah.
"Nggak usah sok kuat, kakimu pasti sudah lelah berdiri di situ dari tadi." Kenina tahu betul jika adik lelakinya itu sesungguhnya ingin menerima tawaran sang ayah.
Keanu hanya diam, masih bersidekap dada dengan wajah yang memberengut. Sesekali ekor matanya melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
Kenina turun dari pangkuan sang ayah.
"Kemana?" Tanya Kennan tanpa bersuara.
Krna tidak menyahut, melainkan menutup bibirnya dengan telunjuk seraya mengayunksn langkah kakinya mendekati Keanu.
"Udah sini... nggak usah kebanyakan mikir. Bisa busa kakimu patah jadi dua nanti." Kenina dengan menarik paksa tangan Keanu.
Dengan menunjukkan wajah memberengut, Keanu terpaksa berjalan mengikuti langkah kaki Kenina. Kemudian duduk di sofa tempat ayahnya duduk.
"Gini kan enak. Nggak pegel kakinya." Kenina tersenyum pada Kennan lalu pada Keanu.
Ceklek.
π¨π¨π¨π¨
__ADS_1