Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Bonus Gamon2


__ADS_3

"Kenapa dek?"


Kennan merenggangkan tubuh keduanya. Tampak jelas kekhawatiran pada raut wajah tampannya saat melihat ringisan pada wajah Tita.


Tak ada jawaban dari mulut Tita. Wanita itu semakin meringis dengan menggigit bibir bawahnya serta kedua tangannya yang memegangi perut besarnya, seolah menahan rasa sakit yang teramat dalam.


"Dek..."


Kennan makin khawatir melihat kondisi isterinya.


"Tolong... tolong....!" seru Kennan dengan memegangi tubuh Tita yang semakin merendah akan tumbang.


Menyadari tidak ada yang bakal datang masuk ke dalam ruangannya untuk menolong. Kennan segera membopong tubuh Tita, membawanya keluar.


Dengan langkah kaki lebar, Kennan menuruni anak tangga sehingga menimbulkan bunyi gaduh yang menginterupsi aktivitas para pekerja di bawah.


Beberapa orang karyawan kafe terlihat mendekat pada anak tangga di lantai bawah. Banyak yang terkejut dan beberapa berlari kecil, mendekat.


"Ada apa dengan ibu pak?" Tanya salah satu pegawai tersebut saat melihat Kennan membopong tubuh Tita dalam gendongan tangannya.


"Suruh Pak Pardi siapin mobil!" seru Kennan tanpa menghentikan langkah kakinya. Pak Pardi adalah sopir pribadi yang ditugakan oleh Kennan untuk mengantar Tita kemanapun mau pergi.


"Sepertinya nyonya mau melahirkan. Buruan panggil pak Pardi." Manajer kafe K&Y dengan sedikit mendorong salah satu karyawan lelakinya.


Karyawan tersebut segera berlari untuk memberitahu pak Pardi. Beruntung sopir pribadi nyonya mudanya itu stanby di depan kafe, sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk mencarinya. Setelah memberitahu sang sopir, salah sati karyawan kafe tersebut segera membukakan pintu mobil bagian belakang.


Kennan yang telah keluar dari kafe bersama Tita dalam gendongannya segera masuk dengan cepat.


"Ke rumah sakit ayah bunda pak, cepat." titah Kennan pada pak Pardi setelah duduk di jok belakang.


Pak Pardi pun segera mengangguk tanpa kata. Segera menancapkan gas untuk menuju rumah sakit bersalin yang diminta Kennan.

__ADS_1


"Bertahanlah sayang..." Kennan dengan suara bergetar. Sungguh dirinya sangat bingung, gugup campur aduk menjadi satu. Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya mendampingi Tita yang hendak melahirkan.


Sesampainya di pelataran rumah sakit Kennan dengan gegas membopong Tita tanpa menunggu pertolongan dari pihak rumah sakit. Kennan tak ingin membuang waktu. Apalagi saat melihat sang istri yang tak berhenti meringis menahan sakit, Kennan menjadi sangat khawatir.


Sesampainya di lobby rumah sakit beberapa orang perawat pun membantu Kennan untuk membaringkan tubuh Tita dia atas brankar.


Tak sedetik pun Kennan melepaskan pegangan tangannya pada Tita meski sang isteri yelah berada di atas brankar dan didorong menuju ruang persalinan.


"Sakit sayang?" tanya Kennan dengan sangat khawatir pada Tita.


Tita menggeleng dengan berusaha mengulas senyum meski dia merasakan perutnya tak berhenti kontraksi. Tita memilih menutupi rasa sakitnya karena tak ingi membuat Kennan semakin khawatir padanya.


"Jangan berbohong. Wajahmu pucat, bibirmu bergetar begitu." Kennan seolah tak peduli dengan keberadaan para perawat di sekitarnya. Baginya Tita memperhatikan kenyamanan Tita lebih penting. Siapa tau saja perhatiannya pada sang isteri membuatnya bisa mengurangi rasa sakitnya saat ini.


"Mas... ini bukan yang pertama kalinya buatku." Lagi Tita mengembangkan bibir tersenyum.


"Tetap saja jangan membohongiku tentang rasa sakitnya saat ini."


"Kenapa saya tidak boleh masuk sus?"


" Kami akan memeriksa kondisi ibu sebentar pak, untuk menentukan persalinan seperti apa yang dibutuhkan nantinya."


"Tapi sus..." Kennan seakan tidak rela.


"Ini prosedur rumah sakit pak. Kami mohon dengan sangat bapak mematuhinya."


"Mas..." cegah Tita saat Kennan hendak melakukan protesnya kembali.


Kennan yang semula hendak menyahuti perawat itu pun mengurungkan niatnya. Berganti mengalihkan pandangan pada Tita.


"Mas nggak perlu kuatir. Aku dan anak kita pasti baik baik saja. Ini bukan yang pertama kalinya ingat." Tita dengan tersenyum lembut sembari menatap Kennan lekat.

__ADS_1


Tatapan yang entah mengapa membuat benak Kennan serasa berat untuk melepaskan sang isteri berjuang di ruang persalinan sendiri.


"Kalau ada apa apa gimana dek?" entah mengapa Kennan merasa sangat khawatir saat ini.


"Yakinlah aku bisa melewatinya mas. Bahkan yang pertama kemarin dua loh, nyatanya aku bisa kan..." lagi Tita berusaha menghilangkan kekhawatiran Kennan padanya.


"Baiklah." lirih Kennan lalu menundukkan tubuhnya. Medaratkan bibirnya pada kening Tita cukup lama. Lalu setelahnya berganti memberikan ciuman pada kedua pipi Tita silih berganti. Kemudian tak lupa menautkan pucuk hidung mancung mereka.


Dan setelahnya pada bibir ranum Tita.


Sontak para perawat yang masih berdiri di sana segera memalingkan wajah mereka.


Seakan tak peduli dengan tempat, Kennan bukan hanya memberikan ciuman singkat pada bibir Tita. Melainkan tanpa sungkan Kennan memberikan ******n dan sesap*n kuat pada mulut Tita yang berhasil di desaknya terbuka.


Tita yang saat ini dalam posisi lemah, mau tak mau menerima perlakuan Kennan.


Meski beberapa saat telah berlalu, Kennan belum juga menghentikan kuasanaya pada rongga mulut Tita. Lidahnya malah memperdalam jejak untuk menyusuri setiap inchi rongga mulut Tita, seakan tak rela untuk menghentikan aksinya.


"Emmass..." Tita dengan mendorong kuat dada Kennan agar melepaskan tautan bibir mereka. Guna mengakhiri aksi sang suami.


"Maaf."


Kennan mengusap bibir basah Tita dengan ibu jarinya, lagi lagi Kennan tak peduli dengan keberadaan para perawat di sekitarnya. Pandangan matanya seakan tak mau melepas sang isteri.


"Maaf pak, bisa kami lanjutkan pekerjaan kami?"


Kennan pun mau tak mau merelakan brankar Tita memasuki ruang persalinan.


"Ya Allah... mudahkan dan lancarkan persalinan isteriku. Lindungi mereka." Kennan tanpa memutus pandangan pada brankar yang membawa isterinya masuk ruang persalinan. Hingga pintu kamar ruang persalinan itu tertutup dengan sempurna.


🍨🍨🍨🍨

__ADS_1


__ADS_2