
Huh...
Tita mendengus, meluruhkan bahunya karena tidak menemukan Kennan suaminya.
"Mungkin beneran salah denger deh..." ungkapnya lirih, dengan tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.
Tita pun membalikkan tubuhnya dengan lesu, memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Baru saja melajukan kaki selangkah, kembali terdengar alunan merdu di gendang telinga Tita. Sontak Tita menghentikan langkahnya, mengurungkan niatnya untuk ke kamar.
Suara merdu itu terdengar dari ruang kamar kosong yang menjadi tempat Kennan menyimpan alat alat musiknya.
Tita pun menoleh, mempertajam pendengarannya kembali lalu berjalam mendekat setelah memastikan suara itu berasal dari sana.
Pintu ruangan tersebut sedikit terbuka, Tita pun mendekatkan wajahnya mengintip untuk melihat kondisi di dalamnya.
"Beneran abang."
Lirih Tita saat melihat sosok Kennan sedang duduk di atas sofa bed yang tersapat di dalam ruangan tersebut.
Kennan duduk dengan posisi memunggungi pintu, suami Tita itu terlihat asyik melainkan dawai gitar yang berada di atas pangkuannya serta mulutnya yang mengalunkan lirik lagu tanpa menyadari kehadiran Tita di sana.
"Kapan dia pulang?" tanya Tita dengan bergumam.
Tak sedikit pun Tita tau jika kennan berada di sana. Semenjak dia pulang, Tita tidak merasa atau mendengar kedatangan Kennan.
"Atau mungkin abang sedari tadi di rumah?" tanya Tita dalam hati.
Tangan Tita bergerak memperlebar daun pintu namun kakinya seolah berat untuk bergerak melanjutkan langkah kakinya memasuki kamar tersebut.
Apalagi setelah gendang telinga Tita menangkap lirik tak biasa mengalun dari bibir Kennan.
Selamat tidur kekasih gelapku
Semoga cepat kau lupakan aku
Kekasih sejatimu takkan sanggup untuk
melupakanmu
Selamat tinggal kasih tak terungkap
Semoga kau lupakan aku cepat
Kekasih sejatimu takkan sanggup untuk
meninggalkanmu
__ADS_1
Lirik lagu Sephia yang mengalun lembut dari bibir kennan tersebut membuat Tita terhenyak.
Tita mencoba menerka arti lirik lagu yang telah dipopulerkan oleh band sheila on 7 di zamannya tersebut.
Entah mengapa ada rasa sesak yang menyergap di dalam dadanya. Tita pun mencoba meraba dadanya, memejamkan kedua kelopak matanya. Sakit itu yang dirasakan olehnya sekarang.
Jantungnya seolah menyempit, membuatnya susah untuk bernafas dengan lega.
Mungkinkah ada cewek lain di hati abang?? Atau mungkin dia terjebak dengan masa lalunya... tanya hati Tita dengan meremas dada, menahan sesaknya.
Meskipun Kennan pernah mengatakan jika dua tidak pernah memiliki kekasih di masa lalu, namun Tita tidak bisa begitu saja mempercayainya mengingat paras Kennan yang tampan.
Apalagi saat mengingat lembaran foto mesra Kennan dengan seorang gadis yang cukup cantik di masa lalu. Serta ungkapan adik perempuan Kennan yang pernah memaparkan cerita kedekatan sang suami dengan gadis bernama Yuna.
Bahkan keteguhan Kennan saat menunjukkan gadis itu sebagai kekasihnya membuat hubungan dengan keluarganya menegang saat itu. Pastilah rasa yang dimiliki Kennan untuk gadis itu cukup kuat.
Peristiwa itu masih saja melekat kuat di ingatan Tita, membuat hati Tita tetiba menjadi gundah gimana saat ini.
Kedua mata Tita pun memanas karena sak wasangka yang belum tentu kebenarannya.
Sungguh rasanya Tita ingin segera menghambur mendekati Kennan. Mencecar sang suami dengan banyaknya pertanyaan yang memenuhi tempurung kepalanya.
Namun apa daya tubuhnya seolah membeku. Kedua kakinya seolah terpaku tanpa dapat berpindah dari sana, saat indera pendengarannya kembali mendengar lirik merdu penuh penghayatan saat suara bariton itu menyenandungkan lagu sephia kembali.
Seolah lagu itu menggambarkan suasana hati Kennan saat ini.
Tita hanya mampu menelan ludahnya kelat. Meremas kedua telapak tangannya lalu memutuskan memutar tubuhnya, berbalik.
Setibanya di dalam kamar, Tita tidak mampu menahan lagi rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya. Dadanya naik turun dengan cepat, berulang kali memukulnya pelan sembari mendudukkan diri di tepi ranjang.
Tetesan bulir bening mengalir tanpa dapat dibendung. Merembes membasahi permukaan pipi pualamnya.
Isakan kecil keluar dari bibir mungilnya, mengiringi bulir bening yang tidak berhenti mengalir. Bibirnya pun sedikit bergetar.
Ceklek... klek...
Bunyi pintu kamar dibuka dari luar sontak membuat Tita segera mengusap wajah dengan telapak tangannya. Tidak ingin Kennan terpergok oleh Kennan jika dirinya menangis.
"Hey... kenapa??" Kennan dengan berjalan mendekati Tita lalu duduk jongkok di hadapan sang isteri.
"Eh abang... baru pulang?!" Tita dengan pura pura memberikan senyum berbinar pada wajahnya. Tidak ingin Kennan melihat wajah sendunya.
"Bukane elo udah liat kalau gue ada di kamar sebelah dek?" Kennan dengan menelisik.
Sesungguhnya Kennan tahu jika Tita sempat berada di depan pintu kamar sebelah beberapa saat lalu. Untuk itu dirinya segera mengakhiri permainan gitarnya dan mengikuti Tita ke dalam kamar karena merasa ada yang aneh pada gadis itu. Menurut Kennan seharusnya Tita masuk dan menyapanya saat itu.
Glek...
__ADS_1
Tita tersentak kaget, segera menelan ludahnya dengan kelat saat mendengar Kennan menyadari keberadaannya beberapa saat lalu.
Ternyata Kennan tahu jika dirinya sempat mengintip dang suami.
"Elo kenapa... hemm"." Kennan dengan meraih telapak tangan sang isteri serta mengikis jarah keduanya.
Posisi keduanya yang berbeda tinggi membuat Kennan harus sedikit mendongakkan kepala.
"Hey... jangan nunduk." Kennan meraih dagu Tita agar mendongak hingga membuat wajah mereka saling berhadapan.
"Elo habis nangis?" Kennan berusaha tetap lembut saat mendapati wajah sembab sang isteri.
"Enggak. Tita nggak nangis." Tita dengan memalingkan wajahnya. Berusaha menghindar dari tatapan sang suami.
Namun tangan kekar Kennan menahannya.
"Enggak usah ditutupin. Siapapun yang liat wajah lo pasti bakalan tau kalau lo habis nangis." ungkap Kennan sembari mengusap lembut pipi setengah basah Tita dengan ibu jarinya.
Ucapan dan sentuhan lembut Kennan membuat dada Tita bergemuruh tak terbendung.
"Abang tadi kemana?" Tita dengan suar serak, tidak mampu lagi menyembunyikan amarah kesalnya.
Kennan mengerutkan kening bingung, seolah mencerna pertanyaan Tita.
"Tadi siang. Abang pergi gitu aja ninggalin pelajaran tanpa bilang sama Tita." Tita seolah memahami kebingungan sang suami.
Kennan tersenyum tipis. Sedikit banyak Kennan mampu membaca isi hati Tita saat ini. Segera menyusupkan tubuhnya di sela kedua kaki Tita.
"Gue ke kafe, ada sedikit masalah." ucap Kennan dengan nada tetap lembut untuk memberikan ketenangan pada isterinya yang terlihat kesal.
"Kenapa nggak kasih tau Tita..." Tita masih dengan suara yang bergetar. Entah mengapa ucapan Kennan tidak mampu meredakan kekesalannya pada sang suami.
"Gue kasih tau kok, gue kirim chat sama lo dek." Kennan dengan yakin.
"Enggak. Abang gak kirim chat makanya Tita kesel."
"Nggak mungkin ah, perasaan gue beneran kirim chat sama lo deh..." Kennan masih dengan nada yakin bahwa dirinya benar.
"Nggak ada bang. Kalau nggak percaya, Tita tunjukin nih chat abang ke Tita." Tangan Tita meraih benda pipih miliknya yang tergeletak di atas ranjang, tak jauh dengan tempatnya duduk.
🍨🍨🍨🍨
Bonus pict
❤Ketika Tita mengintip
__ADS_1
❤Kennan yang fokus bersenandung dengan memainkan gitarnya