
"Kenn ...." Bima menyebut nama sahabat yang sedang dirangkulnya saat berjalan di koridor sekolah.
"Paan ...." sahut Kennan santai.
"Lo lagi seneng banget keknya?!"
"Kelihatan banget po?" Kennan cengengesan.
Bima mengangguk. "Beberapa hari lalu muka lo kucel kek cucian nunggu disetrika, hari ini keknya udah licin kek baru keluar laundryan lo ...."
Kennan terkekeh. "Sok teu lo Ma ...."
"Emang gue beneran tau kali Kenn. Elo kemarin sempet ada masalah kan sama bini lo?!"
Bima yang memang memiliki feeling yang kuat, membuat Kennan memilih mengangguk mengiyakan.
"Tu kan ... bener kan tebakan gue. Ada masalah apa lo kemarin sama bini lo?"
"Mau tau wae seh lo" ucap Kennan datar dengan kedua tangan berada di dalam saku celana seragam sekolah.
"Ya kali Kenn ... gue kan juga pengen belajar ngadepin cewek yang alim gak banyak ngomong kek bini lo." Bima membujuk.
"Elo beneran pacaran sama gadis berjilbab panjang yang diceritain sama Aldi itu?" Bukannya menjawab pertanyaan Bima, Kennan malah balik bertanya sembari menoleh sesaat ke arah Bima.
"Pe De Ka Te Kenn, belom juga jadian." Bima menekankan setiap huruf pada kata pedekate.
"Oh ... baru pedekate ternyata." Kennan menaikturunkan dagunya tanda mengerti.
"Emang lo yakin dia mau sama lo ... secara kan kalian beda ...." Kennan bertanya bukan bermaksud membuat sahabatnya itu down, melainkan memang secara keyakinan mereka jelas berbeda. Apalagi jika benar gadis yang menjadi incaran Bima adalah seorang yang memakai jilbab panjang, sudah dapat dipastikan bahwa untuk mendapatkannya tidak akan mudah.
"Gak usah bahas gue, gue lagi usaha. Kalau jodoh mah gak bakalan kemana ... iya kan Kenn?!" Bima mengerlingkan sebelah matanya pada Kennan yang sednag menatapnya.
"Najis lo Ma ... mata lo ganjennya salah tempat." Kennan mencebik.
Bima terkekeh.
"Gue ganjen, belajar dari tingkah elo ke Tita." Bima seolah mengingatkan dengan nada mengejek.
"Tapi gue sejenis sama elo, jadi ganjennya dikondosikan ya cong ... jangan sembarangan." Kennan kesal.
"Enak aja ... ngatain gue bencong lo Kenn!"
"Emang iya ... mana ada cowok ganjen sama sejenis kalau bukan bencong perempatan." Kennan tertawa pelan.
"Udah ... gak usah ledekin gue lo. Back to the topik ....!" Bima menepuk bahu Kennan yang masih dirangkul olehnya.
"Lo ada masalah apa sama Tita." Bima bertanya dengan memelankan suaranya. Meskipun koridor sekolah yang mereka lewati sepi, namun tetap saja Bima tidak mau menjadi penyebab bocornya status Kennan.
"Cuma salah paham dikit." Kennan datar.
"Soal??" Bima tetap saja penasaran karena dirinya tau jika Kennan marah pastilah sangat susah dibujuk.
"Tita jalan bareng sama Andra." sahut Kennan tetap dengan nada datar.
"Whaaatttssss ... bini lo jalan bareng si ketos?!" Bima tanpa sengaja sedikit berseru setelah mebdengar jawaban dari Kennan.
"Ma ... mulut lo!" Kennan mendelik, menatap wajah Bima yang masih dengan kedua mata membola dan mulut yang terbuka lebar.
__ADS_1
Bima pun refleks, dengan cepat segera menutup mulutnya dengan telapak tangan yang terbebas dari merangkul Kennan. Lalu setelahnya menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah takut ada yang mendengar seruannya.
Setelah merasa aman karena tidak melihat siapapun di sekitarnya, Bima kembali bertanya. "Kok bisa? Gimana ceritanya?"
"Mereka gak sengaja ketemu di mall, terus jalan bareng dan berakhir dengan bini gue dianterin pulang sama si ketos, dan itu bikin gue salah paham." jelas Kennan pada sahabatnya.
"Salah paham doang ... lo gak cemburu?" Bima
"Iyalah, gue cemburu ... normalkan?? Gue suaminya!!" sahut Kennan.
"Emang mereka cuma jalan berdua doang?" lagi Bima bertanya.
"Gak. Tita sama temannya itu, Ketos sama Adam katanya."
"Lah, itu mereka rame - rame. Ngapain lo cemburu?"
Ck ... Kennan berdecak.
"Lo gak tau rasanya kalau orang yang elo sayangi jalan sama cowok lain Bim."
"Apa sayang lo bilang?! Wow ... si cool bear bisa juga ngakuin sayang sama cewek." Bima terkekeh.
"Bim, lo tau kan dia bini gue ... mosok gue gak boleh ngaku sayang sama bini sendiri." Kennan memandang Bima dengan raut wajah kesal.
"Iye ... iye ... yang udah sah jadi laki bini mah menang banyak. Hehehe ...." Bima terkekeh dengan mengeratkan rangkulan tangannya pada bahu Kennan.
"Eh ... Kenn, gimana ceritanya lo cepet baikan sama bini lo?"
"Mau tau banget seh lo, kek emak kompleks nyari bahan gibahan wae." Kennan terlihat tidak ingin menjawab pertanyaan Bima.
"Emang iya ... otak gue pinisirin sangat ini, nyaingin emak komplek yang suka gibah di tukang sayur . Secara elo kan kalau ngambek lama tuh, gimana cara Tita bikin lo cepet luluh gini?"
"Ngapain bisik - bisik, gak ada orang Kenn, gak bakalan ada yang denger ...." Bima celingak celinguk.
"Mau gue kasih tau gak?" Kennan menaikkan salah satu alis matanya.
Kennan dan Bima saat ini sedang menghentikan langkah kaki mereka.
"Oke lah, kalau gitu. Buruan ngomong ...gak sabar gue dengernye." ucap Bima dengan mendekatakan telinga pada bibir Kennan.
"Gue ... dikasih servis ranjang sampek pagi sama bini gue." ucap Kennan berbisik dengan sedikit memberikan efek desahan saat berbicara pada telinga Bima.
"Anjing ... monyet ... kadal lo Kenn ...!!" Bima berseru dengan mendorong pelan tubuh sahabatnya.
Kennan tergelak meski tubuhnya sedikit terhuyung saat mendapatkan dorongan dari Bima. "Beneran Ma ... sampek gue ketagihan."
"Ngeselin banget seh lo, jiwa jomblo gue meronta jadi kepengen cepet kawin jadinya ...." Bima berucap kesal.
"Nikah dulu baru kawin Dab ...." Kennan menepuk bahu sahabatnya.
"Calonnya masih diincer, susah dapetinnya." Bima nyengir.
"Gas pol Ma ... biar gak keburu digaet sama yang seiman." Kennan memberi semangat pada Bima.
"Itu dia Kenn ... gue kenalin sama Tita wae ya, biar gue bisa gercep buat kawinin tu cewek?!" Bima.
"Nikah dulu baru kawin elah ... otak lo isinya kawin mulu seh Ma ...." Kennan menoyor pelan kepala Bima.
__ADS_1
"Elo tu yang bikin otak gue gesrek pengen cepet kawin, dikit - dikit ngomongin adegan panas. Gimana junior gue gak pengen. Apalagi junior gue udah tahap menuju akil baligh ini." Bima balik menoyor kepala Kennan.
"Apa hubungan lo ngenalin inceran lo sama bini gue?" tanya Kennan merangkul Bima, kini mereka kembali berjalan menyusuri koridor sekolah.
"Biar gue bisa korek informasi tentang dia dari bini lo Kenn, so gue bisa makin deket sama itu cewek." Bima memberi alasan.
"Jiaahhh ... elo mau manfaatin bini gue?"
"Ga papa kan? Emang elo gak boleh? Ck ... sama temen dewe, tega lo Kenn ...." Bima berdecak.
"Yang bilang gak boleh siapa?" Kennan.
"Jadi boleh nih ... siipp, elo emang temen sejati gue Kenn. Jadi makin cinta deh gue sama lo," Bima bersorak kegirangan.
"Gue enggak, cinta gue cuma buat bini gue!!"
"Ya elah ... perumpamaan Dab! Ntar kita cari waktu buat dobel date ya Kenn." Bima berucap dengan semangat.
Kennan terkekeh kecil.
"Siippp ... elo yang bayarin." sahut Kennan dengan mengacungkan ibu jarinya.
"Ck ... perhitungan lo!" Bima berdecak.
"Wajiblah hari gini ... nyari duit susah Dab, apalagi udah punya Bini."
Merekapun tertawa kecil bersama sambil berjalan menyusuri koridor sekolah, masih dengan bercanda dan saling mengejek.
Bugh ... Kennan dikejutkan dengan seseorang menabrak bahunya saat membelok di ujung koridor.
"Maaf" sebuah suara lirih terdengar tidak asing di telinga Kennan.
Kennan menoleh, dirinya dikejutkan dengan Tita yang terlihat kaget memandang dirinya dengan mata yang sembab terlihat tidak baik - baik saja.
Tita pun buru - buru berlalu meninggalkan Kennan dan Bima yang masih mematung memandangnya.
Saat tersadar Kennan berseru. "Dek ... elo kenapa?!" Namun gadis yang telah sah menjadi isterinya itu mengabaikannya ...
Tita kenapa hayooo ...???
π¨π¨π¨π¨
Bonus up terakhir di hari Raya Idul Fitri.
Setelah ini keknya othor bakal up lama, soalnya lagi di rumah mertua ...
Takut diomongin sama yang tukang nyinyir kalau pegang hengpong mulu ππ»ππ»ππππ
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ