
Baru saja beberapa langkah, tiba tiba saja...
Byurrrr... tubuh tita oleng dan terjatuh ke kolam renang.
Andra terkejut.
Sedangkan Sisil yang entah sejak kapan berdiri di sana tersenyum licik.
"Elo apaan seh Sil?" teriak Andra mendekat pada Sisil dengan marah.
"Biarin aja. Biar tau rasa dia." sinis Sisil memandang tidak peduli pada tubuh Tita yang masih berada di dalan kolam renang.
Dari raut wajahnya, Andra paham pasti Sisil yang telah mendorong Tita hingga tercebur ke dalam kolam renang.
"Udah gue bilang kan sama lo, jangan ganggu dia. Gak usah ikut campur urusan gue!" sentak Andra dengan mencekal lengan tangan Sisil.
Sisil terkekeh sinis. "Elo harusnya terima kasih ke gue, karena gue udah bantu membalas sakit hati lo karena ditolak sama dia."
Belum lagi Andra membalas ucapan Sisil,
"Ndra itu Tita..." salah seorang anak osis mennginterupsi perdebatan Andra dan Sisil dengan menunjuk kolam renang.
Andra pun menoleh ke arah kolam renang, mendapati kedua tangan Tita menggapai ke atas, terlihat meminta tolong.
Shit!!
Andra pun mengumpat gusar karena mengabaikan Tita yang masih terjebak di dalam kolam renang. Andra tahu dengan benar bahwa Tita tidak bisa berenang.
Dengan gegas Andra beranjak mendekati kolam, namun saat dirinya hendak menceburkan tubuhnya ke dalam kolam tiba tiba saja.
Byurr...
Dari belakang, entah siapa sudah menceburkan diri lebih dulu ke dalam kolam renang.
Uhukk... uhukk...
Tita terbatuk mengeluarkan air yang mungkin tidak sengaja masuk ke dalam mulut dan hidungnya saat tubuhnya sudah dibopong di pinggir kolam.
"Elo gak papa kan Dek." sebuah suara bariton yang masih berada di dalam kolam menyangga sebagian tubuh Tita terdengar khawatir.
Tita mengangguk pelan, memberikan jawaban pada Kennan suaminya. Meskipun dirinya sempat kesusahan bernafas beberapa saat lalu namun rasa lega memenuhi hatinya saat mendapati Kennan datang di saat yang tepat untuk menolongnya. Bahkan pengar yang masih terasa di hidungnya tersamarkan oleh kehadiran wajah tampan yang memandangnya dengan raut khawatir.
Kennan pun dengan segera keluar dari dalam kolam renang dengan dada yang bergemuruh marah.
__ADS_1
Dengan tubuh yang basah kuyup Kennan berjalan mengambil jaket yang sempat dilemparnya sesaat sebelum menceburkan diri ke dalam kolam renang.
Meraih jaket kemudian menangkupkan ke bahu Tita yang saat ini sudah berdiri di sisinya dengan tubuh gemetar menahan dingin. Jari kekarnya mengepaskan jaket tebalnya pada pada tubuh ramping Tita, untuk mengurangi sedikit rasa dingin serta menutupi bagian tubuh atasnya yang basah. Meskipun Tita masih berpakaian lengkap, akan tetapi pakaian basah terlihat pas di badan pada bagian tertentu.
Andra yang melihat itu menelan salivanya kelat, yakin bahwa dirinya bakal bermasalah dengan kapten basket yang terkenal super dingin tersebut.
Kedua mata Sisil melotot dengan mulut menganga, dirinya terkejut saat mendapati Kennan di hadapannya kini merangkul bahu Tita dengan sorot mata yang penuh dengan kemarahan. Dalam hati mengumpat karena merasa terpergok oleh Kennan.
Anak anak osis yang lain tidak mampu berucap sepatah katapun, bahkan saat ini Sinta merasakan tubuhnya bergetar takut. Apalagi sorot mata Kennan yang seolah menembakkan sinar laser, membuatnya bergidik ngeri.
"Siapa yang bertanggung jawab di sini?" seru Kennan dengan nada tinggi serta tatapan mata membunuh, dengan tidak melepaskan rangkulan tangannya pada bahu Tita. Emosi telah memenuhi rongga dadanya.
Tidak seorang pun yang menyahut, bahkan Andra yang seharusnya bertanggung jawab masih terlihat membeku mendapati Kennan yang merangkul Tita posesif. Bahkan gadis pujaannya itu terlihat menerima rangkulan tangan Kennan tanpa mengibaskannya, hatinya teriris perih.
Merasa tidak ada yang menjawabnya, Kennan segera memajukan langkah ke hadapan Andra dengan tangan yang mengepal kuat.
Bugh... bugh...
Kennan memukul rahang Andra dua kali dengan keras hingga membuat tubuh jangkung sang ketua osis terduduk ke tanah.
Pekikan serta jeritan para siswi tidak membuat Kennan menghentikan aksinya.
Bugh...
Kennan kembali memberikan pukulan pada tubuh jangkung sang ketua osis dengan keras. Tidak puas dengan itu Kennan kembali memukul rahang Andra hingga membuat sudut bibir sang mantan ketua osis tersebut mengeluarkan darah segar.
Tita yang melihat hal itu menjerit, mengambil langkah lebar menuju Kennan dam Andra.
Dengan cepat Tita memeluk tubuh Kennan yang terduduk di atas tubuh Andra dengan terisak.
"Bang udah, berhenti. Tita mohon." ucap Tita dengan parau.
Tangan kiri Kennan yang mencekal kerah leher Andra dan tangan kanan yang mengambang di udara hendak memukul Andra, perlahan mulai menyurut.
"Jangan pernah lo ganggu milik gue!" ucap Kennan tajam hingga membuat Andra ternganga.
Meskipun selama ini dirinya menerka kedekatan Tita dengan Kennan namun dirinya tidak pernah menyangka jika hubungan keduanya benar adanya.
"Kalau lo berani mengusik bini gue lagi, lo bakalan dapet lebih dari ini." Kennan terang terangan menyatakan kepemilikannya di depan wajah Andra dengan penuh penekanan. Setelahnya melepaskan kerah baju Andra kasar, hingga membuat tubuh jangkung yang setengah terduduk itu terhempas ke tanah cukup keras.
Mendadak jantung Andra seolah berhenti berdetak saat mendengar kata bini yang meluncur dari mulut Kennan.
"Gak mungkin." desis Andra lirih tidak menerima kenyataan yang diucapkan oleh Kennan.
__ADS_1
Sedetik kemudian, Andra menelan salivanya kelat saat mendapati tubuh ramping Tita dengan tanpa sungkan masih memeluk tubuh Kennan dari belakang dengan terisak.
Berulang kali menggelengkan kepala karena menolak mempercayai kenyataan yang baru saja terdengar oleh gendang telinganya.
Kennan segera beranjak berdiri dengan membawa tubuh Tita bersamanya, mengambil alih memeluk tubuh ramping Tita dengan posessif. Membenamkan wajah cantik yang masih terisak itu ke dada bidangnya, seolah menunjukkan bahwa gadis yang sekujur tubuhnya basah tersebut adalah miliknya.
"Siapapun yang ada di sini, gue bakal laporin ke sekolah. Kalian semua harus bertanggung jawab atas peristiwa ini!" seru Kennan tegas dan lantang, jangan lupakan tatapan mata yang menghunus pada anak anak osis yang masih tetap membeku di tempat mereka berdiri sejak semula.
"Gue tanya sekali lagi, siapa yang tau kronologi Tita jatuh ke kolam renang?" Kennan mengedarkan pandangan ke seluruh anak osis.
Tidak ada yang berani menjawab.
Dengan ketakutan dan tubuh yang gemetar Sinta yang mengetahui peristiwa sebenarnya segera menunjuk Sisil.
"Kakak itu yang mendorong kak Tita jatuh ke kolam renang." terangnya dengan gugup karena takut dengan ekspresi marah sang kapten tim basket sekolahnya.
Kennan memandang arah telunjuk Sinta, mengeram marah. "Elo gak bakal bisa ikut ujian sekolah, gue bakal bikin elo gak bisa lulus tahun ini!"
Kennan membawa Tita pergi dari tempat itu dengan memeluknya erat. Tanpa peduli tatapan dari anak snak osis yang masih membeku di sana.
"Shiit, ini bukan ending yang gue pengen." umpat Sisil lirih dengan mengepalkan tangan memandang kepergian Kennan dan Tita.
"Tolong bawakan tas Tita ke mobil gue." titah Kennan pada Sinta saat dirinya berjalan melewati gadis yang sempat ditunjukkan oleh Tita saat pemberangkatan tadi pagi.
Beberapa saat setelahnya.
Kennan yang sudah mendapatkan tas punggung milik isterinya, menggiring tubuh yang kedinginan tersebut ke arah toilet umum yang berada di area parkir mobil.
Menyuruh gadis itu untuk mengganti bajunya agar tidak kedinginan. Sedangkan dirinya pun mengganti baju pada sisi toilet yang lain.
Beruntung dirinya tadi sempat berbelanja baju untuknya maupun untuk Tita isterinya.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ