Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
205. Ditinggal ke alam mimpi


__ADS_3

"Dek..."


"Iya."


"Kalau nanti gue bisa bikinin rumah buat lo, elo pengennya rumah yang seperti apa?"


Emm... Tita mengetuk bibir dengan jari telunjuknya seolah berfikir.


"Rumah sederhana wae, cukup satu lantai. Jangan seperti rumah ayah bunda, Tita bakalan capek naik turunnya."


"Kan bisa cari pembantu."


"Enggak Tita pengennya melakukan semuanya sendiri. Cukup sekali seminggu atau dua minggu sekali ada asisten rumah tangga yang dateng. Tita pengen punya privasi, gak banyak orang."


"Elo pengen mesra mesraan sama gue setiap saat ya..." Kennan menggoda.


"Enggak gitu abang." Tita cemberut.


"Gak usah marah..." Kennan menangkup bibir manyun Tita dengan jemarinya.


"Habisnya abang gak pernah bisa diajakin serius sih..." Tita dengan menepis jemari Kennan.


"Ya udah lanjutin rumah impian kamu..." Kennan dengan diiringi kekehan.


"Tita lebih suka rumah satu lantai. Tita enggak suka desain minimalis kek rumah jaman sekarang. Tita lebih suka desainnya kek rumah jaman dulu aja bang, banyak ventilasinya. Atapnya tinggi biar berasa lega, nggak usah terlalu besar tapi cukup untuk dihuni satu keluarga. Dengan halaman yang luas, banyak bunganya tapi gak perlu seluas halaman rumah keluarga abang." Tita terlihat membayangkan rumah impiannya.


"Keluarga gue keluarga elo juga dek." Kennan mengingatkan.


Hehehe... "Iya bang"


"Bikin kolam renang juga?"


"Enggak usah, Tita nggak bisa berenang."


"Tapi kan gue bisa dek."


"Waktu di rumah bunda aja abang gak pernah renang, nanti mubazir."


"Ya kan bosen kalau cuma renang sendirian. Makanya nanti kita bikin kolam renang juga ya pas punya rumah dewe. Kita bisa berenang bareng, kalau di bath up sempit. Elo gak suka kan yang sempit sempit...." Kennan menundukkan pandangan dengan senyum menggoda isteri polosnya.


"Abang apaan seh." Tita masih saja malu jika ucapan Kennan selalu menyerempet pada hal hal mesum.


Kennan terkekeh.


"Entar gue ajarin lo renang sepuasnya, anak anak juga..." lanjut Kennan.


"Anak - anak...?" Tita memandang Kennan dengan kedua alis mata yang bertaut.


"Iya... dedek imut yang nggemesin perpaduan kita. Elo cantik dan gue ganteng maksimal pasti jadinya nggemesin." Kennan dengan tersenyum seolah membayangkan sesuatu.


Sedangkan Tita yang sedikit lola, masih mengerutkan kening bingung dengan maksud ucapan Kennan.


"Elo gak nolak kan kalau punya anak dari gue...?"


"Hah... anak... dari abang...?!" Tita masih saja berfikir, seolah itu adalah soal matematika yang memerlukan jalan panjang untuk menyelesaikannya.

__ADS_1


Tangan Kennan yang terbebas terjulur, mengusap lembut perut rata Tita.


"Elo gak keberatan kan kalau nanti perut lo membesar kek badut?"


Tita mencoba mencerna ucapan Kennan dengan seksama.


"Abang apaan seh, Tita masih kecil... mosok anak kecil gendong anak kecil juga. Jeruk makan jeruk dong jadinya." Tita dengan memukul pelan dada telanjang Kennan saat menyadari ucapan sang suami.


Rona merah disertai dengan rasa hangat menjalari wajahnya. Membuat Tita menyusupkan wajah pada dada telanjang Kennan.


"Elo gak mau dek?" Kennan sedikit menegakkan kepalanya.


"Kalau sekarang Tita belum siap bang, Tita masih mau fokus belajar buat ujian sekolah. Otak Tita kan gak seencer abang."


"Maksud gue nanti dek, kalau kita udah lulus. Bukan sekarang sayang...." Kennan dengan merapatkan dagu pada pucuk kepala Tita, mengecupnya lama.


"Terserah abang aja."


"Elo mau cewek atau cowok dek?" Kennan berucap dengan membelai lembut surai hitam Tita.


"Apanya?" Tita


"Kenita mininya."


Tita menegakkan kepala, menumpukan dagu pada dada telanjang Kennan dengan raut wajah bingung. Efek sudah larut malam atau lelah atau mungkin memang Tita amat sangat lola saat ini.


"Maksud abang?"


Ck


Kennan berdecak, menyentil pelan kening sang isteri, membuat Tita mengaduh dan mengusapnya, cemberut.


"Oh itu... cowok ataupun cewek, Tita mah gak masalah. Sedikasihnya aja." Tita kembali merebahkan kepala pada dada sang suami, menikmati detak jantung Kennan yang terdengar menyatu dengan detak jantungnya.


"Elo gak punya harapan gitu mau cowok atau cewek?"


"Memangnya kalau Tita pengen cowok dapetnya cowok terus kalau pengen cewek dapat dedek bayinya cewek gitu?" Tita terpaksa harus menumpukan dagu pada dada bidang kennan kembali.


"Ya enggak gitu dek." Jemari kekar itu dengan mengusap lembut punggung isterinya.


"Lalu?"


"Katanya sih ada tips en triknya saat proses bikinnya, biar ntar dedek bayinya tercetak sesuai harapan kita."


"Mana ada kek gitu." Tita tertawa kecil.


"Tita memang nggak sepinter abang, tapi abang jangan kelewatan bohongin Tita dong."


"Gue gak bohong dek, emang gitu yang gue denger kok."


"Ck... belum tentu yang abang denger itu bener. Lagian belum ada buktinya juga kan..."


"Makanya nanti kita coba praktekin biar tau kebenarannya."


"Emangnya triknya kek mana bang." Tita terlihat penasaran.

__ADS_1


"Dari yang gue baca sih, kalo misal kita menginginkan dedek bayinya cowok mamanya harus rajin konsumsi sayur, kalau pengen cewek harus banyak makan daging. Gitu bukan sih..." Kennan terlihat seakan berfikir mengingat tentang apa yang pernah dibacanya.


"Gitu ya... terus kalau Tita rajin makan daging dan sayur, dedek bayinya bisa kembar dua cowok sama cewek gitu...?" tanya Tita dengan polosnya.


"Eh... iya ya... mungkin juga sih."


"Keknya omongan abang enggak valid deh... Memangnya abang baca dimana?"


"Gue googling sih..."


"Tu kan... Abang kalau baca baca cek dulu sumbernya, jangan asal baca aja. Ntar informasi salah abang main sebar wae."


Kennan terkekeh. "Sorry."


"Eh tapi gue pernah baca juga, yang ini gue baca di buku."


"Apaan bang...?"


"Yang ini dilakuin saat proses pembuatan. Tergantung sama gaya saat mencetaknya."


Tita memandang suaminya dengan kening mengerut, terlihat penasaran dengan apa yang bakal diucapkan sang suami.


Gaya saat mencetak... maksudnya apaan seh... Tita bingung dibuatnya.


"Valid ini bang?"


"Valid. Orang ada penelitiannya juga kok."


"Apaan coba?"


"Mungkin..." Belum Kennan mengatakannya Tita sudah memotong ucapannya.


"Kok mungkin seh bang..."


"Dengerin dulu kalau orang mau ngomong, jangan maem potong wae."


"Iya deh iya..."


"Saat bikin dedek bayi kita harus melakukan gaya sesuai dengan jenis kelamin debay yang kita pengen. Kalau kita pengen dedek bayinya cowok kita pakek gaya naek kuda kek tadi kalau pengen debaynya cewek kita pakek gaya..."


"Udah udah gak usah dilanjutin. Tita tahu abang bakalan ngomongin mesum lagi terus ujungnya mau minta tambah kan..." Tita memotong ucapan Kennan, jengkel.


"Loh enggak dek, sungguh. Gue cuma ngasih tau dari yang gue baca."


"Udah Tita gak mau denger lagi, abang nyebelin otaknya mesum mulu." Tita merebahkan kembali kepalanya, mengabaikan Kennan yang terlihat membujuknya.


Beberapa saat setelahnya, suasana terlihat hening, tidak ada suara dari kedua pasangan remaja yang masih saling memeluk tersebut.


"Tita sebenarnya juga punya usaha sendiri bang, abang ingat cah ayu loundry yang pernah abang datengin waktu itu. Itu punya Tita bang..." Tita dengan jemari yang mengusap dada telanjang Kennan, berharap Kennan tidak marah akan kejujurannya.


Beberapa detik menunggu, tidak ada sahutan dari pemilik tubuh kekar dipelukannya.


Tita pun mendongakkan kepala, terdengar dengkuran halus dari bibir Kennan.


"Heh... sudah terbang ke alam mimpi dia..." Tita dengan gumaman lirih lalu merebahkan kembali tempurung kepalanya di atas dada telanjang sang suami. Melingkarkan tangan pada perut Kennan untuk memeluknya erat, membiarkan aliran darah menyatu dan saling menghangatkan tubuh keduanya.

__ADS_1


Beberapa saat setelahnya Tita pun memejamkan mata diiringi dengan irama debaran jantungnya yang menyatu dengan debar jantung Kennan yang terdengar berdetak teratur. Memberikan rasa nyaman hingga membawanya jauh ke alam mimpi.


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2