Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
169. Ditolak


__ADS_3

Ceklek.


Pintu kamar di penginapan Tita terbuka dari luar, hingga membuat Tita dan Sinta menoleh.


"Sin, udah ditungguin nih. Semua udah siap." ucap seorang gadis berambut panjang yang merupakan teman satu angkatan Sinta yang juga merupakan anggota osis, dengan hanya menyembulkan sebagian tubuh atasnya.


Sinta yang memahami maksud dari temannya tersebut tersenyum mengangguk. "Okey ... sip. Kita siap - siap bentar."


"Ya udah gue ke bawah ya?!" gadis itu kembali menutup pintu tanpa memasuki kamar.


Sinta menganggukkan kepala.


Tita terheran.


"Ada acara apaan Sin?"


"Lanjut kegiatan games kak." Sinta tersenyum penuh arti.


"Memangnya masih?" Tita mengerutkan dahi.


"Masih. Buat ngisi acara malam ini, daripada gak ada kegiatan."


"Acaranya ngapain?" tanya Tita.


Sinta menggedikkan bahu, pura - pura tidak tahu.


"Entahlah, anak - anak di bawah yang nyiapin. Palingan games ringan kek acara api unggun sewaktu kemah pramuka." sahut Sinta enteng.


"Oh." Tita menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Tidak ada games yang aneh kan Sin?" Tita sedikit penasaran. Entahlah ada rasa mengganjal di hatinya.


"Maksud kakak?" Sinta menautkan kedua alisnya.


"Games ngaco kek di novel - novel."


"Ngaco gimana maksudnya..." Sinta bertanya dengan nada bingung.


Tita menghela nafas pendek. Meskipun apa yang dipikirkan oleh otaknya adalah pikiran jelek. Dan artinya itu dirinya sedang berburuk sangka, namun ganjalan di hatinya saat ini tidak mungkin diabaikan begitu saja.


"Games konyol yang berakhir dengan ciuman mungkin." Tita sedikit bergumam tidak yakin.


Hahahah ... Sinta tertawa kecil.


"Kak Tita tau aja sih." Sinta sengaja menggoda. Namun melihat raut wajah resah Tita, Sinta berusaha meredakan keresahan tersebut.


"Enggaklah kak, palingan games dengan hukuman nyanyi - nyanyi doang." Sinta merangkul bahu kakak kelasnya untuk menenangkan.


Tita memandang Sinta sedikit curiga, sedikit menjauhkan wajahnya.


Mendapati hal itu Sinta tersenyum. "Udah ah, enggak usah kepikiran. Kita siap - siap wae, ntar kakak juga tau. Siap - siap yok."


"Sholat maghrib dulu ya Sin ... " Tita dengan berusaha membuang pikiran buruk dari otaknya.


"Iya. Sinta tunggu wae, Sinta lagi gak sholat kak." Sinta melepaskan rangkulan tangannya lalu menuju tas punggungnya untuk mengambil baju yang akan dipakainya malam ini.


Setelah Tita selesai menjalankan ibadah sholat maghribnya, Sinta mendekatinya.


"Sinta bantuin kak Tita dandan ya?" tawarnya sembari memegang alat make up di tangan.


Tita tersenyum tipis seraya mendorong pelan alat make up Sinta menjauh.

__ADS_1


"Enggak usah Sin, kakak gak biasa pakek begituan."


"Gak papa kak, sekali ini doang. Liat nih ... make up Sinta juga cuma tipis, gak berlebihan. Biar Sinta bisa punya banyak pengalaman, Sinta nanti mau jadi MUA." bujuk Sinta pada Tita.


Tita memandang sesaat pada wajah gadis yang tersenyum tipis itu, sepertinya Sinta serius dengan ucapannya.


"Kalau nanti hasilnya kakak gak suka, kakak boleh hapus deh."


Tita menghela nafas pendek. "Baiklah, tapi janji ya gak tebal - tebal."


Sinta menganggukkan kepala, girang.


Dengan cekatan kedua tangannya mengukir riasan tipis pada wajah putih Tita.


Bimsalabim, maka jadilah ...


Sinta tersenyum memandang hasil karyanya.


"Lihat kak, cakep kan?" Sinta menggeser tubuhnya yang semula menutupi kaca pada meja rias.


Tita pun tersenyum, mengangguk setuju.


"Kamu berbakat Sin, semoga kelak bisa tercapai cita citamu menjadi MUA yang sukses." ucap Tita tulus.


"Aamiin." Sinta membingkai senyum du wajahnya.


"Kita turun yuk." Sinta menggandeng tangan Tita.


Keduanya pun segera keluar dari kamar dengan berjalan bergandengan tangan.


Saat menuruni tangga untuk turun ke lantai dasar, Tita mengerutkan dahi melihat semua anak - anak yang lainnya sudah bersiap seperti akan merayakan sesuatu. Bahkan terlihat sebuah kue ulang tahun yang cukup besar di sana.


"Siapa yang ulang tahun Sin?" Tita bertanya berbisik.


Sinta hanya tersenyum. "Udah turun dulu aja."


Saat keduanya sudah berada di lantai dasar, anak - anak osis yang menyadari kehadiran Tita dan Sinta langsung menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama sama.


Sinta menarik lengan tangan Tita yang masih terlihat bingung untuk mendekat pada kue ulang tahun yang terletak tak jauh dari Andra sang mantan ketua osis.


Desir angin dingin mulai menyergap tubuh Tita. Selain kondisi udara yang memang cukup dingin karena mereka berada di ruangan belakang penginapan yang terbuka, Tita juga merasa akan ada hal yang membuatnya tidak nyaman nantinya.


Sinta mensejajarkan posisi Tita berdiri di samping Andra yang membelakangi kolam renang penginapan, dengan sebuah meja yang terdapat kue ulang tahun di atasnya.


Andra terlihat tersenyum senang, sedangkan Tita terlihat bingung dengan jantung tidak berhenti berdetak kencang.


Jantung Tita berdetak kencang bukan karena saat ini sedang berdiri dekat dengan sang mantan ketua osis tampan itu melainkan dirinya merasa ketakutan dan was was jika nanti Andra akan mengungkapkan rasa cinta kepadanya di depan semua anak osis.


Hari ini memang hari ulang tahun Tita, dan Andra masih mengingat itu. Sengaja membuat kejutan untuk gadis yang dicintainya sekalian memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa sukanya. Andra berharap Tita mau menerimanya di depan anak - anak osis, tidak mungkin gadis yang berhati baik itu menolaknya.


Tita tak berhenti meremas jemari tangannya yang bertautan, melirik ke kanan dan ke kiri. Ternyata Sinta sudah meninggalkannya dan menjauh. Akhirnya Tita memilih menunduk dengan menahan gemuruh di dadanya.


"Selamat ulang tahun Ta." suara bariton Andra akhirnya terdengar setelah semua anak osis menghentikan nyanyian selamat ulang tahun.


Tita pun mendongak, tersenyum canggung. "Makasih." sahut Tita lirih.


"Sorry membuat kamu nggak nyaman, sebenernya di sini aku ... em aku ..." Andra terlihat gagap.


"Ndra ..." Tita segera memotong ucapan Andra karena dirinya paham akan maksud sang mantan ketua osis berwajah tampan tersebut.


"Stttt... biarin aku ngomong dulu." Andra memohon.

__ADS_1


"Tapi ..." Tita memandang Andra dengan memohon, berharap mantan ketos yang pernah singgah di hatinya itu menghentikan aksinya.


Namun Andra seperti tidak perduli.


"Aku masih suka sama kamu, aku mau kamu jadi pacar aku." Andra menjeda ucapannya sesaat.


"Ambil bunga ini jika kamu mau menerimaku, atau buang saja jika kamu tidak mau menerimaku." Andra menyodorkan rangkaian bunga mawar merah jambu di depan Tita.


Tita tercekat, tubuhnya seolah membeku. Semua seperti yang dirinya takutkan beberapa saat lalu. Kalau sudah begini, bagaimana lagi...


"Ayo ambil!"


"Ambil!"


"Terima... terima... terima!!!"


Seruan serta sorak sorai anak anak osis membuat Tita semakin gugup. Dalam hati Tita tidak ingin mempermalukan sang mantan ketua osis yang selama ini selalu baik kepadanya. Namun dirinya tidak mungkin menerima ungkapan perasaan sang mantan ketua osis tersebut.


Selain dirinya sudah bersuami, memang sudah tidak ada sedikitpun rasa yang dimilikinya untuk Andra.


Tita menghela nafas dengan kasar, mengumpulkan keberanian untuk memberikan jawaban pada Andra. Meskipun sakit, Tita tidak ingin memberikan harapan pada Andra.


Tita memajukan kakinya melangkah ke hadapan Andra, meraih rangkaian bunga mawar berwarna merah jambu yang cantik itu.


Dadanya sedikit teriris saat melihat senyum Andra yang menawan, tapi hal itu tidak menyurutkannya untuk menolak permintaan Andra.


Horee... diterima...


Sorakan yang disertai tepuk tangan meriuhkan suasana yang beberapa saat lalu sempat tenang.


Tita melangkah menuju meja dimana kue ulang tahun untuknya berada, meletakkan rangkaian bunga pemberian Andra di sebelah kue ulang tahun dengan hati hati.


"Maaf Ndra, aku gak bisa." ucap Tita lirih namun masih terdengar jelas di telinga Andra.


Kedua mata Andra membola, terkejut akan ucapan Tita. Rasanya tidak percaya jika gadis yang dikenalnya lemah lembut itu kembali menolaknya, bahkan di hadapan teman - teman mereka.


Reaksi Andra itu berhasil meredupkan gemuruh sorak sorai anak osis, meskipun sebagian tidak mendengar ucapan Tita namun mereka tahu dari sorot mata Andra.


Fix ... Andra ditolak oleh Tita.


"Aku gak bermaksud membuat kamu malu, aku sudah bilang kan waktu itu kalau aku gak bisa. Maaf ... aku tidak bermaksud menyakitimu." Tita membalikkan tubuhnya untuk menjauh, tidak dapat menahan rasa sedihnya karena melukai hati Andra.


Baru saja beberapa langkah, tiba tiba saja...


Byurrrr... tubuh tita oleng dan terjatuh ke kolam renang.


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2