
Eugh...
Kennan menggeliat dari tidurnya lalu perlahan membuka kedua matanya. Mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Ah... ternyata gue ketiduran." Kennan segera menyibak selimut dari tubuhnya lalu mendudukan dirinya di sofa yang ditempatinya tidur semalam.
Mengusap wajahnya sesaat lalu mengernyit heran saat menyadari jika tadi ada selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kok gue pakek selimut, perasaan semalem gue..." Kennan dengan memandangi selimut yang teronggok di sisinya.
Kennan tersenyum tipis setelahnya. "Gue tau elo gak bakalan mengabaikan gue Dek..."
Setelah perjuangannya semalam pada Tita tidak berhasil, Kennan segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi luar.
Mengganti baju seadanya yang ada di laundry room lalu mendudukkan tubuhnya di sofa sembari menyalakan layar datar di depannya untuk menemaninya. Tanpa terasa akhirnya tertidur di sana.
Dengan segera Kennan menoleh ke arah pintu kamarnya, terlihat pintu itu masih tertutup rapat.
"Apa dia belum bangun ya?" Kennan bertanya menggumam lalu segera berdiri dan mengayunkan langkahnya menuju kamar.
Tok... tok...
Kennan mengetuk pintu kamarnya, namun tak ada sahutan atau tanda pintu akan dibuka dari dalam kamar.
Ceklek
Ternyata pintu sudah tidak terkunci, karena saat Kennan mengayun handel pintu, dengan sendirinya pintu kamar terbuka.
"Dek..." Kennan memasuki kamarnya dengan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar.
Kennan mengernyit saat melihat ranjangnya telah bersih dan rapi. Kennan pun berjalan mendekati kamar mandi, mungkin saja Tita sedang berada di dalam sana.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, Kennan pun masuk. Lagi lagi tita tidak berada di sana.
Kennan pun meraih ponsel dari saku celananya dan segera menghubungi ponsel milik isterinya.
Kennan menoleh ke arah ranjang saat mendengar nada dering ponsel milik isterinya berbunyi di kamar. Kennan pun menghembuskan nafas pelan.
Beranjak keluar dari kamar.
"Dek"
Kennan memindai seluruh ruangan hingga pantry, namun tak ada sosok yang dicarinya.
"Dek elo dimana?" Kennan melajukan langkah kakinya menuju laundry room, namun ternyata di sana pun tidak ada.
Sepertinya hari ini dirinya harus berangkat sekolah sendiri. Karena ternyata Tita sudah pergi berangkat sekolah lebih dahulu.
...ππππ...
Tok... tok... tok...
Kennan mengetuk bangku Tita lalu mengulurkan tangan di hadapan wajah sang isteri.
Tita memandang tangan Kennan di depan wajahnya lalu berganti pada wajah sang suami.
"Ada apa ini?" Tita bertanya acuh.
"Keluar bentar, kita berdua butuh bicara." Kennan memandang Tita penuh harap.
"Nanti aja, bentar lagi masuk pelajaran." Tita mengabaikan uluran tangan sang suami.
"Bentar dek."
__ADS_1
"Nanti aja bang." Tita datar.
"Kenapa lo tinggalin gue tadi pagi?" tanya Kennan dengan masih berdiri di samping bangku Tita.
Tak ada sahutan dari bibir Tita, hanya menoleh sesaat lalu kembali pada buku pelajaran di atas mejanya. Sepertinya Tita masih merasa kesal pada suaminya.
"Dek..." Kennan terlihat mendesak Tita.
"Nanti bang, kita bicara di rumah."
"Lo gak bohongin gue kan?"
"Bohongin apa?" Tita dengan sedikit berbisik sembari melirik sekitar karena di dalam kelasnya sudah terlihat banyak temannya yang memasuki kelas.
"Dengan lo ninggalin gue pulang duluan..."
"Gak. Tita janji nanti pulang bareng, kita bahas semuanya di rumah." Tita mulai tidak nyaman dengan Kennan yang masih mendesaknya.
"Okey. Ntar gue jemput ke kelas." Kennan penuh penekanan dan membalik tubuhnya.
Bugh...
"Hello dab... pakek nganter ke kelas segala. Du puluh empat jam barengan keknya kurang...." Irsyad dengan menoyor pelan bahu Kennan, saat kapten tim basket itu membalik tubuhnya hendak beranjak pergi. Tidak lupa menyunggingkan senyum seolah mengejek.
Diluar dugaan lrsyad, ternyata sang kapten tidak menanggapi ejekannya, hanya wajah datar yang terlihat. Bahkan kapten tim basketnya itu tidak berusaha menghindar ataupun membalas toyoran darinya.
Seolah tak peduli dengan Irsyad, Kennan hanya melenggang pergit tanpa kata.
Irsyad terbengong lalu menatap Tita seolah meminta penjelasan. Namun Tita pun terlihat acuh padanya.
"Ada yang salah Ta..." Irsyad dengan meletakkan tas punggung di atas bangkunya.
Tita hanya menggedikkan bahunya.
Tita menolehkan wajah ke arah Irsyad dengan melotot.
"Gue bener kan...?" Irsyad tanpa rasa bersalah dengan ucapannya lalu mendudukkan diri di bangkunya.
Beberapa jam kemudian.
"Kenn buru buru amat seh, tungguin gue..." Bima dengan berlari menyusul Kennan yang keluar kelas dengan langkah kaki lebar.
"Lo cowok kalau jalan lemot kek penyu lagi hamil." Kennan tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Enak aja ngatain gue penyu lagi hamil, perut pisang gak bakalan mblendung monyet..." Bima berseru kesal.
"Makanya cepetan, lemot banget seh... keburu bini gue ngilang nih." Kennan mempercepat langkah kakinya.
Meskipun pagi tadi Tita berjanji untuk pulang bareng dan tidak meninggalkannya, namun Kennan tidak serta merta bersantai. Dirinya masih merasa khawatir jika Tita akan pulang terlebih dahulu, apalagi jika mengingat isterinya itu sangat kesal padanya.
"Emangnya Tita kenapa? Elo sama dia lagi ada masalah?" Bima dengan nafas terengah berhasil mensejajari langkah kaki Kennan.
"Dia marah sama gue."
"Bagaimana bisa cewek kalem gitu bisa marah sama lo?" Bima seakan tidak percaya.
"Elo gak menduakan dia kan Kenn ?"
"Enak wae mulut lo kalau ngomong, gimana bisa gue menduakan isteri secantik dia." Kennan sengit.
"Iya juga sih. Elo wae kelihatan bucin banget sama dia, padahal gue liat Tita biasa aja sama lo..."
"Ma... lo mau mulut lo gue sobek?" Kennan menoleh ke arah Bima dengan wajah horornya.
Bima nyengir kuda dengan kedua tangan mengambang di udara. "Sorry..."
__ADS_1
"Lo apain Tita sampek ngambek sama lo?"
"Dia baru tau kalau kafe K&Y milik gue."
"Whaaats the.... jadi selama ini lo gak kasih tahu sama bini lo. Gila lo Kenn..." Bima menoyor bahu Kennan.
"Bukan maksud gue gak kasih tau tapi gue belum ada kesempatan buat ngomong ke dia yang sebenarnya."
"Elo beneran gila Kenn, gimana dia gak marah padahal dia kerja di cafe lo..." Bima dengan tidak berhenti menggelengkan kepalanya setelah mendengar penuturan Kennan.
"Sial... dia udah pergi kan Ma..." Kennan mengumpat kesal saat sampai di kelas Tita, kelas tersebut telah kosong ditinggal penghuninya. Bahkan tidak seorang pun tersisa di sana apalagi sosok Tita isterinya.
"Gara gara jalan lo kek penyu sih..." Kennan menggerutu.
"Kok lo nyalahin gue sih."
"Siapa lagi yang patut gue salahin selain elo... penyu bunting!!"
Kennan segera berlari menuju halaman depan sekolah, berharap Tita belum pulang.
"Dek...!"
Kennan berteriak saat di ujung koridor menuju parkiran melihat sosok Tita isterinya berjalan beriringan dengan Irsyad.
Namun sepertinya Tita mengabaikannya, meskipun seharusnya Tita mendengar teriakan Kennan.
"Ta, Kennan tuh." Irsyad memberitahu.
"Biarin aja." Tita masih saja tidak menghentikan langkah kakinya.
"Dek gue tersiksa. Gue tersiksa jika harus tidur sendiri tanpa memeluk lo." Fabian berseru pada Tita yang tetap berjalan membelakanginya.
Glek.
Ucapan frontal Kennan membuat Tita menghentikan langkah kakinya.
Tita memang biasa mendengar kata kata frontal seperti itu dari Kennan namun tidak harus seperti saat ini. Karena saat ini mereka berada di koridor sekolah. Tita tidak mau jika ada murid murid lain yang mendengar ucapan sang suami dan berfikir buruk tentang ucapan suaminya.
Titapun menghentikan langkah kakinya, menoleh ke belakang dan melotot ke arah Kennan yang berjalan cepat ke arahnya.
Bahkan Irsyad pun menggelengkan kepala setelah mendengar ucapan Kennan.
"Gue beneran gak bisa tidur tanpa memeluk lo, sump...."
Hempppftt...
Bima dengan segera membungkam mulut Kennan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa tau saja ada yang mendengar ucapan frontal dari kapten tim basketnya tersebut.
"Mulut lo lecek banget sih Kenn... lo mau bikin Tita makin marah sama lo." Bima menghardik dengan masih membekap mulut Kennan.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorπππ
__ADS_1