Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
212. Gusar


__ADS_3

Shiit...


Kennan mengumpat lalu menancapakan gas keluar dari parkiran apartemen.


Kennan menginjak gas dengan kuat agar segera mencapai tujuannya yaitu tempatnya berjanji temu dengan Tita isterinya.


Saat ini Kennan terlihat cemas dengan satu tangan memegang kendali kemudi dan satu tangan lagi memegang ponsel berusaha menghubungi nomor kontak Tita.


Berkali kali mencoba menghubungi kontak Tita, namun hanya terdengar bunyi operator yang menyahut. Membuat kennan tidak berhenti mengumpat kesal.


Ditambah dengan kondisi jalanan yang ramai bahkan cenderung mengalami kemacetan yang mengular di setiap perempatan lampu merah, membuat Kennan semakin gusar.


Kennan semakin cemas saat menyadari jika langit menggelap bahkan cenderung menghitam. Bukan hanya karena kondisi yang semakin larut melainkan sepertinya sebentar lagi bakal turun hujan yang cukup deras.


Ciiittt.... set....


Kennan menghentikan mobil HRV hitamnya di ambang jalan masuk kawasan kebun binatang gembira loka.


Kawasan wisata edukasi yang digemari oleh anak anak itu terlihat sangat lengang, maklumlah hari sudah malam. Bahkan telah melewati waktu magrib saat ini.


Kennan segera turun dari mobil, berjalan menuju tempat janji temunya dengan Tita siang tadi.


Tidak ada seorangpun di sana. Tidak ada sosok Tita isteri cantiknya. Kennan pun merogoh ponsel pintarnya dari dalam saku celana. Mencoba menghubungi kontak isterinya kembali.


Lagi lagi Kennan hanya bisa mendengarkan bunyi operator di sana. Sungguh Kennan merasa sangat khawatir saat ini.


Hingga tiba tiba saja suara guntur yang disertai rintik hujan mulai turun membasahi bumi.


Kennan segera berlari menuju kuda besinya kembali lalu memutuskan meninggalkan kompleks kebun binatang.


Tidak mungkin kalau Tita masih di sini, dia pasti sudah pulang.... batin Kennan berbicara.


Kennan melajukan kuda besi hitamnya dengan perlahan, kedua matanya memindai jalanan yang dia lewati. Siapa tau saja gadis yang bergelar isterinya tersebut masih di sekitar sana.


Tetesan air hujan semakin intens bahkan semakin deras mengguyur jalanan Jogja, hingga membuat jarak pandang Kennan menjadi terbatas.


Kondisi bajunya yang basah serta hujan yang turun dengan sangat deras membuat Kennan memutuskan untuk kembali ke apartemen, berharap semoga Tita sudah kembali ke sana dengan aman.

__ADS_1


...🍭🍭🍭🍭...


Di parkiran apartemen.


"Dek...!" Kennan berseru gusar saat melihat Tita turun dari boncengan sebuah motor dengan dibonceng oleh seorang laki laki.


Kennan baru saja menjejakkan kaki di lantai parkiran apartemen.


Kennan tidak tahu siapa laki laki yang juga menuruni motor sport yang telah membonceng Tita, karena pembonceng itu mengenakan helm full face.


Mendapati suara seruan yang sangat familiar Tita pun menoleh sembari memberikan helm yang telah dipakainya beberapa saat lalu kepada sang pengemudi yang memberinya tumpangan.


"Abang..." gumam Tita lirih.


Kennan dengan langkah kaki lebar mendekati Tita. Ada rasa tidak suka saat melihat Tita dengan cowok lain apalagi sempat berboncengan dengan motor. Kennan tidak bisa membayangkan bagaimana posisi keduanya saat berboncengan motor apalagi dalam kondisi hujan seperti saat ini.


"Lepasin jaket itu!" Kennan memerintah dengan tegas saat melihat tubuh Tita dibalut oleh sebuah jaket jins besar, yang sudah dapat dipastikan jika jaket itu adalah milik cowok yang memboncengnya. Rasa marah dan cemburu bercampur aduk menjadi satu.


Tita dengan raut wajah takut, mulai membuka jaket jinsnya dan menyerahkan kepada pemiliknya.


Ternyata yang membonceng Tita itu adalah Arga, cowok yang pernah berkenalan dengan Tita saat awal dirinya menempati apartemen Kennan beberapa bukan lalu.


Keduanya tidak sengaja bertemu di kompleks pelataran kebun bintang gembira loka. Arga memaksanya mengantar pulang. Walaupun Tita sempat menolak, namun karena Kennan tak kunjung datang ditambah dengan hujan turun dengan deras secara tiba tiba membuat Tita akhirnya terpaksa menerima tawaran Arga.


Arga meraih jaket dari tangan Tita, menyampirkannya pada motor lalu membuka helm full face yang menutupi wajahnya.


Set...


Dengan kasar Kennan menarik pergelangan tangan Tita untuk mendekat padanya, saat Kennan mengetahui siapa cowok yang berada di balik helm full face tersebut. Arga adalah musuh bebuyutan Kennan dalam ajang balap motor liar.


"Ngapain lo boncengan sama dia hah...?!" Kennan bertanya pada Tita dengan raut kemarahan di wajahnya. Tanpa sadar Kennan mencengkeram kuat pergelangan tangan Tita saat bertanya. Tita pun meringis menahan rasa nyeri akibat cengkraman Kennan.


"Dab... elo nyakitin dia." Arga berusaha sedatar mungkin. Meskipun Arga menyadari jika dirinya dengan Kennan bagaikan minyak dan api saat berada di arena balap, namun saat ini Arga berusaha menahan emosinya.


Apalagi saat ini Arga berusaha menjaga imagenya di depan Tita yang sudah menempati sudut hatinya yang kosong. Meskipun sebenarnya Arga cukup penasaran dengan hubungan Kennan dengan Tita.


"Bukan urusan lo." Kennan sengit.

__ADS_1


"Tapi dia kesakitan Kenn..." Arga dengan memandangi pergelangan tangan Tita yang dicekal oleh Kennan.


"Gue bilang nggak usah ikut campur. Ini urusan rumah tangga gue!" Kennan menghardik Arga semakin gusar. Kennan seolah ingin menunjukkan jika Tita adalah miliknya dan tidak seorangpun dapat menganggu.


Deg.


Hati Arga mencelos saat mendengar ucapan Kennan saat mengakui jika itu adalah urusan rumah tangganya. Padahal baru saja Arga berharap jika Tita akan dapat menjadi miliknya satu saat nanti.


Belum juga kelopak bunga itu mekar... eh udah main potek wae...


Othor mah gitu keknya sentimen sama Arga, kalau perannya cuma seuprit, mendingan gue nggak usah ada thor.... Arga ngambek nih....πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘


Tita menarik lengan tangan Kennan.


"Bang... udah, dia udah nganterin Tita. Harusnya abang bilang makasih sama dia bukannya malah marah marah." Tita seolah menyadarkan sang suami.


"Jangan pernah lagi deketin isteri gue!" Kennan dingin namun tegas dengan menekan setiap kata pada kalimatnya. Kemudian setelahnya, Kennan berlalu dengan menarik Tita kuat. Meninggalkan Arga yang masih mematung di tempatnya.


Brakk...


Kennan membanting pintu dengan kencang setelah memasuki apartemennya.


"Jangan pernah lo ulangi lagi membonceng cowok lain sebelum lo izin sama gue..." Kennan dengan ketus.


"Tapi bang..."


"Dek gue gak mau di bantah." Kennan dengan Dada bergemuruh, karena telah diselimuti oleh emosi.


Tita menghirup nafas dalam.


"Kalau abang nggak nelantarin Tita seharian di kebun binatang, Tita juga nggak bakalan nebeng sama Arga. Abang harusnya berterima kasih sama dia, karena bantuan dia Tita bisa pulang dengan selamat. Abang jahat... egois!!" Tita kesal lalu meninggalkan Kennan yang sepertinya mematung akibat ucapan Tita.


Sepeninggal Tita, Kennan menghantam dinding apartemen dengan kuat untuk menyalurkan kekesalannya.


Sebenarnya bukan ending seperti ini yang diharapkan olehnya, namun efek emosi yang mendominasi dan ditambah dengan kehadiran Arga membuat Kennan melupakan tujuan utamanya untuk meminta maaf pada Tita karena telah membuat gadis itu menunggu janji kencan darinya.


πŸ›΅πŸ›΅πŸ›΅πŸ›΅

__ADS_1


__ADS_2