
Hari hari berlalu begitu saja. Tidak ada sesuatu yang berubah dengan hubungan pasangan suami isteri remaja yang menikah karena perjodohan tersebut.
Hubungan Kennan dan Tita tetap hangat. Tita yang polos selalu saja termakan oleh rayuan mesum Kennan yang selalu bisa mengambil setiap kesempatan.
Pagi ini saat istirahat pertama Tita dan Hani sedang berjalan beriringan menuju kantin sekolah.
Tita sudah membuat janji dengan Hani sebelumnya melalui pesan chat untuk mengajaknya ke kantin saat istirahat pertama tiba.
"Tumben lo nggak sarapan Ta..." ujar Hani dengan menoleh sesaat ke arah Tita dengan tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Iya. Tadi buru buru soalnya."
"Ngapain buru buru?" tanya Hani.
"Takut ketinggalan si tayo. Pas keluar apartemen, pas tayo datang makanya Tita buruan naik aja daripada nunggu yang belakangnya pasti kesiangan." jawab Tita.
"Takut ketinggalan si tayo..." Hani mengulang kaliamat awal Tita dengan bergumam serta dahi mengerut.
"Iya." sahut Tita setelah mendengar gumaman kalimat Hani.
Karena posisi mereka adalah jalan beriringan jadi meskipun Hani hanya menggumam, Tita masih mendengarnya.
"Elo nggak barengan sama Kennan?" Hani dengan menoleh ke arah sang sahabat.
"Enggak. Abang berangkat duluan." jawab Tita.
"Ngapain dia berangkat duluan, ninggalin lo. Emangnya ada urusan yang penting?" Hani heran karena tidak biasanya Kennan membiarkan Tita berangkat sendiri setelah hubungan keduanya terpublish meskipun sebagai pasangan remaja yang sedang menjalin kasih.
Sedikit banyak Hani tahu bagaimana sikap over protektif Kennan pada Tita.
"Iya. Katanya persiapan serah terima club basket pada adek kelas. Makanya abang berangkat duluan." jelas Tita pada Hani sahabatnya sesuai dengan apa yang Kennan ucapkan tadi pagi saat berpamitan dengannya.
"Oh gitu." Hani manggut manggut tanda mengerti.
Beberapa saat setelahnya kening Hani mengerut.
Bukane Irsyad bilang pergantian pengurus klub basket sudah dilakukan minggu kemarin ya... pikir Hani dalam hati.
Hani dan Irsyad memang sering berkomunikasi, bahkan sering jalan bareng tanpa sepengetahuan Kennan and the geng maupun Tita sahabatnya. Hani pun tidak pernah bercerita pada Tita karena merasa jika hubungnnya dengan Irsyad adalah hubungan pertemanan biasa yang tidak perlu diceritakan pada sahabatnya.
"Elo yakin Ta Kennan berangkat lebih dulu karena mengurus pergantian pengurus klub basket?" Hani menyelidik.
"Yakinlah. Abang bilang gitu kok tadi pas berangkat."
Lagi Hani mengerutkan kening seolah berfikir.
Gue yang salah kali... Hani pun mencoba menghilangkan rasa curiga di otaknya. Toh selama ini hubungan Kennan dan Tita nggak pernah ada masalah.
Mungkin nanti gue tanya Irsyad ulang aja deh, moga wae kecurigaan gue salah... putus Hani tidak mau berfikir buruk tentang Kennan.
"Buruan yuk, keburu waktunya habis." Hani meraih pergelangan tangan Tita.
__ADS_1
Keduanya pun mempercepat langkah kakinya menuju kantin sekolah.
"Elo cari tempat duduk gih, biar gue yang pesen makannya." Hani melepaskan gandengan tangannya.
Tita mengangguk mengiyakan.
Baru berapa langkah Hani berjalan.
"Incess... minum Tita teh hangat wae ya." Tita sedikit berseru.
Hani menoleh lalu menganggukkan kepala tanda mengerti. "Makannya tetep kan?"
"Iya." Tita. Lalu menuju spot pojok kantin yang kosong.
Beberapa saat berlalu.
"Hemm... sedapnya..." Tita membau aroma soto yang dibawa oleh Hani ke hadapannya.
"Belum juga dimakan, udah bilang sedap wae." Hani dengan mendudukkan diri di hadapan Tita.
"Dari baunya udah kelihatan rasanya." Tita terkekeh kecil meraih sendok dan garpu yang telah di sediakan di atas meja kantin.
"Elonya aja yang kelaparan."
"Iya kali..." Tita dengan tak sabar menyendok nasi pada mangkuk sotonya...
"Pelan pelan Ta, gue nggak bakal rebut soto lo." Hani dengan menggelengkan kepala melihat antusias sahabatnya.
Keduanya pun asyik menikmati makanan masing masing.
"Hai ciwi ciwi..." Aldi dengan gaya konyolnya mendekati Hani dan Tita. Lalu dengan seenaknya duduk di sana, di sebelah Hani.
"Hei... jangan deket deket, kita bukan muhrim." Hani dengan tangan seolah mengusir Aldi.
"Ya elah... orang kagak nyentuh jugak. Neng Tita wae nggak keberatan kok, iya kan neng..." Aldi dengan beralih memandang Tita tengil.
Tita yang sedang menguyah makanan dalam mulutnya, hanya menganggukkan kepala serta memberi tanda senyum tanpa berucap kata.
"Tita kan orangnya baik, jadi nggak tega buat ngusir gerandong kek elo." Hani dengan memberikan raut wajah kesal.
"Gerandong kan juga kangen sama mak lampir." Aldi sekenanya.
"Elo kata gue mak lampir!" Hani berseru, memandang Aldi semakin kesal.
"Hehehe...sorry emang maksud gue gitu wlekk..." Aldi sembari memeletkan lidahnya, dengan segera berpindah tempat duduk di sebelah Tita agar tidak terkena amukan Hani.
"Aldi!!" Hani mengeram.
"Apaaa..." Aldi mengecoh Hani.
"Sialan lo gerandong jelek..." Hani mengepalkan tangan geram, hendak menyumpah serapahi Aldi namun sekuat tenaga di tahannya.
__ADS_1
"Calon pendamping pak ustadz nggak boleh berkata kotor ya, harus sabar... entar gue bilangin Irsyad lo, biar dicoret dari balon pendampingnya." Aldi dengan terkekeh saat melihat kekesalan pada wajah Hani.
"Aldi!!" Hani dengan kesal.
"Apa itu balon pendamping?" tanya Tita pada Aldi.
Tita sekarang sudah mulai terbiasa berinteraksi dengan para sahabat Kennan. Terutama Aldi yang paling suka ngebanyol.
"Bakal calon pendamping." Aldi.
"Hani... bakal calon pendamping Irsyad gitu maksudnya?" tanya Tita dengan polosnya.
"Ya gitu deh... iye kan mak lampir..."
Hani melotot ke arah Aldi.
"Beneran nih kata Aldi..." Tita memandang Hani dengan senyuman menggoda sang sahabat.
"Nggak usah dengerin omongan gerandong Ta." Hani.
"Kalau emang iya nggak papa juga kan..." Tita mengerling ke arah sahabatnya.
"Ta...." Hani dengan pandangan meminta Tita untuk berhenti menggodanya.
"Iya... iya..." Tita tersenyum lalu kembali melanjutkan aktivitas makannya.
"Ngapain sih lo masih di sini?" Hani memberikan tatapan sinis pada Aldi.
"Kenapa sih sensi amat, enggak ganggu lo juga..." Aldi.
"Merusak pandangan mata gue tau nggak." Hani.
"Enggak." Aldi dengan santainya.
"Ini anak bikin darting ya..." Hani dengan raut wajah makin kesal.
Aldi tetap saja cengengesan, tidak peduli dengan kekesalan Hani. Sedangkan Tita hanya menggelengkan kepala tersenyum melihat perdebatan Aldi dan Hani.
"Eh Ta..." Aldi beralih menoleh ke arah Tita.
Hm... Tita sembari mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Kennan kemana kok nggak masuk hari ini..." Aldi bertanya dengan nada serius.
Tita yang hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya pun mengurungkan suapannya.
"Emangnya abang nggak masuk sekolah?" Tita dengan mengerutkan dahinya.
"Iya... tumben dia nggak nitip absen sama gue." Aldi
π¨π¨π¨π¨
__ADS_1