Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Abi dan Rani


__ADS_3

suasana rumah sudah menjadi hening,karena acara sudah selesai. Dita bersyukur karena selama acara tidak ada kendala dan berjalan lancar.


"Dita,aku pulang dulu ya." Rani berpamitan.


"loh kamu gak nginap aja Ran?ini udah malem loh." ucap Dita.


"maaf,mungkin lain kali aja ya,soalnya besok aku ada kuis jadi harus berangkat pagi." ucap Rani jujur.


"tapi biar di antar supir aja ya,takut terjadi apa-apa nanti."


"iya Rani mending di antar sama mang deden,takut kenap-napa." sahut Irina


" gak usah,terima kasih takutnya merepotkan." tolak Rani.


"biar saya antar." sahut Abi,saat Abi melihat ada perdebatan dari ketiga wanita yang ada di ruang tengah ia pun langsung menawarkan diri.


"tapi..."


"saya antar,atau nginap disini." tegas Abi.


sudah,kalau Abi sudah mengatakan sesuatu dengan nada tegas itu berarti tidak akan bisa ada yang membantah,jika berani membantah maka Abi akan terus memaksa hingga lawanya menyerah.


setelah mengantar Rani ke mobil dan mobil yang di tumpangi Rani sudah pergi,Azka mendekati sang istri,yang masih setia berdiri dan menggendong Rafa.


"sayang kamu terlihat sangat lelah,lebih baik kita beristirahat sekarang." ucap Azka yang di angguki Dita.


Azka menuntun Dita berjalan menuju kamar mereka untuk beristirahat. Dita tak menolak dengan ajakan suaminya karena jujur ia merasa sangat lelah dan segera ingin bertemu dengan kasur empuknya.


"tidurlah,kamu terlihat sangat lelah." ucap Azka mengambil alih Rafa lalu di taruhnya di box bayi.


"aku mau bersih-bersih dulu mas,rasanya lengket badan aku." ucap Dita memilih ke kamar mandi,sementara Azka memilih menyusul Dita ke kakamar mandi ,ia ingin bermanja-manja dengan istri kecilnya karena memang dirinya masih sangat merindukan istrinya itu.


Dita yang sudah melepas pakaiannya terkejut saat ada dua lengan kekar memeluk pinggangnya,


"aaaa...." Dita terpekik kaget dengan kelakuan Azka,sementara suaminya ini terkekeh tanpa dosa,


"ssshhh...jangan berteriak sayang,nanti rafa bangun." bisik Azka tepat di telinga Dita,bahkan Azka dengan nakal menggigit kecil cuping Dita


"ma-mas mau apa?" tanya Dita gugup

__ADS_1


"tentu ingin mandi bersama sayang,apa kamu tidak merindukan mas?" tanya Azka dengan suara parau.


Dita yang mengerti maksud sang suami,dengan cepat ia membalikkan badanya,dan tersenyum manis tanganya mengalung di leher Azka,mata mereka saling beradu.


"mas,kita tak bisa melakukanya sekarang karena aku masih dalam masa nifas,mas yang sabar ya?" ucap Dita sambil tersenyum jahil.


Azka sedikit kecewa dengan jawaban sang istri,bahkan ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dita bahkan menghisapnya karena gemas tak bisa melakukanya sekarang.


"tak apa,yang jelas aku hanya ingin bermanja dengan istriku." ucap Azka menggoda,dengan sigap Azka menggendong tubuh mungil Dita yang sedikit berisi tetapi masih terlihat **** itu dengan mudah.


Dita hanya tertawa minat tingkah suaminya ini,dan dia hanya pasrah dengan apa yang di lakukan Azka terhadapnya,toh mereka tidak melakukan apa-apa,hanya tangan Azka yang menari-nari di tubuh Dita dan sesekali mengecupi tubuhnya dan merasa gemas.


sementara itu suasana mobil yang di tumpangi Rani hanya ada keheningan,Abi maupun Rani tak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan.


Rani yang hanya fokus melihat pemandangan luar,seakan pemandangan luar lebih menarik baginya,dan Abi masih saja fokus menyetir.


"kak,tolong berhenti dulu kak." ucap Rani tiba-tiba.


mendengar hal itu Abi langsung menepikan mobilnya,dan menoleh ke arah Rani yang tersenyum sangat manis,sejenak Abi terpaku dengan senyum manis yang di tujukan oleh Rani.


"kamu mau apa?" tanya Abi setelah bisa menguasai dirinya.


Abi hanya menggeleng,dan mengisyaratkan Rani untuk turun dan segera membeli.


Rani dan Abi duduk di kursi plastik menunggu pesanan mereka.


"kakak gak beli?" tanya Rani,


"beli untuk Dita,kamu tahukan kalau Dita menyukainya."


Rani mengangguk mengiyakan,tak dapat di pungkiri dirinya maupun Dita sama-sama pecinta martabak,jadi setiap melihat gerobak martabak,rasanya tak tahan jika tak membeli.


"kak,Abi apa kabar?" tanya Rani setelah hening beberapa saat,ia tak tahu apa yang harus ia obrolkan pasalnya sudah lama ia tak bertemu dengan kakak sahabatnya ini.


"heh...dari tadi kita bertemu,baru sekarang kami menanyakanya?" tanya Abi heran.


"habisnya Rani bingung mau ngobrolin apa?" ucap Rani polos.


Abi yang gemas mendengar jawaban Rani langsung mengacak rambut Rani,hal itu membuat Rani kesal.

__ADS_1


"kak,ih...rambut Rani jadi berantakan."


"habisnya kamu itu gak berubah, gemesin."


"iya tapi jangan ngacak rambut juga." ucap Rani kesal.


Abi hanya tersenyum melihat Rani yang tengah kesal,


"kamu masih kuliah ya Rani?" tanya Abi


"iya,kak. dan besok pagi Rani harus berangkat karena ada kuis."


Abi hanya manggut-manggut,mendengar jawaban Rani.


"kak,kenapa kakak gak pernah ngasih kabar?" tanya Rani akhirnya,pasalnya pertanyaan itu selalu muncul di dalam benaknya.


dulu sebelum Abi berangkat ke Korea Abi pernah berjanji akan selalu memberi kabar ke pada Rani,tetapi selama disana Abi sama sekali tak pernah menghubunginya,padahal Rani selalu menunggu kabar dari Abi.


maka tak jarang ia menanyakan kabar Abi ke Dita, dan dari Dita Rani tahu kalau Abi baik-baik saja. meski begitu ia tak puas jika bukan dari Abi sendiri yang memberitahunya.


sebenarnya Abi dan Rani ini sama-sama saling menaruh hati,tetapi Abi yang merasa dirinya belum mampu membahagiakan Rani tak berani mengajak Rani untuk menjadi kekasihnya dan ini jugalah salah satu alasan dirinya nekat merantau ke negri orang. awalnya Rani keberatan Abi pergi,tapi mau gimana lagi ia sadar Rani bukan siapa-siapanya Abi jadi dia tak berhak melarang,tetapi Rani hanya minta satu hal kepada Abi untuk selalu memberinya kabar,tetapi Abi tak pernah menghubunginya sama sekali.


Abi yang mendengar pertanyaan Rani,menghela nafas kasar.


"maaf,karena aku masih belum berani menghubungi takut aku tak bisa menahan rasa rindu yang begitu dalam." ucap Abi jujur.


mendengar jawaban Abi,Rani langsung menatap tak percaya,kenapa Abi bisa mengatakan hal seperti itu.


Mata mereka saling beradu,dan saling mengunci,


"tapi..."


"pesananya kak..." ucapan Rani terpotong kala martabak pesanan mereka sudah siap.


Rani tersenyum dan mengambilnya


"terima kasih." setelah mengucapkan terima kasih mereka berdua berjalan menuju mobil dan segera pulang.


didalam mobil hanya ada keheningan,Rani maupun Abi masih terdiam larut dalam pikiran masing-masing,ingin sekali Rani mengeluarkan uneg-unegnya yang selama ini ia pendam tetapi ia malas jika harus berdebat dengan Abi,pasalnya dia sangat tahu kalau Abi tidak akan pernah mau mengalah.

__ADS_1


__ADS_2