
"Kennan! Tita! Elo berdua ngapain...??"
Dengan tiba tiba Putra alias Doni masuk keruangan Kennan dengan berteriak. Terdengar marah dengan mempercepat langkah mendekat pada kedua pasangan suami isteri yang saling berciuman tersebut.
Kennan dan Tita segera melepaskan tautan bibir mereka dengan segera.
Masih dengan tubuh yang saling berhimpitan memeluk erat keduanya serempak menoleh ke arah suara.
Tanpa ba bi bu Putra mendekati keduanya dengan kedua tangan yang mengepal erat serta kedua mata yang memerah terlihat sangat marah.
Bugh...
Putra melayangkan tinju pada pipi Kennan dengan keras, hingga membuat tubuh kekarnya tersungkur ke lantai.
Tita yang melihat itu sangat terkejut hingga membuat kedua matanya melotot dan kedua tangannya reflek membekap mulutnya rapat.
Belum sempat Kennan menjawab pertanyaan yang sempat Doni lontarkan, tiba tiba saja sepupunya tersebut menaiki tubuhnya dan mencengkeram kuat kaos Kennan.
"Gue gak nyangka elo jadi cowok bajingan kek gini... Elo lupa kalau elo sudah beristri hah..." Doni berteriak marah dengan kembali melayangkan pukulan pada pipi Kennan, hingga membuat sudut bibir Kennan mengeluarkan darah.
"Kak Putra cukup... hentikan..." Tita berteriak sembari mendekati keduanya.
"Dan kamu Ta... kakak kecewa sama kamu!" Putra memandang Tita dengan sendu.
Putra tidak menyangka jika keakraban antara Tita dan Kennan akan berakhir seperti ini. Melakukan hubungan terlarang, menurutnya. Karena memang Putra, tidak mengetahui hubungan Tita dan Kennan yang sebenarnya. Putra hanya tahu jika Kennan dan Tita, masing masing telah menikah.
Padahal selama ini Doni selalu memuja gadis alim yang menurutnya ramah dan selalu santun dalam bersikap tersebut. Nyatanya semua sama saja jika sudah berhubungan dengan *****.
Sebenarnya Putra menyadari ada hubungan yang tidak biasa diantara keduanya, namun dirinya berusaha menepis semua pikiran jeleknya tersebut. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa mereka berdua adalah teman satu sekolah, wajar saja kalau mereka saling mengenal.
Dan puncaknya adalah malam ini. Putra mendapati interaksi mata yang tidak biasa diantara keduanya. Hingga Putra pun mengurungkan niatnya untuk pulang terlebih dahulu.
Putra pun segera menyusul Kennan ke dalam ruangannya setelah beberapa saat sebelumnya melihat sepupunya itu menggandeng tangan Tita menuju ruangan nya di lantai atas.
Beberapa menit berlalu, karena kedua pasangan remaja itu tidak kunjung keluar dari ruangan Kennan. Putra memutuskan untuk memasuki ruangan tersebut tanpa permisi, berbagai pikiran jelek memutari tempurung kepalanya.
Dan benar saja, apa yang dilakukan oleh Kennan dan Tita beberapa saat lalu sungguh salah menurutnya. Tidak seharusnya mereka berdua berpelukan bahkan saling bertautan bibir. Dan entah itu untuk yang keberapa kalinya.
"Maaf..." Tita menunduk dan berjongkok di sisi Kennan dan Putra. Tita terlihat seperti seseorang yang menyesali perbuatannya menurut Putra.
"Kamu tau perbuatan kalian itu salah..." Putra menatap Tita tajam dengan masih di atas tubuh Kennan dan tangan yang mencengkeram kaos sepupunya.
"Tapi..." Tita menjeda ucapannya.
"Kalian sudah menikah dan memiliki pasangan masing - masing... Seperti ini sama saja dengan kalian berzina." Putra tidak tahu jika dirinya yang salah sangka saat ini.
Kennan hanya menarik sudut bibirnya tersenyum samar mendengar penuturan Doni sepupunya.
"Iya Tita sama abang memang sudah menikah kak, jadi wajar kan ka..." Belum selesai Tita berucap kata Putra memotongnya.
"Wajar katamu...!" Putra dengan tidak terlalu memperhatikan ucapan Tita sebelumnya, karena rasa marahnya yang telah memuncak.
Bagaimana tidak, jika gadis alim yang dian diam mengisi hatinya tersebut ternyata memiliki pola pikiran yang sama saja dengan gadis berhotspant di luaran sana.
(Lah putra kok nyalahin hotspant sih thor... apa salahnya dia coba??!!)
"Iya." Tita mengaggukkan kepala sedikit takut.
Doni tersengih, bagaimana bisa gadis itu menganggap perbuatan mereka wajar saja.
__ADS_1
"Kan Tita sama abang suami isteri." Tita hati hati dengan meraih tangan Kennan yang tergeletak di lantai begitu saja.
Tita sebenarnya merasa bingung kenapa suaminya yang biasanya selalu mengedepankan emosi tersebut terlihat pasrah saja saat ini. Apalagi yang meninjunya adalah anak buah kafenya, dan Kennan tanpa sedikitpun melawan.
"Elo sama dia apa suami isteri...?"
Tita menganggukkan kepala perlahan.
Heh...
"Suami istri." Doni dengan menggumam.
"Whaattss... jadi Kennan itu suamimu Ta?" Doni dengan melotot ke arah Tita saat menyadari ucapan gadis yang sudah duduk bersimpuh di sampingnya.
Tita pun menganggukkan kepala kembali.
Tita berharap setelah Putra mengetahui kebenarannya, cowok yang menjadi manajer kafe suaminya tersebut melepaskan cengkeraman tangannya dari sang suami.
"Kenn... kalian...!!" Doni mengalihkan pandangan ke arah Kennan karena belum sepenuhnya mempercayai ucapan Tita.
"Hemm... itu bener" Kennan dengan gumaman.
"Jadi selama ini elo...?!" Doni masih terlihat bingung dengan kebenaran hubungan sepupu dan gadis yang dicintainya dalam diam tersebut.
"Itu bener Don... gue sama Tita gak bohong. Dia isteri gue dan gue suaminya Tita, paham..." Kennan dengan masih berada di posisi yang sama tanpa sedikit pun berubah.
"Ohh jadi elo, cowok gak peka yang selalu bikin Tita nangis. Dasar cowok mbrengsek lo..." Doni kesal semakin mencengkeram kuat kaos Kennan dengan salah satu tangannya yang sempat sedikit mengendur beberapa saat lalu.
Dan tanpa Kennan dan Tita duga Doni kembali melayangkan tinju pada sisi wajahnya yang lain.
Bugh... bugh...
Dua kali Doni memberikan bogem mentah pada kedua pipi Kennan.
Kennan cukup tau diri jika Doni sangat marah karena kenyataan yang baru saja di dengarnya. Kennan tau pasti akan apa yang ada di dalam otak sepupunya itu.
Doni pasti merasa sangat marah karena ketidakjujurannya serta cowok berhati baik itu pasti tidak menyangka jika gadis yang dipekerjakan part time olehnya tersebut adakah isteri dari sepupunya sendiri.
Kennan benar benar pasrah dengan apa yang dilakukan Doni kepadanya, semuanya setimpal dengan kebungkaman mulutnya selama ini.
Berbeda dengan Kennan, Tita berteriak histeris saat Doni melayangkan dua tinjuannya pada sana suami.
"Kak Putra stop, jangan pukul suami Tita." Tita berseru dengan mendekapkan tubuhnya pada wajah Kennan.
Putra yang sesungguhnya belum puas untuk memberikan pelajaran kepada sepupunya tersebut terpaksa menghentikan aksinya saat mendengar seruan Tita, bahkan hatinya tidak tega saat mendengar gadis itu mulai terisak.
Doni pun beringsut, meninggalkan tubuh Kennan yang masih terlentang di lantai. Perlahan beranjak berdiri.
"Jangan lo pikir urusan kita selesai Kenn..." Doni pun melangkahkan kaki dengan gontai keluar dari ruangan Kennan, tanpa sedikit pun peduli pada wajah Kennan yang lebam akibat perbuatannya.
"Abang bangun ya... Tita bantuin berdiri, kita duduk di sofa." Tita dengan terisak mendorong punggung Kennan untuk duduk.
"Gue gak papa dek... jangan bikin seolah gue cowok yang lemah." Kennan terkekeh kecil sembari mendudukkan dirinya.
Tita mengabaikan ucapan Kennan, dengan segera membantu tubuh kekar itu untuk duduk di sofa yang terdapat pada ruangan sang suami.
"Bibir abang berdarah..." Tita melebarkan bola matanya saat mendapati salah satu sudut bibir Kennan mengalirkan sedikit darah merah.
Tita memang batu menyadari jika salah satu sudut bibir Fabian berdarah.
__ADS_1
Tita semakin terisak hingga mengalirkan bulir bening pada kedua sudut matanya yang sempat menganak sungai beberapa saat lalu.
"Tita ambil kotak obat di bawah." Tita dengan hendak beranjak pergi.
Set.
Kennan menghentikan Tita dengan mencekal pergelangan tangannya.
"Gak usah, gue gak papa ini gak sakit dek." Kennan dengan mendongak karena posisi Tita saat ini sedang berdiri sedangkan dirinya duduk di sofa.
"Tapi bang, bibir abang berdarah."
"Gue gak papa beneran... percaya sama gue." Kennan menarik Tita kuat hingga membuat gadis bergelar isterinya tersebut terduduk di pangkuannya.
Dengan lembut Kennan mengusap bulir bening pada kedua pipi gadis yang telah duduk di pangkuannya.
"Cukup dengan adanya elo di sisi gue rasa sakit itu gak berasa." Kennan tersenyum tipis menatap sang isteri.
"Tita obatin biar makin gak berasa, lagian itu masih ada darahnya. Pasti perih." Tita memandang sendu wajah lebam suaminya, bahkan dadanya terasa nyeri saat melihat darah yang mulai mengering di sudut bibir suaminya.
Jemari Kennan beralih mengusap sudut bibirnya, srett... dengan segera mengusap darah
yang tidak seberapa itu agar menghilang dari sudut
bibirnya.
"Sudah ilang kan..." Kennan tetap saja tersenyum padahal dada Tita masih saja berdenyut merasakan perihnya.
"Tapi masih perih kan bang... biar Tita ambilkan obat dibawah dulu."
"Gak usah... obat gue ada di sini." Kennan kekeh.
"Dimana... biar Tita ambil." Tita dengan memindai pada ruangan kerja sang suami.
"Di sini... di pangkuan gue."
"Abang apaan sih... lagi sakit jugak masih ganjen wae." Tita kikuk menyadari ucapan suaminya.
"Beneran dek... obat gue cukup ini aja." Kennan mengusap bibir Tita lembut.
"Bang..."
"Bolehkan dek." Kennan dengan mengikis jarak keduanya saat melihat Tita tidak menyahut melainkan menunjukkan wajah malunya.
Kennan pun menautkan bibir keduanya. Melesakkan lidah menyusuri rongga mulut sang isteri yang sudah beberapa hari ini sangat dirindukannya.
Tita yang sejatinya juga sangat rindu akan sentuhan suaminya pun perlahan mengalungkan kedua tangannya pada leher Kennan. Membuat posisi nyaman untuk keduanya melepaskan rindu yang telah beberapa hari ini dibendung oleh keduanya.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorπππ