
"Bibik minta maaf den.... Bibik gak bisa bujuk Non Tita keluar dari kamar buat nemuin Den Kennan. Malah pintu kamarnya sekarang dikunci dari dalam", Wanita paruh baya yang memakai baju kebaya khas wanita jawa zaman dulu itu berucap pelan seakan takut membuat lawan bicaranya yang tak lain adalah Kennan Wijaya Atmadja itu kecewa.
Kennan menghirup oksigen kuat kemudian membuangnya perlahan sambil menatap pintu kayu
di mana isteri yang ingin ditemuinya berada di balik sana tanpa sedikitpun mau menunjukkan wajahnya pada Kennan.
"Gak papa Bik... mungkin dia masih marah, Kennan memang salah", jawabnya lirih masih dengan menatap nanar pintu berbahan kayu yang sudah usang dimakan zaman.
Pagi ini Kennan sengaja datang untuk menjemput Tita kembali karena kemarin Tita histeris saat melihatnya. Kennan berharap hari ini bisa membawanya pulang namun kenyataannya malah membuat Tita mengurung diri di kamar.
"Aden duduk dulu saja. Tunggu sebentar ya bibik buatkan minum di dapur", pamit Bik Marsih pada Kennan.
Kennan mengangguk. Sedikit bersabar menunggu Tita keluar dari kamar. Kennan berfikir tidak mungkin Tita akan mengurung diri di kamar seharian.
Sepeninggal Bik Marsih Kennan mendudukkan dirinya pada kursi ruang tamu panti asuhan. Kemudian memijit pelipisnya pelan, berusaha memikirkan tentang apa yang membuat Tita sangat histeris saat melihatnya kemarin. Kalau hanya sekedar dirinya yang mengagahi Tita secara tiba - tiba itu tidak mungkin Tita akan semarah ini, yah meskipun memang Kennan melakukannya dengan kasar.
Beberapa kepingan wajah ketakutan Tita, isakan tangisnya saat mereka menyatukan diri kemarin berkelebatan silih berganti di mata Kennan.
"Apa yang membuat elo seperti ketakutan sekali???!", Kennan bergumam lirih dengan tidak melepaskan pandangan pada pintu kayu kamar Tita.
*
*
*
"Tumben lo dateng ke sini.... ada masalah sama cewek lo.... kenapa.... elo putus sama cewek berjilbab itu??", tanya Devon bertubi tubi dengan tersenyum miring saat mendapati kennan dengan kuda besi hitamnya datang ke arena balap liar di pinggiran kota Yogyakarta. Dimana jalanan beraspal yang jauh dari pemukiman penduduk itu menang sering digunakan untuk arena balap motor oleh anak anak remaja yang ingin eksis menunjukkan jati diri.
Devon bertanya seperti itu karena dia tau Kennan telah memutuskan untuk meninggalkan dunia balap motor yang telah membuat sahabatnya meninggal saat mengalami kecelakaan pada waktu mengikuti balap motor beberapa tahun lalu.
Tidak ada sahutan dari mulut Kennan, mulutnya seakan tergembok rapat dengan kunci pembuka yang hilang jatuh ke dasar laut dimakan oleh patrik si bintang laut temennya spongebob๐๐
Meski Kennan sudah mematikan motornya namun dirinya belum beranjak meninggalkan motor. Kennan membuka helm full facenya, menaruh pada stang motornya mengibaskan surai hitamnya hingga membuat wajah tampannya terlihat sempurna bagi kaum hawa yang berada di seputar arena balap tersebut. Kennan kemudian mengambil rokok dari saku jaketnya dan mematik api pada batang rokok yang sudah terselip di sela bibirnya.
Bagi kalangan remaja jaman now sosok lelaki yang duduk di atas motor sambil memainkan batang tembakau linting tersebut membuat kadar ketampanannya naik berkali kali lipat. Banyak yang memandang takjub pada wajah tampan Kennan, bahkan para kaum hawa yang berada sekeliling Devon ikut menatap dan saling berbisik memuja Kennan.
Kennan menghisap kuat lintingan tembakau yang mengandung racun perusak tubuh tersebut. Sesekali memainkan asap dari lintingan tembakau yang telah dibakarnya tersebut dengan membentuk bulatan - bulatan kecil menyerupai cincin. Matanya tak henti bergerak menatap arena balap motor yang sedang dilakoni oleh anak - anak pembalap liar pemula yang asyik dengan motor oprekan mereka.
Suara deru motor memekakkan telinga, memecah keheningan malam yang sepi karena waktu memang telah menunjukkan pukul 23.30 tengah malam.
Meski rintik rintik air hujan sedikit turun, namun hal itu tidak mengurangi sedikitpun semangat dari beberapa beberapa remaja yang ada di arena balap liar malam ini.
Bahkan penonton yang hampir seluruhnya terdiri dari para remaja laki laki dan perempuan tanggung tersebut sangat antusias menyoraki para peserta balap liar yang sudah bersiap untuk melaju di jalanan.
"Turun sama gue.....". Devon menjeda sejenak ucapannya.
"Gue tau elo lagi punya beban menggunung di pala lo!" Devon bersuara di dekat telinga Kennan setelah berjalan mendekati Kennan.
Kennan menaikkan satu alisnya menatap Devon, hatinya sedikit memanas melihat senyum miring Devon. Dirinya seakan tertantang mendengar ucapan Devon meski Kennan tau ucapannya bukan bermaksud menantang dirinya.
Kennan menatap Devon dengan tatapan ragu. "Apakah gue masih bisa???", ucapnya lirih pada diri sendiri.
"Udah gak usah kebanyakan mikir.....Buang resah lo....", Devon menepuk pundak Kennan pelan kemudian berlalu menuju motor besarnya yang berwarna merah menyala.
Kennan membuang nafas panjang, melempar ke bawah lintingan tembakau yang masih panjang dari bibirnya kemudian menggilas dengan ujung sneakersnya.
Dua pengendara motor besar berjajar, yang satu dengan kuda besi berwarna hitam gelap tanpa sentuhan warna lain maupun stickers bahkan helm full face nya berwarna hitam polos sedangkan satunya motor besar sejenis dengan warna merah menyala terang menjadi bintang utama di jalan raya yang dijadikan sebagian lintasan balapan tersebut hingga menjadi pusat perhatian para penonton.
Kennan tidak berhenti memainkan pedal gas pada stang motor hitam miliknya dengan kuat. Sedang di samping motor hitamnya ada Devon dengan motor besarnya yang berwarna merah yang sejenis dengan kuda besi miliknya. Devon yang berada di atas motor tersebut juga melakukan hal yang sama dengan Kennan.
Sesekali mereka saling melirik dibalik helm full face yang mereka pakai.
__ADS_1
Diantara Kennan dan Devon si pengendara motor merah tersebut berdiri seorang gadis dengan rambut panjang terurai dengan memakai tank top serta dipadukan dengan hotpants sedang memegang bendera.
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
Tak lama kemudian gadis tersebut mengibaskan bendera diudara dan meniup peluit, menandakan bahwa balapan dimulai.
Brrrreeeemmmm.....
Suara deru knalpot saat Kennan memacu motor sportnya dengan kecepatan penuh. Sempat ada keraguan dalam memutar pedal gas di awal namun tak lama kemudian dapat menguasai diri dan dengan rileks memacu kendaraan bermotornya dengan suara yang memekakkan telinga.
Kennan melajukan kuda besi hitamnya dengan kecepatan tinggi disusul dengan pemilik motor merah di belakangnya. Tidak ada kecurangan pada balap motor ini karena balapan ini Kennan lakukan dengan musuh satu geng motornya yang dulu pernah menjadi tempat keduanya setelah rumah.
Kennan sengaja kembali melakukan balap liar, menerima tawaran dari Devon karena ingin melepaskan beban tempurung kepalanya yang penuh akibat Tita yang tidak mau menemuinya meski Kennan selalu bolak balik mengunjungi panti untuk membujuknya kembali pulang ke apartemen. Bahkan hari ini setelah Kennan menunggu seharian, Tita tidak menampakkan Batang hidungnya sama sekali.
Sreetttt.....krosssaakkkkk......
Motor Kennan terguling, membuat empunya terpental dari atas motor hingga helm full face ya terlepas dari tempurung kepala Kennan.
Ciiitttt.....seeetttt....
Devon menghentikan motor besarnya setelah mengetahui motor Kennan terguling dan membuatnya terjatuh dari motor.
"Wooeeyyy.....", Devon turun dari motor besarnya sambil melambaikan tangannya ke atas untuk meminta bantuan dari teman temannya.
"Kenn..... Kennan....", Devon menepuk pipi Kennan, dia khawatir pada keadaan Kennan karena helmnya full facenya terlepas saat Kennan jatuh terguling dari motornya.
"Euughh", Kennan melenguh kemudian membuka matanya.
"Gue gak papa", ucap Kennan dengan berusaha mendudukkan diri di pinggiran jalan aspal. Meski badannya sakit namun rasa itu diabaikan oleh Kennan.
"Tapi.... muke lo lecet Kenn", seru Devon, bagaimanapun mereka pernah berteman dekat sebelumnya, jadi wajar kalo dirinya mengkhawatirkan Kennan.
Kennan mengangguk meski dengan sedikit lemah.
"Gapapa... lecet dikit gak bikin ganteng gue luntur", ujarnya bergurau dengan menahan sedikit sakit pada badannya.
Sesakit apapun rasa di tubuhnya tidak sebanding dengan sakit dan sesaknya dalam dada Kennan saat mengingat wajah sendu Tita yang tadi sempat berkelebat di depan matanya hingga membuatnya kehilangan konsentrasi saat memacu motor besarnya.
"Dasar sok kecakepan lo...", kekeh Devon.
"Beresin motor Kennan, bawa ke basecamp", Ucapan Devon pada teman teman gengnya yang telah berdatangan untuk membantu.
"Nih minum", Devon memberikan botol air mineral pada Kennan.
Kennan meneguk air mineral dalam botol hingga tandas, kemudian meremasnya sebelum melemparkan botol kosong tersebut ke sembarang arah.
"Elo gak pengen ngomong sama gue...?", Devon bertanya karena menyadari Kennan pasti memiliki masalah.
Tidak ada jawaban dari Kennan, hanya desahan nafas panjang keluar dari mulut cowok dingin yang irit bicara tersebut.
"Terkadang berbagi cerita pada orang lain akan membuat kita lega meski belom tentu kita mendapatkan jalan keluar dari masalah tersebut", Devon berucap tanpa memandang Kennan.
Kennan tersenyum tipis, "Mungkin"
"Gadis itu.... cewek lo....??", Devon bertanya dengan memandang langit malam yang gelap tanpa bintang, karena memang cuaca mendung. Posisi Devon sekarang merebahkan punggungnya ke tanah dengan berbantal kedua tangannya.
"Bukan", sahut Kennan lirih, dia tahu gadis yang disebut Devon adalah Tita.
__ADS_1
"Terus apa yang bikin muke lo lecek kek cucian belom disetrika....., elo cinta sama dia trus ditolak gitu???", Devon berusaha mengorek isi tempurung kepala Kennan. Sambil mengingat wajah Kennan yang seperti tak ingin melepaskan gadis berjilbab di sisinya saat mereka bertemu di kedai soto beberapa bulan lalu.
Bahkan Devon masih mengingat wajah cantik gadis itu meski dia sering menundukkan wajahnya.
"Kalo lo ditolak berarti gue ada kesempatan buat deketin dia dong", kekeh Devon.
"Gak bisa....dia isteri gue Dev!", Kennan berucap dengan pasti tanpa keraguan meski dengan nada datar.
"Whaaattssss", Devon kaget....bahkan kini dia kembali duduk dengan pupil mata seakan keluar dari tempatnya.
"Dia isteri gue.... dan elo, udah gak ada kesempatan buat deket sama dia", Kennan masih dengan nada datar namun penuh ketegasan.
"Gimana lo bisa....??!!", Devon tidak meneruskan ucapannya. Dia kehabisan kata kata untuk diucapkan pada Kennan.
Kennan membuang nafas pelan. "Nyatanya bisa"
"Gue yakin sih, gadis itu gadis yang baik. Sepertinya dia cinta banget sama lo", Devon mendudukkan diri di samping Kennan.
"Entahlah....kita belom saling mengenal. Dan banyak hal yang belum gue tau tentang dia...", Kennan mengesah.
"Ada masalah sama rumah tangga lo?", Devon
Lagi lagi Kennan menghembuskan nafasnya.
"Rumit.....", Kennan menjeda ucapannya. "Masalah rumah tangga nggak akan bisa dipecahkan sama bocah ingusan kek elo".
"Sialan lo Kenn...mentang - mentang udah jadi bapak eRTe, sekate kate ngatain gue anak ingusan. Umur kita same dab....", Devon menonjok pelan bahu Kennan membuat Kennan meringis, sepertinya badannya lebam buat jatuh tadi.
"Serumit apapun lo harus segera nyelesain masalah lo. Menikah itu gak seperti kita pacaran, gak cocok minta putus terus cari lagi. Lo harus belajar saling memahami dan menerima kekurangan dan kelebihan masing - masing. Jangan sampek berlarut larut, cerai itu perbuatan yang dilaknat Allah", Devon kek orang bijak wae.
"Gue tau elo cinta banget kan sama cewek itu!!", Devon diam sesaat.
"Jatuh cinta adalah hal biasa, menjalaninya itu luar biasa karena ketika kau mencintai tentu harus siap juga untuk jatuh dan jatuh ke dalam manis dan pahitnya cinta", Devon sok memahami isi hati Kennan.
"Sok bijak lo Dev... makin berisi wae otak lo", Kennan tertawa lirih mengabaikan rasa sakit pada tubuhnya akibat jatuh dari motor.
"Gue gak nyangka lo bisa juga bucin banget sama cewek", Devon sarkas.
"Gue suka matanya saat tersenyum....", Kennan mengingat apa yang membuat dia selalu merindukan Tita.
"Ciihhh.....lo memprovokasi gue.....!!", Devon.
"Hehehe....tapi beneran gue suka banget sama tatapan matanya, teduh banget"
"Kek duduk di bawah pohon gede wae teduh....", Devon lagi berucap sarkas saat Kennan mengungkapkan isi hatinya.
"Syukurlah Kenn.... akhirnya elo bisa nemuian orang yang tepat buat merapatkan hati lo", Devon lagi berucap.
"Semoga Yuna gak ganggu kebahagiaan lo Kenn....", Devon membatin dalam hati sambil menatap Kennan yang tak berhenti tersenyum.
"Anterin gue pulang"
****
Like
Vote
Komen
Tambahkan favoritโค
__ADS_1
Tengyu for reading tulisan receh othor๐๐๐๐