Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
171. Iyain Aja Deh


__ADS_3

"Kerudungnya gak usah dipakai, dilepas wae ..." ucap Kennan dengan menarik jilbab instan yang telah menutupi surai hitam Tita. Rambut Tita yang masih sedikit basah membuat Kennan khawatir kalau nanti akan membuat belahan hatinya itu sakit.


Saat ini keduanya telah berada di dalam kuda besi HRV milik Kennan.


"Tapi Bang..." Tita menoleh ke sisi luar dari kaca jendela mobil.


"Gak papa cuma sama gue doang, lagian kita di dalam mobil. Malem jugak, gak bakal ada yang perhatiin." Kennan menenangkan dengan meraih dagu Tita untuk kembali menghadapi kepadanya.


Sret...


Tangan kekar Kennan menyibak helaian surai hitam yang mengurai sedikit menutupi wajah cantik Tita. Dengan lembut membawanya ke belakang telinga Tita.


"Gue gak mau lo sakit." ucap Kennan lembut sembari mengusap pipi cabi Tita yang terasa dingin pada telapak tangannya.


Tita mengangguk mengiyakan, mengerti akan maksud sang suami.


"Masih dingin dek?" Kennan bertanya dengan tatapan sendunya.


"Sedikit." jawab Tita dengan bibir yang masih sedikit bergetar menahan dingin.


Kennan memajukan wajahnya dengan dada yang tidak berhenti berdetak kencang.


Cup...


Kecupan kecil diberikan pada bibir atas Tita, lalu beralih pada bibir bawahnya.


Tita hanya pasrah menerima perlakuan Kennan dengan degub jantung yang berdetak menggila.


"Maaf karena gue terlambat datang."


Hembusan nafas hangat Kennan menyapu seluruh wajah Tita hingga memberikan sensasi gelenyer aneh yang membuat tubuh Tita menghangat.


"Kalau saja gue gak ngijinin lo buat ikut acara sialan itu, lo gak bakalan kek gini Dek." suara Kennan terdengar parau karena khawatir yang berlebihan akan kondisi Tita, apalagi saat dirinya mengingat jika tubuh ramping di depannya itu tidak bisa berkompromi dengan suhu dingin.


"Abang gak salah." sahut Tita sembari mengusap lembut rahang Kennan.


"Tetep wae gue salah karena gak bisa jagain elo Dek." Kennan meraih telapak tangan Tita dan membawanya ke bibirnya.


Tangan berjemari lentik itu masih terasa dingin, Kennan pun mengecup lama untuk memberikan sedikit kehangatan. Rasa bersalah yang amat dalam mencubit sudut hatinya.


"Udahlah Bang, Tita nggak papa kok. Cuma sedikit kedinginan wae." Tita berusaha membuang rasa bersalah suaminya.


Kennan memandang wajah Tita intens, wajah putih itu terlihat pucat. Menelisik semakin dalam, lalu kembali mendaratkan bibir tebalnya pada bibir Tita yang dingin seperti es. Meraup dengan rakus untuk memberikan kehangatan yang mungkin saja sangat dibutuhkan oleh Tita saat ini.


Tita yang mendapati ciuman rakus suaminya berusaha membalas untuk mengimbanginya. Dirinya tak memungkiri jika saat ini juga membutuhkan kehangatan tersebut.


Perlahan kedua tangan Tita bergerak lalu meremas surai hitam Kennan untuk menyalurkan hasratnya lebih dalam. Tidak dapat dipungkiri jika saat ini sensasi hangat mulai membuat panas seluruh tubuhnya.


Dalam hati Kennan tersenyum, karena ternyata Tita tidak menolaknya. Bahkan dirinya merasa jika saat ini gadis yang bergelar sebagai isterinya tersebut juga menginginkannya.


Kennan semakin semangat untuk menjelajah setiap inchi rongga mulut Tita dengan sesekali membelit lidah serta memberikan gigitan kecil pada bibir isterinya.


Heh... heh... heh...


Deru nafas memburu dari pasangan remaja yang baru saja melepaskan tautan bibir kenyal keduanya.


"Tetep wae manis." Kennan tersenyum puas sembari memandangi bibir Tita yang menebal karena aksi mesumnya. Ibu jarinya mengusap lembut bibir itu dengan hati hati, hingga membuat empunya tertunduk malu.


Tita mencubit kecil perut Kennan yang terbungkus kaos putih polos. "Abang bikin Tita malu."


Kennan terkekeh kecil. "Gue lebih suka lo malu daripada malu maluin."


"Abbaaang."


"Aww..." jerit kecil Kennan saat Tita kembali memberikan cubitan kecil pada perutnya, kali ini agak lama.


"Makanya jangan godain terus." Tita memajukan bibirnya.


"Adeekk...." Kennan menjepit hidung Tita. "Dibilangin jangan suka monyongin bibir di sembarang tempat jugak, masih ngeyel wae seh."

__ADS_1


"Maaf, lepasin Bang." Tita menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Kennan melepaskan cubitannya. "Diinget - inget ... jaga bibirnya yang bener kalau gak mau gue cium di tempat."


Titi tertawa kecil. "Iya deh iya."


"Ya udah sekarang lo tidur wae, lo capek kan?!" Kennan memasangkan seatbelt pada tubuh Tita.


"Abang tau wae, makasih Bang." ucap Tita dengan tersenyum manis.


Saat melihat bibir yang membingkai senyum manis itu, Kennan kembali mendaratkan bibirnya. Menikmati sedikit lebih lama untuk menyalurkan hasratnya yang tidak bisa dikekang oleh otaknya.


"Dah tidur... ntar gue bangunin kalau udah sampai." ucap Kennan sembari memposisikan kursi Tita sedikit merendah, agar gadis itu dapat mengistirahatkan tubuh lelahnya.


Lalu memberikan kecupan hangat pada kening sang isteri sesaat sebelum melajukan kuda besi hitam HRVnya menuju jalan raya.


"Bang."


"Hem." Kennan tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan aspal di depannya karena cukup ramai dipadati oleh kendaraan bermotor. Maklum malam ini adalah malam minggu. Pastinya banyak orang yang ingin menikmati malam bersama orang orang terkasihnya untuk menuju ke suatu tempat, mungkin.


"Abang beneran gak papa kalau Tita tidur?"


"Gak papa Dek. Gak usah khawatirin gue, gue udah biasa nyetir dewean."


"Tapi Bang," Tita terdengar ragu.


Sesaat Kennan menolehkan kepala memandang Tita yang juga mengarahkan pandangan kepadanya.


"Udah tidur wae, gak usah resah." ucap Kennan sembari meraih tangan kanan Tita dan memberikan kecupan hangat di sana. Tidak lupa memberikan senyuman menawan untuk sang kekasih halalnya.


Tak ayal, perilaku Kennan yang manis itu sekali lagi memberikan dentuman jantung yang tidak bisa diredam oleh tubuh Tita.


Tita pun membalas senyum Kennan tak kalah menawan, mengeratkan tautan jemarinya pada jemari kekar sang suami. Kemudian dengan segera menutup kedua kelopak matanya saat Kennan kembali mengalihkan pandangan ke jalan raya.


...🍭🍭🍭🍭...


Kennan yang telah keluar dari kuda besi hitamnya, berbisik lirih pada telinga Tita seolah tidak menginginkan kekasih halalnya itu terkejut.


Perlahan tubuh yang telah tertidur pulas itu bergerak, mengerjapkan kedua kelompok matanya berulang lalu mengedarkan pandangan ke arah luar.


Menegakkan tubuhnya lalu mengernyit bingung.


"Kita dimana Bang?"


"Udah... turun dulu." Kennan menyingkirkan tubuhnya dari pintu mobil agar tidak menghalangi kekasih halalnya tersebut untuk keluar.


Tita turun dari mobil lalu memandang sebuah rumah sederhana di depannya.


"Green homestay." gumam Tita lirih, kemudian menengok ke belakang saat gendang telinganya mendengar deru ombak yang terdengar cukup keras.


"Ini deket pantai Bang?"


Kennan mengangguk tersenyum.


Tita membuka lebar matanya seolah tak percaya, namun saat melihat sekumpulan buih yang bergelung di depannya dirinya baru percaya.


Kemudian kaki kecilnya melangkah hendak menghampiri bibir pantai namun buru buru Kennan mencekal pergelangan tangannya.


"Besok wae, udah malem. Masuk dulu kita istirahat."


Tita memandang Kennan manyun seolah tidak ingin menuruti ucapan suaminya.


"Dek... udah jam sebelas malem ini, dingin. Mendingan pelukan sama gue di kamar."


Mendapati jawaban tersebut, Tita memukul dada bidang Kennan dengan pelan. Kennan pun terkekeh.


"Bener kan?! Enaknya kita pelukan biar anget." goda Kennan sembari menarik pergelangan tangan kekasih halalnya.


Tita pun mau tak mau menurut, mengikuti langkah kaki suami yang telah berjalan di depannya sembari menggandeng tangannya.

__ADS_1


Kini kedua pasangan remaja itu telah memasuki kamar sederhana yang berada di dalam homestay yang telah Kennan sewa sesaat lalu sebelum membangunkan Tita.


"Ganti baju lo dek, biar nyaman." ucap Kennan seraya memberikan paper bag hasil berburunya dengan Naura siang tadi.


"Gue keluar bentar, ambil minum ke dapur." Kennan berlalu setelah mendapat anggukan dari Tita.


Jemari lentik Tita segera membuka dan mengambil dress girly berwarna biru yang simpel namun terlihat cantik menurutnya.


Tita tersenyum tipis. "Selera abang bagus juga."


Satu persatu jemari lentik Tita membuka kancing baju atasnya hingga ke bawah.


Baru saja menyibakkan setengah baju atasnya, tetiba saja Kennan membuka pintu kamar.


Dengan segera Tita menangkup baju atasnya kembali.


"Kenapa?" Kennan bertanya karena Tita segera munutup punggung mulusnya yang sempat terlihat oleh kedua matanya.


Tita terdiam, hanya mampu menunduk malu.


Kennan meletakkan sebuah gelas kosong serta sabotol air minum di atas nakas lalu mendekat pada Tita yang masih berdiri dengan menunduk.


Meraih bahu Tita, menangkupnya. "Gak usah malu, kita udah halal. Lagian gue udah pernah lihat semuanya." ucap Kennan tepat di dekat telinga Tita, lembut.


Bukannya merasa lega, namun tubuh Tita terasa semakin meremang. Efek hembusan nafas hangat Kennan yang menjalari seluruh tubuhnya.


"Elo buka baju di depan gue gak masalah kok, gue seneng." Kennan berucap dengan sudut bibir yang terangkat.


"Abang apaan seh." Tita mendongak kesal dengan menyodok pelan perut sixpacknya karena sang suami tampan bin mesumnya itu selalu menggodanya. Kennan sedikit memundurkan bagian perutnya, namun tangannya beralih memeluk tubuh ramping Tita.


Posisi keduanya yang saling menatap, Kennan yang menunduk serta Tita yang mendongak membuat keduanya saling menelisik, mendalami rasa masing masing.


Sebagai lelaki normal, Kennan yang sejatinya selalu menginginkan mencumbu Tita tidak dapat membendung hasratnya.


Segera mendaratkan bibir tebalnya, pada bibir tipis Tita yang seolah telah menjadi candu untuknya.


Perlahan mencecap manisnya hingga tak jarang menghisapnya kuat. Tita pun tak dapat menolak tindakan Kennan, perlahan dirinya ikut menikmati serta membalas ciuman Kennan tak kalah kuat. Hingga kedua tangan rampingnya mulai mengalung pada leher Kennan untuk mendapatkan kenikmatan surga dunia yang telah diidamkan oleh banyak pasangan belum sah di luar sana.


Kennan pun semakin mengeratkan pelukannya dengan sesekali tangannya bergerilya pada punggung mulus isterinya.


Tangan Kennan mulai menyibak baju atas Tita yang kancingnya sudah tidak terkait, hingga baju atas itu turun ke bawah. Tergeletak sembarang, hingga kini hanya menyisakan penutup gunung kembar squisy Tita.


Perlahan Kennan mendorong tubuh ramping itu hingga merebah pada ranjang tanpa melepaskan tautan bibir keduanya.


Saat merasakan Tita kesulitan bernafas, Kennan melepaskan tangkupan bibirnya.


"Dek... boleh ya?" ucap Kennan serak tepat di depan wajah Tita dengan pandangan yang berkabut hasrat.


Tita yang mengerti akan maksud Kennan, perlahan menganggukkan kepala menyetujui permintaan sang suami.


"Tita gak mau dilaknat Allah sampai pagi Bang."


🍨🍨🍨🍨


Part nya lumayan panjang yak, puas puasin dech😘😘


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2