
"Jadi temen yang mau ditemuin abang tadi cewek, pantes wae gak mau nemenin Tita beli bubur..." gumam Tita dengan dada bergemuruh. Berbagai pertanyaan berkecamuk mengitari tempurung kepalanya.
"Hemm.....jadi abang sengaja janjian untuk ketemuan dengan orang itu di sini..... Jangan - jangan orang itu pacar abang, mana mungkin abang bisa deket banget kek gitu kalo mereka gak saling kenal lama. Haruskah aku mendekati mereka....?? Terus kalo abang mengenalkan orang itu sebagai pacarnya gimana dong....Sepertinya Tita gak siap deh....", Tita bergumam sambil meraba dadanya yang semakin terasa menyesak.
Tita menghirup banyak - banyak oksigen kemudian mengeluarkan secara perlahan. Tita melakukannya berulang kali hingga dirinya sedikit tenang dan mampu mengusir gemuruh di balik dadanya.
Perlahan Tita melangkahkan kaki pada bangku di mana Kennan masih asyik bercengkerama dengan seseorang berkaus hitam tersebut.
Hek...loh kok....
Tita menghentikan kembali langkah kakinya ketika tangan kanan Kennan beralih bergerak mengelus punggung orang tersebut, namun terlihat seperti mengelus surai hitam lurus milik seseorang yang berkaus hitam itu.
"Mendekat enggak ya....ntar kalo bikin nyesek gimana....terus kalau itu beneran pacar abang piye....", Tita tidak berhenti bergumam bingung dan kesal dalam hatinya.
Setelah beberapa saat dapat menguasai diri Tita kembali melangkahkan kaki mendekati Kennan.
"Bang", seru Tita setelah dirinya berjarak dua langkah di belakang Kennan.
Kennan menoleh ke belakang dengan posisi tangan kanannya masih berada di atas punggung seseorang berkaus hitam tersebut.
"Udah...??", tanya Kennan pada Tita dengan datar.
Tita mengangguk tanpa bisa menyembunyikan wajahnya yang cemberut, dan itu tak luput dari pandangan mata Kennan.
Kennan melirik tangan kanannya yang masih menempel pada punggung yang tertutupi surai hitam di sebelahnya. Kemudian kembali memandang Tita dan menggunakan tangan kanan itu untuk melambai pada isterinya.
"Sini...", Kennan tersenyum jahil.
Tita masih terdiam di tempatnya, tidak mau bergerak sama sekali.
Seseorang yang duduk di sebelah Kennan menggerakkan tubuhnya dan seperti ingin menoleh ke belakang mengikuti arah pandangan Kennan, namun Kennan mencegahnya.
"Jangan tengok belakang, entar gue kenalin", bisik Kennan dengan senyum tipis tepat pada telinga yang tertutupi oleh surai hitam tersebut.
Mendapati hal itu Tita tidak dapat menutupi rasa kesalnya, karena Kennan terlihat berbisik mesra. hingga membuat wajah Tita semakin tertekuk kesal.
Kembali Kennan menoleh ke belakang, kali ini dengan sedikit menarik tubuhnya.
"Sini dek...", tangan kanan Kennan kembali melambai ke arah Tita.
Tita masih terdiam tanpa mau menggerakkan kakinya untuk mendekat. Takut mendapati kenyataan kalau ternyata seseorang yang duduk di sebelah suaminya akan diperkenalkan sebagai kekasih suaminya.
"Buruan sini elah....", Kennan berseru dengan menatap Tita tajam.
Dengan menjejakkan kaki kesal Tita mendekati Kennan.
Brek.
Kennan menangkap pergelangan tangan kanan Tita yang berayun mengikuti langkahnya.
"Kenalin Bang...ini isteri gue", ucap Kennan santai kepada seseorang bersurai panjang dan berkaus hitam yang duduk di sebelahnya.
"Hek....Bang. Kok bang sih!! Tita gak salah denger kan....", batin Tita bersuara kaget.
Sedangkan seseorang berkaus hitam yang disebut bang oleh Kennan itu mendongak. Orang itu terlihat sangat kaget....
"Elo bilang siapa Kenn??", tanya orang di sebelah Kennan seakan merasa pendengarannya salah.
"Dia steri gue Bang...", Kennan mengulang ucapannya.
"Gila lo ya....sebut wae pacar, pakek kata isteri segala...Masih piyik juga, dasar anak jaman sekarang pada kebrangus yakk", orang bersurai panjang yang ternyata adalah seorang lelaki itu terkekeh serta menoyor kepala Kennan pelan.
"Beneran....dia bini gue Bang. Kalo gak percaya tanya wae sendiri sama orangnya", Kennan menunjuk Tita dengan dagunya.
Mata lelaki bersurai panjang dan berkaus berwarna hitam yang merupakan teman Kennan itu memincingkan matanya seolah tidak percaya.
__ADS_1
"Bener elo isterinya dia...?", lelaki besurai panjang itu memandang Tita kemudian beralih menunjuk Kennan dengan jarinya.
Tita mengangguk perlahan.
"Haahh", mata lelaki itu membola.
"Shitt.....elo udah apain dia Kenn, ketangkep mesum lo...Masih sekolah jugak", lelaki itu mengumpat sambil memandang Kennan melotot.
"Enak aja elo kalo ngomong Bang...gue dijodohin sama Bunda", jujur Kennan.
"Ck...berasa tuwir gue Kenn...perasaan baru dua tahun gue lulus SMA. Belom juga ada yang mau, eh elo... masih sekolah, udah main nikah wae....", lelaki itu tersenyum kecut.
"Carilah Bang....gak enak njomblo terus. Temen kampus ada kan... ?! Mubazir punya wajah cakep tapi jones.....", ucap Kennan dengan suara terkekeh.
"Sialan lo Kenn, ngejek gue lo...", lagi lagi Kennan harus merasakan toyoran dari lelaki yang dipanggil bang Bayu olehnya.
"Enggak ngejek....cuma mau bilang kalo nikah itu enak Bang, ada yang ngurusin. Iya kan dek...", Kennan memandang Tita dengan senyum menggoda.
"Apaan seh Bang....", Tita memukul bahu Kennan pelan.
Auww....Kennan mengelus bahunya, pura - pura sakit.
"Rasain lo....", Bayu tersenyum mengejek.
Lalu berkata, "Pantesan badan lo berisi sekarang kagak kerempeng hehehehe...."
"Iyalah, ada yang perhatiin", Kennan mengedipkan sebelah matanya.
"Sini dek", Kennan menarik tangan Tita agar lebih mendekat padanya.
"Ini namanya Bang Bayu, temen kecil gue. Elo tadi pasti ngira gue duduk sama cewek kan...?!", Kennan menunjukkan senyum jahil pada isterinya.
Alhasil Titapun menunduk malu dengan wajah yang memerah seperti kepiting baru direbus. Tita tidak menyangka jika Kennan dapat menebak dengan tepat.
"Ini beneran isteri gue Bang...namanya Tita. Sorry dia gak bersentuhan dengan bukan mahram", Kennan memperkenalkan Tita pada lelaki bernama Bayu tersebut.
"Emm....gue pulang duluan ya Bang. Takut buburnya dingin", pamit Kennan pada lelaki yang bernama Bayu tersebut.
Bayu mengangguk mengiyakan. "Tank's ya Kenn"
"Yoi Bang....yang sabar aja, yakinlah ini pasti ketetapan Allah yang terbaik buat Abang dan keluarga", Kennan menepuk - nepuk bahu Bayu pelan.
"Semoga saja", sahut Bayu dengan bibir yang melengkung.
"Mari Bang...", pamit Tita yang diangguki oleh Bayu.
Kennan dan Tita pun berjalan beriringan menjauhi Bayu untuk menuju parkiran sepeda motornya.
"Elo tadi sempet cemburu kan...?", Kennan bertanya pada Tita.
"Gak"
"Heleh....ngaku wae", Kennan melirik Tita yang menunduk menyembunyikan rona merah wajah malunya.
"Enggak...dibilangin enggak jugak. Lagian ngapain Tita cemburu, orang dia cowok kok"
"Halah.....gak ngaku lo. Elo tadi pasti mikirnya Bang Bayu itu cewek pas waktu lo belom lihat wajahnya kan...", Kennan menundukkan wajahnya di depan wajah Tita yang merona.
"Enggak Abaaaang...", Tita membuang wajahnya karena tidak mampu menyembunyikan rasa malu dari suaminya yang mengetahui isi hatinya. Tita harus menguatkan diri, menahan degub jantungnya untuk menahan rasa yang berbunga karena Kennan sering menggodanya sekarang.
"Ngaku nggak...", Kennan merangkul bahu Tita kemudian menjepit hidungnya dengan ujung jari telunjuk dan jempolnya.
"Iya...iya...", Tita bersuara dengan sengau karena hidungnya dijepit oleh Kennan.
"Iya apa"
__ADS_1
"Iyaa...cem..bu..ru...ta..pi di..kit", Tita sedikit kesulitan saat berucap.
"Tu kan.... benerkan tebakan gue", Kennan tersenyum puas.
"Iyaa...be...ner. Tap..pii lepasiiin aabang, Tit..ta gak bisa naf..as ini...", Tita masih berucap sengau, dengan menggerakkan kepalanya berusaha melepaskan jepitan Kennan.
Kennan pun melepaskan jepitan ujung jarinya dari hidung mbangir Tita.
"Hahh....Abang mau tanggung jawab kalau Tita mati kehabisan nafas..."
"Enak aja kalo ngomong. Kalo diaminin sama Allah gimana....Elo mau bikin gue jadi duda...?!Kagak bisa"
"Habisnya Abang mencet hidung Tita kuat banget... susah nafas tauk", Tita membrengut.
"Ceileeee....ngambek nih. Abang minta maaf deh...", Kennan tersenyum menjahili isterinya.
Huh....Tita mendengus, memalingkan wajah dari suaminya.
"Udah jangan ngambek, tar cakepnya ilang lo...bisa - bisa gue cari lagi deh". Ditariknya pinggang ramping Tita agar semakin mendekat pada Kennan.
"Awas aja kalo berani", ancam Tita dengan mendelik pada suaminya.
"Makanya udahan cemberutnya"
"Bang..."
"Hem"
"Temen Abang tadi....rambutnya cakep banget, rambut Tita kalah. Rajin ke salon apa yak", Tita terheran, padahal dia adalah seorang lelaki.
"Bang Bayu maksud lo"
"Iya"
"Mungkin...sebenernya Bang Bayu itu orang yang rajin merawat diri dan cinta kebersihan. Cuman...mungkin karena dia anak ISI (Institut Seni Indonesia) jadi ya penampilannya semaunya gitu", jelas Kennan.
"Ohh...dia anak seni toh, pantesan rambutnya dibiarin panjang. Walau penampilannya semaunya tapi dia bersih lo Bang, gak slengekan banget. Selama ini yang Tita tahu anak seni itu identik dengan hidup dan penampilan semaunya, banyak kan yang penampilannya terlihat kumal dan jorok"
"Gak semua orang seperti yang elo pikir dek".
"Eh tapi Bang...Abang tadi ngapain kek ngelus rambutnya Bang Bayu?", Tita jadi teringat hal yang membikinnya kesal dan sedikit cemburu tadi.
"Jadi itu yang bikin elo cemburu?"
"His....kebiasaan deh, ditanya malah nanya balik"
Kennan terkekeh.
"Papanya baru aja meninggal, dan gue baru tau. Jadi gue kasih support sama dia"
"Oh gitu", Tita manggut - manggut tanda mengerti.
"Sini buburnya taruh depan wae", Kennan mengambil alih kantong kresek berisi bubur ayam dari tangan Tita lalu mengaitkan pada cantolan yang terletak di bawah setir motor.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ