
"Dek... mau kemana? Pagi - pagi udah cantik aja..." Kennan beringsut dari duduknya saat melihat Tita memasuki kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Bahkan sudah terlihat cantik menawan dengan kepala yang tertutup oleh pasmina.
Kennan hafal betul dengan gaya dandanan isterinya. Dengan penampilan seperti ini sudah dapat dipastikan jika gadis itu telah bersiap untuk pergi ke luar rumah.
"Mau ke kafe bang." sahut Tita sembari melangkahkan kaki mendekati ranjang yang masih terlihat berantakan.
"Ngapain?" Kennan memandang Tita masih dari tempatnya.
"Kerja lah bang, mau ngapain lagi." Tita dengan membungkukkan setengah tubuhnya, membenahi kain sprei yang tak beraturan.
"Ngapain kerja. Nggak usahlah..." Kennan beranjak mendekat.
"Ngapain di rumah... mending kerja. Dapet duit, dapet temen ngobrol. Nggak kek di rumah cuma sama abang doang... Tita bosen." sahut Tita santai sembari mengibaskan ranjang yang sudah terlihat rapi.
"Apa lo bilang?!" Kennan dengan berseru. Berseru bukan karena marah melainkan terkejut dengan ucapan Tita yang mengatakan bosan saat bersamanya.
"Tita bosen bang kalau cuma di rumah, rebahan mulu nggak ada aktivitas lain." Tita memperjelas ucapannya.
"Bosan karena rebahan atau bosan karena cuma sama gue doang?"
Tita tertawa kecil.
Heheheh...
"Tita bosan di sini cuma sama abang terus nggak ada kegiatan gitu lo bang.... kalau beres beres udah pastinya cuma rebahan. Nggak enak kalau nggak ngapa ngapain." Tita akhirnya memilih memberikan alasan yang sebenarnya.
"Elo bosen karena nggak ada kegiatan?" Kennan dengan menahan pergelangan tangan Tita yang hendak berlalu.
"He...eh." Tita dengan menganggukkan kepala.
"Kalau ada kegiatan elo nggak bosen kan dek?" Kennan yang posisinya telah duduk di tepi ranjang mendongak, karena posisi Tita adalah berdiri.
"Iya." Tita dengan menganggukkan kepala kembali.
Masih dengan memegang pergelangan tangan Tita, Kennan pun beranjak berdiri.
Set.
Kennan membalik tubuh Tita yang menghadapnya penuh, karena posisi semula Tita hanya mengarahkan setengah tubuhnya menoleh ke arah Kennan.
Cup...
Bibir tebal Kennan segera meraup rakus bibir mungil Tita yang ranum karena telah dipoles dengan lip tint pink sebelumnya.
Serangan Kennan yang tiba tiba membuat kedua bola mata Tita melebar, membuat tubuhnya pun sedikit terhuyung.
__ADS_1
Dengan sigap kedua tangan besar Kennan menangkup punggung Tita dan mengeratkannya dengan tubuhnya agar isterinya itu tidak terjengkang, tanpa melepaskan kuasanya pada bibir sang isteri.
Kedua mata Tita yang melebar pun perlahan mengatup, ikut merasakan manisnya cecapan liar lidah sang suami.
Kedua bibir itu saling mencecap bak pasangan yang melepaskan kerinduan seolah lama tidak pernah bertemu. Padahal keduanya selalu bersama setiap saat. Mereka hanya berpisah lama di saat berada di sekolah.
Tangan kekar Kennan menarik pasmina instant yang Tita kenakan, membuangnya ke segala arah. Jemari kekar itu dengan lincah bergerak membuka kancing kemeja yang Tita kenakan dan melucuti seluruh penghalangnya.
Tanpa melepaskan tautan bibirnya, jari jari Kennan beralih melucuti kemejanya sendiri hingga dada telanjangnya terekspose. Saling menempel erat hingga menimbulkan sensasi meremang pada tubuh keduanya.
Kennan bergerak perlahan menuntun sang isteri menaiki ranjang, sedetikpun Kennan tidak membiarkan Tita untuk bernafas dengan leluasa. Bibir gadis itu tetap dalam kuasanya.
Beberapa saat bergumul di atas ranjang Tita terlihat terengah karena kehabisan oksigen, mau tak mau Kennan melepaskan tautan bibirnya.
Nafas Tita terengah, dadanya terlihat naik turun berulangkali menghirup banyak oksigen yang terbebas .
Meski begitu Kennan tetap saja tidak menghentikan aktivitas memberikan ciuman pada seluruh wajah cantik isterinya, meski dada Tita terasa terengah dengan nafas yang menderu.
"Bang..." Tita berusaha menghindari ciuman suami tampannya.
Hm...
Hanya gumaman yang terdengar keluar dari bibir Kennan tanpa mau menghentikan aktivitasnya menciumi seluruh permukaan wajah Tita.
"Hentikan bang..." Tita terlihat risih.
"Tita mau ke kafe..."
"Nggak usah... di rumah aja." Kennan dengan masih di atas tubuh sang isteri.
"Bang..."
"Elo butuh kegiatan kan dek... ini gue kasih..." Kennan dengan menatap lekat wajah cantik isterinya. Sungguh wajah cantik bak pualam di bawahnya telah menjadi candu yang membuat Kennan tidak mau jauh jauh dari aktivitas mesum saat bersamanya.
"Tapi bukan kegiatan kek gini Bang..." Tita dengan mengerucutkan bibirnya.
Kennan terkekeh kecil saat melihat wajah kesal yang Tita tunjukkan saat ini.
"Kalau lo kek gini, gue nggak bakalan lepasin lo dek..."
"Abang apaan sih... semalem kan udah, abang nggak capek po?" Tita masih dengan raut wajah cemberut. Dan itu membuat Kennan makin gemas.
"Kek gini sama lo nggak bikin gue capek, justru bikin gue ketagihan..." Kennan tetap saja mengeluarkan jurus gombalannya meski wajah Tita tertekuk kesal.
"Abaaangg..." Tita menahan wajah tampan Kennan saat suami kulkas mesumnya itu kembali mendekatkan wajahnya. Tita cukup tau aoa yang bakal terjadi selanjutnya.
__ADS_1
"Apa sayaangg..." Kennan seolah tak peduli dengan penolakan isterinya.
"Abang udah... ihh... Tita capek." Tita kekeh menolak.
Bukan maksudnya tidak mau melayani suaminya namun badan Tita sungguh terasa remuk redam. Semalaman Kennan telah mengungkungnya, hingga entah berapa kali memasukinya. Tita sungguh sangat lelah hingga sudah tidak peduli berapa kali Kennan meminta jatahnya.
"Kalau lo capek di rumah aja nggak usah ke kafe dek..." Kennan dengan menyisihkan anak rambut Tita yang berderai pada wajahnya.
"Mending Tita ke kafe kalau di rumah abang nggak bakal lepasin Tita kek gini..."
"Nggak boleh. Elo di rumah aja. Mulai sekarang nggak usah ke kafe, bentar lagu ujian. Mending waktu luang lo pakek buat belajar biar lulus ujian dengan nilai yang memuaskan." Kennan menolak keinginan sang isteri.
Sesungguhnya bukan hanya karena alasan ujian, Kennan melarang Tita pergi ke kafe. Melainkan karena Yuna juga. Kennan tidak ingin Tita mendapat masalah jika sewaktu waktu Yuna datang ke kafenya. Yuna bisa saja berbuat nekat untuk menyakiti Tita. Apalagi gadis itu memiliki gangguan obsesi pada dirinya.
"Abaanggg..." Tita merajuk.
"Nggak boleh... di rumah wae... Elo nggak boleh kemana mana tanpa gue..." Kennan kekeh.
Tita mendengus.
"Abang ganteng deh..." Tita mengganti trik untuk membujuk suaminya.
"Emang... semua juga tau..." Kennan dengan pede.
"Izinin Tita ke jadi dong biar gantengnya abang nggak ilang..." bujuk Tita dengan wajah sok imut.
"Nggak. Gue lagi nggak pengen ke kafe."
"Ya udah kita lakuin sekali ya... habis itu Tita ke kafe, abang juga deh. .." Tita berusaha keras membujuk suami mesumnya.
"Sekali itu kurang dek..."
"Dua kalo gitu..."
"Kurang..." Kennan dengan menggelengkan kepala tidak setuju.
"Tiga..."
"Masih kurang..."
"Empat... lima... atau sepuluh kali deh..." Tita akhirnya memberi Kennan pilihan, namun Kennan tetap saja menolak dengan menggelengkan kepalanya.
"Jadi berapa dong bang...?"
"Sepuasnya..."
__ADS_1
π¨π¨π¨π¨