Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
101. Mencoba kembali


__ADS_3

"Yakin lo mau turun di sini?!", tanya Devon pada Kennan saat dirinya mengantarkan Kennan dari balapan motor mereka di depan sebuah rumah sederhana yang Devon ketahui bahwa rumah itu bukanlah rumah milik keluarga Kennan.


Kennan mengangguk meski sebenarnya dirinya juga sedikit ragu, karena saat ini adalah pukul 03.00 pagi dimana semua penghuninya pasti masih tidur dengan nyenyak.


Klek.


Kennan membuka pintu mobil milik Devon dengan pelan.


"Kenn....", Devon menarik lengan kanan Kennan dengan tatapan tidak yakin.


"Gapapa....isteri gue tinggal di sini. Gue mau ketemu sama dia, bukane lo tadi bilang masalah harus segera diselesaikan biar gak berlarut - larut?!", Kennan berucap sambil menatap Devon, untuk meyakinkan bahwa dirinya benar untuk turun di depan rumah sederhana tersebut.


Devon memindai rumah sederhana yang berada tak jauh dari pandangan matanya. "Kenn... isteri lo?!!"


"Dia anak yatim piatu, dulu tinggal di panti ini sebelum nikah sama gue", Kennan menjawab kebingungan Devon.


Devon menautkan kedua alisnya heran. Bagaimana seorang Kennan Wijaya Atmadja yang notabene anak sultan dari keluarga Atmadja yang terkenal di kalangan pengusaha properti seantero Jogja bisa


menikah hanya dengan gadis yatim piatu penghuni panti asuhan. Meski Devon mengakui dan mengagumi akan kecantikan isteri Kennan namun dirinya masih belum bisa menerima tentang kenyataan latar belakang isteri Kennan yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.


"Semua tidak harus sesuai dengan ekspektasi yang tinggi Dev...."


"Baiklah....lo bener. Gue salut sama tu cewek, bisa bikin Kennan Atmadja out of the cold world....", Devon tersenyum.


"Apaan seh lo aneh banget, gak cocok mulut lo... sok ngebule kek gitu", Kennan kembali membuka pintu mobil yang sempat ditutupnya.


"Tanks dab....", Kennan melongok ke jendela kaca mobil Devon sambil melambaikan tangan, sebelum Devon menancap gas pada mobil mewahnya.


Huuftt...


Kennan membuang nafas berat, kemudian berjalan mendekati pagar kayu yang tingginya hanya sepinggang Kennan.


Setelah sesaat ragu untuk masuk, Kennan akhirnya meraih pengait rantai yang digunakan untuk menutup pagar kayu yang mengelilingi halaman panti asuhan tersebut.


Kennan melangkahkan kaki mendekati pintu utama.


"Loh....Den Kennan", sebuah suara berat menyebut namanya hingga membuat Kennan mengurungkan langkah kakinya mendekati pintu.


Kennan mendongak, melihat Pak Udin sedang mengeluarkan motor matic butut dari samping rumah yang dibuntuti oleh Bibik Marsih dengan menggendong bakul besar di punggungnya.


"Pak Udin, Assalamualaikum.....maaf menganggu", Kennan berucap sambil mengusap tengkuk lehernya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu. Tidak den. Aden dari mana?!", Pak Udin menyetandarkan motor maticnya kemudian menelisik penampilan Kennan yang berantakan serta terlihat beberapa luka lecet di bagian wajahnya.


"Eh...ah...itu...sengaja mau ke sini", Kennan gagap dan bingung.


"Masuk dulu den...diobatin ya lukanya", Bik Marsih meletakkan gendongannya kemudian membuka pintu depan rumah agar supaya Kennan dapat segera masuk.


Kennan mendudukkan diri pada dipan kayu tanpa alas yang terdapat di dalam ruang tamu.


"Ini den obat - obatannya", Bik Marsih menyerahkan kotak obat pada Kennan. "Mau bibik bantu obatin den??"


"Enggak bik...biar saya sendiri saja. Maaf merepotkan", Kennan berucap sungkan.


"Tidak den, tidak merepotkan. Kalo begitu Bibik sama Pak Udin tinggal ke pasar dulu ya den... mau jual sayuran. Assalamualaikum.....", pamit Bik Marsih diikuti suaminya di belakang.


Kennan berdiri kemudian menganggukan kepala. "Waalaikumsalam".


Sepeninggal pasangan suami isteri pemilik panti asuhan tersebut, Kennan merebahkan diri pada dipan yang tadi sempat dipakainya untuk duduk. Mengabaikan lukanya tanpa sedikitpun berniat untuk merah kotak obat yang diberikan oleh Bibik Marsih.


Kennan memandangi langit langit rumah sederhana itu dengan berbagai macam pikiran tentang Tita isterinya.


"Gue gak tau salah gue apa, kenapa lo gak mau ketemu sama gue....Sampai kapan elo nyiksa gue kek gini Ta??", gumamnya lirih pada diri sendiri.


Kennan menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian tanpa sadar perlahan menutup matanya. Lelah.

__ADS_1


...🍭🍭🍭🍭...


Ceklek.


Tita membuka pintu kamarnya hendak pergi ke belakang untuk mengambil air wudhu, karena adzan shubuh sudah terdengar.


Tubuhnya mematung sesaat setelah melihat sosok Kennan suaminya tertidur di atas dipan kayu dengan kaki yang menjuntai ke lantai berada tak jauh dari kamarnya.


Dengan wajahnya yang masih terlihat sendu, perlahan Tita mendekatinya untuk memastikan bahwa sosok tersebut adalah benar Kennan suaminya.


"Hah", Tita membelalakan mata, dan menutup mulutnya yang terkaget melihat wajah Kennan yang penuh dengan luka lecet.


Sedikit ragu Tita mengikis jarak berdirinya dengan Kennan. Dengan sedikit menunduk Tita menelisik wajah Kennan yang terluka kemudian melirik telapak tangan serta punggung tangannya yang terluka.


Tita mendudukkan diri di atas dipan kayu tempat Kennan merebahkan dirinya. Berbagai pertanyaan tentang luka Kennan berputar di tempurung kepala Tita saat dirinya memandang intens wajah suaminya yang terlihat kusam tidak terurus tersebut. Hatinya merasa tercubit perih saat menatap wajah tak terurus Kennan.


Tangan kanan Tita terulur hendak menyibak helaian surai hitam Kennan yang tergerai tak beraturan menutupi dahinya, namun urung Tita melakukannya. Entah kenapa egonya melarang, memilih menarik kembali tangannya yang telah mengambang di depan wajah Kennan.


Tita menghembuskan nafas pelan. Akhirnya beranjak dari dipan kayu, mengabaikan Kennan yang masih menutup matanya lelap.


Grep.


Tita menoleh, memandang tangan kanannya telah ditahan oleh Kennan saat dirinya hendak beranjak pergi.


"Jangan pergi......jangan tinggalin gue", Kennan berucap dengan mata yang mulai terbuka namun masih dengan posisi rebahan di atas dipan.


Tita menahan langkahnya, kemudian meneguk salivanya dengan susah payah. "Apa sebenernya abang tadi tidak tidur??", batinnya bertanya.


"Bicaralah....katakan apa yang bikin elo marah sama gue Ta?!!", Kennan berucap sendu sambil mendudukkan diri masih dengan memegang pergelangan tangan Tita.


Tita tak bergeming, tak ada suara sedikitpun keluar dari mulutnya.


"Ta..."


"Tita...", Kennan menggoyangkan lengan tangan Tita pelan, agar istrinya itu merespon ucapannya.


Setelah berhasil membuat Tita duduk di atas dipan kayu tersebut, Kennan duduk berjongkok di hadapan Tita dengan menggenggam erat telapak tangan Tita.


"Ngomong sama gue, salah gue apa....Apa yang bikin elo ngehindarin gue kek gini?? Gue gak bisa menebak sama sekali Ta....", ucap Kennan dengan mata berkaca - kaca. Biarlah dirinya terlihat lemah untuk saat ini, toh memang itu kebenaran isi hatinya saat ini.


Tita tidak menyahut, masih dengan mode membisunya. Bahkan Tita menundukkan wajahnya seakan enggan untuk menatap balik wajah Kennan.


"Kalo lo diem wae, gimana cara gue perbaiki diri gue. Gak ada elo gue bingung, gue udah terbiasa nyaman sama lo. Kita pulang ya....??", Kennan menatap Tita tanpa peduli cairan bening yang meluruh membasahi kedua pipinya.


Tita mendongak, kaget melihat Kennan manusia kulkas dua pintu itu menangis tanpa malu di hadapannya. Tita menghembuskan nafas pelan dan setelahnya memalingkan wajahnya dari Kennan yang terlihat frustrasi.


Dengan susah payah Tita menelan ludahnya.


"Duduk sini". Tita menepuk dipan di sebelahnya, memberi tanda pada Kennan agar duduk di sampingnya.


Kennan menatap tangan Tita yang menepuk dipan di sebelahnya kemudian berganti menatap wajah Tita yang memandangnya datar. Sedikit ragu Kennan menuruti keinginan Tita dengan beranjak dari duduknya kemudian mendudukkan diri di sebelah Tita.


Tita menggeser duduknya menghadap Kennan, tangannya meraih kotak obat yang terletak tak jauh dari dirinya duduk. Perlahan Tita mengambil kapas kemudian mengoleskan alkohol pada kapas, setelahnya dengan hati - hati Tita membersihkan luka Kennan di wajah dan tangannya.


Dengan perlahan Tita mengoleskan obat merah pada luka luka Kennan dan memberi plester sebagai penutup pada luka yang lumayan parah.


Kennan tak berhenti memandang wajah Tita yang sedang memberikan pengobatan pada dirinya. Ingin rasanya memeluk tubuh gadis di depannya, namun sekuat tenaga Kennan menahannya. Kennan merasa bersyukur, ternyata Tita masih peduli padanya meski tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir tipisnya saat mengobati luka Kennan.


"Sudah. Abang istirahat dulu...", Tita berucap sambil beranjak dari duduknya.


Kembali Kennan menahan pergelangan tangan Tita, kemudian menatap sendu seolah berharap agar gadis itu tidak beranjak pergi.


"Tidurlah dulu bang...."


"Tidak bisakah kita berbicara sebentar?!", Kennan.

__ADS_1


"Ini masih sangat pagi, kasihan anak - anak panti kalau mendengar kita berisik"


"Tapi.... gue pengen ngomong sama lo..."


"Nanti....Abang istirahat dulu. Tidurlah di kamar", Tita memandang pintu kamarnya yang terbuka untuk menunjukkan bahwa Kennan diperbolehkan olehnya menempati kamar Tita di panti.


"Gue... tidur di sana?!", Kennan memastikan ucapan Tita.


"Ya....tidurlah dulu. Tita mau ambil wudhu bentar".


...🍭🍭🍭🍭...


"Bang....abang.....bangun", Tita menggoyangkan tubuh Kennan, namun sepertinya empunya masih lelap dengan dunia mimpinya.


Tita duduk di pinggir ranjang, berganti menepuk pipi Kennan perlahan.


Eughmm.


Kennan melenguh menggerakkan kepalanya.


"Bangun bang".


Perlahan Kennan membuka kelopak matanya, kemudian memindai ruangan yang tampak asing di matanya. Kennan mengucek kedua matanya, untuk memastikan apa yang dilihatnya tidaklah salah. Bibirnya tersenyum tipis saat menyadari wajah cantik Tita duduk di sisinya sambil menatap dirinya datar. Dirinya menarik punggung untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Maaf, susah dibangunin ya", Kennan mengusap belakang kepalanya malu.


"Cepet bangun, mandi gih.....Abang udah melewatkan waktu sholat shubuh", Tita berucap datar pada Kennan sambil beranjak dari ranjang.


Set.


Kennan berusaha menahan Tita berdiri, dengan memegang pergelangan tangan rampingnya.


Tita memandang Kennan dengan pandangan mata seolah bertanya, ada apa?


Kennan menarik kuat pergelangan tangan Tita hingga Tita kembali terduduk di tepi ranjang.


Grap.


"Biarkan begini sebentar", Kennan secara tiba tiba memeluk erat tubuh Tita, tak ayal membuat jantung Tita berdegub dengan kencang.


"Jangan diemin gue....", Kennan masih saja mendekap erat tubuh itu meski Tita bergerak gerak tak nyaman seolah ingin melepaskan diri dari dekapan Kennan.


Heh....Tita membuang nafasnya pelan, dengan berat hati membiarkan Kennan memeluknya meski dirinya tidak sedikitpun membalas pelukan itu.


Setelah beberapa saat Tita memberikan waktu Kennan untuk memeluknya.


"Buruan mandi bang.....keburu siang. Tita tunggu di dapur buat sarapan". Tita memaksa Kennan untuk melepaskan pelukannya.


"Ini handuknya..... Alat mandinya ada di kamar mandi, tar di sana ada wadah alat mandi berderet. Cari yang bertuliskan nama Tita. Tita hanya ada ini buat ganti abang", Tita menyerahkan handuk serta sweater berwarna putih pada Kennan, kemudian berlalu meninggalkan kamar.


Kennan menyampirkan handuk ke pundaknya tak lupa membawa sweater pemberian Tita untuk gantinya nanti. Dirinya pun melangkahkan kakinya keluar kamar untuk menuju kamar mandi setelah menghembuskan nafasnya lelah dengan sikap Tita yang masih mengabaikannya.


Beberapa kali mengunjungi panti asuhan ini membuat Kennan sedikit menghafal tata letak ruangan di dalam panti sehingga dirinya tidak perlu meminta petunjuk dari Tita maupun penghuni panti yang lainnya untuk menemukan ruang kamar mandi yang menjadi tujuannya.


To be continued......


🍨🍨🍨🍨


Like


Vote


Komen


Tambahkan favorit❀

__ADS_1


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘


__ADS_2