
Buk...
"Nih buat lo..." Kennan melempar buku di atas meja Bima saat dirinya baru saja memasuki kelas pagi ini.
Lalu setelahnya melepaskan tas punggungnya dan menaruh pada bangku kosong sebelah Bima.
Bima yang semula menunduk, sedikit mendongak lalu meraih buku di atas meja yang Kennan letakkan di hadapannya.
Bima dengan raut wajah serius membaca judul lalu membuka halaman pertama buku tersebut.
"Ini baru kan Kenn... kapan lo beli?" Bima dengan masih fokus membolak balik halaman buku di tangannya. Dan Bima tau jika buku tersebut adalah buku yang ingin dibacanya sejak lama.
"Iya... kemaren sebelum pulang, Tita ngajakin mampir ke toko buku. Gue liat buku itu, trus gue inget sama lo. Gue ambil deh..." Kennan dengan mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas punggungnya.
"Tita gak nanya waktu lo beli ini?" Bima dengan mengacungkan buku pemberian Kennan.
"Nanya." sahut Kennan pendek.
"Trus elo bilang apa?"
"Ya gue bilang apa adanya... buku itu gue beli buat lo..."
"Dia gak banyak tanya?" Bima masih saja penasaran.
"Tanya banyak bahkan banyak nanya, gangguin aktivitas gue sebelum tidur wae..." Kennan mengerlingkan sebelah mata pada Bima.
"Ck elo bikin gue ngiri wae sih Kenn... gue kan cowok normal. Kalau gue horni terus gak bisa nahan gimana... elo mah enak udah punya tampungan, mau kapan aja oke. Nah gue..." Bima dengan menunjuk hidungnya sendiri.
"Langsung aja bawa ke penghulu itu cewek, gampang kan?!" Kennan sekenanya.
Pyekk...
"Ngomong doang mah enak... prakteknya dab prakteknya... kek..." Bima memberi tanda dengan tangan yang seolah memenggal lehernya.
"Gercep aja... nikah muda itu enak dab..." Kennan cengengesan.
Bima mendesah pelan.
"Gak semua mudah Kenn... Apalagi buat gue..."
Kennan menoleh ke arah sahabatnya yang terlihat berubah lesu.
"Apa yang gak mudah... karena elo sama dia beda?" Kennan menyelidik.
"Salah satunya..." Bima lirih.
"Bukane elo pengen jadi mualaf udah dari lama?" Kennan.
"Bukan serta merta membuat Kayla nerima gue."
"Elo sama dia pacaran?"
Bima menggeleng.
__ADS_1
"Gue sama dia cuma temenan Kenn... dia gak mau nerima gue..."
"Kenapa?"
"Di samping kita beda prinsip, dia juga gak nyaman dengan statusnya dia. Dia bilang kita berdua bagai bumi dan langit dab."
"Maksud lo apaan Ma... kok gue gak ngerti sih?" Kennan dengan kening yang mengerut.
"Kayla... dia yatim piatu... dia anak panti asuhan Kenn..." Bima tanpa memandang Kennan.
Kennan pun menghembuskannya nafas pelan, dirinya memahami isi hati gadis itu. Karena Tita pun berada di posisi yang sama dengan gadis yang disukai oleh Bima sahabatnya.
"Terus elo nyerah gitu aja karena status dia yang anak panti asuhan. Elo sama aja menghina isteri gue Ma..." Kennan dingin.
Bima terhenyak.
"Bukan... bukan kek gitu Kenn... Gue gak bermaksud menghina Tita. Tapi..." Bima menggantung ucapannya.
"Tapi apa? Tita sama cewek itu sama, sama sama yatim piatu, anak panti asuhan juga." Kennan sedikit meninggi.
"Kenn... bukan maksud gue nyinggung Tita. Tapi di sini Kayla, cewek itu nyerah sama gue... dia gak mau gue perjuangin." Bima berusaha menjelaskan pada Kennan agar sahabatnya tersebut tidak salah paham akan ucapannya.
"Oh gitu... kirain..." Kennan datar kembali.
"Makanya dengerin dulu gue ngomong, biar gak keburu panas itu kepala." Bima menyodok bahu Kennan pelan hingga membuat empunya terkekeh kecil.
"Sorry... habisnya gue kira elo..."
"Heh dasar keras kepala lo." Bima kesal.
"Ternyata bucin tu kek gini ya Kenn, kagak enak rasanya." Bima seolah mengungkapkan isi hatinya pada sang sahabat.
"Sejujurnya gue menjalani pernikahan gue gak semudah and semanis yang elo lihat sekarang Ma, semuanya juga ada prosesnya. Ada pasang surutnya juga. Bahkan gue sempet membuat Tita gak berhenti nangis, beruntung gue bisa melewati masa itu so hubungan gue sama dia jadi manis. Seperti yang elo liat sekarang..." Kennan menjelaskan agar Bima sahabatnya itu tidak patah semangat.
"Yang bener Kenn...?"
"He... eh... beneran, gak bohong gue..." Kennan meyakinkan Bima. "Elo juga tau kan gue sempet uring uringan gak jelas waktu itu, semuanya gak semulus kelihatannya. Banyak kerikil yang harus gue singkirin saat proses itu gue lewati."
"Tapi tetep wae Kenn, elo berdua seiman sudah jelas itu, gue? Lagian Kayla juga bilang kalau yang dibutuhkan itu bukan sekedar seorang suami tapi seorang imam buat dia, elo tau kan itu artinya apa..." Bima benar benar terlihat patah semangat.
"Jangan patah semangat gitu dong Ma... elo harus perjuangin kalau lo emang serius sama itu cewek..." Kennan merangkul pundak sahabatnya dengan tersenyum.
Bima yang semula menekuk wajahnya lesu pun ikut membingkai senyum pada wajah indonya.
"Tanks dab... Wajah datar lo ternyata menyimpan sejuta pesona...." Bima dengan kekehan.
"Tapi lo gak terpesona kan sama gue...?!" Kennan nyengir.
"Anjir lo... gue masih doyan jeruk bukan pisang kek elo." Buka menoyor Kennan.
Mereka pun tergelak bersama.
"Pulang sekolah ntar kita latihan basket ya, udah lama gak ngumpul nih..." Bima.
__ADS_1
"Okey... siipp." Kennan dengan mengacungkan ibu jarinya.
...ππππ...
"Dek elo pulang dewean ya, gue mau latihan basket sama anak anak." Kennan berucap kata saat menemui Tita di depan kelasnya.
"Iya... gak papa. Abang latihan di mana?"
"Di sekolah. Elo mau nunggu po?"
"Enggak, males. Mesti lama kan?"
"Paling sampek jam 5 lebih dikit..." Jawab Kennan.
"Belum ngobrolnya, mesti malem iya kan..."
Hehehehe... Kennan cengengesan dengan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"Tau aja sih dek."
"Tau lah... abang kalau udah ngumpul, gibahnya ngalahin cewek." olok Tita pada sang suami.
"Enggak ghibah sayang, tapi ngobrol. Yang diomongin juga paling seputar motor , game... bukan soal cewek." Kennan mencubit hidung mbangir sang isteri.
"Pastilah ada keselip dikit." Tita ngeyel dengan melepas tangan kekar Kennan yang menjepit hidungnya.
"Jangan kek gini di sekolah." Tita merasa tidak nyaman.
"Masih malu wae." Kennan melepaskan tangannya dari hidung Tita.
"Gak enak dilihatin temen temen bang."
"Ntar langsung pulang wae, gak usah mampir mampir biar gak capek." Kennan mengingatkan karena jika Tita pulang sendiri pasti ada saja hal yang dilakukan. Entah itu mampir ke toko buku atau berjalan jalan sebelum ke apartemen.
"Tita gak capek bang, orang cuma sekolah doang. Gak kerja jugak."
"Bagus dong kalau gak capek... langsung mandi aja terus istirahat. Terus nungguin suami pulang."
"Ck... bosan dong Tita."
"Ntar kalau gue udah pulang... gak bakal bosan." Kennan mengerling nakal lalu meninggalkan Tita begitu saja.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorπππ