
"Abang butuh sesuatu enggak?", tanya Tita pada Kennan setelah selesai membantu Kennan berbaring pada ranjang tidur mereka
Kennan menggeleng.
"Kalo gitu Tita mandi dulu ya", ucap Tita beranjak meninggalkan Kennan menuju kamar mandi, setelah mendapat anggukan dari Kennan suaminya.
Saat ini pasangan suami isteri muda tersebut sudah kembali pulang ke apartemen. Kennan memaksa untuk segera pulang setelah sudah diperbolehkan mencabut infus.
Kennan tidak mau berlama - lama di klinik yang katanya dokter di klinik tersebut memiliki pandangan mesum pada Tita isterinya.
Gemericik air dari kamar mandi menandakan Tita mulai melakukan ritual mandinya. Dirinya membasuh seluruh tubuhnya dengan segera, Tita pun mencuci rambut hitam panjangnya yang terasa lepek dan bau.
Tita keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk, badannya terasa lebih segar sekarang.
Meski Tita keluar kamar mandi sudah memakai baju rumahan yang tidak mengekspos tubuhnya, namun tetap saja Kennan harus meneguk salivanya kuat efek rambut basah Tita yang masih sedikit menetes pada wajah putihnya yang bersih dan terlihat sangat cantik
Kennan terpaku memandang Tita, entah mengapa pemandangan itu membuat tubuh bagian bawah Kennan menegang.
"Abang kenapa?", tanya Tita yang melihat Kennan memandangnya terpaku.
Dengan masih menggosok rambut hitamnya dengan handuk Tita mendekati Kennan dan mendudukkan diri di tepi ranjang tidur dimana Kennan sedang duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Bang...", Tita melambaikan telapak tangan kanannya di depan wajah suaminya.
Kennan tersentak dari keterpakuannya pada wajah Tita.
"Ah... eh... gak papa", ucap Kennan tergagap.
Ah kenapa wajahnya cakep banget seh... jadi pengen nerkam sekarang juga. Manis keknya kalau gue cium bibirnya sekarang, batin Kennan bergumam dengan tak berhenti mecium aroma sabun strawberry yang menguar dari tubuh Tita.
Dan hal itu meningkatkan hasrat kelakian Kennan semakin menguat, ingin rasanya merengkuh gadis di depannya, menindih tubuh ramping itu di bawahnya hingga bibir mungil berwarna pink tersebut mengeluarkan desahan yang memenuhi ruangan kamar mereka.
"Abang lagi mikir mesum kan...", tebak Tita sambil menunjuk wajah Kennan dengan jari telunjuk.
"Ah... enggak... sok tau lo", Kennan menyingkap jari telunjuk Tita sambil memalingkan wajahnya yang memerah malu.
Ck... kenapa dia tau seh, kelihatan banget po kalau gue mikirin yang aneh - aneh, ucap batin Kennan sambil menyembunyikan degub jantungnya yang mulai berdetak lirih.
"Abang pasti mikir mesum, kelihatan dari wajahnya", Tita menggoda Kennan sembari melanjutkan menggosok rambut basahnya yang sempat terhenti beberapa saat lalu.
"Enggak Dek..."
"Pasti iya"
"Enggak"
"Iya...", Tita ngeyel dengan tersenyum mengejek.
"Iya in deh kalau gitu", ucap Kennan sembari menegakkan tubuhnya dari kepala ranjang lalu merengkuh tubuh ramping Tita dari belakang, memeluknya erat.
"Ab...bbang". Tita tergagap. Sepertinya Tita menyesal karena menggoda suami kulkas dua pintunya yang bisa sewaktu - waktu berubah pada mode mesum.
"Iya sayang", Kennan bersuara lembut sembari mendusel antara leher dan bahu Tita. Aroma wangi shampo Tita menelusup hidungnya hingga membuatnya harus menahan kuat bagian tubuh bawahnya yang terasa mengencang.
"Jangan gitu, geli", Tita mendorong pelan wajah Kennan dengan bahunya.
"Tadi katanya disuruh mesum, giliran dimesumin gak mau... piye to...", ucap Kennan masih dengan mendusel diantara leher dan bahu isterinya, hingga deru nafas hangat yang keluar dari mulut Kennan membuat Tita harus menelan salivanya kelat.
"Bang... Tita geli", lagi - lagi Tita mendorong wajah Kennan agar menjauh dari bahu dan lehernya.
Kennan terkekeh kecil.
Menegakkan wajahnya lalu menggeser bahu Tita untuk menghadap pada wajahnya.
Jantung Tita berdegub kencang saat mendapati manik mata sayu Kennan yang menatap lekat pada wajahnya, hingga tanpa sadar Tita pun mengigit bibir bawahnya kuat.
Kennan meraba bibir pink isterinya, "Daripada elo gigit sendiri mendingan gue yang gigit"
Tita kembali meneguk salivanya kuat. "Lagi sakit juga, masih mesum wae sih Bang!". Tita menunduk.
"Udah sembuh", ucap Kennan sembari menelisik bibir pink Tita.
"Baru aja sembuh, mosok mesumnya langsung back on...", Tita menahan rasa hangat yang mulai menjalari kedua pipi cabinya.
"Kemaren kan Adek bilang kalau udah sembuh boleh mesum...", Kennan tersenyum dengan meneguk salivanya kelat.
"Tapi kan baru sembuh, belum pulih beneran Abang. Masih lemes kan...", Tita berusaha mengalihkan kemesuman Kennan.
"Gue udah fit Dek... udah kuat...", ucap Kennan sembari memperlihatkan gerakan lengannya seolah sudah benar - benar pulih sambil tersenyum.
Tita mencebik, dan itu membuat Kennan semakin gemas.
Dengan cepat Kennan mendekatkan wajahnya pada wajah isterinya.
Cup
__ADS_1
Kennan mendaratkan bibir tipisnya pada bibir pink Tita yang sedang mencebik. Lalu dengan perlahan menjelajah tiap sudut rongga mulut Tita lembut.
Meski sedikit terkejut Tita membiarkan suaminya menikmati bibir pink miliknya. Detik berikutnya Tita berusaha mendorong dada Kennan agar melepaskan tautan bibir mereka, namun Kennan malah memperdalam ciumannya dengan menekan belakang kepala Tita kuat.
Setelah beberapa saat Kennan baru melepaskan tautan bibir mereka ketika merasakan Tita kesusahan bernafas.
Dengan nafas terengah Kennan menempelkan keningnya pada kening isterinya.
Lalu dengan sedikit menjauhkan wajahnya Kennan berucap dengan suara serak, "Dek lanjut ya..."
Tita menggeleng perlahan.
"Masih siang Bang", ucap Tita dengan menunduk dan memilin ujung bajunya takut penolakannya membuat Kennan marah.
"Gak papa... emang ada larangan kalau kita melakukannya siang hari?!", Kennan mengerutkan dahinya setelah menjauhkan keningnya dari kening Tita.
Lagi Tita menggeleng.
"Abang belum makan, minum obat juga belom", Tita memberikan alasan dengan takut - takut.
"Ntar wae", sahut Kennan cepat.
"Jangan nunda - nunda", Tita terlihat memohon.
"Makanya lanjut, biar gak nunda - nunda...", Kennan berucap dengan jakun yang bergerak naik turun dengan tak lepas menatap manik mata Tita lekat.
Tak dapat dipungkiri jika tatapan mata Kennan juga menimbulkan hasrat membuncah di dada Tita,
ada rasa ingin mendapatkan kehangatan dari suami tampan bin mesumnya tersebut. Namun masih ada rasa sedikit takut mengingat saat pertama kali mereka melakukannya rasa sakit luar biasa yang didapat tubuhnya waktu itu.
"Yang gak boleh ditunda itu makan lalu minum obatnya.... bukan yang itu". ucap Tita mengalihkan keinginan mesum Kennan.
Setelah berucap Tita beranjak dari ranjang, namun Kennan berhasil mencekal salah satu pergelangan tangannya hingga membuat gadis yang sudah menjadi wanita dari Kennan Atmadja itu urung melangkah.
"Dek", ucap Kennan memohon.
"Nanti malem Bang... Tita ambil makan dulu buat Abang", dengan tersenyum selembut mungkin Tita melepaskan cekalan tangan suaminya.
Kennan pun terpaksa melepaskan tangan Tita dengan lesu.
"Elo gak tau wae rasanya gimana di saat sudah di puncak tapi gak bisa tersalurkan", gumam Kennan di dalam hati memandang Tita hingga menghilang di balik pintu kamar.
Kennan pun beranjak ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya dengan bibir yang tidak berhenti menggerutu.
Tita mendekati ranjang kemudian meletakkan nampan yang dibawanya ke atas nakas. Kemudian mendudukkan diri pada tepian ranjang. Di samping kiri Kennan yang ternyata juga telah kembali dari menuntaskan hasrat kelakiannya di kamar mandi.
"Abang makan ya...."
"Gak laper", Kennan terlihat masih kesal.
"Gak perlu nunggu laper, makan dikit buat pengganjal minum obat", ucap Tita lembut.
"Gak mau Dek"
"Abang ngambek"
"Gak"
"Halah ngambek kan?!"
"Enggak ngam_!"
"Kalau gitu makan...", potong Tita cepat.
Kennan mencebik pada isterinya, hingga membuat Tita tersenyum geli.
"Udah gak usah ngambek lagi, kek bocil gak dibeliin es krim wae, Tita suapin gih....", Ucap Tita dengan masih tersenyum sambil memegang piring makan Kennan.
Kennan manyun.
"Ck... Tar Tita kasih bonus deh habis ini", bujuk Tita pada suaminya.
Kennan memandang Tita dengan wajah berbinar, "Bener dikasih bonus?"
Tita mengangguk perlahan dengan tidak menyurutkan senyumnya.
"Lanjut yang tadi kan?!". Kennan antusias, benar - benar seperti anak kecil yang dapat hadiah es krim dari mamanya.
"Ck... maunya. Udah aaa....", Tita mendekatkan sendok berisi nasi dan lauk pada mulut Kennan.
Kennan pun menerima suapan dari Tita dengan senang hati.
"Itu dihabisin semua Dek?", tanya Kennan di sela kunyahannya.
"Iyalah", sahut Tita cepat.
__ADS_1
"Tapi kan itu banyak", Kennan menggerutu.
"Biar bonusnya juga banyak", ucap Tita sekenanya.
Sontak kedua bola mata Kennan semakin berbinar karena fokus pada kata bonus yang diucapkan oleh Tita. "Beneran....?!! Bonusnya lanjut yang tadi kan... "
"Abaaang.... jangan mikirin mesum mulu", Tita mecubit kecil lengan Kennan, hingga membuat tangan kekar itu harus meringis dan mengusap bekas cubitan kecil Tita.
"Rasain.... sakit kan...", ejek Tita.
"Enggak... cuma seperti digigit semut cantik wae", Kennan meringis dengan tetap tersenyum menggoda.
"Makanya tahan dulu mesumnya...", Tita mencebik lalu meletakkan piring bekas makan Kennan dan meraih obat di atas nakas.
"Minum obat sekalian ya Bang?", Tanya Tita dan langsung mendapat anggukan kepala dari Kennan.
Setelah selesai menunggu Kennan meminum obatnya, Tita meletakkan gelas pada nampan di atas nakas lalu mengangkatnya.
Kennan menahan pergelangan tangan Tita, "Mau kemana?"
Tita menyahut, "Bawa ini ke dapur"
"Entar aja", Kennan masih menahan pergelangan tangan isterinya dengan tatapan memohon.
Tita pun meletakkan kembali nampan yang berisi piring dan gelang kotor bekas suaminya. Duduk kembali pada tepi ranjang di sisi Kennan.
"Kenapa?", tanya Tita.
"Tu kan... lupa lagi", Kennan mengerucutkan bibir.
Tita mengernyit, "Apaan Bang..."
Kennan menegakkan tubuhnya, meraih pinggang Tita untuk lebih mendekat padanya. "Gue nagih bonus"
Glek.
Tita kaget lalu seluruh tubuhnya menegang, kenapa dirinya bisa lupa. Ah... sepertinya Tita harus berhati - hati saat memberikan bujukan pada suami mesumnya.
"Sekarang ya...", Kennan menatap manik mata Tita lalu berganti pada bibir pink isterinya yang sedikit terbuka, mungkin efek kaget atas permintaannya.
Setelah menghembuskan nafas pelan, Tita pun mengangguk perlahan. Toh memang itu adalah hak Kennan sebagai suami sahnya, tidak mungkin selamanya Tita dapat menolak.
"Tapi....", Tita meneguk salivanya kelat dengan menunduk gelisah.
"Gue janji bakal pelan, gak bakal sakit kek yang pertama kemaren. Lagian sekarang kan kondisinya normal gak seperti waktu itu....", ucap Kennan lembut sembari menyibakkan helaian surai hitam Tita dan menyampirkan ke daun telinga, seakan mengerti kegelisahan isterinya.
Titapun paham akan keinginan suaminya menatap sejenak wajah tampan itu lalu perlahan menutup mata, mungkin memang sudah saatnya Tita harus menjalani kewajibannya sebagai isteri secara ikhlas.
Kennan mengikis jarak mereka, menyentuh bibir pink Tita dengan bibir tipisnya lembut dan mulai menjelajah rongga mulut isterinya. Mendorong lidahnya menyusuri rasa manis yang telah menjadi candu baginya.
Tangan kiri Kennan sedikit menekan tengkuk isterinya untuk memudahkan usahanya membuka mulut Tita yang masih kikuk untuk membuka dan membalas ciuman darinya. Sedangkan tangan kanannya sudah menelusup di balik kaus isterinya untuk meraba punggungnya dari bawah ke atas berulang hingga membuat baju atas Tita tersibak memperlihatkan punggung putihnya.
Hingga akhirnya lambat laun Titapun berusaha membalas dan mengimbangi permainan bibir Kennan meski masih sedikit canggung.
Namun baru beberapa saat mereka menikmati ciuman bibir mereka, tiba - tiba....
Brakk....
Pintu kamar mereka terbuka dari luar dengan bunyi cukup keras, hingga membuat pasangan suami isteri tersebut menghentikan tautan bibir mereka dan memandang ke arah pintu bersamaan.
"Hek"
π π π π
π¨π¨π¨π¨
Haiyaahhh..... siapa kira - kira tamu tak diundang yang tiba - tiba nongol menganggu keasyikan pasangan remaja itu.
Enaknya siapa yang datang yak...
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ
__ADS_1