
Mohon maaf bila masih banyak typo πππ.
Selamat membaca π€ π€π€
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Aku membalikkan tubuh ku kembali menghadap balkon. Aku memegang dadaku, sakit. Aku tau akan hal itu, tapi bisakah ia tak berkata seperti itu. Seakan akan ia terus mengingatkan ku bahwa pernikahan ini hanya sementara, jadi jangan mencoba untuk melakukan apapun apalagi jatuh cinta.
Aku akan terus berusaha agar tidak mencintaimu, Vin. Kalau aku jatuh cinta itu akan membuat ku jauh lebih merasakan sakit lebih dari sekarang ini. Aku ingin pernikahan ini tidak sementara, tapi aku juga tidak ingin mencintaimu. Aku terlalu takut untuk patah hati. Karena banyak orang berkata, patah hati itu menyiksa. Cukup menghadapi sikap mu yang seperti ini saja sudah membuat ku tersiksa.
Aku menyipitkan mata, melihat seorang wanita paruh baya turun dari motor. Ibu ? Iya benar, itu ibu. Dengan wajah senang, aku langsung melangkah keluar kamar untuk menemui ibu. Aku rindu akan dirinya.
Aku membuka pintu, menghampiri ibu yang sedang berjalan di teras rumah. Aku memeluk nya erat, seakan menumpahkan beban ku selama ini. Terlalu banyak mengurusi rumah tangga ku, aku jadi jarang mengunjungi ibu.
Ku lepaskan pelukanku. "Ibu apa kabar ?."
"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri ?."
"Alhamdulillah, baik juga kok Bu."
Aku membawa ibu masuk ke dalam. Aku menyuruh ibu duduk di sofa ruang tamu, selagi aku membuatkan teh hangat untuknya. Ku letakkan teh hangat di meja, lalu duduk di samping ibu.
"Maaf ya bu, akhir akhir ini aku jarang ke rumah." Sembari menatap ibu dari samping.
"Tidak apa, nak."
Sembari menatap ku lembut.
"Viona kemana bu ? Kok , tidak diajak."
__ADS_1
"Dia lagi sibuk, restoran nya lagi ramai. Jadi tidak bisa ikut."
Aku mengangguk anggukan kepala.
"Alvin tidak kelihatan, kemana dia ?."
"Di kamarnya."
"Kamarnya ?."
Ya ampun, apa yang barusan ku katakan. Ibu tidak boleh tau. Gawat kalau ibu sampai tau, yang ada ibu sedih. Dengan cepat aku menjawab.
"Maksudnya, dikamar. Kamar kami." Lalu tersenyum.
Maaf kan anak mu ini Bu, telah berbohong padamu. Aku cuma ingin ibu tidak terbebani dengan masalah ku. Biar aku saja yang merasa ini.
πΊπΊπΊπΊ
Alvin membawa ku ke restoran Jepang. Entah kenapa dari tadi alvin terus menatapku, aneh. Memangnya ada yang salah dariku ? Perasaan ku tidak. Biarkanlah dia bersikap semaunya, yang terpenting itu tidak merugikan ku. Aku tidak perduli.
"Vira !."
Aku menoleh, sembari mengunyah.
"Apa kamu mengharapkan cinta dari ku ?."
Ku letakkan sendok dan garpu diatas piring. "Kamu kenapa sih, Vin ?."
"Tidak apa-apa, hanya saja aku ingin tau."
__ADS_1
"Kalau pun aku menjawab iya, kamu tetap tidak bisa berbuat apa-apa." Lalu melanjutkan makan.
"Aku akan belajar mencintaimu."
Aku terdiam, dengan perasaan yang sulit di jelaskan. Aku menatap nya. Entah harus senang atau sedih, aku bangkit dari duduk. Lalu pergi meninggalkan nya. Ketika aku sedang berjalan di luar restoran, tiba-tiba ada yang menggapai tanganku. Aku menoleh.
"Kenapa kamu malah pergi ?." tanya Alvin
"Perasaan itu bukan mainan. Jangan pernah mengungkapkan kalimat tadi jika hati mu masih ragu." Lalu pergi.
Tak ada bahagianya mendengarnya berkata seperti itu. Aku tau dirinya. Aku tau hatinya masih sepenuhnya milik orang lain. Tak akan mudah belajar mencintaiku, disaat hatinya masih terdapat nama perempuan lain. Aku tidak ingin akhirnya ia menyerah belajar mencintaiku karena ia tidak bisa mencintai ku sepenuhnya. Aku tidak suka, kalimat itu. Aku tidak ingin ia membuat ku berharap. Aku tidak suka hal itu. Menyakitkan jika di saat aku sudah menyerahkan hatiku, tapi ia malah menyerah memperjuangkan ku. ππππ
Hari semakin sore, sejak kejadian tadi Alvin belum kembali. Mungkin ia marah padaku. Aku tidak perduli. Aku cuma takut untuk patah hati sendiri. Sedangkan dia masih memiliki perempuan itu dihatinya, dia tidak akan patah hati.πππππ
πΊπΊπΊπΊπΊ
Terimakasih atas dukungannya.
Jangan lupa untuk like dan comennya ya.
Biar author semakin semangat, kasih author saran dan kritik ya.
ππππππ
Like
Komen
favorit dan
__ADS_1
Vote