
"Assalamualaikum." Kennan berucap salam saat memasuki apartemen.
"Waalaikumsalam Bang ...." Tita terdengar menyahut lirih, sepertinya gadis itu mengantuk.
Kennan langsung berjalan menuju pantry. Kemudian mengambil satu piring dan satu mangkuk untuk tempat nasi goreng dan capcay kuah yang dibelinya beberapa saat lalu.
Setelah Kennan menuang keduanya dalam mangkuk untuk capcay dan piring untuk nasi goreng, Kennan membawanya ke meja tempat Tita menonton televisi.
Kemudian Kennan mengambil sendok, gelas air minum serta satu botol air mineral yang ditempatkan Tita pada tumbler tupperware.
"Dek ... bangun, melek. Makan dulu yuk, entar perutnya sakit kalau gak diisi." Kennan membangunkan Tita dengan mengusap pipinya lembut.
Nampak Tita membuka kelopak matanya sedikit berat, berulang kali mengerjap kemudian akhirnya sedikit menegakkan tubuhnya.
"Cuci muka dulu gih, biar segar." titah Kennan lembut.
Tita pun menuruti dengan segera beranjak dari duduknya.
Setelah beberapa saat Tita pun kembali dengan wajah yang terlihat segar.
"Lo mau nasi goreng atau capcaynya Dek?" tanya Kennan setelah Tita kembali mendudukkan diri di sampingnya.
Ternyata Kennan masih menunggu Tita, belum mulai makan duluan.
"Terserah ... apa aja Tita mau kok."
Kennan meraih piring yang berisi nasi goreng, lalu mengambil satu suapan untuk Tita.
Aaa ... Kennan menyuruh Tita untuk membuka mulutnya.
"Biar Tita makan sendiri Bang, abang juga laper kan?!" tolak Tita dengan hendak meraih piring dari tangan Kennan.
Namun Kennan malah menjauhkan piringnya, agar Tita tidak dapat meraihnya.
"Kita makan barengan wae, biar gue gue suapin."
"Tapi Bang ...."
"Udah ... gue suapin aja."
Tita pun memilih mengiyakan, menolakk pun percuma saat ini. Apalagi kondisi tubuh Tita yang lelah dan mata yang masih sedikit berat, membuatnya malas untuk berdebat dengan suaminya yang pemaksa.
Aaa ... Kennan kembali menyuruh Tita untuk membuka mulutnya.
Setelah Kennan menyuapkan satu sendok ke mulut Tita, Kennan ganti menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya sendiri. Begitu bergantian terus dengan sesekali diselingi suapan capcay untuk keduanya. Hingga tanpa terasa nasi piring nasi goreng dan mangkuk capcay sudah kosong, bersih tanpa sisa.
"Masih laper gak?" tanya Kennan setelah memberikan suapan terakhir pada isterinya.
Tita menggeleng.
"Nggak ... udah kenyang Bang."
Kennan pun meraih piring kotor dan beranjak dari sofa yang didudukinya.
Tita menahan lengan Kennan. "Biar Tita yang beresin Bang."
Kennan pun menoleh. "Gak usah, biar gue wae. Elo istirahat aja, masih capek kan ...."
"Bang ... emang Abang bisa cuci piringnya?" Tita tidak yakin jika suami tampannya itu mampu melakukannya. Secara belum pernah melihat anak sultan itu melakukannya.
"Bisa Dek ... udah besar ini." Kennan tersenyum, lalu beranjak meninggalkan Tita menuju pantry. Sedang pandangan mata Tita masih saja mengikuti gerakan suaminya yang mulai mencuci piring kotornya.
Setelah melihat Kennan meletakkan hasil cuci piringnya pada rak piring yang tak jauh dengan wastafel tempat mencuci piring, Tita pun mengalihkan pandangannya kembali ke layar datar di depannya.
Ternyata Kennan si anak sultan itu mampu mencuci piring hingga selesai tanpa menimbulkan kesalahan, padahal sebelumnya Tita sangat khawatir jika si suami kulkas dua pintunya tersebut akan memecahkan atau setidaknya menimbulkan bunyi berisik yang nyaring saat melakukannya. Namun pikiran Tita salah, Kennan terlihat mampu menyelesaikan semuanya tanpa menimbulkan bunyi berisik.
"Dek"
Hmm...
"Masih ngantuk?" Kennan melingkarkan lengan kirinya ke pinggang ramping isterinya.
"Dikit" sahut Tita dengan menyenderkan kepala pada sofa. Kennan pun menggeser kepala itu ke bahunya, kemudian mencium surai hitamnya dengan lembut.
"Gini kan lebih nyaman Dek."
Hm... Tita kembali hanya bergumam sembari tidak melepaskan pandangan dari layar datar yang menayangkan drama Korea kesukaannya, meski pandangan mata itu terlihat meredup.
Sesekali Kennan melirik pada Tita yang bersandar pada bahunya itu, namun isterinya itu tidak peduli karena asyik menatap layar datar di depannya.
Kennan merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan benda kotak kecil yang terbuat dari kayu yang memiliki ukiran indah di sisi kanannya, tanpa terlihat oleh Tita.
Kennan membukanya, kemudian bibirnya tersenyum saat melihat dua buah benda yang bersinar terselip di dalamnya. Kemudian Kennan menutup kembali kotak itu dan membiarkan benda itu diam di sana.
Kennan meraih jemari tangan kanan Tita kemudian mengusapnya perlahan.
"Dek ..."
Hm ... Tita.
__ADS_1
"Menurut lo gue romantis nggak?" tanya Kennan dengan mengecup singkat punggung jemari isterinya.
"Gak ... mesum iya." sahut Tita seenaknya dengan masih menonton drakor pada layar datar di depannya.
Kennan menyentil kening Tita pelan. "Tega lo Dek, ngomong gitu ke gue."
Tita mengusap bekas sentilan Kennan dengan bibir mengerucut.
"Emang gitu kenyataannya abaang ... abang gak ada romantis romantisnya. Yang ada mesum mulu sama Tita." Tita berucap tanpa dosa sembari menatap sebentar pada Kennan yang menoleh kepadanya.
Kennan pun mengerucutkan bibirnya.
"Elo tu kalau ngomong gak ada manis - manisnya Dek."
"Emang Tita nggak lagi ngiklan sprite Abaang ...." Tita tetap saja menyahut dengan santai.
Kennan berdecak mendengar sahutan Tita yang sekenanya.
Kennan melepaskan tangannya dari jemari Tita, lalu meraih kotak kecil yang masih diam di samping tubuhnya duduk. Kemudian tangan besar Kennan kembali membuka kotak itu dan mengambil salah satu benda bersinar yang terselip di dalamnya.
Perlahan Kennan memasukkan benda bersinar yang berbentuk lingkaran yang ternyata adalah sebuah cincin itu pada jari manis isterinya.
Sesaat Kennan menyunggingkan senyum pada bibirnya, sembari memandangi jemari lentik Tita yang nampak lebih cantik setelah cincin itu bertengger pada jari manisnya.
"Cantik ya Dek ...." ucap Kennan dengan tak berhenti memandangi jemari Tita sambil tersenyum.
Tita yang semula tidak peduli dengan jemarinya yang sedari tadi dipegang oleh Kennan akhirnya memandang jemarinya.
"Bang ... udah Tita bilang ... Abang wae yang simpen cincinnya. Ntar hilang kalau Tita pakek ...."
Kennan menoleh pada isterinya.
"Ini bukan cincin nikah kita Dek, liat baek - baek ...."
Tita menarik tangannya lebih dekat pada wajahnya.
"Loh bukan ya Bang?!" ucap Tita kaget setelah memperhatikan cincin di jemarinya dengan cermat.
"Emang bukan. Cakep kan?" tanya Kennan kembali meraih jemari Tita dan mengusapnya perlahan.
Tita menggerakkan jemarinya.
"Iya ... cakep pakek banget malah. Abang beli?"
Kennan mengangguk. "Sukak?" tanyanya kemudian.
"Syukur deh kalau suka sama pilihan gue." Kennan tersenyum memandangi Tita yang masih terlihat asyik memandangi cincin pada jemari tangannya.
"Kapan Abang belinya??" tanya Tita dengan beralih memandangi suaminya.
"Tadi." Kennan.
"Tadi ...?" Tita mengernyit heran.
"Iya ... pas gue pamit ke toilet, gue ketemu toko yang jualan perhiasan. Gak tau kenapa, kaki gue ngajakin ke sana." terang Kennan sembari mengusap belakang lehernya.
"Pantesan Abang lama ke toiletnya." Tita mengingat betapa lamanya Kennan pamit ke toilet saat di mall tadi siang.
Hehehehe ... Kennan cengengesan.
"Ngapain Abang beli segala, cincin nikah kan ada. Sayang duitnya Bang ... bisa disimpan buat persiapan kuliah ...."
Kennan menghela nafas pendek.
"Cincin nikah kan yang beliin Bunda, yang milih juga Bunda. Gue pengen memulainya dengan benar saat ini, jadi gue beli ini buat lo. Dan juga gue yang pilihin ini sendiri buat elo Dek ...." Kennan menatap Tita.
Tita pun membalas tatapan Kennan, seakan belum mempercayai apa yang diucapkan oleh suami kulkas dua pintunya.
"Gue ... ehm ... hemm ...." Kennan menjeda ucapannya yang tetiba terasa sulit untuk berucap kata dengan berdehem. "Gue sayang sama lo Dek ... gue akan belajar buat menyayangi lo sepenuh hati karena elo tanggung jawab gue sekarang." Kennan menatap manik mata Tita.
Tita yang mendengar ucapan Kennan, masih terdiam karena kaget. Dirinya tidak percaya dengan ucapan suami kulkas dua pintunya.
"Dek ...." Kennan mengusap jemari Tita yang masih berada dalam genggamnnya. " Kok diem seh, ngomong dong ....!"
"Eh ... ah ... maaf Bang, Tita kaget wae denger omongan Abang."
"Kenapa? Gak percaya sama omongan gue?"
"Eh ... bukan gitu ...." Tita menggelengkan kepala berulang.
"Sorry ... selama ini gue banyak nyakitin perasaan lo. Gue belum bisa jadi imam yang baik buat lo, untuk ke depannya gue bakal belajar buat jadi yang terbaik buat lo." Kennan meyakinkan Tita dengan menatap manik hitamnya.
Tita terdiam, hanya bisa membalas menatap manik hitam Kennan dengan berbagai perasaan bahagia dan haru yang bercampur, teraduk menjadi segelas es doger yang menyegarkan tenggorokannya yang gersang. π¨π
[Bagai siraman air dingin yang menyejukkan tenggorokan othor saat buka puasa. Othor ngetik part ini saat masih puasa yakkk ... πππ]
"Gue memang bukan cowok romantis Dek ... gue gak tau caranya ngomong sayang yang bisa bikin elo meleleh, tapi .... elo mau kan kalau kita memulainya dari awal dengan benar?!"
Tita tak sanggup berucap kata, hanya mampu menganggukkan kepalanya berulang dengan pandangan mata yang mulai berkabut karena rasa haru.
__ADS_1
"Kok nangis seh?!" Kennan mengusap bulir bening yang mulai membasahi pipi putih Tita.
"Harusnya elo seneng, senyum kek gini ..." Kennan mencubit kedua pipi Tita dan menariknya agar bibirnya memanjang seolah tersenyum.
"Sakit Bang ...." Tita berseru sembari berusaha melepaskan kedua cubitan Kennan dari pipinya.
Kennan terkekeh dengan melepaskan tangannya.
"Sekarang giliran lo pasangin ini ke gue!" Kennan menyerahkan kotak kecil yang berisi cincinnya di atas telapak tangan Tita.
Tita pun beralih memandang kotak kecil yang berada pada telapak tangannya. Lalu mengambil cincin yang masih terselip di dalamnya.
Tita memandangi cincin emas putih sederhana tersebut dengan seksama, ternyata di dalamnya terukir sebuah nama Kenn&Tita. "Gimana bisa ada namanya Bang?" tanya Tita heran.
"Bisalah ... di outletnya menyediakan jasa ukir nama juga. Itu yang bikin gue ke toiletnya tadi lama." Jelas Kennan pada isterinya.
Tita menganggukan kepala berulang, tanda mengerti. Lalu perlahan jemarinya memakaikan cincin pada jari manis Kennan.
"Cakep kaann ...." Kennan menunjukkan jemarinya serta jemari tangan Tita yang sudah tersemat cincin emas putih yang sederhana, namun terasa cantik itu.
Titapun mengangguk, menyetujui ucapan suaminya dengan bibir yang mengembang.
"Gak ada hadiah nie buat gue?" Kennan melirik Tita dengan senyum menggoda.
"Abang ih ... gak ikhlas banget keknya."
"Bukan gak ikhlas, tapi ...." belum kennan menyelesaikan ucapannya, tetiba Tita mencium sudut bibir Kennan singkat kemudian menunduk malu.
Malu - malu meongππ
Kennan pun sedikit tersentak kaget, kemudian menaikkan dagu Tita yang menunduk.
Saat Tita mendongak, Tita sedang menggigit bibir bawahnya. Kennan segera meraup bibir itu kemudian perlahan menyesap rasa manisnya.
Tita bahkan tidak menolak, melainkan mulai memejamkan mata dan menikmati sensasi manis yang akhir - akhir ini menjadi candu untuknya.
Kennan meraih tubuh ramping Tita dengan kedua tangannya untuk lebih mendekatkannya pada dirinya.
Saat Kennan merasa isterinya bernafas dengan tersengal, Kennan melepaskan ciumannya kemudian menempelkan keningnya pada kening Tita.
Setelah merasa nafasnya kembali normal, kennan menjauhkan keningnya kemudian menatap wajah cantik Tita di depannya.
"Dek, gue ... beneran sayang sama lo, elo ... sayang gak sama gue?"
Tita memandangi manik hitam Kennan dengan intens, mencari kebenaran ucapan sang suami. Dan benar adanya, Tita tidak mendapati kebohongan di sana.
"Dek ... malah diem sih ... Elo say ...,"
"Tita sayang sama Abang." ucap Tita cepat, memutus ucapan Kennan yang belum selesai.
Setelahnya, Tita menundukkan kepala sembari meremas jemarinya kuat karena merasa malu. Bahkan detak jantung yang sudah mulai normal setelah terbiasa dengan sentuhan Kennan, kini kembali berdegub kencang seperti tabuhan bedug takbir tanda hari raya lebaran dimulaiππ
Kennan tersenyum senang, bahkan kedua bola matanya berbinar setelah mendengar pengakuan Tita.
Kennan sedikit menundukkan kepala, tangannya meraih dagu Tita agar mendongak. Sesaat keduanya saling bersitatap, Kennan meneguk salivanya yang tetiba terasa kelat.
Perlahan Kennan memajukan wajahnya terlihat mencari celah untuk kembali menikmati manis kenyal bibir Tita yang seperti permen yupi yang beraneka rasa buah dan membuat Kennan kecanduan untuk mengunyahnya.
Beberapa saat Kennan mencium bibir kenyal itu ringan tanpa nafsu, hanya menyalurkan ungkapan sayangnya pada gadis yang telah mulai memenuhi relung hatinya yang sempat membeku.
Tak lama kemudian melepaskan tautan benda kenyal tersebut, lalu setelahnya menempelkan keningnya pada kening Tita untuk sama - sama mengatur nafas di antara keduanya.
Setelahnya Kennan memberikan jarak dengan bibir mengembang. "Makasih udah sabar ngadepin gue, makasih juga udah sayang sama gue ...."
"Tita juga, makasih udah ngasih Tita kesempatan buat jadi isteri abang." ucapnya dengan kedua sudut bibir yang terangkat.
Keduanya pun tersenyum.
"Coba lo gak lagi dapet, udah gue dandanin pakek baju yang tadi gue beli terus gue kunci di dalam kamar." Kennan kembali menggoda Tita.
"Abaaangg ...." seru Tita sembari mencubit perut Kennan hingga membuat empunya mengaduh kesakitan.
Tita pun melepaskan cubitannya setelah puas membuat Kennan kesakitan.
Kennan pun kembali mendaratkan bibir tebalnya pada bibir pink milik Tita. Beberapa kali Kennan melepaskan ciumannya saat merasa nafas mereka tersengal, kemudian kembali menautkan kedua bibir kenyal itu kembali untuk memuaskan diri saling menjelajah dan bertukar saliva. Sesekali mereka menempelkan kening serta hidung mancung keduanya sembari tersenyum kecil.
Tidak ada yang lebih dari itu, karena Kennan tahu kondisi Tita sedang tidak memungkinkan untuk dibawanya lanjut sampai ke ranjang ....
π¨π¨π¨π¨
Gantung?? Biarin ... wweekkππ
Partnya lumayan panjang lo, lebih dari 2000 kata. Sebenarnya bisa buat bikin 2 bab ini ... tapi demi para readers tercinta othor biarkan jadi satu bab aja. Semoga bacanya agak lama dan bisa terpuaskan yakkππ
So kasih like, vote yang banyak yakk ... tinggalin jejak koment juga boleh ...β€β€β€
Othor ngarep banget ikihππ
__ADS_1