Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
#69


__ADS_3

Dita dengan semangat pergi ke kantor sang suami ingin memberikan kejutan,kalau dirinya datang membawa makan siang hasil eksekusinya tadi di dapur.


"selamat siang nyonya,tuan ada di dalam." ucap sekertaris Azka kepada Dita sebelum dia bertanya.


"terima kasih..." ucap Dita tersenyum lalu berjalan menuju ruangan Azka


Dita membuka pintu ruangan Azka,betapa terkejutnya dia saat melihat adegan yang ada di depannya. bahkan rantang yang di tentangnya terjatuh dan membuat dua orang yang tengah berciuman langsung melepasnya.


"dek...Dita..." Azka memanggil tetapi ia tak menghiraukannya,bahkan dia berlari dengan begitu kencang dan melupakan jika perutnya ada makhluk kecil yang ada di dalamnya.


pecah sudah tangis Dita saat pintu lift tertutup.


"kamu jahat mas,ternyata kau selama ini kau membual,bahkan kau masih berhubungan dengan wanita itu." ucap Dita sambil menangis.


Ting...


pintu lif terbuka,disana sudah ada Azka yang menunggu Dita,


"dek dengarin penjelasan mas,dulu ini gak seperti yang kamu lihat." Azka masih mencoba menjelaskan tetapi Dita tak bergeming,dia berjalan melewati tubuh Azka.


merasa tak di dengar Azka langsung membopong tubuh istrinya itu menuju mobilnya. Dita terus meronta untuk di turunkan tetapi Azka tak mendengar teriakan Dita.


"mas... turunin." sentak Dita.


"kita harus bicara,sebelum mas gak ingin terjadi ke salah pahaman." ucap Azka lalu melangkahkan kakinya lebar.


Dita hanya diam,percuma jika dia berontak karena Azka tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.


sesampainya di apartemen Azka masih menggendong Dita karena dia melihat wajah istrinya sedikit pucat,bahkan sesekali meringis. Azka sudah mencoba untuk membawa Dita ke rumah sakit tetapi di tolak oleh Dita


dengan pelan Azka merebahkan tubuh Dita di atas ranjangnya. dengan cepat Dita membalikkan tubuhnya meringkuk memunggungi Azka.


Azka membuang nafas kasar,entah bagaimana dia cara menjelaskan ya sekarang,apalagi dengan kondisi istrinya yang terlihat tidak baik-baik saja.


azka memutuskan ikut berbaring di samping istrinya lalu memeluknya dari belakang. kepalanya ia letakkan di atas wajah Dita yang sedang miring.


"dek,kamu harus percaya mas tadi itu mas gak tahu kalau Stella akan datang dan mencium mas."

__ADS_1


"tapi mas gak nolak ciumanya,kalian memang pasangan serasi mas dan seharusnya aku sadar itu dari awal. dan seharusnya aku gak percaya dengan ucapan mas."


"gak...dek,bukan mas menikmati tetapi mas kaget karena Stella mencium mas secara mendadak,dan mas tak tahu kalau Stella akan melakukan hal itu. bahkan mas sudah menyuruh keamanan untuk melarang Stella masuk ke kantor mas,tetapi entah bagaimana caranya dia bisa masuk."


"sudahlah mas,biarkan aku sendiri jangan ganggu aku,aku mau istirahat." ucap Dita akhirnya entah dia harus percaya atau tidak dengan ucapan suaminya itu.


"gak...mas gak akan ninggalin kamu." ucap Azka semakin mengeratkan pelukanya. bayangan mimpinya tadi malam masih melekat di ingatanya,apa lagi dengan kejadian ini,ia begitu takut kalau mimpinya akan menjadi kenyataan. tidak itu tidak boleh terjadi,Azka tidak akan membiarkan lelaki lain memiliki istri kecilnya ini.


ssshhhh.....Dita meringis sembari memegangi perutnya. entah kenapa perutnya tiba-tiba terasa sangat kencang dan bagian bawahnya begitu nyeri.


"dek...kamu kenapa?"


"gak tahu mas,perut Dita sakit."


"kita kerumah sakit ya,mas gak Nerima penolakan." ucap Azka begitu panik.


dengan segera Azka mengangangkat tubuh Dita dan berlari menuju parkiran.


"sakit mas..." keluh Dita masih memegangi perutnya.


Azka menancap gas,ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Azka merasa tak tega saat melihat keringat membasahi wajahnya dan sesekali meringis.


Dita hanya diam dengan perlakuan Azka,dia hanya terfokus pada perutnya.


"mas...keluar cairan,cepat sedikit mas." ucap Dita panik saat merasa cairan bening merembes di sela kakinya.


Azka melepaskan tanganya dan menambah kecepatan mobilnya.


"dokter....dokter...." Azka berteriak saat sudah sampai di lobi rumah sakit.


Azka membaringkan tubuh Dita di atas ranjang dorong dan segera membawa Dita ke ruang UGD untuk segera di tangani.


"pak silahkan tunggu di luar." ucap suster menahan Azka yang hendak ikut masuk.


Azka berjalan mondar-mandir,ia panik akan terjadi sesuatu dengan istrinya.

__ADS_1


"semoga semuanya baik-baik saja." Azka berdoa.


tak berselang lama seorang dokter keluar dari ruang UGD menghampiri Azka.


"dengan suaminya Bu dita?" tanya sang dokter.


"iya saya dokter." jawab Azka cepat.


"sepertinya kami harus melakukan operasi pak,Bu dita mengalami kotraksi yang cukup hebat,jika tidak cepat di oprasi bisa membahayakan janinya."


"tapi kandungan istri saya baru tujuh bulan dokter." ucap Azka.


"ibu Dita mengalami stres berat hingga mengakibatkan kotraksi dini. seharusnya ibu Dita tidak boleh banyak pikiran atau stres karena janin bisa terganggu. bagaimana apa anda setuju untuk melakukan operasi?" tanya sang dokter.


"tentu...lakukan yang terbaik untuk anak dan istri saya." ucap Azka.


setelah mendapat persetujuan dokter pun segera menyuruh suster untuk menyiapkan operasi,dan segera mengoperasi Dita


sudah hampir dua jam Azka menunggu operasi Dita,tetapi dokter yang menangani Dita belum juga keluar memberikan kabar.


ceklek...


saat bergelut dengan pikiranya,suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Azka ke pintu yang terbuka itu.


dengan cepat Azka menghampiri sang dokter untuk menanyakan keadaan istri dan anaknya.


"bagaimana ke adaan istri dan anak saya?" tanya Azka dengan raut khawatirnya.


"Alhamdulillah operasi berjalan lancar,anak anda laki-laki ibu Dita sudah melewati masa kritisnya."


"Alhamdulillah,boleh saya melihat istri dan anak saya?"tanya Azka pada dokter.


"istri anda masih tertidur karena pengaruh obat bius,saya sarankan mati saja jika setelah istri anda di pindahkan ke kamar rawat. untuk anak anda,anda bisa mengadzani nya sekarang." ucap dokter.


sebelum Azka mengadzani sang buah hati,Azka terlebih dahulu mengambil air wudhlu.


Azka terharu melihat tubuh mungil yang berada di dalam inkubator,sungguh ia tak mengira jika anaknya akan lahir lebih awal dari hpl.

__ADS_1


"maafkan papa sayang,gara-gara papa kamu jadi lebih awal untuk melihat dunia. tetapi kamu tak mengkhawatirkan mamamu,dia baik-baik saja." ucap Azka,tanpa terasa ia meneteskan air matanya.


Azka menyayangkan apa yang telah terjadi,jika saja Stella tidak datang menciumnya dan Dita tidak melihat adegan itu pasti anaknya masih aman di dalam perut sang istri. tetapi semuanya sudah terjadi, sekarang ia harus menjaga istri dan anaknya dari gangguan Stella karena dia yakin Stella akan datang lagi untuk mengganggu keluarga kecilnya.


__ADS_2