
"Andra ... Sisil ...?? Ah ... kenapa rasanya jadi tidak nyaman ya ..." ucap batin Tita dengan meraba dadanya.
Rasa resah dan gelisah mulai membelenggu batinnya.
Andra dan Sisil terlihat sangat dekat, mereka seperti membicarakan sesuatu yang serius. Sesekali Andra memegang tangan Sisil saat gadis itu hendak beranjak pergi. Sisil pun terlihat beradu mulut dengan Andra.
Berarti yang sempat Tita lihat tadi pagi adalah benar Sisil, bukan dirinya salah lihat. Sejak kapan hubungan keduanya sedekat itu, bahkan setahu Tita Andra tidak pernah berhubungan dengan gadis yang selalu saja mengekor pada Kennan suaminya itu.
"Mungkinkah mereka berdua pacaran? Tapi bagaimana mungkin Sisil, gadis itu jauh dari kriteria gadis yang disukai oleh Andra. Meskipun Andra sedang patah hati, tidak mungkin dia tanpa pikir panjang menjalin hubungan dengan Sisil. Andra tidak mungkin tertarik dengan gadis seperti Sisil, itu tidak mungkin!! Atau jangan - jangan mereka merencanakan sesuatu untuk aku ..." batin Tita dengan tidak berhenti menerka dan berburuk sangka.
Setelah beberapa saat memandang interaksi Andra dan Sisil dari kejauhan.
"Ah semua itu tidak mungkin. Astagfirullahaladzim ... kenapa aku jadi suudzon gini sih ..." gumam Tita menggelengkan kepala, membuyarkan pikiran jelek yang sempat memutari tempurung kepalanya.
"Tidak mungkin Andra tega melakukan sesuatu yang jelek sama aku, mereka pasti memiliki masalah sendiri." lagi gumaman kecil keluar dari mulut Tita, menghalau keresahan dalam hatinya.
Tita menghela nafas sedikit kasar, lalu kembali mendongak dan memandang Andra dan Sisil dari tempatnya berdiri.
Andra terlihat memegang salah satu pergelangan tangan Sisil, namun Sisil menghempaskan tangan Andra dengan kasar dan berlalu meninggalkan Andra dengan Kesal.
Andra terlihat mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa mereka berdua benar - benar terlihat sebagai pasangan, mungkin mereka berdua benar - benar pacaran. His kenapa jadi gak tenang gini sih?!" gumam Tita berulang, bertengkar dengan batinnya.
"Mending ke penginapan buat ngisi baterai handphone daripada berfikir buruk pada mereka." putus Tita dengan membalikkan tubuhnya pada arah penginapan.
"Sinta!" teriak Tita dengan melambaikan tangan ke atas saat melihat adik kelasnya berjalan memunggunginya.
Sinta yang merasa dirinya dipanggil menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh ke belakang.
Tita pun berlari kecil untuk kenyusul adik kelasnya tersebut. Setelahnya Tita menggandeng tangan Sinta dan berjalan bersama menuju tempat penginapan.
"Sin, kamu bawa cas?" tanya Tita.
"Bawa kak, memangnya kakak enggak bawa?" tanya Sinta balik bertanya.
Tita menggelengkan kepala berulang. "Gak tau kalau bakal ada acara menghina. Aku pikir sore ini kita pulang."
"Oh gitu."
"Kita satu kamar gak Sin?"
"Iya, tadi aku udah pesen sama yang anak yang ngurusi kamar buat menginap. Kita satu kamar berempat."
"Okelah. Makasih ya Sin, udah bikin kamu repot."
"Enggak kok Kak, kakak juga sering bantuin Sinta selama ini." Sinta dengan tersenyum.
Akhirnya keduanya berjalan bergandengan tangan menuju tempat penginapan.
__ADS_1
...ππππ...
Kennan dan Naura telah berjalan keluar dari mall, menuju parkiran dengan menenteng banyak paper bag yang berisi dengan barang belanjaan.
"Abang! Kenapa jadi gue yang bawa semua seh?!" kesal Naura dengan mengerucutkan bibir saat Kennan berjalan di depannya dengan berlenggang tangan.
"Kan kita bagi tugas Nou." Kennan santai tanpa menoleh ke arah belakang, dimana adik bungsunya tersebut terlihat kesusahan menenteng barang belanjaannya. Bahkan tas belanja miliknya itu juga Naura yang membawa.
"Bagi tugas apanya, orang cuma Rara yang bawa kok." Nura dengan nada sangat kesal.
"Kan gue yang bayar, elo yang bawa belanjaannya. Adil kan?" Kennan tetap ngeyel dengan berjalan santai mendahului Naura.
"Gak ikhlas banget lo Bang!"
"Bukan gak ikhlas, gue cuma berusaha berbuat adil wae." ucap Kennan dengan membuka pintu mobil pada sisi kemudi, lalu memasukinya.
Terlihat Naura hanya berdiri di depan pintu mobil Kennan pada sisi penumpang.
Kennan membuka jendela kaca, kemudian bertanya dengan enteng. "Elo gak masuk?"
Naura mencebik.
"Gimana gue bisa masuk coba, tangan gue penuh gini." Naura mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan paper bag belanjaan.
Kennan tertawa santai, lalu membukakan pintu pada sisi penumpang.
Ceklek.
Naura pun dengan kesal melempar tas belanjaannya ke kursi mobil bagian belakang lalu mendudukkan diri di kursi samping Kennan dengan wajah yang tertekuk kesal.
Hahahaha ...
Kennan mengeraskan tawanya hingga memenuhi kuda besinya.
"Makanya jadi adek jangan semena - mena lo! Porotin gue kek gue pohon uang wae." nada Kennan terdengar mengejek.
"Abang kan yang bilang sendiri buat traktir gue belanja sepuasnya."
"Iya, tapikan gak segitunya juga lo kuras duit gue. Gue udah punya bini, bentar lagi gue sama Tita juga harus kuliah. Kita berdua butuh duit banyak buat lanjut sekolah Nou, elo juga tahu kan kalau Tita tanggung jawab gue. Gak selamanya gue harus minta duit sama ayah bunda. Gue juga harus belajar mandiri buat masa depan rumah tangga gue. Bukane gue pelit, tapi elo juga harus ngertiin posisi gue. Belum lagi kalau gue nanti punya anak, gue harus mencukupi kebutuhan kan?!" Kennan menjeda ucapannya sesaat lalu kembali berucap kata.
"Besok - besok kalau ada orang yang mau traktir, elo jangan jadikan itu sebagai kesempatan. Belum tentu yang mau traktir itu cukup uang, bisa jadi mereka hanya ingin menunjukkan rasa terima kasihnya buat elo. Besok lagi elo harus mikir panjang, apalagi kalau yang mau traktir elo tu cuma anak sekolahan kek elo yang masih minta duit ke orang tua, okey?!" jelas Kennan dengan mengusap surat hitam sang adik bungsu dengan lembut.
"Gue ngomong gini bukan karena gue gak ikhlas, tapu karena gue sayang sama lo. Gue gak mau lo jadi orang yang gak punya hati pada sesama Nou. Lo harus tau kalau di luar sana masih banyak orang yang jauh lebih gak mampu dari kita." ucapan Kennan terdengar bijak.
Dengan mata berkaca - kaca, Naura menganggukkan kepala perlahan.
"Good girls!" Kennan mengacak pucuk kepala adek bungsunya perlahan. Lalu setelahnya mengemudikan HRV hitamnya menuju jalan raya.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, akhirnya sampailah keduanya di kediaman keluarga Atmadja.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" teriak Kennan dan Naura berucap salam hampir bersamaan saat memasuki rumah keluarga Atmadja.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." sahut mbok Darmi yang sedang membersihkan ruang tamu.
"Sore Mbok." ucap Kennan dengan menaiki tangga rumah untuk menuju kamarnya.
"Sore Den." jawab Mbok Darmi tersenyum kecil.
"Bang!" terdengar seruan Bunda Vida memanggil Kennan saat Kennan baru separuh jalan menaiki tangga.
Kennan pun menghentikan langkah kakinya dan sesaat menoleh ke belakang.
"Iya Bun, ada apa?"
"Abang sendiri? Tita mana?" tanya Bunda Vida dengan mendongak ke atas karena posisi beliau ada di bawah tangga.
"Abang sendiri, Tita lagi ke Kaliurang ada acara osis." jelas Kennan pada bundanya.
Bunda Vida terlihat mengangguk mengerti.
"Dia menginap nggak?"
"Enggak Bun, nanti pulang. Kalau udah nyampek sekolah, dia hubungin abang kok."
"Oh ya udah kalau gitu. Bunda takut kalau Tita menginap di sana, dia enggak tahan sama dinginnya suhu di sana."
Kennan mengernyitkan alis matanya sesaat. "Tenang aja Bun, gak usah khawatir. Abang ke kamar dulu Bund, mau istirahat bentar." pamit Kennan pada bundanya.
Huhh
Kennan melempar sembarang kemeja kotak yang membalut kaos hitam polos pada tubuhnya,setelah memasuki kamarnya.
Kemudian meraih ponsel dari saku celana jinsnya dan menancapkan pada kabel cas untuk mengisi dayanya.
Kennan merebahkan tubuh lelahnya pada ranjang setelah membersihkan tubuhnya beberapa saat lalu serta menyelesaikan ibadah sholat asharnya.
Memutuskan untuk memejamkan mata untuk mengurangi rasa lelahnya sembari menunggu waktu untuk menjemput Tita jika sudah kembali dari acara osisnya.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ