
"Yuna sudah mendapatkan karmanya mas. Dia masuk RSJ."
Ucapan Tita sontak membuat Kennan kaget seraya menegakkan kepalanya.
"Darimana kamu tau dek?"
"Aku udah menjenguknya setelah bertemu dan bercerita banyak sama bunda sewaktu pertama kali datang ke rumah ini." jelas Tita.
"Ngapain kamu jenguk dia? Kamu nggak diapa apain kan sama cewek brengsek itu!" Kennan menelisik wajah serta tubuh Tita dengan sangat khawatir.
"Enggaklah mas, jangan berlebihan kek gitu."
"Aku nggak berlebihan dek, kamu nggak tau gimana jahatnya dia. Dan aku yakin meski dia masuk rumah sakit jiwa, hatinya masih dipenuhi niat jahat. Apalagi sama kamu." Kennan dengan mengeram yakin.
"Mas... jangan berburuk sangka. Buktinya aku nggak papa kan sekarang. Nih lihat, aku baik baik aja."
"Aku kan nggak mau mengulang kesalahan kembali dek. Cukup dulu aku bodoh dan mempercayainya."
Tita mengulum senyum.
"Sudahlah yang dulu biarlah berlalu sekarang kita menata langkah untuk masa depan yang lebih baik. Dan aku kamu, kita sudah seharusnya memaafkan semua perbuatan yang telah Yuna lakukan pada kita. Mas jangan menyimpan dendam. Agar langkah kaki kita tidak terasa berat."
"Untuk memaafkan mungkin perlahan aku bisa dek, tapi tetap saja aku tidak bisa melupakan begitu saja apa yang telah dia lakukan pada kita. Bahkan aku tidak pernah menyangka jika kedua orang tuanya ternyata juga membohongiku." Kennan kembali mengeram mengingat kejadian masa lalu yang telah membuatnya kehilangan Tita.
"Sudahlah. Jangan diingat lagi, lupakan semua mas. Kita mulai lembaran baru untuk menjalani rumah tangga yang lebih baik. Membesarkan anak anak kita bersama." Tita dengan mengulas senyum seraya mengalihkan pandangan pada ranjang dimana kedua anaknya telah lelap.
Kennan pun melakukan hal yang sama mengikuti arah pandangan Tita. " Kamu benar dek, aku tak ingin lagi kehilangan momen kelucuan serta kebersamaan dengan mereka." Kennan menghela nafas sebentar, menoleh ke arah Tita di sampingnya yang masih tersenyum memandangi kedua anak mereka.
"Untuk yang ini aku nggak ingin kehilangan momen saat kamu mengandung hingga melahirkannya." Kennan dengan merengkuh pinggang Tita membawa ke dalam dekapannya.
"Mas..." Pekik Tita geli. "Maksud mas apa?"
"Kita bikin adik buat mereka ya..."
Tanpa menunggu jawaban dari sang isteri Kennan segera memposisikan diri di atas tubuh Tita.
__ADS_1
πππ
"Mas ini..." Tita menggantung kalimatnya saat berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang hanya berlantai satu namun tetap saja terlihat megah.
Kennan memang telah memboyong keluarga kecilnya untuk menempati rumah yang telah ia siapkan sesuai dengan impian dan harapan Tita di masa lalu.
"Rumah kamu. Rumah kita." Kennan dengan tersenyum gembira.
"Umah Eyina sama Kean juga kan yah?" tanya Kenina yang saat ini berada dalam gendongan tangan Kennan.
"Iya sayang. Mulai sekarang Ayah, bunda juga kalian tinggal di sini. Di rumah kita sendiri." Kennan.
"Asyik. Umah kita jadi banyak ya yah." seru Kenina dengan senang.
Belum lagi Kennan menyahut ucapan Kenina, Keanu yang berdiri menggandeng tangan sang bunda lebih dulu menimpali.
"Umahnya jeyek, cuma ada satu lante. Gak cama kek umah titi, gede." Keanu dengan nada malas.
"Kean jangan gitu." Tita pada anak lelakinya.
Kennan hanya tersenyum melihat reaksi anak lelakinya. Sepertinya Kennan harus menyediakan stok sabar yang melimpah untuk menghadapi turunan sifatnya itu.
Kennan pun mengangguk.
"Sekarang kita masuk ya..." Kennan dengan membuka pintu utama rumah yang telah disiapkan untuk keluarga kecilnya tersebut.
Kenina sangat antusias dengan celoteh riang yang tidak berhenti dari mulutnya saat memasuki rumah tersebut. Namun berbeda dengan Keanu, anak lelaki Kennan itu terlihat berjalan dengan ogah ogahan saat memasuki rumah.
"Yayah Eyina punya kamal sendili tak?"
"Punya sayang. Kakak punya kamar sendiri, adek Kean juga." jawab Kennan seraya mencium lembut pipi bakpao Kenina.
"Acikk... yayah ganteng deh." Kenina menautkan seraya menggesekkan pucuk hidungnya pada hidung mancung Kennan.
"Tunjuk kamal Eyina yah." Kenina dengan tidak sabar.
__ADS_1
Kennan pun melangkahkan kaki menuju sebuah kamar yang terletak di belakang, lalu membuka pintunya.
"Gimana suka nggak sama kamar barunya kak?" tanya Kennan pada Kenina.
Dari wajahnya yang tersenyum berbinar Kennan tahu anak perempuannya itu sangat menyukai kamar yang di beri cat dinding berwarna merah muda khas anak perempuan. Namun demikian Kennan tetap ingin memastikan dari jawaban bibir mungil anak perempuannya.
"Cuka. Eyina cuka banget." Kenina mencium pipi kanan kiri Kennan lalu melorotkan tubuhnya dari gendongan sang ayah. Segera berlari memasuki kamarnya yang telah didesain dengan gaya anak perempuan. Serta telah dipenuhi dengan pernak pernik kesukaan Kenina.
Sebelumnya Kennan memang telah mencari tahu tentang benda benda kesukaan Kenina pada sang isteri. Setelahnya cukup memberi perintah pada sekretarisnya guna mewujudkan kamar yang sesuai dengan impian gadis kecil itu.
Kennan tidak mungkin menyuruh Tita untuk mendekor dan membeli perlengkapan kamar tersebut. Karena Kennan ingin memberikan kejutan bukan hanya kepada anak anaknya melainkan juga kejutan untuk Tita, istrinya.
"Sayang, hati hati..." seru Tita saat melihat anak perempuannya berlompat lompat di atas kasur dengan suka cita.
Kenina pun memperlambat gerakannya kemudian menurunkan tubuhnya dari ranjang. Segera bergerak menjelajah kamar seraya menggendong salah satu boneka yang ada di atas ranjang.
"Mau lihat kamar punya Kean juga?" tanya Kennan pada anak lelakinya.
"Gak au, palingan juga jeyek. Lagian Anu lebih cuka tidul baleng unda." Keanu dengan dingin.
Kennan hanya bisa menghela nafas panjang melihat anak lelakinya masih melakukan penolakan terhadap dirinya.
Tita segera menurunkan tubuhnya, berjongkok di depan anak lelakinya.
"Sayang... nggak boleh seperti itu sama ayah. Nanti dosa, Allah bakalan marah sama Kean." Tita dengan mengusap lembut bahu Keanu.
"Nggak papa kok kalau maunya Kean tidurnya sama bunda. Kean kan memang masih kecil bun, masih takut buat tidur sendirian. Biar ayah saja yang menempati kamar Keanu." Kennan sengaja dengan melangkahkan kaki menuju kamar yang berseberangan dengan kamar Kenina.
"Anu bukan anak kecil, Anu belani tidul cendili." Keanu berseru dengan marah karena merasa ayahnya mengejek keberaniannnya sebagai anak laki laki.
"Keanu masih kecil itu, buktinya pilih tidur sama bunda kan..." Kennan santai dengan membuka pintu kamar di depannya.
"Mas..." Tita dengan pandangan protes ke arah sang suami karena menurutnya Kennan memercikkan api permusuhan pada Keanu.
"Memang benar bun. Keanu masih kecil itu." Kennan dengan melangkahkan kaki memasuki kamar yang telah dipersiapkan untuk anak lelakinya.
__ADS_1
"Bunda nggak mau liat kamar ayah nih?" Kennan sengaja membuka pintu kamar yang telah dipersiapkan untuk Keanu dengan lebar.
π¨π¨π¨π¨