
"Pak Ustadz ... berhenti lo!" teriak Aldi di koridor sekolah, saat melihat Irsyad sedang berjalan sendiri di depannya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana seragamnya.
Irsyad yang merasa dipanggil oleh suara yang tidak asing di gendang telinganya pun menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh ke belakang.
"Ngapa?" tanya Irsyad datar pada Aldi dan Bima yang berjalan mendekat padanya.
"Tungguin ... ada yang mau gue omongin!" seru Aldi mempercepat langkahnya dengan berlari kecil dan diikuti oleh Bima.
"Ngapain seh ... penting banget keknya" Irsyad dengan kening berkerut.
Aldi merangkul bahu Irsyad dengan lengan kiri sedangkan lengan kanannya menoyor bahu Irsyad dengan cukup keras. "Elo tu ya punya mulut rapet banget seh ... bisa - bisanya elo gak kasih tau kita kalo Kenn udah nikah." gerutu Aldi lirih di dekat telinga Irsyad.
Aldi tidak peduli meskipun Irsyad mengaduh sambil mengusap lengan yang terkena toyoran darinya.
Dengan nada malas Irsyad berucap santai. "Gak ada yang tanya".
Aldi melotot. "Lah ... elo tu ya, siapa yang mau tanya coba ... orang si burung aja gak kasih kabar ke kita. Suruh tanya ... meneketehe ...." Aldi kembali menoyor lengan kanan Irsyad, namun empunya hanya cengengesan kembali mengusap bekas toyoran darinya.
"Bukan hak gue buat ngomong."Irsyad berucap datar setelah menghela nafas pelan.
"Sebenernya gue udah ngerasa janggal seh sama sikap Kennan, cuman gue gak nyangka wae dia nikah sama tu cewek ... gue pikir Kennan cuma kek tertarik gitu aja. Eh ... taunya malah ... Gak nyangka banget gue!" ucap Bima menggantung sambil menggaruk belakang lehernya meski tak gatal.
"Kennan udah cerita?" Irsyad bertanya.
"Hem" Bima.
"Ya ... kemaren kita dateng ke apartemennya, maksud hati mau jenguk karena dia minta izin sakit. Eh taunya malah dapet kenyataan yang enggak pernah gue duga sama sekali. Mana gue dapet tayangan live mereka ciuman lagi ... hadeeehhh bikin gue ngiler wae" Aldi menepuk pelan keningnya sendiri mengingat kejadian kemarin di apartemen Kennan.
"Mana Kennan mempertontonkan kemesuman tingkat dewa di depan kita juga. Berani - beraninya main peluk cium dengan sengaja, jombie kan jadi pengen .... Iya kan Ma?!" Aldi meminta persetujuan pada sahabat indo Jermannya tersebut dengan tersenyum kecut. Disusul dengan anggukan Kepala dari Bima.
Irsyad menghentikan langkahnya, membelokkan setengah tubuhnya dan membuka mata lebar karena terkejut. "Serius??"
"Sejuta rius malah." Aldi memastikan dan ikut menghentikan langkah kakinya.
"Gimana ceritanya ...." Irsyad dengan kening berkerut.
Meski Irsyad tahu status Kennan lebih dulu daripada ketiga sahabatnya, namun dirinya tidak menyangka jika hubungan Kenn dan Tita semakin dekat secepat itu.
Lubuk hatinya yang paling dalam merasa tercubit mendengar kenyataan itu, namun dirinya berusaha mengenyahkan pikiran - pikiran negatif yang mengharapkan hubungan sahabatnya itu tidak bertahan lama.
Meskipun Allah maha membolak - balikkan perasaan namun Irsyad tidak mungkin mengharapkan pernikahan sahabatnya berakhir di tengah jalan bukan ...?! dirinya memilih mengikhlaskan, mungkin memang Tita bukan untuknya dan Allah pasti telah menyiapkan jodoh terbaik untuknya kelak.
"Yeee ... kepo kan lo!" Aldi terkekeh diiringi dengan kekehan yang sama oleh Bima.
...ππππ...
"Nih buat lo Sil, khusus gue racik spesial buat elo ...." Kennan menyodorkan mangkuk bakso pada Sisil yang baru saja mendudukkan diri di meja kantin bersama kedua anteknya.
Kedua bola mata Sisil berbinar mendapati most wanted sekolah yang selama ini menjadi incarannya memberikan semangkuk bakso untuknya, bahkan langsung dengan kedua tangannya sendiri.
"Kalian berdua cari tempat duduk lain ya friends .... " Sisil menoleh ke sisi kanan dan kirinya di mana kedua anteknya duduk mengapit dirinya.
Mau tidak mau kedua antek Sisil mengangguk dan beranjak mencari meja lain untuk menikmati makan siangnya.
"Bbeneran inni bbuat gue yang ...?" Sisil tergagap sembari menatap wajah tampan Kennan dan mangkuk berisi bakso porsi jumbo di depannya silih berhenti.
"Bener!!! Elo habisin semua jangan sampai ada sisa." Kennan tersenyum sinis sambil bersidekap dada, berdiri di depan meja Sisil.
Glek.
__ADS_1
Sisil menelan ludahnya kelat saat menyadari senyum sinis Kennan.
Wajahnya berubah merah, Sisil baru menyadari jika ada maksud tersembunyi dari pemberian bakso Kennan untuknya.
"Udah buruan makan, keburu dingin gak enak ...." Kennan masih dengan memandangnya sinis pada Sisil.
Sisil masih terdiam, sekelebat bayangan Kennan yang memakan bakso Tita yang telah diberi banyak sambal olehnya, hingga membuat cowok itu harus absen kemarin membuatnya harus menelan ludahnya dengan kesusahan.
"Cepetan makan ... apa perlu gue yang suapin?!" Kennan berucap penuh penekanan disertai dengan tatapan membunuh.
Hek.
Lagi - lagi Sisil harus menelan ludahnya kelat.
Perlahan Sisil mengaduk bakso yang sudah diberi saos tomat dan kecap itu hingga membuat kuahnya beningnya berubah warna.
Kedua mata Sisil membola menyadari banyaknya biji cabai yang mengambang pada kuah bakso.
Melihat Sisil yang terlihat enggan memakan bakso pemberiannya, Kennan menarik kursi di hadapan Sisil lalu mendudukkan diri di sana.
"Kalo gue duduk di depan lo kek gini, elo mau makan kan ...?!!" Kennan menopang dagu dengan salah satu tangannya, namun disertai tatapan yang mampu menghunus dan mencincang jantung Sisil.
Sisil perlahan menganggukkan kepala dengan kaku. "Sial ... kenapa bisa jadi gini sih ...." umpat Sisil dalam hati dengan mulai memasukkan suapan bakso ke dalam mulutnya dengan berat hati.
Setelah beberapa saat memasukkan bakso ke dalam mulutnya, Sisil merasa mulutnya terbakar efek sambal yang dimasukkan ke dalam magkuk baksonya sangat banyak.
Sisil mengibaskan telapak tangan di depan mulutnya berulang. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari minuman agar dapat menghilangkan rasa pedas di mulutnya. Hingga kedua bola matanya menangkap kedua anteknya yang duduk tak jauh darinya juga sedang menatapnya.
Sisil memberi tanda kedua anteknya untuk mencarikan minuman untuknya, dan itu tak Kelas dari pandangan mata Kennan.
Dirinya membiarkan saja saat salah satu antek Sisil yang beranjak untuk mengambilkan air minum.
"Bener - bener sahabat yang baik ... sayang hati kalian tidak sebaik hubungan kalian ...." gumam Kennan dalam hati.
Blek ... byuurrr ...
Botol mineral milik Sisil terguling dan air di dalamnya tumpah ke lantai hingga habis tanpa sisa.
Kedua mata Sisil membola.
Sedangkan Kennan pura - pura kaget dengan mulut terbuka yang ditutupi oleh telapak tangan kekarnya.
"Ups ... maaf Sil, gue gak sengaja. Tumpah deh airnya!!" Kennan berucap dengan pura - pura sedih, karena sebenarnya Kennan menyenggol botol air mineral itu dengan sengaja.
Sisil mengibaskan tangannya. "Gak papa ... gue bisa tahan kok." Sisil menyahut dengan tersenyum kecut.
"Elo gak kepedesan Sil ...?" Kennan mengerutkan keningnya, seolah perhatian.
"Enggak ... nggak papa kok santai aja, gue udah biasa kek gini. Gue penyuka pedas, kek gini tu gak seberapa yang ...." Sisil masih tersenyum meski di dalam hatinya tidak berhenti mengumpat dan menyalahkan Tita. Karena menurut Sisil, Tita lah yang menyebabkan dirinya harus mengalami hal ini.
"Oh ... elo suka pedas ternyata ....", Kennan manggut - manggut.
Sedetik kemudian Kennan tersenyum licik dan meraih tempat sambal yang tidak jauh dari jangkauan tangannya.
"Nih ... gue tambahin lagi, biar kerasa pedasnya. Makan bakso kan enaknya panas campur pedas, iya kan Sil ...." Kennan dengan santai menambahkan Lima sendok sambal ke dalam mangkuk bakso milik Sisil.
Hek.
Sisil menelan ludahnya kasar dengan kedua mata membola. Dirinya tidak menyangka jika hari ini akan mendapatkan pembalasan dari Kennan.
__ADS_1
"Cepat habiskan ... keburu dingin gak enak!" Kennan berucap datar dengan menatap Sisil santai.
"Eh ... ah ... iya ...," Sisil kembali memasukkan bakso super pedas ke dalam mulutnya dengan enggan. Namun karena Kennan masih duduk di depannya, Sisil mau tak mau kembali melanjutkan aktivitasnya memakan bakso pemberian Kennan.
Beberapa detik selanjutnya Tita mematung, saat mendapati Kennan duduk berdua dan saling berhadapan dengan Sisil. Dirinya terkejut mendapati Kennan yang terlihat menunggui Sisil makan.
Beruntung Kennan menyadari kedatangan Tita ke dalam kantin sekolah yang siang ini kondisinya cukup ramai.
Kennan pun berdiri dari duduknya, lalu berucap. "Ini tidak seberapa, lain kali gue bakal ngasih lo pelajaran yang lebih kalau elo berani ganggu siapapun cewek yang deket sama gue, termasuk dia ... !!" peringat Kennan tegas menunjuk Tita yang terpaku di ambang pintu kantin.
Kemudian setelahnya Kennan meninggalkan Sisil dengan mulut yang terasa terbakar akibat bakso penuh sambal pemberian Kennan yang harus dihabiskan olehnya.
Sreett....
Tiba - tiba Kennan menarik pergelangan tangan Tita yang terbengong, hingga membuat tubuh gadis itu memutar dan sedikit tersendal oleh tarikan tangan Kennan.
Melihat hal itu Sisil menghentikan makannya, mengeram dengan mata yang memanas karena marah.
Sisil menggenggam erat sendok dan garpu pada kedua tangannya.
"Dasar cewek sialan, berani - beraninya dia merebut Kennan dari gue ... Awas aja lo!! Lain kali gue bakal kasih perhitungan yang gak bakalan elo lupain seumur hidup lo!! umpat Sisil dalam hati dengan mata yang memanas.
Di sisi lain di koridor sekolah, terlihat Tita berjalan kesusahan mengimbangi langkah lebar kaki Kennan yang berjalan di depan dengan menarik pergelangan tangannya.
"Bang ... pelan wae ...." Tita berseru lirih.
Mendengar seruan Tita yang samar namun masih terdengar oleh gendang telinga Kennan, dirinya menoleh ke belakang sembari menghentikan langkah kaki lebarnya.
Setelah tubuh Tita sejajar dengan Kennan.
Lagi - lagi Kennan memberikan tindakan yang mengejutkan Tita, yaitu menarik pinggang ramping gadis berjilbab yang telah sah sebagai pendamping hidupnya itu lebih merapat padanya.
Kemudian Kennan kembali berjalan menyusuri koridor sekolah dengan lengan tangan kanan yang menggandeng pinggang ramping Tita erat.
Dengan dada yang berdegub kencang, Tita menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memperhatikan sekitar. Beruntung koridor yang mereka lewati sepi, sehingga Tita dapat menghembuskan nafas sedikit lega.
Namun tanpa Tita sadari ada pasang mata yang menatap mereka dengan kedua tangan yang terkepal kuat.
π¨π¨π¨π¨
Maap ... Maap ... yaaaa othor baru bisa update, Maap udah bikin my beloved readers menunggu. Othor lagi sok sibuk πππ
Meski telat, akhirnya bisa up juga....
Semoga bisa menghapus kerinduan readers sama Bang_Kenn and Neng Tita.
ππ»ππ»ππ»ππ»
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
__ADS_1
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ