Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
EXTRA PART 3


__ADS_3

"Bang."


Hem.


Kennan hanya menggumam.


Saat ini Naura dan Kennan sudah berada di dalam mobil untuk pulang.


"Abang ngerasa familiar nggak sih sama anak kak Alex?" Naura bertanya dengan berusaha mengingat kembali wajah gadis kecil yang tadi berada dalam gendongan kakak lelakinya. Otaknya juga berusaha mengingat wajah cantik nan menggemaskan tersebut mirip seseorang yang tak asing baginya.


"Mirip Alexlah. Mau mirip siapa lagi." sahut Kennan datar.


"Menurut gue enggak." Naura kesal karena merasa Kennan gak ngeh dengan wajah gadis kecil tersebut. Bahkan terkesan tidak peduli dengan raut wajah yang menurut Naura jelas tidak asing.


"Lah malah sewot. Menurut lo mirip siapa? Mirip gue?" Kennan dengan menunjuk wajahnya.


"Iya. Dia jiplakan elo versi cewek." Naura membenarkan ucapan Kennan.


Kennan pun terkekeh kecil. "Tidak lucu Nou."


"Yang ngomong lucu siapa. Gue ngomong dia mirip lo. Plek ketiplek wajah kecil lo pindah ke anak itu dalam bentuk cewek." Naura ingat betul wajah itu bener bener mirip Kennan kecil.


"Ngawur lo. Alex denger bisa marah sama gue tau. Orang gue aja kagak pernah ketemu dia lama, lagian gue juga nggak tau bini dia siapa." Kennan tetap saja menyanggah. Meski otaknya kembali menerawang, mengingat kembali wajah gadis kecil yang diakui sebagai anak oleh sang sahabat.


"Siapa tau aja lo gak sengaja tabur benih tanpa sengaja. Elo kan sendirian di luar negeri lama, tanpa isteri lagi." cerocos Naura terkesan mengejek.


"Mulut lo jangan nyolot." Kennan berusaha menahan emosinya. "Lo pikir gue sebejat itu."


"Kali aja lo nggak bisa nahan. Pergi ke club, mabok terus terjebak. Berakhir indehoi kek di novel novel gitu." cerocos Naura asal. Meski yakin dengan kelakuan kakak lelakinya tidak bakal sejauh itu namun tetap saja kemungkinan kecilnya bisa terjadi.


"Gue nggak serendah itu." Kennan dengan nada sedatar mungkin karena tau Naura tidak serius dengan perkataannya.


"Tapi dia beneran mirip lo bang." Kembali Naura meyakinkan Kennan.


"Mungkin pas istwrinya hamil Alex kangen sama gue." Kennan sekenanya meski dalam hati dirinya juga merasa penasaran.


Setelah kepergian Alex ke luar negeri, mereka memang tidak pernah berkomunikasi sama sekali. Nomor ponsel Alex telah berganti pun demikian Kennan semenjak dia lanjut sekolah di luar dirinya juga harus mengganti nomor baru.


Sesungguhnya Kennan penasaran dengan siapa Alex menikah.


Ah... kenapa tadi lupa tidak saling bertahan nomor, Kennan mendesah kesal. Hingga tanpa sengaja memukul pelan kemudi kuda besinya.


"Kenapa bang?" Naura menoleh karena mendengar bunyi Kennan memukul kemudi.

__ADS_1


"Nggak papa." Kennan tidak mau jujur.


Keduanya pun terdiam sesaat, menikmati jalanan Jogja yang lumayan lengang siang ini.


"Abang belum ada kabar tentang mbak Tita?"


Pertanyaan Naura yang tiba tiba itu membuat tubuh Kennan sedikit menegang. Namun buru buru Kennan menguasainya.


"Nggak." Kennan dengan menggelengkan kepala.


"Sedikit pun?"


Hem... sahut Kennan menggumam.


"Abang udah coba cari info lagi setelah pulang ini?" Naura menelisik. Bukan maksud membuka luka lama sang kakak namun Naura yakin kakak lelakinya itu masih berharap bisa menemukan isterinya.


"Udah. Tapi masih zonk." Kennan menghembuskan nafas panjang. Terlihat jelas bahwa dia menahan berbagai rasa yang memenuhi dadanya.


"Abang gak mau pulang? Abang udah hampir sebulan di sini. Nggak kangen sama Ayah Bunda?" Naura bertanya dengan memandang keluar jendela, dirinya tak mampu melihat reaksi kakak lelakinya.


Setelah kepergian Tita yang tanpa jejak, Ayah Bundanya memang marah besar pada Kennan. Mereka berfikir jika hubungan Kennan dan Tita sudah semakin dekat. Namun ternyata tidak seperti yang mereka duga. Bahkan tidak menyangka jika ternyata Kennan baru mengetahui jika isteri pilihan sang bunda adalah gadis kecil yang dicintainya yaitu Yana.


Kennan sempat mengalami penyesalan mendalam hingga depresi sebelum akhirnya memutuskan belajar ke luar negeri meski tanpa biaya dari kedua orang tuanya. Dengan kemampuan dan kepandaiannya berbisnis mampu menghidupi dirinya hingga lulus kuliah dan mendapatkan gelar arsitek dengan nilai yang terbaik.


Setelah berhasil melewati masa masa pahit sembari menyelesaikan kuliahnya Kennan memutuskan kembali ke Indonesia dengan membuka perusahaan jasa konstruksi di Jogjakarta serta berusaha mencari keberadaan Tita kembali.


"Bang..." Naura denga menepuk bahu Kennan yang terlihat melamun.


Hem... Kennan dengan tersentak.


"Abang gak pengin pulang?" lagi Naura bertanya.


Kennan pun menghembuskan nafas pendek, sesaat memjamkan mata.


"Belum saatnya." jawab Kennan datar.


"Abang takut ayah bunda masih marah?"


Kennan menggeleng. "Enggak. Bukan itu alasannya."


"Lantas?"


"Gue fokus cari Tita dulu." Kennan dengan bibir bergetar serta dada yang menyesak saat mengucapkan nama sang isteri. Sungguh Kennan tak mampu menutupi jika dirinya sangat merindukannya.

__ADS_1


"Setelah ketemu, gue bakal bawa dia ke rumah." lanjut Kennan dengan pandangan jauh menerawang, menatap kosong jalanan aspal di depannya.


Keduanya pun kembali terdiam.


"Bang... abang berhenti bang...." Naura kembali menepuk bahu Kennan. "Yah kelewat deh..." Naura mengerucutkan bibir.


"Apaan sih?" Kennan yang memelankan laju kendaraannya bertanya seraya memandangi kaca spion dalam mobil untuk melihat ke belakang dan perlahan menepi.


"Itu toko kue itu katanya enak." Naura membuka kaca jendela dan melongok ke belakang karena Kennan telah menghentikan kendaraannya di pinggir jalan.


"Ck... kirain apaan. Cuma toko kue doang."


"Lagi happening banget bang, temen temen gue pada cerita katanya kuenya enak enak terus tempatnya enak buat nongkrong. Cozy abis."


"Tapi udah kelewat Nou. Kalau mau ke sana musti putar balik." Kennan melihat ke sisi kanannya yang tetiba dipadati oleh kendaraan yang melaju kencang. Sepertinya sudah memasuki jam pulang kerja.


"Balik bentar kenapa sih Bang." Naura dengan berharap.


"Besok besok aja kenapa sih, masih banyak waktu. Libur lo masih lama kan?!"


Naura sekarang memang tidak tinggal di Jogja karena sedang kuliah di luar kota. Dan saat ini pulang karena libur semester telah tiba.


"Ye abang gitu, entar kalau calon dedek dalam perut gue lahir ngeces gimana?" Naura dengan raut wajah membujuk Kennan.


"Emangnya lo hamil?" Kennan dengan raut wajah kaget. "Brengsek lo Al..." Kennan memukul kemudi seraya mengumpat meski Naura belum memberikan jawaban.


"Gue nggak hamil sama Aldi."


"Terus sama siapa? Bapaknya siapa?" Kennan menatap Naura dengan melotot tidak sabar.


"Gue nggak hamil Bang. Nggak sama Aldi ataupun yabg lainnya."


"Terus yang lo bilang dedek dalam perut lo tadi apa?"


"Becanda doang." Naura dengan santai.


"Becanda lo gak lucu." Kennan dengan menunjukkan raut wajah kesal. Naura terkekeh tanpa dosa.


"Puter balik deh bang. Gak sampai lima menit. Cuma sret doang." Naura kekeh ngeyel minta untuk kembali.


"Enak aja ngomong cuma sret doang, lo pikir lampu merah remotnya elo yang bawa." Kennan kesal namun tetap saja tangannya memutar kemudi untuk berbalik arah.


"Kenita's Cake and Bakery." Kennan menyebut nama toko kue yang telah dimasuki oleh Naura.

__ADS_1


Keningnya mengerut.


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2