
Kennan menuruni anak tangga dengan tangan kanan dimasukkan pada kantung celananya sedangkan tangan kirinya menuntun pergelangan tangan Tita.
Satu persatu Kennan menapaki anak tangga dengan perlahan karena Tita mengikutinya dari belakang, Kennan tak ingin Tita terburu untuk mengimbangi langkah kakinya yang cukup lebar.
Setelah sampai di lantai bawah Kennan langsung membawa Tita menuju ruang makan.
"Pagi Bun...pagi Dek....", Ucap Tita dengan sedikit menunduk malu, masih teringat kejadian shubuh tadi. Pagi ini Tita harus mengalami kejadian yang membuatnya malu, akibat Kennan.
"Pagi sayang....", Bunda Vida menjawab dengan senyumnya yang selalu ramah.
"Pagi...kakak ipar", Naura pun memberikan senyum cerianya.
"Abangnya enggak....?!", Kennan memprotes Naura sambil menggeser kursi meja makan untuk Tita dan juga untuk dirinya sendiri.
"Emang abang ngucapin selamat pagi?!!", Naura mencebik.
"Kan udah diwakilin sama isteri abang", Kennan beralasan.
"Abang kan punya mulut sendiri....emang mau sarapannya diwakilin sama Mbak Tita....", Naura memberikan jawaban sinis.
Pada saat Kennan hendak menjawab omongan Naura adiknya, Tita menyenggol lengan Kennan.
"Udah", ucap Tita melerai.
Kennan pun mengurungkan niatnya, namun tetep saja memberikan pandangan mata yang mengolok Naura.
"Ayah mana Bun?", tanya Kennan saat menyadari jika Ayahnya tidak ada di meja makan.
"Ke Singapura kemarin", jawab Bunda Naura.
"Oh", ucap Kennan sambil mengangguk mengerti.
"Maafin Bunda ya Bang....Bunda tadi gak tau kalo Abang ada di kamar, Bunda kira Tita sendirian. Takut kalo dia kenapa - kenapa makanya Bunda nyelonong masuk tanpa ketuk pintu dulu", Bunda Vida.
"Gak papa....lagian juga gak ngapa ngapain kok, Tita wae yang kagetnya lebay". Kennan menjawab sambil menerima piring yang sudah diisi dengan nasi oleh Tita.
"Gimana enggak kaget orang Abang tiba - tiba wae ada di kamar sambil peluk - pel....ups....", Tita menutup bibirnya dengan ujung jemari tangan kanannya saat menyadari ucapannya.
"Kenapa....dipeluk suami jugak. Kagetnya berlebihan tauk.....padahal dipeluk kan anget....", Kennan memberengut karena dirinya juga terkaget akan teriakan Tita petang tadi.
"Abang....udah....!!Tadi menodai mata suci Rara, sekarang mau menodai gendang telinga Rara yang masih suci ini....?!", Naura berseru pada Kennan abangnya.
"Cih....masih suci lo kata....!! Emang beneran masih suci mata dan telinga lo, orang tiap hari wae nonton drakor elah....suci dari Hongkong", Kennan menatap Naura horor.
"Apa hubungannya cobak kesucian mata dan telinga Rara sama nonton drakor??", tanya Naura cengo.
"Ya adalah.... mata sama telinga lo sudah terkontaminasi adegan mesum di drakor itu. Elo pikir gue kagak tau apa kalo di sana banyak adegan 17+ nya". Kennan menjeda ucapannya.
"Dan lagi ya....elo bahkan udah nonton film mesum kemaren sama kita ya kan Ta....?!", Kennan memandang Tita untuk mendapatkan persetujuan dari istrinya.
"Hah....apa...", Tita bingung karena tidak terlalu memperhatikan obrolan kakak adik tersebut.
"Ck...", Kennan berdecak kesal, diiringi dengan tawa Naura.
"Seneng lo ya...", Kennan memberikan tatapan sebal pada adeknya.
"Udah - udah berhenti debatnya, pada makan gih keburu dingin gak enak ntar", Bunda Vida menengahi perdebatan kakak adik yang layak disamakan dengan Tom and Jerry kalo lagi ketemu.
Naura memeletkan lidahnya pada Kennan.
"Dasar adek laknat lo...", Kennan berseru lirih pada Naura.
__ADS_1
"Auuwww.......apaan seh Ta....?!", Kennan mengusap paha kirinya yang telah mendapat cubitan kecil dari isterinya.
"Dibilangin berhenti jugak, masih ngeyil....", sahut Tita cuek kemudian melahap makanannya.
"Sukurin....", Naura masih saja mengganggu abangnya, tak ayal mendapatkan pelototan mata dari Kennan.
Bunda Vida tersenyum melihat interaksi anak - anaknya. Apalagi kepada kedua pasangan suami isteri remaja itu, dalam hati bersyukur karena hubungan mereka semakin akrab dan membaik.
...ππππ...
"Bang pakek bajunya kenapa....?! Gak malu apa telanjang kek gitu....!", seru Tita saat mendapati Kennan sedang memainkan bola sepak dengan memakai celana jins panjang dan bersepatu berwarna merah namun tanpa menutupi tubuh bagian atasnya.
Sore ini Tita hendak menyirami tanaman di halaman rumah keluarga Atmadja, namun langkahnya berhenti ketika melihat Kennan bermain bola sendirian. Kondisi Kennan yang tanpa baju mengusik Tita untuk menegur suaminya tersebut.
"Gerah Ta...", sahut Kennan masih asyik dengan menggerakkan kaki pada bola kaki bundar tersebut.
"Tapikan malu bang diliatin orang", ucap Tita memberengut sambil menyalakan kran air, kemudian menyirami tanaman melalui air yang mengalir dari selang panjang yang Tita seret mendekati tanaman.
"Gak ada orang juga...", Kennan tetap ngeyel dengan kaki yang asyik menendang bola pelan mengarahkan ke kaki kanan dan kiri secara bergantian.
"Hisss....dasar ngeselin, seenak wae itu roti sobeknya dipamerin sama orang lain", kesal Tita.
Kennan tersenyum saat mendengar ocehan Tita yang terdengar pada gendang telinganya, namun memilih mengabaikan gadis yang telah sah menjadi isterinya tersebut.
Tita akhirnya memilih berkeliling menyirami tanaman pada halaman rumah. Rumput - rumput pun tak luput dari siraman air selang yang Tita seret mengikuti langkahnya.
Tak berapa lama Tita menengok ke arah Kennan.
"Ehh...eh...malah rebahan....Iki piye to....Gak gatel apa itu punggungnya....!!", Tita berseru saat melihat Kennan merebahkan diri pada rerumputan dengan berbantal bola kaki di bawah kepalanya.
"Abang.....sengaja pamer kan....", Tita menghentakkan kaki dengan kesal.
"Kenapa....? Gak ikhlas banget kalo tubuh gue ada yang liat", Kennan masih melihat datar ke arah Tita, padahal di dalam hati dirinya ingin tertawa saat melihat raut wajah kesal Tita.
"Iyalah...cuma Tita yang boleh liat, orang lain gak bo....", Tita terdiam sesaat menyadari ucapannya.
"Hekk.... astagfirullahaladzim ngomong apaan sih ini mulut...", Tita memukul pelan bibirnya dengan ujung jemarinya lalu meninggalkan Kennan karena malu.
Kennan terkekeh setelah Tita berlalu meninggalkannya .
"Pasti malu dia....kerjain ahh.....", gumam Kennan lirih kemudian berdiri dan berjalan hendak mendekat pada Tita.
Klek.
Kennan menghentikan langkah kakinya saat tak sengaja menginjak ranting yang berdekatan dengan selang air. Dirinya tersenyum saat sebuah ide jahil melintas di tempurung kepalanya.
"Loh...kok mati sih", Tita menggerak - gerakkan ujung selangnya. Kemudian menekan - nekan pegangan semprotan air yang terpasang pada ujung selang air, namun air tak kunjung keluar.
Byuurr....
Air dari selang menyembur keluar mengenai wajah dan membasahi baju Tita saat Tita menghadapkan ujung selang air tersebut ke arahnya. Tita pun gelagapan Karena air menyembur dengan kencang.
"Yah....Tita kan udah mandi", ucapnya pelan.
Kennan mati - matian menahan geli sambil memegangi perut sixpacknya yang telanjang.
Ternyata air selang yang sempat berhenti tadi adalah akibat ulah Kennan yang dengan sengaja menginjak dengan ujung sepatunya.
__ADS_1
Lalu, dengan sengaja Kennan menginjak selang dan mengangkat kembali. Lagi - lagi Tita harus mengalami gelagapan akibat tersembur air untuk yang kedua kalinya.
"Bhahahahakkk.....", akhirnya tawa Kennan pecah juga saat melihat reaksi Tita yang kebingungan.
Mendapati Kennan yang tertawa mengejeknya, Tita membalik tubuhnya kebelakang. Tanpa kata dirinya mengarahkan ujung selang air pada Kennan.
Dalam hitungan detik Kennan menghentikan tawanya.
Dengan kedua tangannya Kennan berusaha menghalangi air yang telah membasahi sebagian tubuh hingga celana panjangnya, bahkan sepatu yang
dipakainya ikut basah akibat semprotan air dari Tita.
"Emang enak...", ucapan Tita masih dengan menyemprot tubuh Kennan dengan air. Kini giliran Tita yang tertawa senang.
"Dek....hentikan....basah semua ini....", seru Kennan masih berusaha menghindar dari semprotan air Tita.
Tita tidak menghiraukannnya, bahkan semakin gencar menyemprotkan air keseluruh tubuh Kennan dengan lebih mendekat pada tubuh jangkung tersebut.
Grep....
Kennan berhasil menangkap tubuh Tita dengan memeluknya dari belakang kemudian mengambil alih selang airnya.
Masih dengan memeluk Tita, Kennan menyemprotkan air dari atas kepala Tita yang tertutupi jilbab instant rumahan hingga membasahi seluruh bajunya.
"Bang udah....basah semua kan....", Tita meronta dari dekapan tubuh Kennan, namun apa daya tenaganya yang tak sebanding dengan Kennan tidak mampu untuk melepaskan diri.
"Enak wae siapa yang mulai duluan....", Kennan masih terus menyemprotkan air pada tubuh Tita dengan terkekeh.
"Abaaang.....!!", Teriakan Bunda Vida yang baru saja turun dari mobil saat baru pulang dari bekerja menginterupsi kedua pasangan suami isteri remaja itu.
Kennan mendongak, mendapati Bunda menatapnya horor, Kennan menghentikan aksinya. Dirinya tau pasti Bunda akan menyuruhnya menghentikan ulahnya pada menantu kesayangannya.
Tita berkali - kali mengusap wajahnya dengan telapak tangannya sambil menggigil kedinginan dengan tubuh masih dalam dekapan Kennan.
"Abang apa - apaan....lihat itu bibir Tita sampek biru kek gitu", ucap Bunda saat mendekat pada Kennan dan Tita.
Kennan pun melongok ke wajah Tita yang ada di depannya, benar saja bibir pink tersebut berubah warna biru keunguan dengan tidak berhenti bergetar.
"Dingin dek....?", Tanya Kennan dengan nada khawatir, Kennan lupa kalau tubuh isterinya itu tidak bisa berkompromi dengan dingin.
Tita mengangguk perlahan sambil mendekap tubuhnya yang menggigil. Meski Kennan mendekapnya namun rasa dingin itu masih menjalar pada tubuhnya.
"Mandi yok", Kennan menuntun bahu ramping itu memasuki rumah.
Bunda hanya geleng - geleng kepala melihat kelakuan anaknya.
"Pakek air hangat Bang....", seru Bunda yang diacungi jempol oleh Kennan.
π¨π¨π¨π¨
Iki piye to.... : Ini bagaimana sih....
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
__ADS_1
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ