
"Apa??? Abang ngomong kek gitu sama Incess ...." Tita membuka kedua matanya lebar setelah mendengar penuturan sahabatnya.
Hani pun mengangguk mengiyakan.
Jangan tanya bagaimana wajah Tita saat ini.
Wajahnya merah semerah tomat busuk karena malu pada sahabatnya mendengar sikap Kennan yang dianggapnya menunjukkan kepemilikan yang possesif untuknya. Tita pun tidak menyangka jika suami yang diberinya julukan kulkas dua pintu itu rela membujuk sahabatnya agar mau berbaikan dengannya.
Satu lagi ...
Bagaimana bisa suami kulkas dua pintunya itu mengatakan dengan lantang bahwa dia menikahinya karena takut kehilangan ... yang benar saja!!
Setan mana yang menempel pada tubuhnya saat mengucapkan kalimat itu. Tita benar - benar tidak pernah menyangka sedikitpun.
"Wajah lo merah Ta." goda Hani pada sahabatnya.
"Enggak ah," Tita menunduk malu, menutupi Rona merah pada pipinya.
"Enggak salah ... maksud lo kan." Hani seolah mengejek. "Gue gak nyangka kalau cowok cold bear itu bisa cinta sampek segitunya sama elo Ta." Hani memandang sahabatnya yang tersipu malu.
"Gue jadi inget waktu elo berandai - andai tentang sikap Kennan yang berbalik 180 derajat. Itu pasti ungkapan lo saat merasakan sikap dia yang berbeda saat bersama lo, iya kan?" tebak Hani.
"Dia pasti sangat perhatian banget, kelihatan kek possesif banget. Gue perhatiin lama waktu elo jalan berdua sama dia di mall waktu itu. Udah kek kereta gandeng wae." Hani terkekeh geli.
"Incess udaaah, jangan godain mulu ... emban kan malu." Tita tersenyum tipis semakin menundukkan wajah untuk menutupi malunya.
"Ta mulai sekarang jangan panggil gue incess, panggil nama aja. Gue juga gak akan manggil elo emban lagi." ucap Hani memegang kedua tangan sahabatnya.
Tita mendongak, mengernyitkan dahi ... bingung.
"Kenapa, incess gak suka?" tanya Tita heran. Bagaimana tidak heran, selama ini mereka nyaman saja saat saling memanggil dengan sebutan tersebut.
"Itu em ... gue gak mau kena SP dari suami lo."
(SP : Surat Peringatan) Udah kek pegawai wae yakπ
"Maksud incess?" Tita kembali bingung mendengar ucapan sahabatnya. Bahkan kedua alis mata serta kening Tita mengerut secara bersamaan.
"Kennan bilang panggilan Incess itu cocoknya buat lo bukan buat gue ...." jelas Hani.
"Maksud incess gimana ya, kok emban gak ngerti sih."
Hani pun beranjak berdiri dari duduknya, lalu ...
Hani berdiri dengan pongah, kedua tangan dimasukkan pada rok jins selutut yang dipakainya. Menaikkan dagunya dan memandang Tita dengan tatapan sinis.
"Mulai sekarang berhenti panggil isteri gue dengan sebutan emban. Panggilan itu cocoknya buat elo ... Yang bener, seharusnya elo panggil isteri gue incess, dan elo dipanggil emban sama dia." Kennan menjeda ucapannya sesaat untuk mengambil nafas.
"Isteri gue jauh lebih cantik daripada lo, jadi emban itu cocoknya buat lo. Ngerti!" Kennan berucap tajam dan sinis.
Semua itu ditirukan dengan sesuai oleh Hani, bahkan gaya angkuh nan sombong Kennan pun diperlihatkan oleh Hani dengan sempurna.
Lagi - lagi Tita membuka kedua bola matanya dengan lebar, bahkan mulut berbibir pink itu ikut terbuka setelah mendengar ucapan serta gaya sahabatnya yang angkuh menirukan sosok suami dingin kulkas dua pintunya.
Tita tidak menyangka jika Kennan akan berbuat sejauh itu. Meskipun saat bersamanya, Tita selalu saja mendapatkan sikap - sikap yang membuatnya terkejut dan tidak pernah menyangka.
Akan tetapi ini, Kennan melakukannya di depan orang lain yang notabene adalah sahabat Tita.
__ADS_1
Tita pun harus merelakan semburat merah merebak memenuhi wajah putih akibat rasa yang bercampur aduk menyeruak memenuhi sudut hatinya yang senang dan malu bercampur aduk bagaikan permen nano - nano yang rame rasanya.
"Mosok abang sampek segitunya sih ...?" suara Tita terdengar seperti gumaman namun masih terdengar jelas oleh sahabatnya.
"Yaelah, gak percaya sama gue lo ..." Hani berjengit.
"Bukan gitu Incess, emban gak nyangka wae."
"Beneran ... sumpah Ta, dia ngomong kek gitu ke gue. Gue masih ngeri waktu inget matanya mengintimidasi gue ...." Hani menguatkan.
"Dan lagi, berhenti lo manggil gue Incess." Hani mengingatkan.
...ππππ...
"Seneng kan udah baikan ...?!" tanya Kennan pada Tita sembari mendudukkan diri di sisi isterinya pada sofa bean di balkon kamar.
Tita tersenyum, memandang suaminya. "Seneng banget, makasih ya Bang udah bantuin Tita sama Hani baikan." ucapnya tulus.
Kennan merengkuh tubuh isterinya, memeluknya. "Hem ... enakkan dilihatnya kalau senyum kek gini."
"Maaf Tita udah cuekin abang beberapa hari ini." sahut Tita memandang suaminya dengan perasaan bersalah.
"Gak papa ... tapi besok lagi kalo lo kek gitu, gue bakal kasih hukuman berat." Kennan tersenyum mesum.
Tita yang mengetahui arah pembicaraan suaminya langsung memberengut, dirinya mulai hafal dengan lagak mesum suami kulkas dua pintunya. "Abang mesti deh, mesum mulu." ucapnya sembari memukul pelan bahu Kennan.
Kennan terkekeh, lalu mengusap surai hitam Tita dengan lembut. "Temen lo udah pulang dari tadi?"
"Udah" sahut Tita pendek.
"Kenapa gak langsung bangunin gue?"
Sesaat teringat akan sesuatu Tita mendongakkan kepala pada Kennan. "Abang udah sholat ashar?"
"Udah, barusan. Untung gue bangun ... kalau gak telat gue." sahut Kennan mencubit kecil hidung mbangir Tita.
Aww ...
"Sakit Bang." ucap Tita sengau sembari menepis tangan kekar Kennan.
Kennan kembali terkekeh. Menggoda dan mengganggu Tita merupakan kesenangan baru untuknya.
"Maaf Tita lupa waktu, habisnya sore ini cuacanya enak buat duduk nikmati pemandangan sambil ngeteh hehehe ...." kembali Tita meminta maaf Karena lupa membangunkan suaminya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Elo udah sholat belum?" Kennan balik bertanya ada isterinya.
Tita menganggukkan kepala. "Udah. Tadi bareng sama incess sekalian sebelum dia pulang."
"Oh ... ya udah."
"Bang."
"Hem" Kennan membawa tempurung kepala Tita pada dada bidangnya lalu mengendus harum wangi shampoo rasa strawberry yang menguar dari surai hitam milik isterinya.
"Abang kenapa pakek ngancem temen Tita segala?"
"Ngancem gimana maksud lo?" tanya Kennan bingung namun tidak berhenti mengendus surai hitam milik isterinya.
__ADS_1
"Ngancem incess gak boleh panggil Tita emban."
Kennan menjauhkan wajah dari surai hitam milik isterinya. " Ya kali mosok gue ngebolehin cewek secantik elo dipanggil emban, jelas gue gak relalah."
"Tapi kan itu panggilan kesayangan kami berdua Bang ... udah dari lama ...." Tita seakan tidak rela jika suaminya itu membuat Hani sahabatnya tidak nyaman.
"Ganti wae yang lain, cari panggilan baru. Lagian emang cocoknya kalian itu panggilannya bertukar, elo dipanggil incess ... dia dipanggil emban. Lebih real!!" Kennan.
"Tapi kan Tita udah nyaman sama panggilan itu." Tita memberengut, memandang Kennan sedikit sinis.
"Ya udah lo mikirin panggilan yang nyaman buat gue wae, daripada pusing - pusing mikirin panggilan lo buat temen lo itu." Kennan mengerlingkan mata pada isterinya.
"Gak mau ... enakan panggil abang aja. Udah enak di lidah."
"Enak di lidah ... emangnya gue bakso."
"Bukan. Tapi abang tukang bakso." Tita terkekeh.
"Jahat lo Dek ..." Kennan mencebik.
"Biarin. Kek yang ngomong gak suka jahatin Tita wae."
"Itu dulu ... gak usah dibahas lagi sekarang." Kennan.
"Ye ngaku." Tita seolah mengejek.
Kennan kembali mencubit kecil hidung mbangir Tita.
"Abang kebiasaan." Tita berucap kesal dengan sengau.
Kennan pun melepaskan cubitannya diiringi dengan kekehan dari mulutnya.
"Bang." Tita memanggil suaminya setelah terlepas dari cubitan tangan Kennan.
"Apa."
"Ternyata Hani enggak suka sama abang."
"Terus." Kennan santai karena dirinya tidak ambil pusing dengan rasa yang dimiliki oleh sahabat isterinya tersebut.
"Hani sukanya sama Irsyad."
Hah.
Ucapan Tita sukses membuat kedua mata Kennan membola.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ