
"Hani sukanya sama Irsyad."
Hah.
Ucapan Tita sukses membuat kedua mata Kennan membola.
"Irsyad!!"
"Kenapa? Abang enggak rela fansnya berkurang satu?"
"Enggak gitu Dek ..."
"Cuma kaget wae, ternyata ada juga yang suka sama si kalem itu. Gue gak nyangka. Eh ... tapi, dari mana lo tau Dek?"
"Tadi dia cerita sama Tita Bang. Selama ini pura - pura ngefans sama abang buat nutupin rasa sukanya ke Irsyad."
"Syukurlah kalau gitu, jadi lo bisa tenang. Lo gak perlu mikirin perasaan sahabat lo itu." Kennan kembali mengendus wangi strawberry dari surai hitam milik isterinya.
"Kalau perlu bikin dia sama Irsyad makin deket, siapa tahu jodoh." ucap Kennan di sela kegiatannya mengendus surai hitam isterinya.
Tita mendongak memandang Kennan. "Maksud abang?"
"Sering - sering aja ngajakin temen lo itu ke kelas atau kalau perlu ajakin jalan. Biar gue yang ngajakin Irsyad keluar dari kandang, bisa double date kan kita. Kalau mereka bisa saling suka terus jadian, enak kan?! Biar Irsyad gak ngarep sama elo mulu."
Tita menyodok pelan dada bidang suaminya dengan sikunya. "Abang apaan sih, Tita itu gak ada rasa sama Irsyad. Cuma temen doang, lagian Irsyad temen abang juga kan ..." Tita memberengut.
"Elo enggak tapi Irsyad iya Dek ...!" ucap Kennan sembari menatap manik hitam isterinya, ada rasa tidak rela pada ucapannya.
"Entar kalau ada setan bisikin lo buat berpaling ke Irsyad gimana coba, kita kan gak tau." lanjut Kennan.
"Abang gak percaya sama Tita?" tanya Tita tajam. Ada sedikit nyeri pada ulu hatinya mendengar ucapan Kennan. Tita tidak menyangka jika Kennan masih meragukan hatinya padahal dirinya sudah menyerahkan seluruh rasa dihatinya pada Kennan.
Kennan menghela nafas pendek, meraih jemari lentik Tita lalu mengusapnya lembut. Kennan menyadari ucapannya menyinggung perasaan isterinya. "Bukan gitu maksud gue Dek ... elo sal ...,"
Belum selesai ucapan Kennan, Tita memotongnya.
"Maksud abang Tita salah paham gitu?" tanya Tita dengan dada bergemuruh.
"Denger dulu sayang ... jangan main potong wae."
"Tita memang gak ada benernya." bibir Tita mengerucut, kesal dan itu membuat Kennan gemas.
Kennan menangkup wajah Tita dengan kedua telapak tangan kekarnya lalu membawa menghadap ke wajahnya.
Cup
Kennan mendaratkan bibir tebalnya pada bibir pink kenyal isterinya.
Beberapa saat mengulum lembut benda kenyal itu kemudian melepaskannya. "Dibilangin jangan suka monyongin bibir, masih ngeyil wae. Kalau mau minta cium bilang wae, nyium duluan juga boleh kok. Gue gak bakalan nolak."
Tita menunduk malu.
Selalu saja kulkas dua pintunya itu meluluhkan hatinya dengan tindakan lembut yang mampu menghilangkan rasa kesalnya.
Kennan pun kembali membuat wajah malu itu mendongak karena masih berada dalam tangkupan kedua tangan kekarnya.
"Gue dengan senang hati lo menyambut bibir lo, kalau lo mau nyium duluan kek waktu itu." Kennan kembali mengingat ciuman panas Tita yang membawanya hampir bolos sekolah beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Abang apaan seh, bikin malu wae." Tita melepaskan tangan kekar Kennan dari wajahnya.
Kemudian bergelayut manja pada salah satu lengan Kennan untuk menutupi rona merah para wajah putihnya.
"Pipi lo merah Dek."
"Abang udah, jangan bikin Tita malu." Tita merajuk sembari menelusupkan wajahnya pada lengan Kennan.
Kennan pun terkekeh.
"Ada gak tempat yang pengen lo datengin Dek?" Kennan menyibak helaian surai hitam Tita yang menghalangi wajah cantiknya.
"Tempat yang kek mana maksud abang?"
"Tempat yang pengen banget lo datengin atau belum pernah lo datengin dan elo pengen ke sana, buat refreshing mungkin ...."
"Emang kalau Tita sebutin abang mau nganterin Tita ke sana."
"Ya iyalah. Nyenengin isteri kan dapat pahala."
"Ntar cuma diajakin muter - muter doang kek kemarin, cuma bikin kaki pegel wae. Bukan cuma kaki pegel deng, hati juga nyesek." sindir Tita pada suaminya.
Tita masih merasa kesal jika mengingat ulang Kennan yang hanya membawanya memutari jalan tanpa tujuan beberapa waktu lalu.
"Ya elah masih diungkit wae ... kemarin itu kan gue lagi pengen lo peluk, biar ngerasain mesranya pacaran kek orang - orang." Kennan santai.
"Pelukan kan bisa di rumah gak di luar kek gitu Bang."
Hehehehe ... Kennan terkekeh.
"Gak ada cowok PMS Bang, cuma cewek yang ngalamin."
"Iya deh iya ... gue salah Dek. Ada gak tempat yang pengen lo kunjungin, ntar sebelum ujian kita ke sana." cecar Kennan.
"Pantai." sahut Tita cepat.
Kennan mengerutkan kening. "Parangtritis?"
"Bukan pantai yang ramai kek gitu Bang. Titi pengen ke pantai yang masih agak sepi gitu. Yang masih alami pemandangan dan juga masih bersih oksigennya, biar bisa refresh otak."
Kennan mengangguk tanda mengerti. "Pilih yang sepi biar bebas mesra - mesraan sama gue kaaan?!" goda Kennan.
"Hisshh ... bukan gitu abaang, tadi kan udah Tita jelasin alasannya." Tita manyun.
"Iya deh tau ... sensi amat seh. Kenapa pantai bukan yang lainnya?" ucap Kennan sembari membelai surai hitam Tita.
"Entahlah ... Tita cuma pengen aja, kangen sama masa kecil main pasir sama air di pinggir pantai." sahutnya sembari menerawang, mengingat masa kecilnya yang sangat menyenangkan bersama keluarganya.
Sesaat dirinya teringat akan sosok anak lelaki kecil yang selalu menemaninya bermain pasir, tertawa riang bersama. Anak lelaki yang mengucapkan janji akan menikahinya serta menjadi pelindungnya di masa depan nanti, ucapnya kalau itu.
Senyum kecil terbit pada bibir tipisnya, dalam hati menghalau kenangan manis itu karena saat ini dirinya sudah memiliki Kennan.
Biarlah semua itu menjadi kenangan indah untuk masa kecilnya, semoga kamu juga menemukan kebahagianmu sendiri. Maaf tidak bisa menepati janji ... ucap Tita dalam hati.
"Kenapa senyum - senyum?" Kennan menyelidik.
Tita menoleh pada suaminya.
__ADS_1
"Ah itu, Tita bayangin main di pantai ... pasti menyenangkan."
"Bayangin elo lari - larian ngejar gue kan ... kek di film India." tebak Kennan.
"Abang sok tau."
"Emang gue tahu ... bener kan?!"
"Iyain aja ... biar abang seneng."
"Heleh ... mau ngeles lo. Wajah pecinta novel lo ga bisa bohong Dek, pasti adegan yang sering muncul di film itu yang elo bayangin ...."
Tita mencebik.
"Iya ... Tita ngaku. Puas kan?" Tita memilih menutupi kebenarannya, mengingat sosok Kennan yang pencemburu. Biarlah semuanya menjadi kenangan indah di masa lalunya.
"Emang tebakan gue bener kan."
Hem ...
Tita menyandarkan kepala pada dada bidang suaminya, bahkan sebagian tubuhnya pun menyandar pada tubuh kekar itu.
"Tumben mau nempel tanpa diminta?!" Kennan seakan meledek Tita.
Tita mendongakkan wajahnya pada Kennan yang sedikit menunduk padanya.
"Gak boleh?" tanya Tita dengan raut wajah kesal.
"Yang bilang ga boleh siapa, orang gue cuma heran kok." Kennan berucap lembut seraya mengusap lembut pipi isterinya.
"Tita lagi pengen di manja sama abang." ucapnya melingkarkan tangan pada perut sixspack suaminya.
Kennan pun tersenyum lalu merengkuh tubuh ramping di depannya untuk didekapnya erat. Dengan tak lupa memberikan ciuman pada pucuk kepala yang tertutupi surai hitam itu dengan lembut.
Pun demikian halnya dengan Tita, kedua tangannya memeluk tubuh kekar Kennan tak kalah erat.
Kennan memberikan tubuhnya sebagai sandaran yang nyaman bagi isterinya, sesekali diusapnya lengan ramping isterinya sembari menikmati indahnya langit sore yang menampakkan semburat warna jingga yang menenangkan.
π¨π¨π¨π¨
...Spoiler...
"Dek maksud lo apaan?" Kennan menatap tajam Tita dengan mengarahkan ponsel di depan wajah isterinya.
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ
__ADS_1