
Ceklek.
Doni membuka pintu ruangan Kennan dari luar.
Tumben jam segini sudah berangkat ke kafe itu bocah... batin Doni dalam hati sembari menutup pintunya kembali.
Doni berfikir demikian karena melihat mobil Kennan saat dirinya akan memasuki kafe beberapa saat lalu, tanpa pernah berfikir jika ada kemungkinan Kennan menginap. Menurutnya tidak mungkin sepupunya itu akan menginap di kafe dengan Tita istrinya, karena Doni di dalam ruangan Kennan tidak ada ranjang. Tidak mungkin kan kedua padahal remaja itu akan tidur di lantai.
Hek...
Doni membuka kedua matanya lebar, tubuhnya mematung saat manik hitamnya mendapati Tita sedang tidur lelap menghadap ke arah pintu, dimana dirinya sedang berdiri saat ini.
Wajah cantik, putih bersih dengan rambut hitam panjang yang tergerai dan mata yang terpejam itu membuat Doni harus menelan ludahnya kelat.
Beruntung gadis itu menyelimuti tubuhnya hingga di atas perut, dengan kedua tangannya yang menumpu tempurung kepalanya.
Namun sosok Kennan tidak ada di sana, Tita nampak tidur sendirian.
Doni menghirup oksigen kuat, ada sudut hatinya yang merasa nyeri saat menyadari jika Tita memakai kaos yang dipakai semalam oleh Kennan saat perform di kafe.
Dalam hati menduga duga apa yang dilakukan pasangan suami istri remaja itu di dalam ruangan ini semalaman. Doni dapat memastikan jika keduanya tidak pulang dan melewatkan malam bersama di ruangan ini.
Ah, bikin otak Doni jadi traveling wae.
Meskipun selama ini Doni sudah berusaha sekuat hati mengubur rasa cintanya terhadap gadis yang tengah tidur lelap itu, namun tetap saja masih ada sisa rasa yang tertinggal dan masih mengendap di sana.
Doni kembali menghirup oksigen kuat, memejamkan mata sembari meraba dadanya yang terasa sesak. Perlahan Doni kembali membuka matanya sembari menata hatinya.
Kemudian melangkahkan kaki kembali mendekati meja kerja Kennan sepupunya untuk meletakkan data pengambilan kebutuhan cafe dari suplier untuk Kennan periksa dan mencairkan pembayaran. Serta tanda tangan Kennan lah yang sebenarnya paling dibutuhkan olehnya.
Setelah meletakkan data yang terdapat dalam sebuah map di atas meja, Doni ingin segera keluar namun entah mengapa manik matanya terasa enggan melepaskan pandangan dari wajah cantik Tita yang tertidur lelap.
Doni pun mengurungkan diri untuk beranjak, kembali memadangi wajah cantik Tita dengan intens.
Kenapa harus Kennan... sepupu gue sendiri... Doni membatin.
Beberapa detik kemudian, Doni menghembuskan nafas kasar lalu mengusap wajahnya.
"Astagfirullahaladzim... kenapa gue kek gini sih. Tita itu milik sepupu lo sendiri Don..." Doni menggumam lirih saat menyadari kesalahannya.
Ceklek.
Baru saja Doni berniat keluar dari ruangan tersebut, terdengar suara pintu dibuka dari pintu kamar mandi dalam ruangan Kennan.
Doni pun menoleh ke arah asal suara, dirinya sudah dapat menebak jika itu adalah Kennan sepupunya.
Benar saja sosok jangkung Kennan menyembul dari balik pintu kamar mandi.
Kennan keluar dari sana dengan dada telanjang dan mengenakan celana panjangnya kembali untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Tubuhnya terlihat segar, aroma wangi sabun menguar, memenuhi seluruh ruangan.
__ADS_1
"Ngapain lo liatin isteri gue?" Kennan berjalan mendekati Doni dengan salah satu tangan yang tidak berhenti mengusap rambut basahnya dengan handuk.
Doni menghirup oksigen kuat, sepertinya dugaannya tadi benar adanya. Sepupunya itu pasti melakukannya bersama gadis yang diimpikan oleh Doni selama ini.
Rasa nyeri itu kembali menusuk sudut hati Doni.
"Sorry gue gak tau kalian berdua menginap di sini. Gue butuh tanda tangan lo." Doni melirik map di atas meja kerja Kennan.
"Butuh sekarang atau nanti?" Kennan berjalan mendekati meja kerjanya, menyampirkan handuk kecilnya pada punggung kursi putarnya. Lalu segera menduduki kursi kerjanya agar Doni membalik tubuhnya menghadap ke arahnya sehingga memutus pandangan matanya dari Tita isterinya yang masih tertidur lelap.
"Sekarang wae kalau lo bisa." Doni pun membalik tubuhnya menghadap meja Kennan, sehingga posisinya sekarang membelakangi Tita.
Kennan segera membuka napa di atas mejanya, membalik kertas di dalamya dengan membacanya sekilas. Lalu mendongkkan kepalanya.
Hek.
Doni harus menahan nafasnya kuat karena saat sepupunya itu mendongakkan kepala terlihat jelas jejak merah menghiasi dada dan leher Kennan yang putih bersih.
Lagi lagi otak Doni harus traveling membayangkan permainan ranjang kedua remaja yang telah sah menjadi sepasang suami isteri tersebut.
Sepertinya gadis polos yang telah mendiami hatinya itu sudah tercemari otak mesum sepupunya.
Ah... ternyata gue kalah langkah sama anak ingusan kek elo Kenn, Doni membatin, merutuki kejonesannya.
"Ngapain lo bengong kek gitu liat gue?" Kennan masih dengan mendongakkan wajahnya ke arah Doni karena memang posisi Kennan yang duduk dan Doni yang berdiri.
"Eh... nggak kok." Doni kikuk sembari mengusap belakang lehernya yang tetiba tidak nyaman.
Doni melebarkan kedua matanya, mendengar ucapan sepupunya tersebut. Meskipun sepupunya itu menyadari jika dirinya menyukai Tita, namun terpesona dengan wajahnya... itu adalah sesuatu yang mustahal bin mustahil.
"Sorry gue enggak terpesona sama wajah lo, walaupun gue jones sampai umur gue segini tapi gue masih doyan cewek dab..." Doni mencebik kesal.
"Terus ngapain lo liatin gue sampai segitunya..."
Kennan dengan memberikan tanda tangan pada berkas di hadapannya, lalu menyodorkannya pada Doni.
"Pakek baju lo, biar bekas percintaan lo gak ada yang liat." Doni menyambar map dari tangan Kennan dengan kesal.
"Kalau iri bilang dab... makanya cari cewek sono trus bawa ke kua biar gak iri sama gue." Kennan dengan kekeh kecil. Kennan tahu kalau sepupunya itu melihat tanda jejak hasil kreasi bibir Tita semalam.
Sebenarnya Kennan juga baru menyadari hasil karya isteri polosnya beberapa saat lalu saat dirinya mandi.
"Anjirr... mulut lo kalau ngomong, bikin ati gue makin nyesek wae." Doni melangkahkan kaki meninggalkan ruangan Kennan.
"Don... tunggu!" Kennan berseru.
"Apalagi?" Doni menoleh dengan suara terdengar malas.
"Bawain gue sarapan."
"Elo doang, bini elo enggak...?"
__ADS_1
"Ya iyalah... buat kita berdua, elo gimana sih..." Kennan kesal.
"Kirain dia lo suruh kerja dulu baru lo kasih makan." Doni menyindir dengan berjalan kembali.
"Sialan lo Don!" Kennan berseru kesal, meskipun Doni sudah keluar dari ruangannya.
Eughh...
Terdengar suara lenguhan disertai dengan tubuh yang menggeliat dari Tita yang masih bergelung selimut di atas sofa bed, Kennan pun segera beranjak dari kursi putarnya menuju sofa bed tempatnya semalam tidur bersama sang isteri.
Kennan mendaratkan tubuhnya pada tepi sofa bed, menyibak helaian rambut pada wajah Tita yang sedikit menutupi wajah cantiknya.
"Kalau masih ngantuk gak usah bangun." ucap Kennan saat melihat isterinya itu berusaha mengerjapkan kedua kelopak mata, terlihat kesusahan.
Kennan tersenyum melihat pemandangan wajah bantal sang isteri yang menurutnya tetap saja cantik.
"Abang... ini jam berapa?" Tita dengan memincingkan matanya efek sinar matahari yang menyorot dari jendela kaca yang telah terbuka.
"Jam sepuluh." sahut Kennan setelah beberapa detik sebelumnya menoleh ke arah jam dinding yang menempel di belakang meja kerjanya.
Hah...
Tita terlonjak kaget dengan mulut terbuka serta kedua bola mata yang melebar.
"Kenapa abang gak bangunin Tita?" Tita dengan menampakkan wajah kesalnya.
"Elo tidurnya nyenyak banget dek." Kennan santai.
"Tapi kan Tita jadi gak sholat shubuh."
"Gue juga enggak kok, kebangun udah jam 8 lewat."
"Setidaknya waktu abang bangun, langsung bangunin Tita dong biar bisa buru buru sekalipun terlambat." Tita terlihat sangat menyesali kealpaan sholat shubuhnya.
"Gak papa sekali ini doang, biar dosanya gue yang tanggung."
"Abang lain kali jangan kek gini, kalau kita abang bangun lebih dulu bangunin Tita sekalian."
Tita masih dengan raut wajah kesalnya.
"Iya... iya... sayang."
Kennan sembari merapikan surai hitam Tita, menyatukannya lalu mengikatnya dengan tali pita yang tergeletak di atas sofa bed.
"Maafin gue ya..." ucap Kennan dengan menangkup wajah Tita dengan kedua telapak tangannya, lalu memberikan kecupan kecupan kecil pada wajah Tita lalu berakhir pada bibir mungil sang isteri.
"Bos sarapan datang!"
π¨π¨π¨π¨
Like, vote yak... biar ntar othor semangat nulis lanjutannya...πππ
__ADS_1
Tengyu so much..... love you all My Beloved Readersπππ