
Kennan menghentikan langkah kakinya saat hendak menginjak anak tangga teras rumah keluarga Atmadja.
Sesaat menatap rumah megah yang telah lima tahun tidak pernah dikunjungi olehnya.
"Kenapa mas?" tangan kanan Tita menyenggol lengan tangan Kennan yang tiba tiba berhenti, sedangkan tangan kirinya menggandeng Keanu. Kenina saat ini berada dalam gendongan Kennan.
Huh!
Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Kennan, membuat Tita mengernyit.
"Kenapa?" lagi Tita bertanya dengan menelisik lebih dalam manik mata Kennan.
"Enggak papa." Kennan menutupi kebenaran jika dirinya telah lama tidak menginjakkan kaki di rumah kedua orang tuanya.
"Kenapa berhenti? Ayok!" Tita tersenyum seraya menarik tangan Kennan yang terbebas.
Dengan langkah berat Kennan mengayunkan langkah kakinya kembali.
Sesuai dengan janjinya, Kennan memang akan mengujungi rumah keluarganya jika telah menemukan Tita. Untuk itu setelah dari Kenita's Cake and Bakery Kennan memboyong keluarga kecilnya untuk berkunjung.
"Assalamualaikum." Tita berseru tanpa mengetuk pintu karena pintu utama rumah itu dalam kondisi setengah terbuka.
Tidak terdengar balasan salam ataupun tanda tanda orang mendekat ke arah Kennan dan Tita.
"Kita masuk aja ya? Sepertinya lagi pada di belakang." Tita menoleh ke arah Kennan meminta persetujuan.
Hari memang telah sore. Kemungkinan besar memang bunda Kennan berada taman belakang sesuai kebiasaanya, sedangkan ayah pastinya belum pulang dari kantor.
Kennan mengangguk meski dalam hati bertanya tanya, kenapa Tita begitu santai seolah tanpa ada sedikit pun rasa takut atau canggung saat memasuki rumah keluarganya. Padahal Tita dulu pergi begitu saja tanpa pamit pada ayah bunda maupun dirinya.
Bukankah seharusnya Tita merasa sedikit berat hati seperti halnya Kennan saat ini.
Ah... Mungkin dia sudah siap dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi nanti. Kennan menepis semua praduga dalam batinnya.
Tita berjalan di depan dengan menggandeng Keanu. Sedang Kennan mengekor di belakang seraya bersenda dengan Kenina.
"Bunda..." seru Tita dengan berjalan menuju taman belakang.
Lagi Kennan mengernyit, kenapa dirinya merasa ada yang aneh dengan sikap Tita yang biasa biasa saja.
"Iya. Di sini, di taman belakang."
Suara itu sangat tidak asing bagi Kennan. Meski telah sekian tahun tidak bertemu, tetap saja Kennan tidak bisa lupa akan suara wanita yang telah melahirkannya.
__ADS_1
Tita terlihat berucap kata pada Keanu dengan badan yang sedikit membungkuk. Bocah kecil replika Tita itu menganggukkan kepala.
Entah apa yang mereka bicarakan, Kennan hanya mampu melihat tanpa bisa mendengarkan pembicaraan keduanya.
"Siapa yang dat..."
Kalimat Bunda Kennan terhenti seketika saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Sempat mematung menatap sesaat, lalu menyunggingkan senyum pada wajah paruh bayanya saat Tita memajukan diri, menyalami sang bunda mertua dan mencium punggung tangannya dengan takdzim.
Tita pun terlihat tidak segan melakukan cium pipi sang mertua dan memberikan pelukan hangat.
Setelahnya Tita mengarahkan Keanu untuk memberi salam dan mencium tangan sang nenek.
Bocil tampan itu melakukannya dengan datar, tanpa sedikitpun memberi senyum pada wajahnya yang tampan. Hanya diam pasrah saat sang nenek memeluknya. Tanpa sedikit pun membalas pelukannya.
Sungguh turunan kulkas dua pintu.
Kennan masih diam di tempatnya, dengan menahan dada yang kian menyesak. Rasanya tak sanggup lagi untuk mengayunkan langlah kakinya mendekat. Hanya kedua mata yang mampu menatap sang bunda degan sorot rindu yang tak terbendung.
Wanita paruh baya yang telah melahirkannya ke dunia ini masih terlihat cantik meski gurat renta sedikit menghiasi wajah keibuannya.
"Kenina nggak turun?" tanya sang bunda membuat gadis kecil yang semula menyembunyikan wajah di ceruk bahu sang ayah mendongakkan kepala.
Lagi Kennan terkejut.
"Titi."
Kenina segera melorot dari gendongan Kennan. Berlari dengan riang ke arah sang nenek yang sedikit membungkukkan badan seraya mengembangkan kedua tangannya, tersenyum.
Lagi lagi Kennan dibuat terkejut akan reaksi Kenina yang seolah telah mengenal neneknya.
Gadis kecil itu telah beralih pada gendongan bunda Kennan. Menggelayut manja dengan mulut cadel yang merepet ceria.
"Ayo ke ruang keluarga saja, sambil duduk ngobrol." Bunda berjalan melewati Kennan dan Tita. Dengan Kenina dalam gendongan serta Keanu yang menggandeng tangannya yang terbebas.
Kennan terkesiap saat sang bunda seolah mengabaikan keberadaannya. Melewati dirinya tanpa sedikitpun menyapa maupun menatapnya. Rongga dadanya menyesak meski Kennan berusaha meraup oksigen banyak banyak.
"Dek...." Kennan memandang Tita dengan wajah bingungnya. Sangat kentara jika Kennan sangat penasaran akan interaksi Tita dan anak anaknya dengan sang bunda.
Tita menoleh. Hanya mengulas senyum tanpa berbicara.
Kennan pun mengikis jarak dengan mengambil satu langkah maju, mendekati Tita. Sungguh semua terasa janggal di benak Kennan.
__ADS_1
Tita mengulurkan tangan seraya tersenyum. "Ayo." Wanita itu menarik lembut tangan Kennan, menuntunnya ke ruang keluarga. Mengekori sang mertua.
Kennan menurut, mengikuti langakah kaki sang isteri dengan berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.
Sungguh Kennan sangat tidak mengerti kenapa hanya dirinya yang merasa asing dan seolah diabaikan oleh sang bunda.
Memang Kennan bersalah karena tak pernah sekalipun berkunjung ke rumah keluarga besarnya. Namun alasannya jelas, bahkan kedua orang tuanyalah yang dulu mengancamnya untuk tidak pernah kembali jika tanpa membawa pulang sang menantu.
Kennan hanya mengikuti apa yang telah menjadi ucapan sang bunda. Namun kenapa saat ini beliau seakan mengabaikannya. Hingga membuatnya merasa asing di rumah keluarganya sendiri.
"Bunda gimana kabarnya, sehat kan?" Tita bertanya lembut, sesaat setelah mendaratkan tubuhnya pada sofa ruang keluarga.
Kennan yang duduk di samping Tita hanya diam. Bibirnya seolah kelu karena merasa diabaikan.
"Alhamdulillah baik, sehat kok. Kamu juga sehat kan nduk?" Bunda balik bertanya seraya terlihat sibuk menawari kue coklat pada kedua cucunya.
"Alhamdulillah bunda. Seperti yang bunda lihat, Tita sehat walafiat. Malah makin tambah cantik mempesona." Tita dengan kekeh canda.
"Ck... kamu itu bisa aja." Bunda ikut terkekeh kecil. "Toko gimana, tetap ramai kan?"
Kalimat tanya sang bunda sontak membuat kedua mata Kennan melebar sempurna.
Kenapa Kennan merasa hanya dirinya yang linglung. Saat melihat bahkan mendengar interaksi sang bunda dengan istrinya. Sepertinya Kennan telah melewatkan banyak hal.
"Dek..." Kennan menatap isterinya dengan tatapan meminta banyak penjelasan.
Sekali lagi Tita hanya tersenyum tanpa kata.
"Mas salim gih sama bunda, jangan lupa minta maaf." Bisik lirih Tita pada Kennan.
"Ayo mas." Tita dengan sedikit mendorong tubuh Kennan agar beranjak dari duduknya.
Kennan pun dengan berat hati mengangkat tubuhnya hendak berdiri.
"Assalamualaikum!"
Suara bariton yang datang dari arah luar membuat Kennan mengurungkan niatnya.
"Walaikumsalam warrahmatullahi wabarokatuh." Tita dan bunda menyahut serempak. Sedang Kennan hanya terdengar lirih. Seakan menyahut untuk dirinya sendiri.
Kennan sudah dapat menebak dengan benar siapa yang datang.
"Tatung!"
__ADS_1
Seruan Keanu sungguh membuat Kennan terkejut untuk kesekian kalinya.
π¨π¨π¨π¨