Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
138. Kenyataan


__ADS_3

Kennan mengendarai Honda HRV hitamnya menuju rumah sang Bunda.


Setelah pulang sekolah dan berganti baju, dirinya merasa bosan berada di dalam apartemen sendirian.


Kesehariannya yang selalu bersama Tita membuatnya merasa kesepian setelah hari ini Tita tidak pulang bareng dengannya.


Hari ini dirinya memang mengizinkan Tita untuk menikmati waktunya untuk bersenang - senang dengan sahabatnya.


Brak.


Kennan menutup pintu mobil dengan tergesa setelah turun dari Honda HRV nya. Kennan terburu - buru karena merasa cacing di perutnya memberontak ingin diberi makan.


"Mbok ...." seru Kennan saat memasuki dapur di rumah keluarga Atmadja.


"Eh Aden" Mbok Darmi terjengit kaget.


"Masak apa Mbok? laper neh." Kennan bertanya sambil menepuk perutnya.


"Ada sop buntut sama ayam goreng, juga tahu goreng, ini baru aja selesai digoreng." Mbok Darmi mendekat ke arah meja makan dengan membawa piring berisi tahu goreng yang masih mengepulkan uap panas.


Kennan yang sudah duduk di meja makan membau aroma masakan Mbok Darmi yang selalu saja menggugah selera.


"Aden sendirian?" Mbok Darmi bertanya sembari meletakkan piring berisi tahu goreng ke atas meja makan.


"Iya, Tita lagi ngemol sama sahabatnya Mbok." jawab Kennan dengan mengambil nasi.


"Aden gak nemenin?"


"Enggak Mbok. Kasihan dianya kalau Abang ikut, entar gangguin. Tita udah lama gak pernah keluar bareng temennya, cuma di rumah wae." ucapan Kennan terdengar sangat peduli pada Tita.


"Namanya juga pengantin baru, wajar kalau pengennya berduaan terus Den ...." Mbok Darmi tersenyum sembari menata makanan di meja makan.


"Mbok bisa ae ...." Kennan pun tersenyum simpul.


"Eh Mbok Abang lama gak makan ayam lodho, kapan - kapan bikinin ya Mbok. Suruh Mang Ujang anter ke apartemen." Kennan.


"Kalau masak ayam lodho mah Neng Tita lebih jago Den. Lebih enak masakan Neng Tita daripada masakan Simbok."


Kening Kennan mengerut.


"Yang bener Mbok?"


"Beneran Den ... Neng Tita kan jago masak. Sewaktu Aden sama Eneng tinggal di sini, simbok diajari membuat masakan yang beraneka macam. Makanya masakan simbok sekarang bervariasi. Kata nyonyah udah seperti masakan ncep - ncep di hotel berbintang hehehe ...." ucap Mbok Darmi semangat disertai kekehan kecil.


"Memangnya setelah tinggal berdua, Neng Tita gak pernah masak buat Aden?"


Hek.


Kennan menelan ludahnya kelat.


"Em gak juga sih Mbok ... cuman masaknya yang sederhana - sederhana aja, kek bikin tumis, sop. Yang simpel - simpel gitu, soalnya kasihan ... dia kan harus mengurus apartemen, sekolah juga sampai sore." Kennan terpaksa berbohong.


Padahal selama ini Tita memang tidak pernah memasak untuk Kennan. Karena dulu Kennan melarang Tita memasak untuknya dengan alasan dirinya tidak mau memakan masakan Tita yang dianggapnya tidak bisa memasak.


Dan sampai sekarang Kennan belum pernah menyinggung Tita untuk mencoba memasak untuknya, meskipun hubungan mereka sudah dibilang sangatlah dekat. Mendengar kenyataaa bahwa Tita jago masak, membuat Kennan merasa bersalah.


Saat ini Kennan terlihat mengaduk makanannya tanpa semangat. Entah kemana perginya rasa lapar yang tadi sempat membawanya gegas menuju rumah sang bunda.


"Assalamualaikum Abang ...!" seru Bunda Vida saat memasuki ruang makan yang menjadi satu dengan dapur bersih di keluarga Atmadja. Sepertinya beliau baru pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja.


"Eh Bunda ... Waalaikumsalam." sahut Kennan menoleh ke arah bundanya.


"Abang datang sendiri?" Bunda Vida bertanya sembari mendudukkan diri pada kursi yang berhadapan dengan Kennan.


Kennan mengangguk.


"Tita gak diajak?" lagi Bunda Vida bertanya.

__ADS_1


"Tita lagi jalan - jalan sama sahabatnya Bun."


"Oh gitu. Ya gapapa lah Bang, kasihan juga kalau dia hanya di rumah terus. Sesekali Abang biarin dia bergaul, bersosialisasi dengan temannya."


"Iya Bun."


"Dia pamit kan sama Abang?!"


"Pamit lah Bun ... Bunda gimana sih. Kalau gak pamit mana Abang tahu di pergi kemana." jawab Kennan.


Bunda Vida tersenyum sambil memandang anak lelakinya.


"Alhamdulillah ya Allah ... semoga hubungan mereka semakin baik. Sepertinya anakku sudah mulai menerima pernikahannya." Bunda Vida berucap dalam hati.


"Abang makannya kok seperti gak nafsu gitu, keliatannya masih anget semua kok masakan simbok ...." Bunda Vida terlihat heran melihat Kennan yang tidak terlalu semangat makan.


Padahal menu yang tersaji adalah sop buntut kesukaan Kennan.


"Hehehehe ... biasa makan bareng sama Tita, makan sendiri jadi hambar Bun ...." jawab Kennan dengan terkekeh kecil.


"Cie yang baru ditinggal isteri sebentar wae udah gabut ... baru juga ditinggal jalan - jalan Bang, udah kangen aja ...." goda bunda Vida pada Kennan.


"Ck ... bukan gitu maksud Abang Bun. Biasanya kalau makan sama Tita kan sambil ngobrol, kadang disuapin juga ...."


Hek ...


Kennan menutup mulutnya, menyadari bahwa seharusnya ia tidak mengatakannya pada Bunda Vida.


"Uluh ... uluh ... anak Bunda bisa manja juga. Pakek acara makan disuapin segala, mau Bunda suapin po sekarang?!" Bunda Vida mengerlingkan mata pada Kennan.


"Enggak!! Ah Bunda bikin Abang malu wae." Kennan mencebik.


"Ya udah ... Bunda temenin makan deh Bang, biar Abang semangat makannya."


Bunda Vida mengambil piring kosong kemudian menuangkan nasi berserta sayur sop buntut dan lauk pauknya.


"Hissh ... Bunda apaan seh ...."


Akhirnya anak dan bunda tersebut memakan makanan mereka diselingi dengan obrolan ringan. Hingga tanpa sadar Kennan pun telah menghabiskan makanannya yang tadi sempat hanya diaduk saja.


"Abang gak jemput Tita?" Bunda bertanya setelah mengakhiri makannya.


"Enggak ... mau pulang sendiri katanya. Soalnya Tita mau maen sepuasnya. Soalnya semenjak nikah, baru kali ini dia maen sama temennya Bun." jawab Kennan.


"Benarkah?!!" Bunda melebarkan kelopak matanya.


"Abang gak melarang Tita buat berteman kan?"


"Enggaklah Bun, mana ada Abang ngelarang. Emang Titanya wae yang betah berduaan sama Abang hehehe ...." ucap Kennan dengan kekehan.


"Abang pedenya ... tapi inget ya Bang ...."


"Iya Bun ... iya ... Abang inget."


"Inget apa coba?!" tanya bunda Vida kepada anak lelakinya.


"Jangan buat Tita hamil dulu ya Baaang ...." jawab Kennan dengan menirukan gaya bicara Bundanya.


Bunda Vida tersenyum geli saat melihat Kennan berbicara menirukan dirinya.


"Kalian kan masih sekolah, kasihan Tita kalau harus hamil sebelum lulus Bang,"


"Lagian Bunda aneh, anaknya disuruh nikah ... giliran udah nikah, menantunya gak boleh hamil. Abang kan juga lelaki normal Bun, apalagi tiap hari tidur barengan. Mosok harus menahan terus Bun, kan iman Abang juga bisa goyah." protes Kennan pada bundanya.


"Kan bisa pakai cara Abaang ...." ucap bunda Vida penuh penekanan .


"Iya Bun ... iya, Abang paham kok."

__ADS_1


"Oh iya Bang ... mumpung Bunda ingat." Bunda Vida terlihat mengobrak - abrik mencari sesuatu di dalam tasnya. Kemudian beliau mengeluarkan dompet dari dalam sana dan membukanya.


Sedangkan Kennan memperhatikan bundanya dengan diam.


Bunda Vida mengeluarkan kartu atm dari dalam dompetnya dan menyerahkannya pada Kennan.


"Ini berikan sama Tita. Bilang kalau ini dari abang, soalnya kalau bunda yang kasih pasti dikembalikan lagi."


Kening Kennan mengerut.


"Bukane Bunda udah kasih ke Tita?"


"Iya ... tapi Tita enggak mau menerimanya Bang, dikembalikan lagi ke Bunda. Katanya udah dapat dari Abang." Bunda Vida meletakkan atm ke telapak tangan Kennan.


"Untuk sehari - hari pakai ini aja, uang Abang ditabung aja buat masa depan kalian."


Kennan terhenyak, memandangi kartu atm di tangannya dengan heran.


"Selama ini Tita pakai uang dari mana, gue kan gak pernah kasih uang ke dia ... terus uang jajan gue tiap hari??" tanya kennan dalam hati.


Berbagai pertanyaan memutari kapala Kennan sekarang. Perasaan bersalah semakin dalam di hati Kennan.


Mungkinkah ini alasan Tita keukeuh tidak mau berhenti bekerja ..., pikir Kennan dalam hati.


...🍭🍭🍭🍭...


Setelah mendapati kenyataan Tita yang jago masak serta kenyataan bahwa Tita tidak menerima atm dari bundanya, Kennan bergegas kembali ke apartemen.


Kennan duduk di sofa sambil memijit pelipisnya yang tiba - tiba terasa pening. Tak lama kemudian meraih ponsel pintarnya dan menghubungi Tita.


Namun setelah menghubungi berulang tidak ada respon dari Tita, Kennan menghentikan panggilannya.


"Mungkin dia lagi asyik dengan sahabatnya." gumam Kennan sambil memandangi ponselnya yang tidak berhasil menghubungi Tita.


Kennan pun beranjak menuju pantry, membuka kulkas dan mengecek persediaan bahan makanan di sana.


Setelah melihat kondisi kulkasnya yang kosong, hanya tinggal beberapa kotak susu yang tersedia Kennan pun berinisiatif untuk pergi belanja kebutuhan dapurnya.


"Belanja bahan makanan untuk mengajak Tita memasak berdua nanti malam mungkin asyik. Sekalian memberikan atm dari bunda untuk kejutannya. Gue juga harus jujur tentang kafe tempatnya bekerja ...." gumam Kennan dengan tersenyum sendiri.


Kennan pun keluar apartemen untuk menuju minimarket yang tidak jauh dari apartemen.


Kennan berjalan dengan tidak berhenti menyunggingkan senyum pada bibirnya, sambil membayangkan reaksi Tita nantinya.


Namun saat minimarket hanya tinggal beberapa langkah di depannya, pandangan mata Kennan mendapati sosok tubuh jangkung si ketos yang membuka pintu mobil.


"Ngapain itu si ketos di sini??" gumam Kennan penasaran memandangi dari tempatnya berdiri.


Hek.


"Tita" ucap Kennan lirih menyebut nama isterinya.


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2