Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
217. Pengakuan


__ADS_3

Kennan menghirup oksigen dalam kemudian melepaskannya perlahan.


Kedua tangannya merengkuh pinggang ramping sang isteri dengan semakin mengeratkan pelukannya. Hingga membuat wajah tampannya menempel sempurna di bawah gunung kembar sang isteri.


Jantung Kennan berdegub dengan kencang, bukan karena otak mesumnya treveling menginginkan yang aneh aneh melainkan karena dirinya mencoba berdamai dengan masa lalunya.


Kennan memutuskan akan mengatakan kebenaran tentang kecelakan kakak lelaki Tita yang selama ini menghantuinya. Kennan tidak ingin selamanya hidup dalam rasa bersalah yang tidak berujung.


Apapun reaksi Tita setelah dirinya mengatakan kebenarannya Kennan akan menerimanya. Kennan tidak ingin menyembunyikannya lebih lama lagi.


Apapapun resikonya Kennan akan menanggungnya kecuali satu yang Kennan tidak sanggup. Kennan tidak mau jika Tita meninggalkannya jika setelah mengetahui kebenarannya.


"Abang jangan kek gini... Tita geli." Tita dengan menggeliat dan menahan kepala Kennan yang menyusup di bawah gunung kembarnya.


Kennan pun beringsut, sedikit menjauhkan kepalanya kemudian mendongak. Kedua manik hitam Kennan tidak berhenti memandangi wajah Tita yang menunduk ke arahnya.


"Abang ngapain liatin Tita kek gitu...."


Kennan tidak bereaksi tetap saja tanpa memutus ataupun mengalihkan pandangan dari wajah cantik Tita.


"Bang..." Tita menoel hidung mancung sang suami.


"Dek..." Kennan dengan pandangan yang sulit diartikan menurut Tita.


"Abang aneh... dipanggil malah gantian manggil. Lagian jangan liatin Tita kek gitu, bikin Tita takut wae..." Tita hendak beranjak dari pangkuan Kennan, namun dengan cepat Kennan menahannya.


"Di sini wae, gue mau ngomong." Kennan dengan jantung yang kembali berdegub kencang.


"Mau ngomong apa... serius banget keknya..." Tita dengan memandangi wajah Kennan.


"Iya ini serius, duarius malah..." Kennan mencoba bercanda untuk mengusir kegugupannya.


Tita tersenyum tipis dalam benaknya bertanya tanya apa gerangan yang ingin dikatakan oleh suaminya.


"Abang mau ngomong apa seh, kok deg degan kek gini?" Tita dengan menyentuh dada bidang suaminya.


Karena degub jantung Kennan berdetak kencang dan posisi keduanya yang sangat dekat membuat Tita mampu merasakan deguban tersebut.


"Kecelakaan Satya..." Kennan menghentikan ucapannya, lidahnya terasa kelu.


"Kenapa sama kecelakaan kak Satya?" Tita mengernyit bingung.


Kennan menangkup erat jemari Tita yang masih menyandar pada dada bidangnya seolah Kennan ingin meminta keberanian dari Tita untuk melanjutkan ucapannya.


Kennan menghembuskan nafas dalam.


"Seharusnya gue yang mengalaminya bukan kakak lo." Kennan mengucapkannya dengan bibir yang bergetar.


Hening.

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari gadis yang masih duduk nyaman di pangkuannya. Namun Kennan merasakan jika tubuh yang masih duduk di pangkuannya itu sedikit menegang. Sepertinya Tita terkejut akan kata kata yang keluar dari mulutnya.


Kennan pun mendongak menatap Tita yang masih termenung mencerna ucapannya.


"Seharusnya gue yang mati karena kecelakaan itu, karena gue yang harusnya jadi jokinya waktu itu. Bukan kakak lo." Kennan memperjelas maksud ucapannya dengan perasaan was was akan reaksi Tita padanya.


Tita masih saja terdiam, sepertinya gadis itu sedikit syok setelah mendengar pengakuan sang suami.


"Dek... gue minta maaf, kalau saja Satya nggak ngegantiin gue dia nggak bakal ngalamin itu. Dia pasti masih ada buat ngelindungin elo..." Kennan menundukkan kepala dengan suara parau. Kennan tak mampu melihat reaksi isterinya.


Sungguh Kennan telah berusaha keras untuk berdamai dengan masa lalunya, namun tetap saja ingatan kejadian kelam yang merenggut nyawa sahabatnya itu membuat dirinya tidak mampu menahan air mata.


Terdengar hembusan nafas berat dari Tita.


"Abang gak perlu minta maaf... apapun yang terjadi sama kak Satya itu sudah takdir. Abang nggak salah..." Tita berucap tulus dengan mengusap lembut surai hitam sang suami.


Terdengar isakan lirih dari bibir Kennan. Sepertinya cowok beku nan datar itu tak kuasa menahan tangisnya. Dengan kepala yang masih menyusup di atas perut Tita, Kennan menumpahkan tangisnya.


Dengan lembut jemari Tita tidak berhenti menyusup pada helaian surai hitam Kennan, mengusap serta membelai. Mencoba memberikan ketenangan pada sang suami.


"Bagaimanapun cara kakak Tita berpulang itu sudah menjadi kehendak Allah bang. Entah bagaimana caranya, baik itu karena kecelakaan, sakit ataupun sebab yang lain jika memang Kak Satya semestinya berpulang kita enggak mungkin dapat mencegahnya." Tita tanpa menghentikan usapan pada surai hitam Kennan.


Sejujurnya Tita memang telah mengikhlaskan takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan kepadanya. Terlepas dari pahit manisnya kehidupan yang pernah dilaluinya, Tita tetap bersyukur dengan jalan hidupnya.


"Tita udah punya abang sekarang, Tita nggak perlu sedih lagi bukan? Lagi pula tanpa kehilangan, Tita juga nggak mungkin memiliki abang sebagai suami Tita... Iya kan??"


Kennan tidak menyahut, memilih semakin mengeratkan pelukannya, tangisan Kennan pun semakin terdengar jelas.Tidak menyangka dengan kelembutan hati Tita yang tidak marah maupun menyalahkan dirinya. Bahkan terdengar mensyukuri takdir yang tekah membawa mereka bersatu. Padahal selama ini Kennan sering sekali mengalami kesulitan saat ingatannya kembali pada kejadian itu. Sepertinya seluruh ganjalan peristiwa masa lalu akan terbuang mulai saat ini.


Beberapa saat Tita membiarkan suaminya menyembunyikan wajah dan menumpahkan tangisannya di atas perut ratanya. Memberikan ruang untuk suaminya melepaskan masa lalu yang tentunya menghimpit dadanya selama ini.


"Abang..."


Hem...


Kennan masih setia menyembunyikan wajahnya pada perut Tita, layaknya anak kecil yang merajuk pada bundanya.


"Abang nggak capek kek gini terus?" tanya Tita dengan memberikan belaian lembut pada surai hitam Kennan.


Tidak ada sahutan dari Kennan.


"Punggung abang nggak sakit?" Tita kembali bertanya.


Perlahan Kennan beringsut, menegakkan kepala juga tubuhnya kembali.


Tita terkekeh kecil saat melihat wajah sembab suami tampannya.


"Abang bisa nangis juga ternyata..." Tita menggoda sembari mengusap lembut sisa air mata yang masih membasahi pipi sang suami.


"Minta es krim nggak diturutin sama mamanya ya dek..." Lagi Tita menggoda sang suami. Kennan pun mencebik, menunjukkan wajah manyunnya.

__ADS_1


"Gue bukan anak kecil dek." Kennan dengan tatapan kesalnya dengan bibir yang masih mengerucut karena kesal akan godaan isterinya.


"Abang imut kalau kel gini, jadi pengen deh sama ini..." Tita menguncup bibir manyun sang suami.


Kennan melebarkan kedua matanya, terkejut akan tindakan serta ucapan sang isteri.


"Dek elo jadi berani sama gue, mentang mentang lo lihat gue nangis."


"Tita nggak berani kok, Tita kan cuma ngomong kalau Tita pengen nyium in... Hek...." Tita menutup mulutnya dengan tangan saat menyadari ucapannya.


"Nggak papa kok elo minta duluan, gue sukak...." Kennan tersenyum, membuat kedua mata sembabnya semakin menyipit.


"Abaang... ih..." Tita memukul pelan bahu Kennan.


"Nggak usah malu, elo kangen kan sama ciuman gue."


"Enggak..." Tita memalingkan wajahnya.


"Nggak usah bohong." Kennan terkekeh kecil.


"Nggak usah mesum, habis nangis jugak." Tita masih bertahan dengan wajahnya yang berpaling dari Kennan.


"Mesum itu kebutuhan dek... bisa bikin Batavia dan panjang umur." Kennan berucap dengan merubah posisi duduk Tita untuk menghadapnya.


Meskipun sempat mendapat penolakan dari Tita namun akhirnya gadis itu memilih pasrah menuruti keinginan sang suami.


"Gini kan lebih enak." Kennan dengan menarik kedua tangan Tita, mengalung pada lehernya.


"Enaknya di abang doang." wajah Tita masih enggan berhadapan dengan Kennan, karena jika itu terjadi maka sudah dapat dipastikan dirinya juga tidak dapat membendung hasrat kerinduannya pada sang suami. Tita ingin memilih bersikap sok jual mahal.


"Yakin elo nggak ngerasain enaknya..." Kennan tersenyum nakal dengan tangan yang sudah mulai menelusup di balik dress rumahan yang Tita kenakan.


"Engg... aww..." Tita menjerit kecil tanpa melanjutkan ucapannya saat merasakan salah satu pucuk gunung kembarnya dipelintir oleh jemari Kennan.


"Enak atau sakit..." Kennan masih dengan senyum nakalnya, memandang penuh hasrat pada wajah Tita yang segera menghadap ke arahnya saat merasakan pucuk kembarnya dibuatnya mainan sang suami.


"Sakit tau bang..." Tita berusaha menahan gerakan tangan Kennan.


"Tapi enakkan??" Kennan dengan memajukan wajahnya hingga berhasil mendarat pada bibir ranum milik Tita.


Tita yang sejatinya juga menginginkan sentuhan bibir tebal sang suami, akhirnya membalas ciuman Kennan.


Setelah beberapa saat, mereka berdua melepaskan tautan bibir mereka. Menyatukan kening dengan nafas yang terengah.


"Dek lanjutin di ranjang ya..." Kennan parau.


Kennan pun dengan segera membopong tubuh Tita layaknya anak koala dalam gendongannya, setelah mendapatkan anggukan kepala dari Tita.


Pergumulan panjang pada pasangan remaja itu akhirnya kembali terjadi, menyatukan rasa rindu yang menggebu serta menyisihkan segala permasalahan yang sempat membuat hubungan keduanya merenggang.

__ADS_1


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2