Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Part 225


__ADS_3

Beberapa saat setelahnya pramuniaga yang telah meninggalkan Tita beberapa saat lalu kembali lagi dengan membawa beberapa gaun di tangannya.


Berjalan mendekati Tita lalu meletakkan gaun tersebut pada gantungan yang tak jauh dari tempat duduk Tita.


"Mari mbak saya bantu mencoba gaunnya." Ucap pramuniaga tersebut dengan tersenyum sopan.


Tita menautkan kedua alis matanya.


"Mencoba gaun?" Tita dengan wajah lingglungnya.


Pramuniaga tersebut mengangguk tersenyum.


"Ini semua?" Lagi Tita bertanya. Kali ini dengan memperlebar kelopak matanya.


Lagi lagi pramuniaga tersebut mengangguk, tentu saja tanpa menyurutkan senyum dari bibirnya.


"Ini kan banyak mbak, masak Tita harus coba semuanya sih..." Tita dengan memandang deretan gaun yang berjejer rapi di tempatnya.


"Iya mbak mas Kennan yang memilihkan untuk mbak."


"Benarkah?" Tita dengan pandangan seolah tak percaya. Memandang pramuniaga serta gaun dalam gantungan silih berganti.


"Benar mbak."


Tita pun beranjak mendekati gantungan baju, tangannya terulur menyibak gaun gaun tersebut dengan mengagumi keindahan baju pilihan sang suami. Dalam hati Tita memuji selera Kennan yang ternyata tidak main main.


"Tita coba yang ini aja ya mbak." Tita dengan mengacungkan sebuah gaun yang memiliki desain paling sederhana menurutnya. Tita yakin harga gaun gaun tersebut pasti mahal.


"Mari saya bantu mbak."


Tita tersentak terdiam sesaat lalu setelahnya,


"Saya bisa sendiri mbak, mbak bisa tolong keluar dulu." Tita dengan sedikit jengah.


"Saya akan tetap di sini mbak, mas Kennan berpesan kalau saya harus memastikan mbak Tita berpenampilan sempurna malam ini."


Tita mengerutkan kedua alis matanya.


"Saya harus buka baju di depan mbak gitu?"

__ADS_1


"Nggak papa mbak kita kan sama sama perempuan. Lagian mbak pakai pakaian dalam kan?" Pramuniaga tersebut terlihat keukeuh.


Abang apa apaan sih, mosok Tita harus ganti baju di depan orang lain... Tita menggerutu dalam hati.


"Maaf mbak saya nggak nyaman kalau ada orang lain saat ganti baju." Tita berusaha mengusir prmauniaga tersebut dengan halus.


"Tapi mbak mas Kennan berpesan..." Belum sampai pramuniaga tersebut menyelesaikan ucapannya, Tita memotongnya dengan cepat.


"Kalau gitu saya minta tolong mbak panggilkan mas Kennan sebentar ya, biar saya berbicara dengannya."


Pramuniaga tersebut pun keluar dari bilik ruang ganti yang lebih patut disebut sebagai ruang ganti sultan untuk memanggil Kennan.


Sepeninggal pramuniaga tersebut, Tita pun dengan segera melepas baju dan menggantinya dengan gaun yang telah dipilih olehnya.


Tita melakukannya dengan secepat kilat dengan mulut yang tidak berhenti merutuki sang suami yang menyuruh orang lain bersamanya saat ganti baju. Meskipun itu seorang perempuan namun Tita tetap saja tidak akan melakukannya.


Hingga saat hendak menarik resleting bagian belakang, Tita merasa kesusahan.


"Aduh gimana nih..." gerutu Tita dengan kedua tangan yang berusaha keras menaikkan resletingnya.


"Gak bisa kan..." Terdengar suara Kennan yang diiringi dengan derap langkah sepatunya memasuki ruang ganti.


Tita pun dengan segera membalikan tubuhnya.


"Makanya nurut, dikasih orang biar bisa bantuin malah nolak." Kennan meraih resleting pada belakang gaun Tita lalu menariknya ke atas.


"Habisnya Tita nggak kenal bang, nggak nyaman jadinya mosok ganti baju diliatin." Tita dengan kikuk.


"Terus maunya sama gue gitu..." Kennan menggoda Tita.


"Abang ihh..." Tita memukul pelan bahu suaminya, membuat Kennan meringis kecil. "Maksud Tita nggak gitu." bibir Tita mengerucut saat berucap kata.


"Kan kalau sama gue kenal, lagian kita kan udah sering naked bareng..." Kennan berbisik lirih dengan membalik tubuh Tita menghadap ke cermin. Kedua mata Tita pun membola mendengarnya.


"Abaang... nanti ada yang denger bisa bikin salah paham..." Tita mengeram kesal.


"Omongan gue bener kok, gak salah. So gak bakalan bikin orang salah paham."


Kennan mengabaikan kekesalan Tita dengan tak memutus pandangan pada cermin di depannya.

__ADS_1


"Elo menggemaskan kalau lagi kesel kek gini, jadi pengen nyicip bakpao lo." Kennan mencubit pipi Tita yang menggembung.


"Abang ihh... berhenti godain Tita." Tita kesal bercampur malu karena ternyata dirinya menangkap bayangan pramuniaga yang tadi membersamainya pada cermin di depannya.


Pramuniaga tersebut terlihat tersenyum tipis saat melihat interaksi Kennan dan Tita. Merasa kagum akan kedekatan keduanya yang terlihat akur.


"Gimana mas sudah oke belum sama gaun yang dipilih adiknya?" Pramuniaga bertanya seraya mendekat.


"Maaf dia bukan adik gue. Dia cewek gue." Kennan menoleh dengan menunjukkan wajah seolah tidak terima.


"Oh maaf mas, kirain adiknya. Setahu saya pacar mas Kennan kan yang it... ttu... Ups...." Pramuniaga tersebut menepuk mulutnya setelah menyadari kesalahan ucapannya.


Spontan Kennan menatap ke arah pramuniaga dengan mata mendelik. Kennan takut jika Tita mendengar dan membuat isterinya yang sempat ngambek beberapa saat lalu itu salah paham.


Di sisi lain, Tita menggerakkan ekor matanya, melirik sesaat pada pramuniaga dan sang suami silih berganti. Tita mendapati wajah pramuniaga tersebut sedikit pias, sepertinya Kennan memberikan wajah marah. Entahlah, Tita juga tidak tahu karena posisi Kennan membelakanginya. Karena tidak ingin memperkeruh suasana Tita memilih kembali ke posisi semula seolah tidak mendengar perkataan sang pramuniaga. Tita tidak ingin kencannya kali ini gagal lagi.


"Dek, elo nyaman gak pakek baju ini?" Kennan dengan lembut serta merengkuh kedua bahu Tita dari belakang serta mensejajarkan wajahnya dengan wajah Tita. Tak lupa memberikan senyum pada wajah tampannya meski dalam hati Kennan berharap jika Tita tidak mendengar ucapan pramuniaga beberapa saat lalu.


"Nyaman wae. Bajunya pas kok gak kebesaran juga nggak kekecilan." Tita dengan memandangi cermin di depannya. Di mana dirinya dan Kennan memakai baju dengan warna senada.


Kennan dengan setelan tuxedo berwarna navy yang membuat aura ketampanannya menguar serta Tita yang memakai gaun malam yang menutup seluruh tubuhnya. Meski Tita masih mengenakan pasmina berwarna tawny miliknya namun hal itu tidak menyurutkan parasnya yang cantik. Bahkan tetap terlihat pas meski warna pasminanya bertabrakan dengan gaun malamnya yang juga senada dengan tuxedo yang dikenakan oleh Kennan.


"Emangnya kita mau kemana sih bang pakek baju kek gini?" tanya Tita.


"Dinner." Kennan dengan menatap lurus cermin di depannya yang menunjukkan siluet keduanya.


"Dinner?" Tita berucap dengan nada kaget.


"Iya. Kenapa? Lo nggak mau?" Kennan datar.


Emm... Tita mengeratkan bibirnya ragu.


"Kenapa?" Kennan menatap Tita dengan tatapan menyelidik meski melalui cermin.


Emmm... Tita menautkan jemari, meremasnya.


"Ngomong wae... takut banget seh..." Kennan seolah memahami situasi Tita.


"Tita boleh pilih yang lain gak?" Tita takut takut.

__ADS_1


Wajah Kennan yang semula datar berubah mengerut setelah mendengar ucapan Tita.


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2