Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Part 232


__ADS_3

"Abang kemana ya?" gumam Tita lirih saat berjalan meninggalkan kelas sang suami.


"Kenapa nggak menghubungi Tita, telfon atau kirim pesan juga enggak. Biasanya nggak kek gini..." pikir Tita dengan berjalan lambat untuk menuju kelasnya.


"Kata Arya abang kek buru buru. Ada apa ya.. siapa yang nelfon abang tadi?" Berbagai pertanyaan memutari tempurung kepalanya.


"Loh Tita... kirain lo ikut Kennan pulang?!" Irsyad saat keduanya bersamaan di ambang pintu kelas.


Keduanya sama sama memasuki kelas, hanya saja dari arah yang berbeda.


Tita yang semula tidak memperhatikan sekelilingnya karena sibuk berkutat dengan pertanyaan, pun mendongak.


"Eh Irsyad..." Tira saat mendapati sosok sahabat Kennan yang satu kelas dengannya.


"Enggak kok, jam terakhir kan ada kuis kita." Tita memberi alasan pada Irsyad karena tidak ingin merangkai kata untuk membuat alasan. Toh memang di jam pelajaran bahasa yang berada di akhir jadwal mereka nanti memang ada kuis. Guru mata pelajaran bahasa telah mengumumkannya pada hari sebelumnya.


Tita memang tidak terbiasa terbuka dengan orang lain, mengingat gadis itu tidak memilik banyak teman dan tidak pandai bergaul. Dia memilih menyimpan sendiri apa yang ada di pikirannya. Meskipun rasa penasaran mendera hatinya, tetap saja Tita tidak nyaman untuk membaginya dengan orang lain. Apalagi dengan teman yang berlainan jenis.


"Emangnya ada apa seh, Kennan kek buru buru banget tadi..." entah itu hanya gumaman atau pertanyaan dari Irsyad untuk Tita. Karena saat mengungkapkan Irsyad seolah berfikir sendiri.


"Nggak tau, abang nggak ngomong?" Tita tetap saja menyahut sembari berjalan menuju bangkunnya.


Irsyad mendelik, mendudukkan diri di bangkunya. "Kennan nggak ngabarin lo?"


Tita yang telah duduk pun menoleh. "Ah... nggak jelasin detail maksudnya, cuma nyuruh Tita pulang sendiri aja."


Tita pun terpaksa harus berbohong.


Irsyad manggut manggut, sedikit pun tidak menaruh curiga. Karena dirinya dan Tita memang tidak terlalu dekat. Selain itu raut wajah Tita terlihat santai saat mengatakannya.


Sungguh Tita sangat pandai menutupi pergumulan hatinya.


"Nggak biasanya dia kek gitu. Gue teriak panggil aja dianggurin." Irsyad.


"Dimana?" Tita menoleh setelah mendengar ucapan Irsyad.


"Heh... apanya?"


"Di mana ketemu abang?"


"Oh itu... tadi pas gue dari ruang guru buat ngumpulin tugas anak anak, ketemu sama dia di ujung koridor arah parkiran." jelas Irsyad.


"Buru buru banget ya?" selidik Tita.


Irsyad mengerutkan kening, seolah mengingat.

__ADS_1


"Banget. Fokus sama hapenya doang."


Kalimat Irsyad membuat Tita sedikit terhenyak.


"Ada apa sih sebenarnya..." gumam hati Tita.


Tangan Tita pun kembali merogoh ponsel dan membuka aplikasi chatnya.


Tidak ada satu pun pesan dari sang suami. Sekedar pamit ataupun sesuatu.


Tita beralih pada riwayat panggilan pada ponsel pintarnya.


Zong....


Lagi lagi tidak ada jejak yang ditinggalkan oleh sang suami.


Tita pun menghembuskan nafas panjang, untuk melepaskan segala kegundahan di hatinya.


Memasukkan ponselnya ke dalam loker mejanya karena guru mata pelajaran selanjutnya sudah memasuki kelas.


"Selamat siang anak - anak..."


"Siang Pak!!"


🍭🍭🍭


Pikirannya berkelana pada Kennan, sang suami yang tetiba pergi begitu saja. Meninggalkan sekolah tanpa mengabarinya.


Banyaknya praduga membuat Tita tidak bisa berfikir tenang.


Entah mengapa hati dan pikirannya tidak bisa tenang saat ini.


Kepala Tita yang semula menunduk, segera mendongak karena terdengar decit rem kendaraan bermotor di depannya.


Tita pun segera mengambil langkah pergi menuju si biru tayo yang bakal membawanya untuk pulang ke apartemen.


Tita duduk merenung di dekat jendela kaca yang menjadi tempatnya duduk, hingga tanpa terasa si biru tayo pun bergerak meninggalkan halaman sekolahnya.


Deretan bangunan serta pepohonan seolah bergerak, silih berganti menyertai laju si biru tayo yang berjalan cepat semakin menjauh.


🍭🍭🍭


Berulang kali Tita memandang jam dinding di kamarnya, jarum jam menunjukkan angka 9 tepat. Akan tetapi tidak ada tanda tanda Kennan pulang.


Semenjak dari kepergiannya dari sekolah siang tadi, suami Tita Andriana tersebut belum menampakkan batang hidungnya di apartemen. Entah kemana perginya, tidak ada jejak kabar untuk Tita.

__ADS_1


Bahkan Tita telah berulangkali mencoba menghubungi sang suami, namun hanya terdengar operator yang memberitahu jika ponsel suaminya tersebut sedang tidak dapat menerima panggilan atau tidak aktif. Begitu berulangkali hingga Tita pun lelah.


Jejak pesan yang ditinggalkan Tita pun tidak dibaca oleh Kennan. Bahkan masih menandakan tentang satu yang berwarna abu abu. Hal itu menandakan jika ponsel sang suami belum dibaca atau mungkin memang sengaja diabaikan oleh empunya.


Tita yang saat ini sedang meyelesaikan tugas sekolahnya, tidak bisa konsentrasi sama sekali.


Meski raganya duduk tenang di balik meja belajarnya, namun pikirannya melayang jauh entah kemana.


Tak satu pun soal tugas rumahnya mampu dia kerjakan. Tangan kanannya tidak berhenti mengetukkan ujung pulpen ke atas meja belajar, sembari mencoba menerka keberadaan sang suami.


Hingga beberapa saat kemudian terdengar sebuah alunan merdu sebuah petikan dawai guitar yang diiringi oleh suara merdu yang Tita hafal. Siapa lagi pemilik suara merdu itu jika bukan Kennan suaminya.


Tita pun menegakkan wajah, mencoba mendengar lebih jelas untuk memastikan jika suara itu adalah suara Kennan suaminya.


Sayup sayup semakin terdengar jelas alunan suara merdu tersebut.



"Abang..." gumam lirih Tita dengan kedua kening yang mengerut.


"Benar itu suara abang..." lagi gumaman itu keluar dari mulut Tita.


Tita pun beranjak dari duduknya, sembari mempertajam indra pendengarannya untuk memastikan jika lantunan lirik lagu yang ia denger itu adalah suara Kennan sang suami.


Kedua kaki jenjangnya bergerak, melangkah menuju pintu kamar.


Tita menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri setelah keluar kamar. Memindai ruang tamu yang tampak kosong untuk mencari keberadaan Kennan.


Lagi lagi kening Tita mengerut karena sosok yang dicarinya tidak ada di sana.


"Perasaan tadi beneran denger suara abang nyanyi deh, kenapa sekarang nggak ada ya..." ungkap Tita pada dirinya sendiri dengan heran. Karena saat dirinya keluar dari kamar suara itu tetiba hilang.


"Nggak mungkin kan kalau Tita tadi salah denger..." ungkapnya tanpa berhenti memindai seluruh ruangan apartemen, bahkan kedua ekor matanya bergerak hingga memindai ruangan dapur yang menyala terang. Tetap saja tidak ada sosok Kennan di sana.


Huh...


Tita mendengus, meluruhkan bahunya karena tidak menemukan Kennan suaminya.


"Mungkin beneran salah denger deh..." ungkapnya lirih, dengan tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.


Tita pun membalikkan tubuhnya dengan lesu, memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Baru saja melajukan kaki selangkah, kembali terdengar alunan merdu di gendang telinga Tita.


πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2