
"Anak anak sudah tidur mas?" tanya Tita saat Kennan memasuki kamar dan mengunci pintunya.
"Sudah."
"Nggak merengek lagi?" tanya Tita dengan wajah penasaran.
Bagaimana Tita tidak penasaran. Jika beberapa saat lalu kedua anak kembarnya yang layak disebut dengan tom and jerry itu seolah tidaklah berhenti bertengkar. Meski memiliki jenis kelamin yang berbeda tak berarti mampu membuat mereka berhenti bertengkar.
"Enggaklah. Mereka sudah tidur lelap di kamar masing masing." Kennan dengan menaiki ranjang. Menyibak selimut lalu masuk ke dalamnya.
"Cepat sekali mas?!" Tita masih memandang Kennan tak percaya.
"Kalau nggak percaya lihat sendiri sana." Kennan dengan merengkuh tubuh Tita ke dalam pelukannya.
Tita menahan dada bidang Kennan dengan kedua tangannya.
"Kalau nyuruh aku lihat mereka tu nggak main peluk kek gini mas. Gimana aku lihatnya coba?" Tita.
"Ya elah dek, nggak percaya banget sih sama kemampuan suami. Kamu pikir aku nggak bisa mengatasi mereka."
"Nggak mungkin mereka berdua langsung tidur lelap kek gitu mas baru juga lima belas menit mas mengantar mereka berdua ke kamar." Tita dengan pandangan mata ke arah jam dinding kamar.
Dan menurutnya tepat lima belas menit yang lalu Kennan mengantarkan kedua anak kembarnya.
"Mereka nggak minta dikelonin atau minta dibacain dongeng gitu?" Tita masih saja tidak percaya dengan kata kata Kennan. Mengingat selama Tita mengasuh kedua anak kembarnya itu dia harus menyediakan tenaga ekstra saat menidurkannya.
"Udah dek, beneran. Mereka udah lelap. Keanu aja udah mendengkur." Kennan meyakinkan.
"Bagaimana mas bisa melakukannya?" Tita dengan menatap Kennan kagum.
"Kek gitu mah kecil." Kennan dengan pongah.
"Ck... kumat sombongnya." Tita dengan berdecak.
"Nggak sombong sayang. Memang suamimu yang ganteng ini mampu kok."
"Narsis... narsis. Nggak berubah ya..."
Kennan terkekeh.
"Aku kek gini cuma di depan kamu doang yang." Kennan mendusel wajah Tita dengan hidung mancungnya.
"Ih... geli mas."
"Geli enak kan sayang." Kennan tetap dengan aksinya.
"Iyah." Aku Tita dengan tersenyum.
Mendengar pengakuan serta melihat senyum Tita yang selalu saja manis bak gula membuat hasrat kelakiannya kembali muncul.
Kedua matanya menatap lekat wajah cantik Tita yang terlihat tidak berubah. Tetap saja putih bersih, cantik alami seperti saat remaja dulu. Hanya saja sekarang terlihat lebih dewasa dan keibuan.
"Jangan liatin aku segitunya mas, nggak bosen apa..." Tita mencubit pucuk hidung Kennan dengan gemas. Karena suaminya itu terlihat menatapnya lekat.
"Gimana aku bisa bosan sama kamu dek. Yang ada aku nggak mau lepas dari memandang wajah cantikmu." Kennan dengan suara berat. Berat menahan hasrat yang mulai menyeruak kembali.
"Menikmati lembutnya kulitmu." Jemari Kennan dengan mengusap lembut pipi mulus Tita. "Juga manisnya ini, menjadi candu yang nggak bisa aku tahan sayang." Tangan Kennan sudah berganti menyusuri bibir Tita yang tetap saja ranum bak jambu merah yang baru dipetik.
"Benarkah?" Tita seolah menantang. "Enggak pengin yang lain?"
"Maksudmu dek?" Kennan menghentikan gerakan tangannya.
"Mas nggak pengin yang lainnya?"
Tatapan Kennan berubah tajam.
__ADS_1
"Aku nggak akan menginginkan wanita lain, cukup dirimu satu satunya dalam hidupku dek. Jangan ucapkan kata kata yang aneh." Kennan terdengar ketus.
Bukannya takut, Tita malah tersenyum lembut.
"Maksud aku bukan itu mas."
"Terus?"
"Cuma ini sama ini yang bikin mas candu. Yang lainnya enggak? Yang di bawah atau ini mungkin." Tita menggerakkan dua bukit kembarnya hingga menyentuh dada bidang sang suami.
Hal itu mampu menguatkan hasrat kelakian Kennan menjadi tak terbendung.
"Kamu yang memancingnya dek." Kennan dengan segera menindih tubuh Tita di bawahnya.
πππ
"Capek sayang." Kennan dengan menyisihkan anak rambut yang mengurai di kening isterinya. Lalu memberikan kecupan singkat setelahnya.
Tita hanya mengangguk dengan kedua mata yang masih terpejam. Dan terlihat menggigit bibir bagian bawahnya.
Deru nafasnya masih terengah akibat permainan panas yang telah Kennan lakukan beberapa saat lalu.
"Apa aku menyakitimu sayang?" Kennan tampak khawatir. Tangannya tidak berhenti menyibak helaian rambut hitam Tita yang setengah basah mengurai pada wajahnya.
"Enggak mas." Tita dengan gelengan kepala, namun kedua matanya masih tetap terpejam. Lagi lagi mengigit bibir bawahnya setelah mengucap kata.
"Kenapa kamu gigit bibirmu sayang?"
Menurut Kennan hal itu Tita lakukan untuk menahan sesuatu yang menyakitkan.
Perlahan Tita membuka kedua kelopak matanya. Kemudian membekap ringan mulutnya dengan salah satu telapak tangannya.
"Habisnya deru nafasku kuat banget mas." Tita menatap ke arah lain saat berucap kata.
Wajah tampan yanga masih bermandikan peluh itu tersenyum berbinar, menunggu jawaban sang isteri tercinta.
"Hey jawab sayang." Kennan dengan tak sabar karena Tita hanya memandangnya.
"Haruskah aku menjawabnya mas."
Bibir Tita mengerucut saat Kennan menuntut jawaban darinya. Padahal seharusnya Kennan tahu sendiri dari reaksi tubuhnya yang belum sepenuhnya rileks.
Kennan terkekeh.
"Hanya memastikan sayang. Alhamdulillah kalau aku masih bisa memuaskan kamu." Kennan merengkuh bahu polos Tita ke dalam dekapannya.
"Aku kan jadi malu."
"Maaf sayang. Aku cuma takut tidak bisa melakukannya dengan maksimal. Kamu tahu sendiri kan dia sudah berpuasa lima tahun lebih."
"Mas berlebihan. Kamu masih saja seperti dulu, kuat. Selalu melakukannya lebih dari sekali. Aku yang seharusnya takut tidak bisa mengimbangi permainan kamu mas."
Semburat merah mewarnai pipi Tita saat mengingat kembali permainan panas Kennan yang masih saja kuat dan memiliki stamina yang tinggi.
"Kamu tetap saja mampu mengimbangiku sayang. Meski sudah pernah dilewati duo bocil itu, gigitan kamu masih kuat. Masih terasa sempit."
"Mas apaan sih." Tita menepuk pelan dada polos Kennan.
Tak sedikitpun Kennan merasa kesakitan ataupun menepis tangan rangking sang isteri.
Kennan mengabaikan pukulan kecil sang istri. Suami tampan Tita yang telah menyelesaikan puasanya itu malah makin gencar menggoda sang isteri.
"Beneran sayang. Bikin aku semangat buat cetak lagi bibit bibit tampan kita di rahimmu." Kennan dengan senyum nakal.
Tita menghentikan aksi tangannya. Dahinya terlihat mengerut.
__ADS_1
"Cuma tampang doang? Nggak ada yang cantik?"
Kennan mengangguk cepat.
"Iya. Buat bikin kesebelasan timnas Indonesia."
"Nggak mau!" Tita berseru dengan wajah serius.
"Kenapa?" Kennan bingung.
"Enak di mas, gak enak di aku."
"Kok bisa?"
"Iyalah mas nanti banyak yang bantuin, sedangkan aku? Cuma sama kakak doang. Capek mas."
Hahahaha...
Kennan terbahak.
"Nanti biar aku ajarin mereka buat melakukan pekerjaan rumah tangga. Biar bisa bantuin bundanya."
"Tetep nggak mau."
"Loh kok?!"
"Mas pikir hamil sepuluh kali lagi itu enak?! Mas aja yang hamil sendiri sana."
"Yah... nggak mungkin dong aku hamil dek. Yang ada aku kek badut nanti."
"Ya kali aku harus cetak tim kesebelasan buat kamu." Tita mengerucutkan bibirnya.
"Gak papa. Kali ini aku akan selalu di sampingmu. Mulai dari hamil sampai melahirkan. Aku juga bakal bantuin kamu merawat tim kesebelasan kita sayang."
"Enggak mau." Tita dengan tidak berhenti menolak seraya menggerakkan tubuhnya.
Hingga membuat kedua tubuh polos dalam satu selimut itu saling bergesekan kembali. Tak ayal membuat tuas pabrik kecebong Kennan berdiri tegak.
"Sayang... lagi ya..."
Kennan tanpa menunggu persetujuan Tita kembali menaiki tubuh polos Tita
π¨π¨π¨π¨
Sudah lebih dari cukup yak part ekstranya...
Untuk yang kecewa sama alur maupun ending cerita bangkenn, othor mohon maaf yang sebesar besarnya.
Othor sudah berusaha sebisa mungkin untuk membuatnya berakhir happy ending.
Jujur saja othor sudah mentok... lebih baik buat lagi cerita baru yang lebih Fresh... betul tidak betulπ€π€π€
Dan......
Sudah saatnya berucap sayonara....
Lambaikan tangan dan say god bye...ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
Bonus pict keluarga kecil Bang Kenn sama neng Tita
Love you all My Beloved Readers.....
ππππππ
__ADS_1