
"Abang geli." Tita menggerakkan bahunya saat merasakan bibir Kennan menyusup belakang lehernya.
Hal itu tidak membuat Kennan menghentikan aksinya. Gerakan Tita justru membuat gairahnya membuncah.
"Abang..."
Hnm...
Bibir tebal basah itu semakin mengecup intens, merayap menyusuri leher jenjang sang istri.
Tita semakin menggeliat, berusaha menjauhkan lehernya dari jangkauan Kennan. Namun tetap saja Kennan mengikuti arah gerakan Tita.
"Abang!" Tita membalik tubuhnya segera.
Posisi keduanya berhadapan sekarang.
"Abang bau asem." Tita dengan melakukan gerakan mencubit hidungnya. Seolah memberi tanda pada Kennan jika Tita tidak nyaman dengan bau tubuh sang suami.
Salah satu tangan Kennan berusaha melepaskan tangan Tita dari hidungnya.
Tita menggeleng kuat untuk membuat Kennan tidak dapat menyentuh hidungnya.
Kennan tertawa kecil.
"Enggak sebau itu dek."
"Bauk... bau banget!" Tita sengau.
Kennan menarik tangannya dari pinggang sang isteri.
Melakukan gerakan mencium ketiak kanan kiri secara bergantian.
"Enggak bau ah, masih wangi."
"Hidung abang buntet." Tita masih dengan menjepit hidungnya.
"Ya udah gue nggak deket deket nih." Kennan seraya memundurkan kakinya selangkah ke belakang.
Huh...
Tita melakukan gerakan membuang nafas, seolah tubuh Kennan memang bau. Memperkuatnya dengan mengibaskan kedua tangan ke udara seolah mengusir bau asam yang mengganggu indera penciumannya.
Kennan mencebik.
"Elo jahat dek, bau gue enggak segitunya."
"Tetep bau kan bang..." Tita mengelap pinggiran wastafel bekasnya mencuci piring.
"Tapi kan baunya bikin kangen, iya nggak..." Tetiba Kennan telah menumpukan dagunya pada bahu Tita
Tita mengakhiri aktivitasnya dengan mencuci kedua tangan dan mengeringkannya dengan lap khusus tangan yang menggantung di area pantry.
Tentu saja Kennan masih dengan menggelayut pada bahu Tita.
"Abang..."
Tita membalik tubuhnya menghadap Kennan.
Hem...
__ADS_1
Kennan dengan tatapan manja.
"Abang kotor, belum mandi. Jangan peluk - peluk Tita mulu."
"Gue kangen." Kennan kembali melingkari tubuh Tita dengan kedua tangannya.
"Gombal." Tita mencebik.
Keduanya berpelukan, saling menatap saat ini.
Tita menatap Kennan dengan pandangan yang dalam, menyelami kedua mata Kennan dengan berbagai pertanyaan yang membendung di otaknya.
Sedang Kennan menatap Tita dengan rasa bersalah yang sangat dalam. Kennan merasa bersalah karena telah membohongi isterinya tadi pagi.
Kennan yang sesungguhnya seharian ini menemani Yuna.
Kennan memilih tidak bercerita pada Tita. Kennan ingin menghilangkan masa lalu yang sesungguhnya tidak memiliki kaitan dengan hatinya tersebut.
Kennan berfikir jika dia memberitahu tentang Yuna pada Tita, hal itu akan menyakiti gadis itu. Dan Kennan tidak mau sampai hal itu terjadi.
Toh besok Yuna akan meninggalkan Indonesia. Kennan lebih memilih untuk menutup semua tentang Yuna dari Tita. Tidak ada gunanya membahas itu.
"Abang dari mana aja baru pulang?" akhirnya Tita memutuskan untuk bertanya. Untuk mencoba kejujuran Kennan.
"Dari kafe."
"Seharian?"
"Iya." Kennan mengangguk cepat.
"Dari pagi? Abang tidak datang ke sekolah kan?" Tita menyelidik, menatap manik mata Kennan.
Kenapa abang bohong... ucap hati Tita dengan mata yang tidak sekalipun mengerjap.
"Kenapa liatinnya kek gitu sih dek?"
Kennan sesungguhnya tidak tahan dengan tatapan mata Tita.
Tita tersenyum tipis.
"Abang ganteng." sesungguhnya bibir Tita bergetar, namun Kennan tidak menyadarinya.
"Gue emang ganteng dari orok." Kennan terkekeh kecil.
Sret.
Tanpa diduga oleh Tita, Kennan membopong tubuh Tita seraya berjalan.
"Abang... turunin Tita!"
Kennan mengindahkan, tetap berjalan ke arah kamar mereka berdua.
Tita menggerakkan kedua kakinya memberontak, tangan mungilnya memukul Kennan tanpa henti.
Kennan tak kalah menggangu. Sesekali wajahnya menyusup leher dan wajah Tita, hingga gadis dalam bopongnnya itu berseru kegelian.
Bruk...
Kennan menghempaskan tubuh sang istri ke atas ranjang, dengan tubuh kekarnya yang menindih di atasnya.
__ADS_1
Dengan tidak sabar Kennan meraup rakus bibir Tita, menguasai dengan mulutnya. Menjelajah setiap inchinya untuk meneguk rasa manis yang telah menjadi candunya.
Kelebatan bayangan Kennan saat tadi siang memeluk gadis lain memenuhi pandangan mata Tita yang memejam.
Pikiran Tita menerawang. Membayangkan Kennan melakukan hal yang sama pada gadis itu, membuat sesak hati Tita.
Meski dalam hati terasa sesak namun Tita tak kuasa menolak cumbuan sang suami.
Sekuat tenaga Tita menahan diri agar tidak meneteskan air mata. Tita tidak mau Kennan menyadari rasa sakit yang menghinggapinya.
Heh... heh...
Hembusan nafas menderu dari mulut Kennan saat mengakhiri aktifitasnya menguasai bibir sang isteri.
"Maaf. Sakit ya?" Kennan mengusap kedua sudut mata Tita, yang berair silih berganti.
"Sedikit." jujur Tita dengan kelat.
Tita memang merasakan sakit tapi di hatinya, bukan pada bibirnya yang mungkin sedikit tergigit sang suami saat berciuman tadi.
Namun karena maksud pertanyaan Kennan adalah mempertanyakan bibir sang isteri, Kennan pun mengusap lembut bibir itu dengan ibu jarinya.
"Masih perih dek?" Kennan memastikan.
Tita mengangguk seraya menyeka bulir bening yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
Kennan segera beranjak dari atas tubuh sang isteri, seraya mendudukkan diri di atas ranjang. Membawa tubuh Tita ikut duduk dengan menyandar pada kepala ranjang.
"Gue keterlaluan ya?" Kennan dengan menelisik bibir sang isteri.
Iya abang keterlaluan karena bohongin Tita... tentu saja ucapan itu hanya mampu Tita ucapkan di dalam hati saja tanpa mampu mengucapkannya.
Bibir merah muda yang biasanya tipis dalam kondisi normal itu memang memerah dan membengkak. Namun Kennan merasa tidak menggigitnya keras.
"Yang mana yang masih sakit?" Kennan dengan cemas.
Tita tersenyum, meski hatinya sakit.
"Tita cuma bohongin abang kok." Tita menahan tangan Kennan yang tidak berhenti mengusap bibirnya lembut.
"Beneran dek?" Kennan dengan pandangan tidak percaya.
"Bener." Tita mengangguk, mengerjapkan mata lalu tersenyum.
"Huh... kirain beneran. Jadi khawatir gue." Nada Kennan terdengar lega.
"Udah mandi sana." Tita mendorong tubuh Kennan agar segera beranjak.
"Sebenernya gue males mandi, maunya langsung tidur wae." Kennan enggan.
"Tita nggak mau tidur bareng abang." Tita mengancam.
"Baiklah... baiklah... gue mandi." Kennan pun ngacir memasuki kamar mandi diiringi dengan tatapan mata sang isteri.
Bulir bening kembali mengalir perlahan, membasahi kedua pipi cabi Tita saat pintu kamar mandi tertutup rapat.
Kenapa abang harus berbohong di saat Tita udah bener bener percaya sama abang...
π¨π¨π¨π¨
__ADS_1