Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Part 229


__ADS_3

"Ck... ngapain lagi sih ini bocah... ganggu wae..." Kennan melirik ponsel pintarnya yang bergetar di atas meja.


Yuna calling... tertera pada layar ponsel pintarnya.


Kennan saat ini sedang berada di dalam ruangan kafenya. Dia sedang mengecek laporan penjualan serta laporan laporan lainnya yang terkait dengan kafe K&Y.


Kennan hanya melirik sekilas kemudian kembali pada layar laptop di depannya, tak mau ambil pusing dengan panggilan Yuna. Pesan itu pasti berisi ajakan Yuna untuk bertemu dengannya.


Kennan berusaha untuk tidak terkecoh. Hingga akhirnya panggilan tersebut berhenti dengan sendirinya.


Beberapa saat berhenti, muncul tanda pesan masuk pada ponsel milik Kennan.


Dengan ogah ogahan Kennan meraih ponsel lalu melihat notif yang memberitahukan bahwa ada pesan baru dari Yuna.


Kennan pun kembali meletakkan ponselnya tanpa ada niatan untuk membuka pesan dari Yuna. Kennan sudah merasa malas meladeni Yuna yang tidak berhenti mengganggunya.


Bip


Bip


Bip


Repetan bunyi pesan masuk pada ponsel Kennan membuatnya terusik. Mau tak mau Kennan pun kembali meraih ponsel pintarnya.


Huh...


Kennan membuang nafas kasar saat mengetahui puluhan pesan masuk dari Yuna.


Beberapa saat menimbang akhirnya Kennan pun memutuskan membuka pesan dari Yuna. Sesuai dengan tebakannya, gadis itu menang benar mengajaknya bertemu.


Akhirnya Kennan pun membalas pesan Yuna dan menolak ajakan tersebut. Kennan tidak ingin lagi memberi celah untuk Yuna kembali menempel dengannya. Kennan tidak mau lagi berurusan dengannya.


🍭🍭🍭


Klotak...


Yuna dengan kesal membuang sembarang ponsel pintarnya setelah membaca pesan dari Kennan.


Bagaimana bisa cowok berparas tampan yang telah lama diincarnya itu mengabaikannya. Tidak mau menjawab panggilan teleponnya bahkan dari sekian pesan yang dikirimkannya hanya di balas dengan kata tidak bisa...

__ADS_1


Tidak ada basa basi ataupun kata maaf yang biasanya disampaikan oleh Kennan saat tidak bisa menemui ataupun menuruti keinginannya.


Yuna pun mengeram kesal, raut wajahnya berubah merah karena marah.


"Awas lo Kenn... gue nggak bakal nyerah gitu aja. Gue bakal pepet lo sampai elo bertekuk lutut sama gue..." Yuna menggumam dengan tidak berhenti mondar mandir di dalam kamarnya.


Yuna kembali meraih ponsel pintarnya, dia tidak ingin menyerah begitu saja.


Membuka kontak Kennan kemudian memanggilnya kembali, berharap kali ini Kennan akan menjawab panggilan teleponnya.


Beberapa saat menunggu hanya nada tunggu yang terdengar dari sana. Yuna tidak putus asa, berusaha sabar hingga nada itu dapat berganti dengan suara Kennan yang telah dirindukannya.


Berkali kali menunggu dan memanggil ulang, tak satupun panggilannya di jawab oleh Kennan empunya ponsel.


Yuna pun mulai kesal.


"Okey ini yang terakhir..." Yuna dengan memencet nomor kontak Kennan kembali.


Bukannya nada tunggu melainkan terdengar suara operator yang memberitahukan bahwa ponsel sedang berada di luar jangkauan atau sedang tidak aktif.


Sepertinya Kennan sengaja mematikan ponselnya agar tidak terganggu oleh panggilan Yuna.


Yuna berteriak kesal dengan tidak berhenti menjambaki rambut panjangnya dengan kesal. Seperti orang gila Yuna berteriak menyebut nama Kennan dan menyumpah serapahinya.


"Yuna... sayang... kenapa lagi..." mana Yuna dengan memasuki kamar anak gadisnya yang diikuti oleh papanya dari belakang.


"Kennan ma... Kennan... dia mengabaikan telepon Yuna lagi..." Yuna dengan sorot mata marah, mengadu pada mamanya.


Mama Yuna hanya mampu menahan sesak melihat kondisi anaknya, apalagi saat melihat ponsel pintar milik anak gadisnya yang berserakan di lantai beliau sudah dapat menebak apa yang telah terjadi sebelumnya.


Mama Yuna berjalan mendekat, merengkuh tubuh anak gadisnya yang masih bergetar karena marah.


"Lupakan Kennan nak... lupakan dia..." ucap mama Yuna lembut dengan mengusap punggung anak gadisnya untuk memberikan ketenangan pada gadis yang sedang emosi tersebut.


Namun tidak seperti yang diharapkan, Yuna memberontak setelah mendengar ucapan mamanya. Mendorong tubuh paruh baya tersebut hingga hampir terjengkang ke lantai jika tidak ditahan oleh papa Yuna.


"Nggak mau!!! Yuna tetep pengen sama Kennan ma... Yuna nggak mau sama yang lainnya." Yuna berteriak dengan membabi buta. Mengobrak abrik seluruh barang barang di sekelilingnya hingga menimbulkan bunyi riuh yang memekakkan telinga. Yuna bahkan membanting benda benda kesayangannya seperti orang kesetanan.


"Itu nggak mungkin sayang..." mama Yuna berusaha membujuk anak kesayangannya dengan hati miris.

__ADS_1


"Yuna tetep nggak mau ma... pa... tolong Yuna pa... bawa Kennan ke sini ya pa... kalau papa yang bujuk pasti dia mau ketemu sama Yuna... ya pah..." Yuna merengek dengan tidak berhenti menggoyang lengan tangan papanya.


Papa Yuna pun hanya mampu terdiam, tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan rengekan putrinya.


"Sayang... Kennan itu sudah menikah nak... nggak mungkin kamu sama dia. Ikhlaskan dia sayang..." Mama Yuna tidak mampu lagi menyimpan kenyataan lebih lama lagi.


"Nggak mungkin ma... itu nggak mungkin!! Kennan nggak mungkin udah nikah, dia pasti berbohong... iya kan pah??!" Yuna mendongak memandang ayahnya untuk meminta persetujuan atas ucapannya.


Papa Yuna terlihat membuang nafas berat. Sungguh sakit rasanya melihat kondisi anak gadisnya yang acak acakan seperti saat ini. Namun Yuna harus diberitahu yang sebenarnya.


"Apa yang dikatakan oleh mama benar sayang. Kenn sudah menikah." ucap papa Yuna dengan hati hati.


"Nggak!! Papa pasti bohong... Kalian paati bohong! Kennan itu milik Yuna pah... nggak boleh ada yang lain yang memiliki dia!!" Yuna dengan nafas memburu.


"Papa nggak bohong nak."


"Nggak mungkin!! Kennan itu milik Yuna pahh... milik Yuna." Yuna mulai histeris. Berteriak dengan tak berhenti bergerak serta menutup telinganya seolah tidak mau mendengar kenyataan jika Kennan tidak mungkin untuk dimiliki olehnya lagi.


"Yuna... sayang... tenanglah nak... mama akan mencarikan pria lain yang jauh lebih baik dari Kennan." mama Yuna mencoba membujuk.


Bukannya mereda, Yuna malah semakin histeris, menjambak rambutnya sendiri seperti orang gila. Membuat papa dan mama Yuna kebingungan melihat aksi histeris anak gadisnya.


Mama Yuna mencoba memeluk anak gadisnya untuk membuatnya tenang, namun malah mendapatkan perlakuan kasar dari Yuna.


Yuna mendorong tubuh mamanya hingga terhuyung dan jatuh ke lantai.


Papa Yuna pun segera menghentikan aksi anak gadisnya yang dirasa semakin membabi buta. Memeluk tubuh anak gadisnya dari belakang dengan kuat hingga Yuna perlahan berhenti meronta karena kelelahan.


Papa Yuna pun membalik tubuh anak gadisnya, mendekap erat. Dengan lembut mengusap punggung Yuna, mengelusnya perlahan. Tangis Yuna pun tumpah.


"Yuna nggak mau kehilangan Kennan pah..." rengek Yuna di sela isak tangisnya.


Papa Yuna pun hanya diam semakin mengeratkan pelukannya.


"Pah..." Yuna dengan mendongak.


Papa Yuna pun menunduk menatap wajah anak gadianya yang masih sembab oleh air mata.


"Papa bantu Yuna buat dapetin Kennan ya pah..."

__ADS_1


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2