Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
137. Bertemu Andra


__ADS_3

"Hai Ta ...!"


Tita pun menoleh saat mendengar ada yang menyapanya.


Hek ...


Tita tersentak kaget melihat siapa yang menyapa dirinya.


"A ... Nn ... Ndra ...." Tita tergagap menyebut nama sang ketua osis yang berdiri tersenyum padanya.


"Kaget banget lihatnya. Kek ketemu hantu wae ...." Andra dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Ah ... eh ... maaf, gak nyangka wae ketemu di sini." Tita masih sedikit gugup.


Bukan masalah gugup karena ketemu Andra yang pernah mengisi relung hatinya. Melainkan Tita takut jika pertemuannya dengan Andra yang tidak sengaja tersebut diketahui oleh Kennan suaminya. Pastinya akan membuat Kennan salah paham, dan berbuntut panjang nanti.


"Sama siapa?" tanya Andra masih dengan tersenyum.


"Sama Hani." sahut Tita sembari celingak celinguk mencari keberadaan sahabatnya yang tak kunjung muncul.


"Oh ...." Andra manggut - manggut.


"Haninya mana??" Andra kembali bertanya.


"Entahlah, tadi pamit ke arah sana. Katanya sebentar tapi kok lama belum kembali ya?! ucap Tita lirih, terdengar seperti gumaman. Rasa gelisah mulai merayapi hatinya.


"Andra sama siapa?" tanya Tita balik sambil menunggu Hani yang tidak kunjung muncul di hadapannya untuk menutupi gelisah di hatinya.


"Sama Adam. Tuh orangnya lagi nyari sepatu." Andra menunjuk seorang cowok jangkung memakai kaus hitam yang sedang terlihat memilih dan mencoba sepatu dengan posisi membelakangi mereka.


"Oww" sahut Tita pendek.


"Embaan sorry ... nunggu lama ya?!" terdengar seruan Hani dari arah belakang menginterupsi obrolan Andra dan Tita.


"Eh ... ada Andra! Sama siapa Ndra?" Hani bertanya dengan berseru saat posisinya sudah hampir mendekati Tita.


Andra tersenyum.


"Tuh ... sama Adam." Andra menunjuk Adam yang sedang berjalan ke arah mereka dengan dagunya.


"Gue udah selesai, kemana lagi kita?" Adam bertanya pada Andra.


"Terserah. Emang udah dapet sepatunya?" tanya Andra kepada sepupu sekaligus teman sekolahnya tersebut.


"Udah." sahut Adam pendek.


"Eh Tita ... Hani ... lagi ngapain?" tanya Adam saat baru menyadari dua sosok gadis remaja yang pernah menjadi teman sekelasnya.


"Lagi jalan - jalan nih, lama enggak hangout bareng. Mumpung ada waktu, so cuzz jalan dech. Biar kangennya terobati, iya kan Ta?!" cerocos Hani diiringi dengan kekehan.


"Eh ... iya ...." Tita menjawab dengan kikuk.


"Ya udah, lanjut jalan yuk Ndra." Adam mengajak.


"Okelah ... kemana?" Andra bertanya bingung.


"Serahlah ...." jawab Adam sembari menggedikkan bahunya.


"Ikut kita aja, kita mau nonton nih." Hani tiba - tiba menawari kedua teman laki - laki satu sekolahnya tersebut.


Hek ...


Tita terjengit kaget setelah mendengar ucapan Hani.


Dirinya tidak menyangka jika Hani akan menawari kedua teman lelaki mereka untuk nonton bareng.


Tita menelan ludahnya kelat, sedikit berharap semoga mereka tidak menyetujui ajakan Hani.


"Emang boleh? gak ganggu nih ...??" Andra bertanya.


"Enggaklah ... malah asyik kan ada temennya, iya kan Ta?!" Hani menyahut cepat sebelum Tita mendahuluinya.


Hani memandang Tita seolah meminta persetujuan dengan tatapan memaksa.


Tita menghela nafas pendek. "Iya." Tita menyahut lemah.


Mau tak mau Tita menyetujui permintaan Hani sahabatnya. Tita tidak ingin melihat sahabat baiknya itu kecewa.


"Tu kan ... Tita mau kok. Jadi dobel date nih kita." pekik Hani kegirangan.

__ADS_1


"Maksud elo dobel date apaan?" Adam bertanya bingung.


"Kita kan dua cewek sama dua cowok ... anggep aja dobel kencan gitu lo Dam," Hani menyahut.


"Eh ... enak aja gue punya cewek bege!" Adam berseru dengan mata sedikit melebar.


"Halah ... takut banget seh, gue gak bakal napsu sama cowok modelan kek elo Dam. Ya udah anggep wae kita nganterin Tita sama Andra kencan, iya kan Ndra?!" Hani berucap sembari mengerlingkan sebelah matanya kepada Andra tanpa sepengetahuan Tita. Dan lagi - lagi ucapan Hani membuat Tita terkejut, membuatnya semakin gelisah tidak nyaman.


"Incess ...." Tita melebarkan kedua bola matanya, memberi tanda pada Hani namun sahabatnya tersebut seakan tidak peduli.


Andra tersenyum sambil mengusap belakang lehernya kikuk.


Hani menggandeng pergelangan tangan Tita keluar untuk menuju bioskop di lantai atas.


"Lets go boy ...." Hani memberi tanda pada Andra dan Adam untuk mengikutinya.


Setelah membeli tiket, keempat remaja itu memasuki bioskop bersama - sama.


Tita memasuki deretan kursi dan menyisakan tiga kursi untuk ketiga temannya. Dengan harapan dirinya duduk di kursi paling ujung kemudian diikuti oleh Hani, Andra dan Adam.


Namun ternyata harapannya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Setelah dirinya duduk, lalu Hani duduk di sebelahnya kemudian Adam berada di sebelah Hani.


Sedangkan Andra tetap berjalan melewati Tita dan mendudukkan diri di sampingnya. Jadi posisi duduk mereka saat ini adalah Andra, Tita, Hani, Adam dan menyisakan satu bangku kosong di sebelah Adam.


Tita merasakan dirinya semakin resah dan gelisah. Namun mau bagaimana lagi, dirinya hanya mampu menerima keadaan itu dengan menahan rasa tidak nyaman tersebut hingga tanpa sadar tubuhnya terlihat menegang.


Sepanjang tayangan film berlangsungTita tidak berhenti menggerakkan tubuhnya dengan gelisah.


Melirik sisi kanannya, namun Hani terlihat menikmati tontonan pada layar lebar di depannya, bahkan Hani terlihat nyaman. Sesekali Hani tersenyum kecil sambil mengobrol dengan Adam.


Dan ternyata Andra menyadari kegelisahan pada gadis yang telah menjadi pujaan hatinya tersebut. "Kenapa Ta? gak suka sama filmnya ya?!" Andra berbisik lirih di dekat telinga Tita.


Hek


Tita tersentak kaget, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.


"Eh ... enggak kok, filmnya bagus." sahut Tita berusaha menyunggingkan senyum pada bibir mungilnya.


"Rileks wae gak usah tegang kalau gitu, nikmati nontonnya." Andra tersenyum manis dengan detetan gigi putihnya.


"Iya, Tita menikmati kok." Padahal sejauh ini Tita tidak mengerti jalan cerita pada film yang sedang diputar pada layar besar di depannya. Padahal kata Hani tadi, film yang dipilihnya adalah film kisah cinta anak remaja yang romantis.


Set.


Telapak tangan kekar Andra menelusup pada tangan kiri Tita yang menumpu pada pegangan kursi bioskop.


Tita pun terhenyak, dengan cepat dirinya menarik telapak tangannya dari tangan kekar Andra.


"Maaf" Andra.


Tita tersenyum tipis, kemudian sedikit membuat jarak duduknya dengan Andra.


Andra menghela nafas pendek.


"Segitunya elo gak mau gue sentuh Ta, padahal waktu berpegangan tangan sama Kennan elo nyaman wae." Andra berucap dalam hati dengan memandang Tita dari samping dengan sendu.


...🍭🍭🍭🍭...


"Kita makan dulu ya Ta?!" Hani bertanya saat mereka sudah selesai menonton bioskop.


Tita menggeleng. "Maaf Incess, emban harus pulang."


"Tar waelah ... kan ada Andra dia pasti mau kok nganterin kita pulang." Hani.


"Gak bisa Incess, belum sholat ... waktu maghrib cuma bentar." sahut Tita sembari melihat waktu pada pergelangan tangan kirinya.


"Kan bisa sholat di sini, kita kan sulit banget buat keluar barengan." Hani seolah tak rela jika mereka harus pulang sekarang.


"Kalau Incess masih mau di sini, Emban gak papa kok pulang dewean."


"Ya gak gitu dong Ta ...." Hani bersungut.


"Gak papa lah Han ... kita pulang aja. Lain waktu kita jalan bareng lagi." Andra menengahi.


"Ck ... ya udah kita pulang. Elo mau kan nganterin kita Ndra?" Hani bertanya pada Andra.


Andra pun mengangguk mengiyakan.


Keempak anak remaja itu pun akhirnya berjalan menuju parkiran mobil di basement mall.

__ADS_1


Lagi - lagi Tita dibuat terkejut oleh sikap Hani yang masuk mobil Andra di belakang, duduk dengan Adam.


Mau tak mau Tita pun mengambil duduk di samping Andra yang akan mengemudikan Honda Jazz miliknya.


Selama perjalanan tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Tita. Tita bingung memikirkan dirinya akan turun di mana.


Turun di area apartemen, pasti teman - temannya akan bertanya padanya. Dan dirinya bingung harus memberi alasan apa.


Namun jika sampai Andra mengantarkannya ke panti asuhan, jaraknya sangatlah jauh. Tidak mungkin ada lagi transjogja yang bakal lewat untuk mengantarkannya kembali ke apartemen milik Kennan. Meminta Kennan menjemput pun tidak mungkin ia lakukan, suaminya itu pasti akan menelisik penyebab dirinya bisa berada di panti asuhan.


Berkali - kali Tita menghela nafas sambil memandang jendela kaca di samping kirinya yang menampilkan deretan toko - toko yang berjajar di pinggir jalan.


Akhirnya terbersit ide di dalam tempurung kepalanya.


"Incess." Tita menoleh ke belakang sembari memanggil Hani sahabatnya.


"Apa?" Hani menyahut dengan masih asyik menatap ponselnya.


"Emban turun di ruko loundry gak papa kan?"


"Memangnya kenapa?" Hani bertanya dengan dahi berkerut.


"Emban lupa kalau ada janji buat cek laporan laundry." jawab Tita berbohong.


"Terus Emban pulangnya piye?"


"Enggak pulang, nginep ruko wae."


"Oh gitu, ga papa kok." Hani menjawab tidak keberatan.


"Andra maaf, Tita turun swalayan depan situ aja ya?!"


"Loh ... bukane ruko laundrynya setelah perempatan depan ya Ta?" Andra bertanya bingung.


"Tita mau mampir swalayan, entar ke rukonya jalan kaki wae. Enggak jauh juga kok ... ada sesuatu yang mau Tita beli." lagi - lagi Tita harus berbohong.


"Okey." Andra mengembangkan senyum di bibirnya.


Andra merapatkan mobil jazznya saat berada di depan swalayan yang Tita tunjuk, kemudian dengan cepat keluar dari mobilnya dan berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Tita.


"Makasih Ndra, seharusnya kamu gak perlu repot - repot kek gini." ucap Tita saat sudah berada di luar mobil.


"Untuk gadis secantik kamu, aku gak merasa direpotkan kok. Hati - hati ya, kalau ada apa - apa kabari aku." Andra tersenyum manis.


Tita mengangguk pun dengan tersenyum.


"Adam, Incess makasih ya maen barengnya." Tita sedikit melongok pada jendela kaca belakang yang telah dibuka setengah.


Adam dan Hani pun mengangguk dengan tersenyum sembari mengibaskan telapak tangan mereka.


"Da ... da ... da ...."


Suara seruan Adam dan Hani dari dalam mobil karena Andra sudah mulai menjalankan mobil jazznya.


Setelah mobil Andra mulai menjauh, Tita menghela nafas lega.


"Jadi elo bohongin gue ...!" sebuah seruan dari suara yang sangat familiar terdengar dari belakang tubuh Tita.


Hek


Tita menoleh ke belakang,


"Ab ... bang ...."


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2