Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Part 245


__ADS_3

Kennan menginjak gas kuda besi hitamnya dengan kuat. Tangan kirinya memutar kemudi dengan cekatan untuk membawa kendaraannya meluncur ke jalan raya, sedangkan tangan kanannya memijit pelipisnya yang tetiba terasa nyeri dengan siku yang menumpu pada pintu mobil.


Sorot matanya tajam, lurus menatap jalanan aspal di depannya, meski otaknya tidak berhenti memikirkan kemungkinan keberadaan sang isteri namun hal itu tidak membuat Kennan kehilangan kendali pada kuda besi yang ditungganginya.


Kemahirannya menguasai jalan raya memang sudah tidak perlu diragukan lagi.


Dug...


"Sial... lama banget sih." gerutu Kennan sembari memukul kemudi kuda besinya cukup keras saat lampu merah tak kunjung berganti warna hijau.


Kennan meraih ponsel pintarnya yang tergeletak di kursi penumpang. Setelah berfikir sesaat, memutuskan panggilan pada Irsyad sahabatnya untuk menanyakan nomor ponsel Hani.


Beberapa saat sebelum mengendarai mobilnya, Kennan telah menghubungi rumah besar keluarganya. Tidak ada sosok Tita di sana.


Hingga nama Hani terbersit dalam otaknya. Mengingat tidak banyak teman yang dimiliki oleh isterinya, Kennan menaruh harapan bahwa gadis itu sedang bersama sahabatnya saat ini.


Sembari menunggu lampu merah berubah warna hijau, Kennan menempelkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo... ngapain sih telfon telfon gue? Gangguin orang kencan aja."


Terdengar gerutu nyaring dari seberang telepon. Membuat Kennan sedikit menjauhkan benda bertehnologi pintar tersebut dari telinganya.


"Sorry... urgent ini." Kennan setelah menempelkan kembali ponsel pintarnya.


"Urgent apaan? Bini lo pergi ninggalin lo?" Irsyad sesungguhnya hanya bercanda.


"Darimana lo tau Syad?" Kennan dengan nada serius, membuat Irsyad terkekeh dari balik telepon.


"Gue kan cenayang.... hehehe..." Irsyad.


Semenjak Irsyad dengan Hani dekat, cowok yang semula pendiam itu mulai terkontaminasi.


"Jadi lo tau dong dimana Tita sekarang..." Kennan sedikit lega mendengar jawaban Irsyad.


"Taulah." Irsyad masih terkekeh.


"Dimana Tita sekarang? Elo dimana? Gue ke tempat lo sekarang, cegah Tita jangan sampai dia pergi." Kennan terdengar semangat.


Sesaat tidak ada sahutan dari seberang telepon. Sepertinya Irsyad sedang berusaha mencerna kata kata Kennan.


"Elo serius Kenn?" nada bicara Irsyad berubah. Tidak ada lagi kekehan.


"Soal gue mau ke tempat lo sekarang?" tanya Kennan.


"Bukan. Soal Tita yang ninggalin lo?" Suara Irsyad terdengar hati hati.


"Seriuslah. Lo pikir gue bercanda!!" Kennan menyahut dengan keras. Terdengar menggertak.


"Tita beneran pergi ninggalin lo?" Irsyad masih belum percaya dengan ucapan sahabatnya karena sesungguhnya pertanyaannya tentang Tita meninggalkan Kennan tadi hanya candaannya.


Kennan menghembuskannya nafas sejenak.

__ADS_1


"Syad, gue beneran serius ini." Kennan lalu menceritakan secara garis besar kejadian yang dialaminya setelah bangun dari tidurnya tadi.


"Sorry Kenn, gue nggak tau lo serius. Maafin becanda gue."


"Gak papa dab... gue juga. Sorry." Kennan dengan lesu.


Sepertinya Kennan harus menerus otaknya lebih keras untuk memikirkan keberadaan Tita di mana. Karena saat ini Hani sedang bersama Irsyad dan tidak mengetahui keberadaan Tita.


"Lo udah coba ke panti?"


"Belum."


"Coba lo ke panti. Siapa tau Tita di sana kek waktu itu." Irsyad mengingatkan.


Kennan menepuk keningnya segera.


"Kenapa gue nggak kepikiran sih." Kennan terdengar bergumam.


"Ok Syad. Makasih udah ingetin gue." Kennan segera menutup panggilannya begitu saja tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya.


Kennan segera memutar haluan kemudinya. Memutar arah untuk menuju panti asuhan tempat Tita sebelum menikah dengannya.


🍭🍭🍭


Tok... tok...


Kennan mengetuk pintu panti asuhan dengan perasaan was was.


Entah mengapa rasa hatinya tidak karuan saat ini.


"Pak Udin... Bik Marsih..." Kennan memanggil pengampu panti asuhan silih berganti.


"Pak... Pak Udin."


Tok... tok...


Kennan memanggil sembari mengetuk pintu dengan keras.


Tetap saja tidak ada tanda tanda orang bakal keluar dari dalam panti.


Saat ini memang siang hari. Anak anak panti pasti pada pergi ke sekolah. Pak Udin dan Bik Marsih seharusnya berada di dalam rumah. Tidak mungkin siang bolong begini masih berada di pasar.


"Cari siapa mas?" Tanya seseorang dari belakang punggung Kennan saat dirinya hendak beranjak memutari panti asuhan.


Kennan segera membalik tubuhnya ke belakang.


"Cari Pak Udin dan Bu Marsih Bu." Kennan dengan tersenyum pada wanita paruh baya yang sepertinya seumuran dengan bundanya tersebut.


"Mereka masih di rumah pak RT mas, mengurus bantuan untuk anak anak panti." Jelas wanita paruh baya tersebut.


"Oh begitu ya. Kira kira apa masih lama ya Bu?" Tanya Kennan hati hati.

__ADS_1


"Paling lama setengah jam lagi."


Kennan mengangguk mengerti.


"Apa di dalam tidak ada seorangpun ya Bu?" Kennan sungguh penasaran dengan keberadaan isterinya, siapa tahu saja gadis itu di dalam sana dan enggan menemuinya.


Wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya.


"Sepertinya tidak ada. Anak anak kan sekolah, sedang Pak Udin dan Bu Marsih, mereka berdua tadi ke rumah pak RT."


Apa Tita nggak ada di sini ya... Kennan menggumam lirih.


"Apa mas?"


"Ah tidak Bu, mboten nopo nopo." Kennan dengan tersenyum sopan.


"Eh... apa mungkin mbaknya yang cantik tadi masuk ke dalam panti ya?" Wanita paruh baya tersebut dengan ragu.


"Siapa bu? Siapa yang masuk ke dalam panti?" Kennan penasaran dengan ucapan wanita paruh baya tersebut.


"Eh itu, tadi ada mbak yang cantik itu lo yang dulu pernah tinggal di sini tapi pindah karena sudah menikah dengan orang kaya. Siapa namanya ya, Ibu lupa..."


Kennan yang sangat berharap bahwa gadis itu adalah isterinya segera menyebut nama isterinya.


"Tita maksud ibu?"


Kening wanita paruh baya itu mengerut kembali.


"Apa iya iya... Kalau nggak salah na... na... gitu panggilannya. Na siapa ya, ibu nggak yakin."


Kennan segera merogoh ponsel pintar dari saku celananya.


Mengusap layar ponsel pintarnya lalu membuka galeri ponselnya.


"Apa gadis ini yang ibu maksud?" Kennan menyodorkan ponselnya yang menunjukkan gambar Tita di sana.


"Benar. Mbak ini tadi ke sini."


"Apa sekarang dia masih di dalam sana?"


"Ibu kurang tahu, soalnya ibu mau ke pasar tadi itu jadi nggak terlalu memperhatikan. Tapi ibu lihat mbaknya itu tadi masuk ke dalam panti."


"Makasih bu." Kennan terlihat berbinar setelah mendengar jawaban wanita paruh baya tersebut, berharap menukan gadis itu di dalam sana.


Segera kembali mengetuk pintu panti asuhan setelah wanita paruh baya tersebut meninggalkan Kennan.


Tok... tok...


"Loh den Kennan..." terdengar suara Pak Udin berseru saat Kennan hendak mengetuk pintu untuk yang ketiga kalinya.


Kennan segera membalik tubuhnya.

__ADS_1


"Jemput neng Tita ya? Sayang sekali neng Tita sudah pulang dari tadi setelah mengambil beberapa barang di panti." Pak Udin berjalan mendekat.


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2