
Hari berganti hari, hubungan Kennan dengan Tita semakin harmonis dengan diselipi kelakuan mesum Kennan yang selalu saja memanfaatkan kesempatan sekecil apapun.
Tita yang sangat polos hanya mampu menerima dan melakukan kewajibannya sebagai isteri yang baik.
Apalagi Kennan selalu saja membujuknya dengan mengingatkan tentang dosa jika mengabaikan ataupun tidak menuruti keinginannya.
Tentang pahala dan dosa menjadi senjata ampuh bagi Kennan untuk membuat Tita mau tidak mau harus menuruti keinginannya.
"Elo gak bisa apa gak usah pergi ke kafe hari ini?" tanya Kennan dengan suara yang dibuat seperti memohon. Kedua mata Kennan tidak berhenti melihat Tita yang sedang sibuk membersihkan alat bekas memasak sarapan pagi.
"Bang.... Tita kan udah ngomong. Kak Putra gak bisa dateng ke kafe. Jadwal kuliahnya padat dari pagi sampai siang." Tita kembali menjelaskan alasannya kenapa dirinya harus pergi ke kafe hari ini. Dengan tanpa memandang ke arah Kennan, karena saat ini kedua tangannya sedang sibuk menaruh dan menata peralatan masak yang baru saja dibersihkan olehnya. Untuk itu kedua matanya pun fokus pada pekerjaan di depannya.
Melihat Tita yang tetap membelakanginya saat berbicara, Kennan mengalihkan pandangan pada piring makan di hadapannya.
Kennan mengaduk aduk makanan di atas piring makannya, terlihat tidak berselera.
Hari ini adalah hari sabtu, tandanya mereka berdua libur sekolah.
Sedari semalam Kennan telah merancang bahwa hari ini dirinya akan mengajak Tita untuk jalan jalan, membawa Tita ke tempat tempat yang ingin dikunjungi gadis oleh itu.
Sebentar lagi mereka pasti akan disibukkan oleh bebagai ujian untuk menentukan kelulusan mereka.
"Tapi kan gue pengen ngajakin elo jalan jalan dek." Kennan terdengar kesal.
"Bang..." Tita yang telah selesai dari aktifitasnya mencuci dan meletakkan peralatan masak pada tempatnya, segara membalik badan dan mendekat pada suaminya.
"Tita cuma sampai siang. Entar kalau kak Putra udah datang kita bisa jalan jalan kan..." Tita dengan senyum membingkai wajahnya.
Senyum manis yang telah merubah dunia Kennan yang datar tanpa warna menjadi penuh dengan warna pelangi. Mengembalikan keceriaan serta kejahilan khas remaja seumurannya.
"Enggak bisa puas dong dek..." ucap Kennan dengan merajuk lesu.
"Kata siapa? Asalkan sama abang, mau lama atau mau sebentar... mau jalan keluar ataupun di rumah wae Tita seneng kok. Lagian abang juga paling suka kan kalau seharian berduaan sama Tita walaupun cuma di rumah doang..." Tita tetap dengan senyum membingkai wajahnya agar Kennan berhenti merajuk.
"Ck... Elo mulai pintar sekarang ya." Kennan berdecak.
"Pintar ngapain?" Tita tidak mengerti dengan maksud ucapan sang suami.
"Pintar ngerayu."
Tita terkekeh kecil.
"Tita enggak ngerayu bang..."
"Yang elo bilang barusan apa coba kalau bukan rayuan."
"Yang mana bang?" Tita dengan kening mengerut mencoba mengingat ucapannya yang mana yang dimaksud merayu oleh Kennan.
"Tadi yang lo bilang asalkan sama gue, walaupun cuma di rumah seharian..." Kennan mengingatkan sepenggal ucapan Tita.
"Itu benerkan? Tita ngomongin kenyataan itu... bukan rayuan..." Tita terkekeh.
"Tu kan makin pinter kan lo." Kennan mencebik.
"Tita belajar dari abang.... hehehe..."
"Pelajaran jelek jangan diinget mulu." Kennan menyentil kening Tita pelan.
"Abang... sakit. " Tita mengusap kening bekas sembilan Kennan dengan cemberut.
Kennan terkekeh dengan menarik tangan Tita hingga gadis itu terduduk di pangkuannya.
"Sini biar gue yang ngusapin." Kennan menghalau tangan Tita yang tidak berhenti mengusap keningnya.
Tita pun menurut.
__ADS_1
Akan tetapi bukannya mengusap dengan tangannya, melainkan Kennan memilih bibirnya untuk mengusapnya.
"Masih sakit?" Kennan dengan merenggangkan wajahnya.
"Udah enggak."
"Manjur kan obat gue." Kennan dengan menepuk dada percaya diri.
"Udah nggak sakit bukan karna abang, emang sakitnya tadi enggak seberapa bang."
"Bikin gue seneng dikit kenapa sih Dek..." Kennan manyun.
"Tita udah sering bikin abang seneng... banyak kali malahan." Tita terkekeh kecil saat melihat bibir Kennan yang mengerucut karena kesal.
"Ck... perhitungan amat seh." Kennan dengan memalingkan wajahnya. Pura pura kesal.
"Gak usah ngambek, masih pagi... entar rezekinya serem." Tita dengan membawa wajah tampan itu kembali menghadapnya.
Kennan pun menurut namun masih dengan wajah kesal menghadap wajah sang isteri.
Tita mengalungkan kedua tangannya pada leher Kennan.
"Abang kalau cemberut gitu jelek banget tau." Tita dengan memandang intens wajah tampan sang suami.
"Biarin. Jelek juga elonya mau."
"Habisnya terpaksa sih." Tita sengaja menggoda suaminya.
"Apa lo bilang...?" Kennan mendelik tajam sembari mengeratkan kedua tangan pada tubuh Tita dan menguncinya.
"Habisnya Tita terpaksa bang..." Tita kembali mengulang ucapannya.
"Ngomong sekali lagi..." Kennan dengan nada yang meninggi dengan pandangan mata yang menghunus.
"Ngomong sekali lagi..." Tita mengulang ucapan suaminya dengan santai.
"Tita terpaksa ngomong abang jelek, buat menggoda abang..." Tita dengan memeletkan lidahnya.
"Elo tu ya, paling bisa godain gue..."
Tita terkekeh.
"Tita boleh ya ke kafe? Kalau kak Putra udah dateng, abang jemput Tita buat jalan jalan... okey..."
Kennan terdiam sesaat.
"Atau abang ngikut ke kafe wae, bareng Tita..." tawar Tita pada Kennan, saat melihat suaminya itu tidak bereaksi.
"Males gue... gue tidur wae di rumah, entar gue jemput."
"Baiklah, terserah abang."
"Emangnya kita mau ke mana seh Bang?"
"Terserah elo, elo mau kemana..." Kennan balik bertanya.
Emmmm....
Tita terlihat berfikir dengan mengetukkan ujung jari pada bibirnya.
"Ke bonbin... abang mau?"
"Ngapa ke sana Dek?"
"Jalan jalan kan bang..."
__ADS_1
"Iya tau... tapi ngapain ke kebun binatang, beli nggak pengen ke tempat wisata yang lain apa... pantai atau hutan pinus mungkin. Itu kan juga alam bebas..." Kennan hewan dengan puluhan Tita yang seperti anak kecil menurutnya.
"Tita belum pernah ke sana." sahut Tita terdengar sendu.
Hah...
Kennan terkejut, bagaimana bisa Tita belum pernah pergi ke kebun binatang. Bukankah bonbin adalah destinasi wajib saat study tour anak SD.
"Sama sekali?"
Tita menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Sama orang tua lo waktu mereka masih ada..."
"Belum pernah diajakin bang, pas ada acara SD Tita ke sana juga Tita nggak bisa ikut waktu itu, soalnya Tita sakit waktu itu." Tita menjelaskan dengan pandangan mata yang mulai berkabut. Sepertinya Tita kembali mengingat kedua orang tuanya yang telah tiada.
Kennan pun menghirup nafas dalam, dadanya menyesal seolah memahami rasa yang melanda hati sang isteri.
"Nanti kita ke sana." Kennan dengan memberikan kecupan kecil pada kedua mata Tita selalu memeluknya erat.
Tita mengangguk di sela bahu Kennan, dengan berusaha menahan isak tangisnya.
"Gak usah ditahan kalau lo pengen nangis, nangis wae." Kennan dengan mengusap lembut surai hitam Tita yang dibiarkan terurai.
Beberapa saat setelah puas akan isakan tangisnya, Tita menegakkan wajahnya dengan tidak lupa mengusap bekas air mata di wajahnya.
"Tita boleh minta sesuatu sama abang?"
"Mau minta apa?" Kennan dengan mengantikan tangan Tita yang masih mengusap wajahnya.
"Nanti enggak usah jemput Tita ke kafe, kita ketemuan aja di sana."
Kennan Kennan mengerut mendengar permintaan Tita.
"Maksud lo Dek?"
"Tita pengen ngerasain kencan, janjian ketemu sama pacar kek yang dibilangin anak anak di kelas. Sepertinya seru..." Tita dengan sedikit menunduk karena malu.
Kennan tersenyum kecil.
"Ada ada aja, baiklah kalau itu mau lo. Kita nanti ketemu di sana." Kennan menangkup wajah Tita, sedikit menegakkan wajah yang menunduk itu lalu memberikan kecupan di sana.
Beberapa jam telah berlalu.
Ciitt, set...
Kennan tetiba mengerem mobilnya lalu memutar kemudinya ke arah kafe K&Y, padahal dirinya sudah setengah jalan menuju kebun binatang.
Entah kenapa Kennan merasa tidak tenang jika harus membiarkan Tita menemuinya di lokasi tempat mereka bertemu nanti.
Biarlah jika gadis itu bakal kesal nanti, yang pasti Kennan memilih menjemput gadis itu ke kafe.
Setelah sampai di teras kafe, Kennan mematut penampilannya pada kaca spion mobil. Dengan membingkai senyumvdi wajahnya, Kennan menuruni kuda besi hitamnya dengan segera.
Saat Kennan berada beberapa langkah di depan pintu kafe, sebuah tangan ramping menepuk pundaknya pelan. Hingga membuat Kennan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Hai Kenn... long time no see..." sebuah suara merdu dari seorang gadis dengan senyum berbinar membingkai wajahnya.
"Yunn_na..."
π¨π¨π¨π¨
Maap... maaf nih... othor baru bisa mengudara....
Tidak ada alasan untuk keterlambatan othor... kalaupun othor mau kasih alesan, pasti kalian bakal bilang "basi" π€πππ
__ADS_1
Like, vote yak... biar ntar othor semangat nulis lanjutannya...πππ
Tengyu so much..... love you all My Beloved Readersπππ