
"Lo sama Tita baik baik aja kan Kenn?" Aldi bertanya dengan memandangi sang sahabat yang terlihat sibuk berbalas pesan pada ponsel pintarnya.
"Maksud lo Al?" Kennan masih fokus pada layar benda pipih di tangan dengan jari jemari yang sibuk mengetuk pada layar.
Entah berbalas pesan dengan siapa, hingga mantan kapten tim basketnya tersebut tak mau mengalihkan pandangan matanya.
"Elo nggak bertengkar kan sama bini lo."
"Enggaklah, ngapain gue tengkar sama dia." Kennan memandang sahabatnya sesaat lalu kembali fokus pada ponselnya.
Wajah Kennan terlihat santai saja saat ini. Aldi pun berfikir jika hubungan Kennan dan Tita memang baik baik saja. Tidak seperti apa yang dikhawatirkan olehnya kemarin.
Bagaimana Aldi tidak khawatir jika tanpa sengaja dirinya memberitahukan kenyataan bahwa Kennan absen dari sekolah. Padahal cowok ganteng bin tampan yang terkenal dingin dan angkuh tersebut membohongi sang isteri.
"Elo jujur kan nggak bertengkar sama Tita?" Aldi memastikan sekali lagi.
Tidak ada jawaban dari mulut Kennan, melainkan sang mantan kapten tim basketnya itu masih saja fokus pada ponsel pintarnya dengan kening yang mengerut. Nampak sangat serius.
Beberapa detik kemudian.
Klotak.
Kennan meletakkan ponsel pintarnya di atas meja dengan sedikit keras.
Huh... Kennan menghembuskan nafas pendek.
"Maksud lo apaan sih... dari tadi nanya gue sama Tita bertengkar mulu?!" Kennan pun akhirnya penasaran dengan kekepoan Aldi.
Aldi yang semula menundukkan wajah karena sedang menyesap es jeruknya, mendongak.
Sesaat menghela nafas.
"Kemarin gue ketemu sama bini lo di kantin. Gue nanya sama dia kenapa lo nggak masuk."
"Terus?" Kennan masih dengan wajah datar.
"Dia kaget waktu gue tanya. Ternyata elo pamit berangkat duluan sama dia kan?! Dan gue nggak tau itu." Aldi dengan perasaan bersalah.
Apapun alasan Kennan membohongi Tita tetap saja Aldi merasa tidak nyaman. Dia tidak mau menjadi penyebab kekisruhan rumah tangga sang sahabat.
Entah apapun tujuan Kennan berbohong. Baik itu alasan baik maupun tidak baik, Aldi tidak mau ikut campur. Aldi yakin Kennan memiliki alasan kuat atas kebohongannya.
Bagaimana pun Aldi dan Kennan telah berteman lama. Aldi tau betul sifat teman dinginnya itu.
"Oh itu doang." Kennan terlihat biasa saja.
"Elo nggak marah sama gue?" Aldi dengan pandangan sedikit terkejut pada sahabatnya yang nampak santai.
__ADS_1
Semula Aldi berfikir Kennan pasti bakal marah padanya, paling tidak sahabat yang selama ini berwajah datar dan dingin itu bakal menonjok wajah tampannya.
"Kenapa gue mesti marah sama lo?" tanya balik Kennan.
Aldi memandang Kennan dengan kening mengerut.
"Gue kan udah bikin kacau kebohongan lo." Aldi dengan hati hati, takutnya Kennan masih menahan emosinya
Di luar dugaan Aldi, Kennan malah terkekeh kecil.
"Elo nggak usah khawatir, gue sama Tita baik baik aja kok." Kennan tetap dengan tersenyum santai.
Toh menurut Kennan, dirinya dengan Tita baik - baik saja. Meski semalam isteri penurutnya itu sedikit berbeda sikapnya, namun Kennan mengabaikannya.
Mungkin ucapan Aldi yang membuat isterinya sedikit marah, mungkin.
"Syukurlah kalau hubungan kalian baik baik aja." Aldi dengan bernafas lega.
"Gue sama Tita itu suami isteri Al, udah nikah. Bukan baru pacaran. Nggak mungkin dong dikit dikit ngambekan. Obrolan kita udah beda sama anak yang baru pacaran. Kita itu sudah tau isi dalam masing masing. Kita saling terbuka dan utamanya saling percaya." Kennan dengan percaya diri yang tinggi. Merasa jika hubungan suami isteri itu kuat, tidak sama halnya dengan pacaran.
"Iya... iya... percaya deh..." Aldi mencebik, membuat Kennan terkekeh.
"Ngomongin apaan nih... asyik banget keknya." Arya tetiba duduk di samping Aldi dengan diikuti oleh Irsyad dan Bima.
"Piyik nggak usah ikut campur, obrolan orang dewasa ini." Aldi.
"Iya iya piyik yang udah kena karbitan Kennan. Matang belum saatnya, makanya cepet busuk." Aldi.
Buahahahahhh....
Keempat temannya pun tertawa terbahak.
"Eh Kenn, gue kemarin liat lo jalan sama cewek yang dulu itu... beneran elo bukan sih?" tanya Bima to the point setelah mereka mengakhiri tawanya.
"Iya." Kennan jujur dengan menganggukkan kepala. Raut wajah Kennan terlihat santai saat mengucapkannya.
Hah!
Jawaban Kennan membuat keempat sahabatnya terkejut.
"Itu beneran elo sama..." Bima menggaruk pelipisnya untuk mengingat nama gadis yang dulu pernah wara wiri dengan Kennan.
"Yuna. Namanya Yuna." Kennan menyebutkan nama yang berusaha diingat oleh Bima.
"Ya... itu..." Bima memebenarkan.
"Jadi elo kemaren bolos, kencan sama cewek itu Kenn? Dia alasan lo berbohong sama bini lo?" Aldi dengan pandangan seolah tak percaya.
__ADS_1
"Bukan kencan Al." sanggah Kennan.
"Terus apa namanya kalau bukan kencan?" Aldi sedikit ketus karena sahabatnya itu tega berbohong pada isterinya. Padahal beberapa detik lalu, kapten tim basketnya itu membanggakan hubunganya dengan sang isteri.
"Gue cuma nemenin dia aja. Lagian gue udah bilang kan pada lo semua kalau gue sama Yuna nggak pernah punya rasa, gue dulu cuma ngerasa bersalah doang." terang Kennan dengan tetap tenang.
"Terus kalau lo nggak punya rasa sama dia kenapa kemaren bohongin bini lo demi cewek itu Kenn?" Aldi masih menuntut jawaban karena tidak memahami jalan pikiran sahabatnya tersebut.
Arya, Bima dan Irsyad masih diam, menyimak obrolan antara Aldi dan Kennan.
"Gue cuma nggak mau Tita berfikir yang tidak tidak soal hubungan gue sama Yuna. Lagian kemaren itu adalah hari terakhir dia di sini, hari ini dia berangkat ke luar negeri buat pengobatan."
"Pengobatan apa Kenn, Yuna sakit apa?" kali ini Arya yang bertanya.
"Dia punya gangguan obsesi yang cukup parah sama gue. Makanya gue nggak mau Tita tahu Yuna dan juga sebaliknya, gue nggak mau kalau Yuna juga tahu isteri gue dan berbuat yang aneh aneh sama Tita." Kennan membeberkan alasannya.
"Oh... pantesan cewek itu kek ulet keket yang abis kecemplung lem karet kalau lagi sama lo." Bima dengan manggut manggut.
"Elo manfaatin kesempatan dalam kesempitan Kenn?" Arya mendelik le arah Kennan.
"Enggak. Lo kalau ngomong suka ngaco Ma..." Kennan mendorong bahu Bima dengan lengan tangan kanannya.
"Lah gue ngomong yang sebenernya." Ucap Bima serius.
"Cewek itu kek gini sama Kennan kemaren." Bima dengan memggelayut manja pada bahu Kennan serta mendekap erat lengan tangan kanan Kennan. Seolah menunjukkan penglihatannya kemarin saat Kennan dan gadis bernama Yuna itu sedang berjalan di salah satu mall terbesar di Yogyakarta.
Kennan mendorong kepala Bima dengan kesal. Karena merasa yang ditunjukkan Bima mengada ada. "Sobat laknat lo!"
"Sekali merengkuh dayung dua pulau terlampaui... luar biasa lo Kenn..." Arya terkekeh.
"Mulut lo gue sumpal pakek baceman semvak ntar." Kennan kesal. Namun para sahabatnya malah tertawa terbahak bersama.
"Eh... gue penasaran sama rasa cinta lo ke Tita Kenn?" Bima.
"Apa yang bikin lo penasaran?" Irsyad yang semenjak tadi hanya diam, angkat bicara.
"Elo beneran cinta nggak sih sama Tita?"
"Menurut lo?" Kennan dengan meraih ponselnya bergetar, menandakan pesan masuk.
"Cinta mah urusan belakang, siapa sih yang bisa nolak sama cewek cantik kek Tita. Gue aja kepincut. Apalagi Kennan yang tiap hari tidur bareng ama dia, pasti gak kuat iman. Ya nggak Kenn?!" seloroh Arya.
"Itu lo tau..." Kennan pun ikut berseloroh, dia tau Arya hanya mengejeknya.
Namun Kennan tidak menyadari jika Tita mendengar ucapannya. Berdiri diam di balik tembok kantin. Urung masuk ke dalam.
π¨π¨π¨π¨
__ADS_1