
"Bang ...," Tita menoleh pada suaminya yang duduk sambil mengemudikan mobil untuk menuju apartemen, karena saat ini waktunya pulang sekolah.
"Hemm" Kennan masih memfokuskan pandangan ke jalanan aspal yang lumayan padat di depannya.
"Abang gak pengen cerita gitu?!" tanya Tita hati - hati.
Kennan memalingkan wajahnya ke arah Tita dengan kening berkerut.
"Enggak tuh ... emang elo pengen denger cerita dari gue, apa?!" Kennan balik bertanya dengan kedua alis mata yang bertaut.
Tita cemberut.
"Ya udah kalau gak mau jujur!" Tita memalingkan wajah ke arah luar kaca jendela mobil dengan wajah tertekuk kesal.
Kennan semakin mengerutkan keningnya, bingung.
"Jujur apa sih Dek??" Kennan benar - benar tidak mengerti maksud isterinya.
Tita diam tidak menyahut, memilih memandang sisi kirinya yang menunjukkan deretan toko maupun orang lalu lalang berjalan kaki.
"Dek" Kennan memanggil dengan menyenggol bahu Tita. Kennan pun memelankan laju Honda HRV hitamnya agar dapat berbicara dengan Tita yang saat ini terlihat ngambek.
Tita mengibaskan tangan Kennan yang menyenggol bahunya tanpa mau memalingkan wajah ke arah suaminya.
"Dek ... kalo diem wae mana gue tahu maksud elo ...." Kennan kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan aspal yan weg dipadati oleh kendaraan bermotor.
"Ngapain tadi makan berdua sama Sisil?" akhirnya Tita memperjelas pertanyaannya dengan nada sedikit ketus tanpa mau memandang Kennan.
Tita sudah tidak sabar untuk mendapatkan penjelasan dari Kennan karena saat di sekolah tadi mereka langsung berpisah di ujung koridor sekolah sebab bel tanda masuk kelas sudah berbunyi.
"Oh ... itu." Kennan nampak santai menanggapi pertanyaan Tita yang terdengar kesal.
Tita memalingkan wajahnya ke arah Kennan dengan wajah yang nemeperlihatkan kekesalan. "Kok cuma oh itu, Abang gak ada keinginan untuk memberi Tita penjelasan po?!"
"Cemburu nih ceritanya?" Kennan berucap santai dengan tersenyum tipis. Sesaat wajahnya menoleh ke arah Tita saat berucap kata, namun kembali lagi memfokuskan pandangan mata ke jalan raya.
"Issh ... siapa yang cemburu?!"
"Elo lah mosok gue ...,"
"Tita gak cemburu!"
"Terus?!" Kennan menaikkan salah satu alis matanya.
"Cuma gak suka wae ...." Tita berucap dengan bibir yang berkerut.
Kennan terkekeh kecil. "Sama waelah Dek."
"Gak!" Tita masih saja ngeles.
"Ya wes besok makan bareng Sisil lagi kalau gitu, setiap hari juga boleh ... iya kan Dek ... gak papa kan?!" Kennan malah menggoda.
Tita mendelik pada Kennan, membuat suaminya itu tertawa lebar dengan menoleh ke arah Tita.
"Kan gak cemburu ... berarti boleh kan ...," Kennan dengan tertawa lebar tidak melepas pandangan dari wajah cemberut Tita.
"Abang nyetir yang bener, perhatikan jalannya!" Tita memalingkan wajah Kennan ke depan dengan menampik pelan dagu Kennan agar kembali menatap jalan raya.
Hahahahah ....
Tawa kencang Kennan memenuhi mobil, Tita pun semakin memberengut kesal.
Kennan menghentikan tawanya saat melihat bibir pink Tita mengerucut kesal.
Menghembuskan nafas pendek lalu berucap kata. "Udah gak usah manyun, gue cuma kasih pembalasan wae sama tu lenong."
Tita menoleh ke arah Kennan dengan kedua alis mata yang bertaut. "Maksud Abang?"
"Gue sakit perut sampai masuk rumah sakit kemaren itu, gara - gara si lenong itu udah kasih cabe buanyak pakek banget di mangkuk bakso lo yang gue makan waktu itu." jelas Kennan pada Tita.
__ADS_1
"Darimana Abang tahu?" tanya Tita heran.
Kennan pun menceritakan bagaimana dirinya melihat Sisil menuangkan banyak sambal pada mangkuk bakso Tita saat hendak memasuki kantin. Kennan menceritakan semuanya dengan jelas tanpa ada yang ditambahi maupun dikurangi olehnya.
"Kenapa Abang memakannya? Kalau cuma sambal mah Tita kuat makannya. Abang kan gak tahan sama pedas ...."
"Ya kali, mosok gue biarin elo yang makan. Lagian udah terjadi, toh gue juga gak papa kan Dek. Gak usah dibahas lagi." ucap Kennan sembari meraih telapak tangan kanan Tita dan menyematkan jemarinya di sela jemari lentik milik istrinya. Tak lupa Kennan mengembangkan bibirnya, tersenyum berbinar.
"Kek Abang cinta mati wae sama Tita."
"Cinta itu gak mati Dek ... cinta itu hidup, di sini ...." Kennan meletakkan jemari Tita di depan dadanya dengan tersenyum.
"Ck ... makin pinter wae gombalan Abang ...." Tita mencebik.
"Gue gak gombal sayang, gue beneran sayang sama lo. Gue gak rela kalau sampai elo kenapa - napa."
Titapun merasakan pipinya menghangat, kemudian memilih memalingkan wajah ke luar jendela kaca mobil dengan tersenyum tipis.
"Dek" Kennan menoleh sesaat sembari menggerakkan tangan Tita yang masih bertautan dengan jemarinya.
Tita pun menoleh. "Apa?"
"Mampir makan dulu ya?"
"Abang laper?" tanya Tita pada Kennan yang sudah kembali fokus pada jalan raya.
"Enggak seh, cuma pengen wae makan sop buntut yang ada di perempatan dekat kampus xx itu lho. Keknya seger, elo belum pernahkan gue ajakin ke sana?!" Kennan menyahut sembari membayangkan sop buntut dengan kuah yang mangepulkan uap panas dan sudah lama tidak dinikmati olehnya.
Apalagi semenjak tinggal di apartemen, dirinya lebih sering makan nasi bungkus yang minus kuah. Paling banter nasi padang dengan kuah gulai yang seuprit. Padahal Kennan menyukai makanan dengan disertai kuah yang banyak.
"Iya, belum pernah. Tempatnya yang mana wae Tita enggak tau."
Kennan tersenyum, menumpukan tautan jemari tangannya dan Tita di atas pahanya. "Kalau gitu kita ke sana, pasti elo ketagihan entar."
...ππππ...
"Tiga porsi ya Mbak sama air mineral dua." ucap Tita saat seorang pelayan kedai sop buntut bertanya pesanannya. Sedang Kennan terlihat fokus berbalas pesan pada ponsel pintarnya.
Sang pelayan mencatat pesanan Tita dengan kening yang terlihat sedikit berkerut. Mungkin merasa aneh karena melihat pelanggannya hanya berdua namun memesan tiga porsi.
"Beruntung pengunjungnya gak terlalu banyak, jadi kita dapet tempat duduk." ucap Kennan sembari meraih pinggang Tita mengikis jarak antara mereka, karena mereka duduk bersebelahan.
"Biasanya rame banget ya Bang?" Tita bertanya sambil memindai kedai yang memang tidak terlalu ramai saat ini.
"He eh. Apalagi kalau jam makan siang, untuk mendapatkan tempat duduk wae kita mesti nunggu lama." sahut Kennan.
Tita menganggukkan kepala berulang, tanda mengerti.
Dan tak berapa lama pelayan pun datang membawakan pesanan mereka.
"Ngerti wae kalau porsi gue dobel." Kennan tersenyum sembari menggeser minuman air mineral untuknya dan juga untuk Tita.
Tidak ada jawaban dari mulut Tita, hanya senyum tipis tersungging pada bibir pinknya.
"Gak makan barengan lagi Dek?" tanya Kennan sambil mengaduk supnya.
"Abaang gak usah mulai deh, siang - siang ini ... lagian kita pakek seragam sekolah. Entar dipikir orang, kita pacaran berlebihan." Tita berucap dengan nada naik satu oktaf.
"Iya - iya, gak usah ngegas juga kali."
"Abang yang bikin Tita ngegas."
Kennan terkekeh kecil, kemudian mulai menikmati sop buntutnya dengan diam.
Ponsel Tita berdering saat dirinya baru saja menyelesaikan makannya. Kemudian menggeser icon calling setelah melihat nama incess Hani sedang melakukan panggilan kepadanya.
"Assalamualaikum incess ...." ucap Tita membuka percakapan.
"Waalaikumsalam ... emban jalan yuk ...." ajak Hani to the point setelah mendengar suara salam dari Tita.
Huk ... hukk ...
__ADS_1
Tita terbatuk mendengar ajakan dari sahabatnya Hani, hingga membuat Kennan menoleh dan mengusap punggung Tita pelan.
"Kenapa?" tanya Kennan saat melihat raut wajah Tita sedikit menegang, tanpa menghentikan usapan lembut pada punggung isterinya.
Tita menggeleng perlahan.
"Maaf incess ... emban lagi kerja, jadi gak bisa." sahut Tita berbohong.
Kennan mengerutkan kening bingung saat mendengar ucapan Tita, namun Tita tak memperdulikannya.
"Loh ... bukane hari ini gak ada jadwal partime ya?!" Hani bertanya seolah mengingatkan Tita.
"Ah ... eh ... em ... itu tadi Tita dihubungi mendadak, jadi ya berangkat kerja deh."
"Oh ... gitu? Gak bohong kan ...?!" Hani terdengar kesal.
Hek.
Tita menelan ludahnya kelat.
"Eh enggak kok, beneran ...." sahut Tita pelan diiringi rasa bersalah yang membuat dadanya sedikit sesak.
"Ya udah kalau gitu." Hani berucap kesal.
"Maaf ...." sahut Tita namun sudah tidak terdengar oleh Hani karena dia telah memutus panggilannya secara sepihak, bahkan tanpa mengakhirinya dengan salam.
"Siapa?" tanya Kennan saat melihat Tita memandangi layar ponsel pintarnya dengan terlihat sedih.
"Hani ... temen Tita." jawab Tita pelan tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel pintarnya.
Kennan mendekatkan dirinya pada Tita, kemudian membelai tempurung kepala Tita yang tertutupi hijab rawis. "Kenapa ... ditelfon temen kok sedih?"
Tita menghela nafas pelan, kemudian memandang Kennan yang menatapnya lembut.
"Mau ngajakin Tita jalan tapi ... Tita gak bisa."
"Ya udah besok aja, pulang sekolah elo jalan sana dia. Biar gue pulang dewean." ucap Kennan dengan lembut.
"Beneran Bang?!"
"Bener."
"Abang gak bohong kan?" tanya Tita sedikit ragu.
"Enggak. Cuma elo sama dia kan ... gak ada temen cowok yang ikut kan?" Kennan memastikan.
"Enggaklah ... cuma berdua aja. Kita emang udah lama gak jalan bareng."
"Pergilah ... bersenang - senanglah besok."
"Makasih Bang."
π¨π¨π¨π¨
Akhirnya bisa up juga ....
Sorry worry my beloved readers, updatenya lama.
Tidak ada pembelaan dariku karena memang kesalahan ada padaku hiks ... πππ
Tengyu so much yang sudah setia menunggu up dariku dengan sabar πππ
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ